Saham PT SI Turun, WALHI: Berhenti Salahkan Petani Kendeng

Rabu, 05/04/2017 22:42 WIB

Sejumlah pegiat melakukan aksi teatrikal solidaritas peduli petani Kendeng di 
Jakarta, Senin (3/4). (Foto: Antara)

KBR, Jakarta- LSM lingkungan WALHI meminta sejumlah pihak berhenti menyalahkan 
demonstrasi petani Kendeng, Jawa Tengah, atas menurunnya saham PT Semen 
Indonesia yang membuka pabriknya di daerah tersebut. Kepala Departemen Kajian, 
Pembelaan dan Hukum Lingkungan Walhi, Zenzi Suhadi, mengatakan turunnya saham 
adalah akibat pemerintah yang menerbitkan izin lingkungan tanpa memperhatikan 
unsur kehati-hatian. Sehingga resiko investasi itu merupakan buatan pemerintah 
sendiri.Baca juga:   
   - Karst Kendeng, Ahli Geologi Desak Fokus Pada Gua Bawah Tanah
   - Jadi Komut Semen Indonesia, Ini yang akan Dilakukan Sutiyoso
"(Itu karena) Tata kelola pemerintahan yang jelek. Terus yang kedua, image 
pemerintah kita yang tidak patuh pada hukum. Itu yang dilihat oleh (pemberi) 
investasi," terangnya usai diskusi di Jakarta, Rabu (5/4/2017) sore.

"Tata kelola di Indonesia sangat jelek. Kalau mereka memiliki izin, izin itu 
sesungguhnya hanya memenuhi syarat administratif," tambahnya.

Saham PT Semen Indonesia (SMGR), Kamis (30/3/2017) pagi pekan lalu, sempat 
turun 75 poin ke level 9.000. Jika dihitung setahun, menurut pantauan 
Bloomberg, saham SMGR sudah turun 8,04 persen.

Sejumlah pihak menganggap penolakan warga Kendeng atas pabrik semen sebagai 
penyebab jatuhnya saham perusahaan tersebut.  Ketua Kebijakan Publik Asosiasi 
Pengusaha Indonesia, Danang Girindrawardana, mengklaim kasus ini menghambat 
20-25 persen investor asing di bidang infrastruktur - yakni semen, baja, dan 
telekomunikasi. Sementara Anggota Komisi bidang Industri DPR, Bowo Sidik 
Pangarso, berpendapat jika pabrik ditutup maka negara akan rugi Rp 4,9 triliun. 
Dengarkan juga: 
   
   - Surat dari Warga Penolak Pabrik Semen untuk Gubernur Ganjar 
   - Surat Rakyat Kendeng untuk Presiden Jokowi
Meski begitu, menurut Zenzi, pemerintah tidak bisa hanya menghitung keuntungan 
ekonomi dan mengabaikan aspek lingkungan. Pihaknya mencatat ada kerugian 46 
triliun pertahun jika Cekuangan Air Tanah (CAT) Watuputih Kendeng, yang satu 
mata airnya menghasilkan 600 liter air per detik, terkena dampak penambangan.

"Kesalahan terbesar negara kita, sesuatu baru akan dinilai secara ekonomi kalau 
dikeluarkan uang atas itu," pungkasnya.  
Editor: Dimas Rizky

Kirim email ke