http://www.republika.co.id/berita/ekonomi/makro/17/03/22/on7ehw383-ramalan-
<http://www.republika.co.id/berita/ekonomi/makro/17/03/22/on7ehw383-ramalan-bank-dunia-mengenai-kondisi-perekonomian-indonesia-tahun-ini>
bank-dunia-mengenai-kondisi-perekonomian-indonesia-tahun-ini
<http://www.republika.co.id/berita/ekonomi/makro/17/03/22/on7ehw383-ramalan-bank-dunia-mengenai-kondisi-perekonomian-indonesia-tahun-ini>
Rabu , 22 March 2017, 13:39 WIB
'Ramalan' Bank Dunia Mengenai
Kondisi Perekonomian Indonesia
Tahun Ini
Rep: Iit Septyaningsih/ Red: Nidia Zuraya
Republika/Iit Septyaningsih
Bank Dunia bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menggelar diskusi
mengenai pertumbuhan ekonomi Indonesia, di Jakarta, Rabu, (22/3).
Bank Dunia bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menggelar diskusi
mengenai pertumbuhan ekonomi Indonesia, di Jakarta, Rabu, (22/3).
REPUBLIKA.CO.ID <http://REPUBLIKA.CO.ID>, JAKARTA -- Bank Dunia (World
Bank) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini akan
sebesar 5,2 persen. Angka tersebut lebih baik dari pertumbuhan ekonomi
nasional pada 2016 yang mencapai 5,0 persen.
Berdasarkan laporan terbaru Bank Dunia, pertumbuhan ekonomi itu didukung
oleh harga komoditas yang lebih tinggi. Meski begitu, risiko
ketidakpastian global serta dinamika fiskal tetap harus diperhatikan.
Laporan tersebut juga mengatakan, pondasi kekuatan ekonomi Tanah Air, di
antaranya berkat tingkat pengangguran dan defisit neraca berjalan yang
masih rendah, serta rendahnya tingkat inflasi. Dengan begitu,
pertumbuhan riil pun berjalan baik, kebijakan moneter akomodatif, dan
harga komoditas yang lebih tinggi membantu meningkatkan konsumsi rumah
tangga serta investasi.
"Proyeksi ekonomi Indonesia pada 2017 akan positif. Indonesia bisa
mempercepat pertumbuhan ekonomi dan memastikan pertumbuhan jangka
panjang yang lebih kuat," ujar Kepala Perwakilan Bank Dunia di Indonesia
Rodrigo Chaves, dalam acara 'Indonesia Economic Quarterly' di Jakarta,
Rabu, (22/3).
Ia menambahkan, Bank Dunia memprediksi pula inflasi akan naik sementara
pada tahun ini dari 3,5 persen pada 2016 menjadi 4,3 persen. Hal itu
disebabkan naiknya tarif listrik dan pajak kendaraan.
Neraca defisit berjalan juga diperkirakan berada di titik terendah dalam
lima tahun terakhir, yaitu 1,8 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB),
tidak berubah dari 2016. Penyebabnya adalah meningkatnya harga komoditas.
"Kemudian defisit anggaran pemerintah pusat diproyeksikan naik menjadi
2,6 persen dari PDB. Sebagian karena tingginya belanja investasi," jelas
Chaves.
Ia menyatakan, laporan Bank Dunia yang baru diluncurkan tahun ini juga
mengkaji mengenai perdagangan jasa. Dikatakan, Indonesia perlu
mengurangi hambatan pada sektor jasa untuk meningkatkan produktivitas
dan daya saing. Menurut data dari Organization for Economic Cooperation
and Development, Indonesia termasuk negara dengan hambatan perdagangan
jasa terbanyak.