Sebuah tulisan lama tapi menarik. Pengalaman orang membaca Das Kapital. Membaca langsung karya Marx tidak sama dengan membaca tulisan orang tentang Marxisme. Orang yang pernah baca Das Kapital tidak akan bisa bilang bahwa orang miskinpun juga kapitalis, atau orang yang punya rekening di bank juga seorang kapitalis!apa yang dimaksud dengan “Kapital” dalam ekonomi-politik Marx? “Kapital”, dapat dimengerti sebagai “Nilai yang dapat memperbanyak dirinya sendiri”, sekaligus sebagai “Relasi sosial yang bertumpu pada eksploitasi tenaga-kerja”... Begitu juga konsep atau pengertian akan "manusia". Ngawur orang yang bilang bahwa manusia itu SAMA.Karena dia tidak menggunakan analisa kelas, maka dia tidak sadar atau mau mengakui bahwa setiap manusia adalah anggota dari satu kelas tertentu. Dan setiap kelas mempunyai ideologinya sendiri. Kita tidak bisa tidak adalah anggota dari satu kelas tertentuMengakui adanya hegemoni berarti mengakui kesadaran kelas pekerja pun dapat berada dalam lingkup ideologi kelas yang berkuasa, sekaligus dapat melepaskan diri darinya. Kita boleh sadar kelas sesaat ketika sedang khusyuk membaca Marx, tapi kesadaraan ini kemudian mesti terus menghadapi hegemoni harian lewat internalisasi nilai-nilai keluarga di rumah, dalam bincang-bincang ringan dengan kawan baik sehari-hari, dalam komentar-komentar santai di media sosial, belum lagi dari buku-buku pelajaran di sekolah, berita-berita media massa, ceramah di masjid, ketika menghayati lirik lagu band favorit, dan lain-lain sebagainya yang semuanya, dengan satu dan lain cara, menolak kesadaran baru kita yang tentu saja berlawanan dengan kesadaran sosial yang mainstream. Paragraf di atas sungguh menarik. Ia memperlihatkan hubungan antara kesadaran manusia dengan ideologi kelas yang berdominasi dalam masyarakat di mana manusia itu hidup. Itulah materialisme. PernahMembaca Marx?
21 December2016 Dicky Ermandara Logika Print PDF Kredit ilustrasi:https://thecharnelhouse.org PEMBACAkemungkinan besar pasti pernah membaca nama “Karl Marx”. Setidaknya sekaliseumur hidup pembaca pasti pernah membaca nama Marx, di buku-buku, media massa,atau di internet. Pemikirannya yang besar bertahan hingga zaman kita sekarang,jadi rentang bersandar isu ilmu-ilmu sosial paling aktual, menghubungkan krisisekonomi-kebudayaan Eropa, kebangkitan Republik Rakyat Tiongkok, hingga dosasejarah Bangsa Indonesia. Lebih dari semua itu, nama “Karl Marx” identik jugadengan cap “Komunis”. Tidak apa-apa, Karl Marx memang komunis. Tapipernahkah kita benar-benar membaca tulisan Marx? Pernahkah kita, membuka bukudengan nama Karl Marx di sampul depan? Membaca utuh satu saja karya tulisnyadari awal hingga tuntas? Sedikit saja menyisihkan waktu membaca, lalumengernyitkan dahi demi memahami yang Marx tulis? Pernah, saya juga yakin, danteks itu pasti bukan hanya “Sebelas Tesis Feuerbach”. Setahunterakhir, saya membaca tulisan-tulisan Marx. Membaca, dan berusaha memahami apayang sesungguhnya mau ia sampaikan. Saya beli satu buku ukuran Folio, sayacatatkan hasil pemahaman saya tiap-tiap sehabis membaca Marx di sana. Tahun inisaya memilih buku Das Kapital sebagai buku yang mau dibaca,sebab Manifesto Partai Komunis sudah saya tuntaskan; isi daricatatan ini kebanyakan adalah