Anda benar, orang sering mengaburkan sisi politik Jokowi 
dan mengacaukannya dengan sisi kepribadian Jokowi untuk 
menutupi malu karena terlanjur mendukung Joko Widodo.Ambil contoh, bungkamnya 
Jokowi soal penyelesaian 
kasus-kasus pelanggaran HAM, membuat para pendukungnya 
sibuk bungkam juga. Takut mengritik (apalagi kasih solusi).
Tapi, pada dasarnya Joko Widodo memang bukan pribadi 
yang konsisten. Gembar-gembor mau 5 tahun jadi gubernur DKI 
ya dia khianati sendiri. Petentengan blasak-blusuk ke pelosok daerah, 
sekarang tidak mau menanggung konsekuensi dari ulah blusukannya 
yaitu, orang daerah mengadu ke JKT.
Belum lagi aksi menclanya waktu demo 411, yang langsung mencle 
pada demo 212.

--- jetaimemucho1@... wrote:
Itu alasan Jokowi untuk menghindari tanggung jawabnya kepada rakyat yang 
melawan proyek pembangunannya. Coba kalau soalnya berhubungan dengan para 
pendukung proyeknya, pasti akan dia sambangi!! Sebetulnya Jokowi itu pengecut, 
tidak berani berhadap-hadapan langsung dengan rakyat yang melawan proyek 
pembangunannya. Dulu dalam masalah waduk Jatigede yang menenggelamkan 26 desa, 
Jokowi juga membelakangi permintaan penduduk untuk berdialog. Bahkan surat dari 
KOMNAS HAM pun tidak dia gubris! Tapi dia sesumbar dan pamer di dunia 
internasional tentang keberhasilannya meyakinan penduduk yang menolak 
pembangunan jalan tol hanya dengan 3 atau 4 kali undangan makan!!! Lagi-lagi 
soalnya terletak pada KEBERPIHAKAN! Kepada siapa Jokowi berpihak!! Para 
pendukungnya selalu berargumentasi: "jokowi, presidennya rakyat, orangnya 
baik...". Saya sih percaya kalau orang bilang Jokowi adalah orang yang "sopan" 
dan "baik hati" kepada tetangganya, kepada orang disekitarnya, "dermawan" (dia 
pernah kasih uang kontan kepada tani miskin di sebuah pulau (lupa saya namanya) 
untuk beli ternak, dsb. Tapi ini bukan soal "individu" atau watak Jokowi 
sebagai manusia!! Ini soal KEBIJAKAN POLITIK DAN EKONOMI yang menentukan hidup 
rakyat dan bangsa seluruh negeri!!! Orang sering sekali mengaburkan dan 
mengacaukan dua masalah yang berlainan untuk membenarkan sikapnya yang 
mendukung Jokowi.


On Thursday, March 23, 2017 8:51 AM, ajeg wrote:    
   Ya, cara apa pun bisa ditempuh. Persoalan pentingnya kan, 
semua cara itu menghasilkan jalan keluar tidak? Blusukan 
sampai gulung celana masuk gorong-gorong sekalipun kalau 
masih banjir ya percuma.

Dengan melempar masalah ini ke gubernur Jateng kelihatannya 
Jokowi memang tidak punya jalan keluar selain tetap berkeras 
tidak mempedulikan laporan Rakyat.

Lalu, bagaimana orang bisa percaya Indonesia bersatu di tangan 
Jokowi sedangkan mengurus persatuan kabinet maupun pemerintahan 
pusat-daerah saja dia kedodoran.

Lucunya lagi, Jokowi dan gubernur Jateng itu petugas dari partai 
yang sama.
   --- djiekh@... wrote:
Mao bilang , Go to the mass. Learn from the mass. Lead the mass.Management 
barat , Managing through walking around.Pelaksanaanya, ya didelegasikan, bukan 
dikerjakan sendiri.Jadi ditugaskan ke Teten dan Pratikno untuk 
mengatasinya.Kalau Deng Xiaoping, lewat rapat pendek 15 menit tiap hari untuk 
mendengarlaporan dan probleem2 suatu proyek. Kalau bawahannya mengalami 
kesulitan dengan koordinasi, dia langsung angkat telpon, beri perintah.Rapatnya 
pendek, besok paginya langsung dievaluasi apa ada kemajuan-kemacetan dst.nya.
2017-03-23 6:28 GMT+01:00 ajeg:
Jadi, setiap blusukan ke daerah-daerah hingga pelosok itu ngapain?

Konsekuen dong ketika orang mengadu ke pemblusuk.
-
Jokowi: JanganPersoalan Daerah Dikit-Dikit Dibawa ke Saya, Gubernur Kerja Apa? 
Rabu, 22 Maret2017 | 13:55 WIB JAKARTA, KOMPAS.com - Presiden JokoWidodo 
meminta agar tidak semua persoalan di daerah diadukan kepada dirinya. Hal ini 
disampaikan Jokowi dalampertemuan dengan Aliansi Masyarakat Adat Nusantara 
(AMAN) di Istana Negara,Jakarta, Rabu (22/3/2017). Setelah berpidato cukup 
panjang, Jokowisempat menjanjikan bahwa pertemuan seperti ini akan rutin 
diadakan dalam empatatau enam bulan sekali. Dengan begitu, Jokowi bisa 
mendengarlangsung keluhan masyarakat dari setiap daerahnya.Namun, Jokowi 
meminta agar masyarakatbisa memilah-milah persoalan yang ingin diadukan."Jangan 
sampai persoalan-persoalandaerah dibawa ke saya, dikit-dikit saya, enggak lah," 
kata Jokowi. Jokowi menegaskan bahwa di setiap daerahada Gubernur yang juga 
berwenang dan bertanggung jawab atas berbagai persoalanyang terjadi. Kalau pun 
pemerintah pusat harus turuntangan, masih ada menteri yang bisa mengerjakan. 
"Nanti gubernur kerjanya apa,bupati, menteri, kerjanya apa? Ooh, ini ke menteri 
ya sudah selesaikan kementeri, bupati selesaikan ke bupati, tidak semua di 
saya," ucap Jokowi. Penulis : IhsanuddinEditor : Sandro Gatra

Kirim email ke