Nah….tengah- tengah siapa itu….kiq…. kiq… kiq…
Begitu berkuasa digaruk semua….. sampai limbah limbah habis


From: [email protected] [mailto:[email protected]]
Sent: Saturday, March 18, 2017 2:26 PM
To: Gelora45; Chalik Hamid
Subject: [**EXTERNAL**] Re: [GELORA45] Trs: [nasional-list] Anies di antara FPI 
dan Cendana


Belum berkuasa, sudah kelihatan belangnya......

2017-03-18 6:29 GMT+01:00 Chalik Hamid 
[email protected]<mailto:[email protected]> [GELORA45] 
<[email protected]<mailto:[email protected]>>:


Pada Sabtu, 18 Maret 2017 1:12, "'Chan CT' 
[email protected]<mailto:[email protected]> [nasional-list]" 
<[email protected]<mailto:[email protected]>> menulis:


Munawir Aziz

Jumat 17 Maret 2017 - 
18:33<https://kumparan.com/munawir-aziz/anies-di-antara-fpi-dan-cendana>
https://kumparan.com/munawir-aziz/anies-di-antara-fpi-dan-cendana
________________________________
Anies di antara FPI dan Cendana
[clip_image002]


Setelah memasuki gelanggang putaran ke-2 proses politik DKI Jakarta, pelajaran 
apa yang dapat kita nikmati dari kontestasi ini?
Gelombang kebencian atas isu ‘penistaan agama’ telah bergeser menjadi 
#BelaIslam, yang mengilhami demonstrasi besar-besaran di Jakarta. Walaupun 
sangat kental dengan nuansa komodifikasi agama dan kepentingan politik, 
demonstrasi itu berhasil menyulut sentimen agama, yang dibarengi dengan 
kebencian terhadap etnis tertentu.
Isu agama dan etnis menjadi amunisi dalam kontestasi politik.
Nah, yang paling mencengangkan adalah pergerakan pasangan calon Anies-Baswedan 
dan Sandiaga Uno yang merangsek di antara kekuatan Islam radikal dan jaringan 
Keluarga Cendana.
Di beberapa forum, Anies Baswedan—yang tumbuh dengan citra dan intelektual 
reformis—menyanjung mantan Presiden Soeharto. Anies mengungkap betapa anak-anak 
bangsa perlu belajar dari Soeharto, sebagai bagian dari sejarah panjang negeri 
ini.
Menurut Anies Baswedan, Soeharto merupakan sosok pemimpin yang perlu dijadikan 
teladan, sebagai tokoh yang konsisten membicarakan pembangunan.
“Banyak pelajaran yang bisa diambil dari Pak Harto. Kita sebagai generasi 
penerus harus ambil hikmahnya, bukan sekedar menengok ke belakang,” terang 
Anies, seperti dilansir CNNIndonesia, (12/03/2017).
Antara Kaki Tommy dan FPI
Rupanya, Anies Baswedan bermain di antara kaki Tommy Soeharto dan FPI. Ia 
sering mengungkap betapa kunjungan politiknya berusaha merangkul semua kalangan.
Namun, nyatanya pasokan kekuatan terbesar berada dari lingkar kekuasaan 
Keluarga Cendana dan barisan laskar FPI yang berada pada domain Islam garis 
keras. Isu-isu agama dan kebencian terhadap etnis Tionghoa, menjadi amunisi 
yang diteriakkan para pendukung FPI dan jaringannya.
Anies juga mendapat dukungan dari jaringan Keluarga Cendana, melalui Tommy 
Soeharto. Namun, pertanyannya: apakah Tommy tulus mendukung Anies, ataukah 
hanya sebagai bidak catur dalam politik untuk melakukan manuver menuju 2019?
Di beberapa forum, Tommy sudah santer dideklarasikan sebagai calon presiden 
pada periode pilpres mendatang.
Tommy Soeharto membangun (kembali) panggung di partai politik. Ia mendirikan 
Partai Berkarya, sebagai kendaraan politik untuk melanjutkan dinasti kekuasaan 
yang pernah berjaya semasa ayahnya menjadi presiden.
Partai Berkarya sah sebagai partai politik yang berbadan hukum, pada Senin, 17 
Oktober 2017. Menkumham mengeluarkan SK, bernomor: M.HH-20.AH.11.01 Tahun 2016. 
SK ini juga mengesahkan pengurus Partai Berkarya pada periode 2016-2021.
Partai ini merupakan penggabungan Partai Nasional Republik dan Partai Beringin 
Karya. Tommy Soeharto bertindak sebagai Ketua Dewan Pembina partai ini, yang 
berusaha mengusung romantisme Soeharto sebagai bagian strategi kampanye politik.
Partai Berkarya dipimpin oleh Neneng A. Tutty (Ketua Umum) dan wakilnya Yockie 
Hutagalung, serta Sekjen Badaruddin Andi Picunang. Mantan Menteri Koordinator 
Politik, Hukum dan Keamanan, Tedjo Edhy Purdijatno duduk sebagai Ketua Dewan 
Pertimbangan.
Pasangan calon Anies-Baswedan didukung oleh Keluarga Cendana. Kedekatan 
pasangan calon ini dengan putra-putri Soeharto sudah kelihatan sejak awal tahun 
2017 ini.
Pada Februari lalu, berlangsung pertemuan antara Anies-Sandi dengan Siti 
Hediati Hariyadi (Titiek Soeharto), yang kini menjadi anggota DPR-RI dari 
Partai Golkar. Hadir pula Prabowo Soebianto, Ketua Umum Partai Gerindra—partai 
yang mengusung Anies-Sandi pada Pilkada DKI Jakarta. Prabowo merupakan mantan 
suami Titiek Soeharto.
Anies juga meminta dukungan dari pimpinan Front Pembela Islam (FPI), Ustadz 
Rizieq Syihab. Pada 1 Januari 2017 lalu, Anies melakukan lawatan politik menuju 
Petamburan, markas besar FPI.
Pada forum itu, Anies berbicara tentang visinya terhadap DKI Jakarta, dan 
ungkapan kedekatan terhadap FPI. Forum itu juga menjadi penanda resminya 
dukungan FPI—yang selama ini menjadi aktor kekerasan beragama—terhadap pasangan 
calon Anies Baswedan-Sandiaga Uno.
Laporan riset Wahid Foundation, mengungkapkan bahwa FPI menjadi aktor 
non-negara yang melakukan pelanggaran terbesar terhadap kebebasan beragama dan 
berkeyakinan sepanjang tahun 2016 lalu.
FPI dan aksi massa, berada pada indeks angka 24 tindakan sepanjang tahun. Data 
ini tentu menjadi catatan penting, betapa seringnya FPI menjadi aktor 
kekerasan, memaksakan kehendak dan bahkan, pada beberapa kasus, membubarkan 
paksa forum-forum ilmiah yang dibarengi dengan ungkapaan kebencian.
Nah, dari dua kaki kekuatan itu, kita bisa melihat misi politik dan pragmatism 
Anies-Sandi. Lalu, apakah Anies Baswedan-Sandiaga Uno dapat konsisten 
mengaktualisasikan visinya untuk Jakarta? Ataukah, ia hanya bermain dalam 
resiko politik yang akan membuatnya terjerat pada dilemma politik masa depan? 
(*)



Kirim email ke