kutipan-kutipan langsung, sebagian lagi tafsirsaya atas teks, komentar atas tafsir orang lain, pertanyaan-pertanyaan,ilustrasi, bagan, sedikit sejarah ekonomi-politik, hubungan dengan teks Marx(is)yang lain, hingga komentar-komentarngalor-ngidul. Pembacaan tahun inibukan yang pertama, saya sudah pernah membaca Marx di Sekolah Perhimpunan Mudasebelumnya. Saya kembali membaca Marx sebab kurang puas dengan pemahamansebelumnya yang sepotong-sepotong dan cenderung sloganistik, tentu akibatrendahnya kapasitas pribadi. Setahunmembaca Das Kapital, beberapa teks lain, sambil tetapmelaksanakan rutinitas selayaknya pemuda normal, saya berhasil menutup tahundengan mencapai halaman ke-200 dari buku Das Kapital terbitan PenguinBooks terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Ben Fowkes. Sebuah pengantardari Ernest Mendel, satu pengantar penerjemah, dan tujuh kata pengantar &penutup dari edisi-edisi Kapital 1 berbagai bahasa olehMarx-Engels yang ikut disertakan dalam buku ini saya lewati sebelum berhasilmencapai paragraf-paragraf awal seksi “Sirkulasi Uang” dari Bab 3 yang berjudul“Uang, atau Sirkulasi Komoditas”. Beberapa tahun mengenal Marx sepintas dansetahun ini kembali membaca Das Kapital, bikin saya beranitarik kesimpulan; membaca Marx memang susah, tapi bukannya tidak tertembus. Kendalapertama membaca Marx adalah kendala bahasa. Marx menulis dalam bahasa Jermanabad ke-19 yang bagi kita yang tak mampu berbahasa Jerman, mesti puas dibacalewat terjemahan Bahasa Inggris atau Bahasa Indonesianya. “Kendala bahasa” initermasuk juga kesulitan yang timbul akibat latar sosio-kultural penulis. Marxialah seorang pemikir raksasa dengan referensi bacaan yang sangat luas. Dalamhalaman yang sama di tulisannya, kita bisa menemukan ia menggambarkanpenjelasannya dengan sebuah analogi di ilmu biologi lalu kutipan langsung darisebuah karya satir. Hal-hal ini kadang mengecoh, tapi seperti semua kendalabahasa, ia bisa dilalui hanya dengan membiasakan diri. Kendalakedua, adalah kendala yang timbul sebab kita tidak terbiasa membacasebuah buku teoretis. Pernahkah sebelumnya kita membaca buku teori?Yang saya maksud sebagai buku teori di sini bukan sebuah buku “Pengantar TeoriX” yang jamak ditemukan di toko-toko buku. Buku teori adalah buku yang isinyadisusun terutama dalam bentuk sistem konsep-konsep yang ketat. Konsep yang satubukan hanya saling berhubungan dengan konsep-konsep lain, tetapi juga salingmenjelaskan. Masalah ketika menghadapi jenis buku seperti ini ialah metodemenghapal yang sering kita gunakan dalam belajar di bangku sekolah tidak banyakmembantu, sebab definisi satu konsep tidak dapat habis dalam satu kalimat.Definisi satu konsep mesti dilihat lagi dalam hubungannya dengan konsep-konseplain yang terkait dengannya. Contohnya begini, apa yang dimaksud dengan “Kapital” dalam ekonomi-politikMarx? “Kapital”, dapat dimengerti sebagai “Nilai yang dapat memperbanyakdirinya sendiri”, sekaligus sebagai “Relasi sosial yang bertumpu padaeksploitasi tenaga-kerja”. Hal ini sebabnya mengapa masalah kesabarandan ketelitian dalam membaca buku teori penting. Ini juga sebabnya mengapasebuah buku teoretis umumnya bertahan lama dalam dunia pemikiran. Konsep-konsepyang hadir bisa dibaca dan ditafsir ulang