Bukan begitu cara berpikir seorang ekonom. Ekonom tidak hanya melihat naiknya 
harga apalagi harga komoditas dan pertumbuhan ekonomi saja.

Ada unsur lain dalam pertumbuhan ekonomi misalnya: employment dll.

Kalau harga naik diimbangi employment yg naik, ya rakyat juga gak apa2 harga 
komoditas naik. Yg menjadi masalah ketika harga naik, employment turun dan atau 
income/gaji tidak naik.

 

Yang ingin bung katakan/permasalahkan adalah tingkat employment rate dan 
minimum wage cukup atau tidak untuk kebutuhan sandang pangan bukan masalah 
pertumbuhan ekonomi.

 

Di negara maju yg lebih menjadi masalah adalah tingkat employment rate. Kalau 
orang ada pekerjaan pasti bisa hidup kalau hanya diukur dari sandang pangan aja.

 

Dinegara berkembang  seperti Indonesia dan miskin masalahnya bukan hanya 
employment rate saja. Tingkat income pun menjadi masalah karena minimum wage 
nya tidak cukup untuk bayar sandang pangan. Seseorang punya pekerjaanpun belum 
tentu dapat hidup layak karena income nya tidak cukup untuk menutupi sandang 
pangan. Ini juga salah satu tantangan semaraknya korupsi. Plus kebutuhan akan 
kesehatan dan pensiun bikin tambah parah lagi korupsi itu.

 

Jadi jangan apriori terhadap pertumbuhan ekonominya. Pertumbuhan ekonomi itu 
hanyalah indicator. Pertumbuhan ekonomi itu bukan kerja. Hasil kerja tercermin 
dalam pertumbuhan ekonomi. Kalau pertumbuhan ekonomi ada, artinya ada 
kemungkinan rakyat lebih sejahtera walaupun ada masalah dengan distribusi 
pendapatan yg kadang kala tidak menjangkau rakyat miskin. Kalau tidak ada 
pertumbuhan ekonomi artinya ya tidak ada income alias tidak akan ada distribusi 
pendapatan. Dengan kata lain semua miskin.

 

Nesare

 

 

 

From: [email protected] [mailto:[email protected]] 
Sent: Wednesday, March 22, 2017 5:01 AM
To: [email protected]; [email protected]; 
[email protected]; j.gedearka <[email protected]>
Cc: DISKUSI FORUM HLD <[email protected]>
Subject: Re: [GELORA45] 'Ramalan' Bank Dunia Mengenai,Kondisi Perekonomian 
Indonesia,Tahun Ini [1 Attachment]

 

  

Buat mereka yang selalu berpatokan pada pertumbuhan ekonomi untuk mengukur 
kemakmuran rakyatnya pasti senang dengar pertumbuhan tahun ini lebih tinggi 
dari tahun lalu, bukan? Mudah-mudahan tidak luput dari perhatiannya bahwa 
pertumbuhan ekonomi itu didukung oleh harga komoditas yang lebih tinggi!!! 
Senangkah rakyat dan akan bertambah makmurkah mereka yang harus bayar komoditas 
yang lebih tinggi ???

 

"pertumbuhan ekonomi itu didukung oleh harga komoditas yang lebih tinggi.".  Si

 

On Wednesday, March 22, 2017 9:54 AM, "'j.gedearka' [email protected] 
<mailto:[email protected]>  [GELORA45]" <[email protected] 
<mailto:[email protected]> > wrote:

 

  

 


http://www.republika.co.id/berita/ekonomi/makro/17/03/22/on7ehw383-ramalan- 
<http://www.republika.co.id/berita/ekonomi/makro/17/03/22/on7ehw383-ramalan-bank-dunia-mengenai-kondisi-perekonomian-indonesia-tahun-ini>
 
bank-dunia-mengenai-kondisi-perekonomian-indonesia-tahun-ini 
<http://www.republika.co.id/berita/ekonomi/makro/17/03/22/on7ehw383-ramalan-bank-dunia-mengenai-kondisi-perekonomian-indonesia-tahun-ini>
 



Rabu , 22 March 2017, 13:39 WIB


'Ramalan' Bank Dunia Mengenai 


Kondisi Perekonomian Indonesia 


Tahun Ini


Rep: Iit Septyaningsih/ Red: Nidia Zuraya

Republika/Iit Septyaningsih 



Bank Dunia bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menggelar diskusi mengenai 
pertumbuhan ekonomi Indonesia, di Jakarta, Rabu, (22/3). 

REPUBLIKA.CO.ID <http://republika.co.id/> , JAKARTA -- Bank Dunia (World Bank) 
memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini akan sebesar 5,2 persen. 
Angka tersebut lebih baik dari pertumbuhan ekonomi nasional pada 2016 yang 
mencapai 5,0 persen.

Berdasarkan laporan terbaru Bank Dunia, pertumbuhan ekonomi itu didukung oleh 
harga komoditas yang lebih tinggi. Meski begitu, risiko ketidakpastian global 
serta dinamika fiskal tetap harus diperhatikan.

Laporan tersebut juga mengatakan, pondasi kekuatan ekonomi Tanah Air, di 
antaranya berkat tingkat pengangguran dan defisit neraca berjalan yang masih 
rendah, serta rendahnya tingkat inflasi. Dengan begitu, pertumbuhan riil pun 
berjalan baik, kebijakan moneter akomodatif, dan harga komoditas yang lebih 
tinggi membantu meningkatkan konsumsi rumah tangga serta investasi.

"Proyeksi ekonomi Indonesia pada 2017 akan positif. Indonesia bisa mempercepat 
pertumbuhan ekonomi dan memastikan pertumbuhan jangka panjang yang lebih kuat," 
ujar Kepala Perwakilan Bank Dunia di Indonesia Rodrigo Chaves, dalam acara 
'Indonesia Economic Quarterly' di Jakarta, Rabu, (22/3).

Ia menambahkan, Bank Dunia memprediksi pula inflasi akan naik sementara pada 
tahun ini dari 3,5 persen pada 2016 menjadi 4,3 persen. Hal itu disebabkan 
naiknya tarif listrik dan pajak kendaraan.

Neraca defisit berjalan juga diperkirakan berada di titik terendah dalam lima 
tahun terakhir, yaitu 1,8 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB), tidak 
berubah dari 2016. Penyebabnya adalah meningkatnya harga komoditas.

"Kemudian defisit anggaran pemerintah pusat diproyeksikan naik menjadi 2,6 
persen dari PDB. Sebagian karena tingginya belanja investasi," jelas Chaves. 

Ia menyatakan, laporan Bank Dunia yang baru diluncurkan tahun ini juga mengkaji 
mengenai perdagangan jasa. Dikatakan, Indonesia perlu mengurangi hambatan pada 
sektor jasa untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing. Menurut data dari 
Organization for Economic Cooperation and Development, Indonesia termasuk 
negara dengan hambatan perdagangan jasa terbanyak. 

 

 

 

 

 

 



Kirim email ke