tergantung fenomena yang hendakdijelaskan. Lebih lagi ini juga sebab mengapa metode asal kutip dalam mendapatdefinisi konsep dari sebuah buku teori sulit dipertanggungjawabkan. Berjumpadengan konsep-konsep artinya juga mesti membiasakan diri dengan laku abstraksi.Bagi pembaca seperti saya yang dididik secara formal dalam ilmu empiris,masalah abstraksi ini agak merepotkan. Konsep-konsep abstrak seringkali beradadi balik penampakan empiris, kita tidak bisa meraba atau meninjunya. Kita kerapjuga sulit menyaksikannya, melihatnya. Konsep abstrak berada di luarpancaindera, padahal pancaindera adalah sumber pengetahuan utama manusia. Tapijangan salah, konsep-konsep abstrak ini sesungguhnya adalah sesuatu yangsangat-sangat nyata, ia justru esensi dari gejala-gejala yang bisa ditangkappancaindera. Abstraksi konseptual digunakan sebab esensi dari kenyataan inikerap berbentuk mekanisme-mekanisme. Kalau kapital bisaditinju, ia pasti sudah lama K.O. dihajar Stalin. Bagaimanadengan pembaca yang biasa dengan abstraksi, misalnya pembaca yang berlatar ilmufilsafat atau matematika? Saya yakin perkara yang abstrak-abstrak di atas jadijauh lebih mudah. Tapi ada kendala terakhir, kendala yang paling besar danpaling sulit diatasi dalam membaca Marx. Tidak seperti dalam ilmu filsafat danmatematika, teori Marxpada dasarnya adalah teori mengenai kenyataan sosial yang spesifik. Di dalamtulisan-tulisannya ia sedang menyingkapkan ekploitasi, represi dan dominasidalam masyarakat berkelas yang kita, para pembaca, tanpa terkecuali adalahbagian di dalamnya. Kita tidak bisa tidak adalah anggota dari satu kelastertentu. Hal inisaya katakan paling berat sebab pada titik ini kita mesti sekaligus berhadapandengan kesadaran penuh diri kita sendiri dan relasi-relasi sosial yang darinyakita hidup. Sadar untuk sadar, bahwa kesadaran individual kita yang kita kira unik, ternyataadalah bagian dari kesadaran sosial yang pada akhirnya (menurut saya ini bagianpaling menyebalkan dari teori Marx) ditentukan oleh kondisi-kondisi material,oleh relasi-relasi kelas. Sulit sekali rasanya menerima pemikiran Marxsejauh kita tidak pernah memiliki, mengetahui, dan mengalami sendiri pengalamankelas pekerja. Wajar sekali kalau kelas borjuasi anti-Marxisme. Yang pentingdisadari adalah mengapa kita yang bagian dari kelas pekerja juga mengalamikesulitan memahami Marxisme. Mengapa, meski sudah terlibat dalam perjuanganbersama rakyat, biar telah membaca Marx, kita tetap anti-sosialisme? Ini yangdapat diterangkan lewat teori hegemoni. Mengakui adanya hegemoni berarti mengakui kesadaran kelaspekerja pun dapat berada dalam lingkup ideologi kelas yang berkuasa, sekaligusdapat melepaskan diri darinya. Kita boleh sadar kelas sesaat ketika sedangkhusyuk membaca Marx, tapi kesadaraan ini kemudian mesti terus menghadapihegemoni harian lewat internalisasi nilai-nilai keluarga di rumah, dalambincang-bincang ringan dengan kawan baik sehari-hari, dalam komentar-komentarsantai di media sosial, belum lagi dari buku-buku pelajaran di sekolah,berita-berita media massa, ceramah di masjid, ketika menghayati lirik lagu bandfavorit, dan lain-lain sebagainya yang semuanya, dengan satu dan lain cara,menolak kesadaran baru kita yang tentu saja berlawanan dengan kesadaran sosialyang mainstream. Lihat, seberapa sering dan seberapa mudahgagasan “Semua manusia bersaudara”, atau “Kebenaran objektif tidak dapatdicapai oleh akalbudi manusia” kita lontarkan, terima, dan jadi patokanpreferensi-preferensi sehari-hari dibanding menerima dan melontarkan gagasan“Buruh dan tani adalah sumber kekayaan masyarakat”? PemikiranMarx disebut revolusioner bukan hanya karena ia menulis kata “revolusi” yangbanyak dalam tulisan-tulisannya. Pemikirannya bersifat revolusioner sebab iamenawarkan sudut pandang yang sama sekali berlawanan dengan kesadaran-kesadarantatanan yang lama. Sebab pemikirannya menuntut kita, pembacanya, juga melakukanrevolusi pemikiran. Yang terakhir ini adalah proses yang sama sekali tidakmudah sebab kita mesti berhadapan terus dengan kesadaran sosial sehari-hari yangjustru lewatnyalah kita berelasi dengan orang lain. Oleh sebab itu proses initidak pernah berlangsung dalam sekali hentakkan. Ada rasa sakit dan tidak enak yang mesti dihadapi sendiriketika kita mengalami mengalami “patahan-patahan pemikiran”, ketika kitamemperoleh kesadaran baru yang menuntut kita meninggalkan (bahkan seringkalimenentang) kebiasaan-kebiasaan berpikir yang lama. Marx sendiri jugamengalaminya ketika ia menentang kawan-kawan Hegelian Muda dan mentorsosialisnya P-J. Proudhon. Ini adalah proses normal dalam proses memahamipemikiran-pemikiran radikal. Jadi, kalau kita mengalami rasa kurang nyamanketika mulai belajar memahami pemikiran Marx, tenang saja, itu tandanya kita dijalur yang benar. Diluar kendala-kendala di atas, menurut saya desas-desus soal sulitnya BagianSatu Das Kapital “Komoditas dan Uang” benar adanya. Pembacayang baru pertama kali mengenal teks ini sangat disarankan untuk melompatibagian ini untuk langsung ke Bagian Dua, “Transformasi Uang Menjadi Kapital”.Saya sendiri dulu juga melewati bagian ini berkat dibimbing guru yang lebihberpengalaman. Saya hanya membaca dua seksi pertama yang menjelaskan relasinilai-guna & nilai dan kerja-berguna dan kerja-abstrak untuk kemudianlompat ke Bagian Dua. Baru di pembacaan kali ini saya berani langsung masuk kebagian-bagian angker itu. Hemat saya ini hanya kendala teknis yang mudahdiatasi dan nyatanya tidak sesukar yang saya bayangkan sebelumnya. Marx menulis untuk kelaspekerja, bukan untuk anak indigo. Saya yang hanya bermodal waktu luang,rasa penasaran dan keberanian berpikir mandiri saja mampu melewatinya. Mereka yang serius mau tidak maupasti mengembangkan disiplin, kesabaran, ketekunan, ketelitian, dan sepertiyang dikatakan Ketua Mao, kejujuran dan kerendahan hati dalam petualangannyabersama Marx. Masalahnya hanya berani tidak membaca Marx? Setahunmembaca Das Kapital dan kesimpulan saya memahami Marx memangsusah, namun bukannya tidak tertembus. Setahun membaca Das Kapital dansaya mendapat 200 halaman dengan pemahaman yang masih dangkal dan kemajuan yanglambat. Ribuan tahun membaca Marx dan mungkin pemahaman saya tak akan pernahseketat dan secanggih Martin Suryajaya. Tapi Marx sudah mati dan pemikirannyabukan lagi milik siapa-siapa. Kita semua bebas membaca dan menafsirkannyasuka-suka. Mumpung di negeri ini Partai Komunis dilarang ada, mumpung membacadan menafsirkan Marx belum berpengaruh ke nasib rakyat banyak.***
