http://entertainment.kompas.com/read/2017/04/07/164811410/salam.perpisahan.untuk.
<http://entertainment.kompas.com/read/2017/04/07/164811410/salam.perpisahan.untuk.kapitalisme.di.milan.design.week.2017>
kapitalisme.di.milan.design.week.2017
<http://entertainment.kompas.com/read/2017/04/07/164811410/salam.perpisahan.untuk.kapitalisme.di.milan.design.week.2017>
Salam Perpisahan Untuk Kapitalisme
di Milan Design Week 2017
Bambang Asrini Widjanarko
Kompas.com - 07/04/2017, 16:48 WIB
Salah seorang partisipan, arsitek sekaligus desainer dari Indonesia Budi
Pradono, menyajikan simbol ungkapan keterasingan jiwa berbentuk dua
anjing: Poppy & Brownie (Poppy dengan berat 1 kg, dimensi 255 mm x 160
mm x 280 mm dan Brownie dengan berat sekitar 2kg dengan dimensi 465 mm x
300 mm x 325 mm), sebuah karya collectible items. (Dodi Pradono via
Bambang Asrini Widjanarko)
*HAJATAN* Milan Design Week 2017 pada April di sesi khusus mengusung
tema provokatif “Capitalism is Over”. Sebuah pameran alternatif,
memancing ironi di tengah hingar-bingar festival, seminar, ekshibisi
furnitur dan produk interior bergengsi.
Raumplan, sebuah inisiatif kolektif para desainer, arsitek dan periset
isu urban mencuri perhatian publik di Milan, Italia. Mereka menggagas
ruang praktik interdisipliner desain dengan pemikiran-pemikiran kritis.
Menggelar program kuratorialnya di Cascina Cuccagna.
Apa yang direspons Raumplan atas kondisi dunia mengingatkan sebuah jajak
pendapat pimpinan bisnis global versi Bloomberg pada 2012. Hasilnya,
menyatakan bahwa 70 persen dari partisipan percaya bahwa kondisi
kapitalisme dikatakan sebagai dalam masalah serius.
Sepertiga dari koresponden membutuhkan sebuah kerja radikal untuk
meninjau regulasi-regulasi bisnis internasional.
Dan kita ingat, setahun sebelumnya, gerakan sosial Occupy Wall Street di
New York mengguncang dunia. Sebuah fenomena mengungkap kekawatiran
penguasaan modal sejumlah 1 persen manusia “mengangkangi” 99 persen
populasi dunia, yang sampai kini masih terus dikumandangkan oleh
aktivis-aktivisnya.
Perubahan-perubahan sudah terjadi dimana-mana. Membaca Buku Al Gore,
mantan Wakil Presiden Amerika Serikat
<http://indeks.kompas.com/tag/amerika.serikat> yang sempat meraih Nobel
perdamaian, di The Future (2013), kita menemukan analisa masa depan agak
tragik.
Mulai ekonomi global yang menaruh harapan perimbangan kekuatan negara
dibanding arogansi korporasi, revolusi digital, dan bio teknologi
sebagai keniscayaan sains sampai mendesaknya perhatian penentu kebijakan
publik tentang isu iklim ekstrim dan pemanasan bumi serta transisi energi.
Gore, selebihnya membahas melimpahnya populasi yang menekan konsumsi
sumber daya alam yang berlebihan, meningkatkan krisis teritori berskala
global. Segala yang ditulis Gore dalam 378 halaman di bukunya laiknya
“seismograf”.
Salah satu karya Abet Laminati yang dipamerkan di Milan Design Week
2017.(Budi Pradono via Bambang Asrini W)
Rambu-rambu peringatan akan segera datangnya “gempa lebih dahsyat” bagi
bumi, jika perubahan tidak segera diantisipasi.
Ide Raumplan mungkin terinspirasi para futurolog. Separuh sains
probabilitas dan riset sisanya ramalan.
Seperti kombinasi dari HG Wells, John Naisbitt, Alfin Toffler, atau Al
Gore, yang memandang dunia dalam kondisi mengenaskan, meskipun kita dan
tak ketinggalan para desainer mulai merasakannya sendiri gejala-gejala
“katastropik” yang tengah terjadi.
Sementara itu di Cascina Cuccagna, mereka membingkai kapitalisme yang
dikatakan mengalami senjakala, sebuah skenario muram disodorkan. Para
desainer kemudian membincangkan isu-isu politik, krisis energi, dan masa
depan bumi.
Mereka mewujudkannya via instalasi, produk-produk revolusioner
berkonteks masa depan.
Membayangkan semangat retro, era ketika kehidupan belum mengeksploitasi
sumber daya alam di masyarakat pra industri. Semangat romantisme
diuarkan, dengan berbalik ke alam dengan produk /recycle/ atau ketika
era dengan konsep bengis “homo homini lopus” atau manusia menjadi
predator bagi sesama dikritik keras.
*
Budi Pradono dan dua anjing*
Salah seorang partisipan, arsitek sekaligus desainer dari Indonesia Budi
Pradono, menyajikan simbol ungkapan keterasingan jiwa berbentuk dua
anjing: /Poppy & Brownie/ (Poppy dengan berat 1 kg, dimensi 255 mm x 160
mm x 280 mm dan Brownie dengan berat sekitar 2kg dengan dimensi 465 mm x
300 mm x 325 mm), sebuah karya /collectible items/.
Poster Poppy & Brownie karya Budi Pradono (Dodi Pradono)
Anjing sebagai teman sejati, representasi dari era ekonomi
post-industri, dan pencarian hakikat menjadi warga kota ideal.
Berefleksi terhadap gelombang urbanisasi yang membuat manusia superior,
makmur secara finansial dalam waktu sama mengalami keterasingan.
Teknologi makin maju, terutama teknologi informasi, namun relasi antar
mahluk dicekam kegelisahan akut.
Demokrasi didengungkan sebagai solusi bagi kesejahteraan dari rakyat
biasa, berubah menjadi korporatokrasi yang energinya dikendalikan oleh
perusahaan multinasional.
Globalisasi mulanya didamba menjadi tulang punggung saling pengertian
teritori antar bangsa, malahan menciptakan ketegangan penguasaan
sumber-sumber daya alam yang mencipta ancaman perang.
Seperti kata Budi Pradono, “Dua ekor anjing di Kota Tua
<http://indeks.kompas.com/tag/kota.tua> seperti sebuah ratapan untuk
merestorasi paras kota dengan preservasi dan konservasi secara total.
Waktu paling tepat memperhatikan daerah-daerah terpencil yang
ditinggalkan manusia untuk pergi kota”.
Budi Pradono membuat metafora anjing adalah simbol kesetiaan terhadap
kebajikan dan nilai-nilai lama, jauh sebelum gelombang kapitalisme tiba.
“Kesenjangan sosial meluas di kota-kota, diperparah ketegangan orientasi
ideologi dan politik yang dipermudah justru di era teknologi informasi,”
ujar Budi Pradono.
Salah satu instalasi karya Maya Manz di Milan Design Week 2017
Watak alienasi, sambung Budi, tercipta karena cita-cita yang keliru pada
modernitas, kepercayaan mutlak hal-hal yang bersifat materiil. Poppy dan
Brownie adalah ungkapan kehausan spiritual warga kota, yang mendamba
kesetiaan atas mitra mereka sesama manusia menjadi mahluk hidup yang utuh.
Desainer ini dengan karyanya ingin mengatakan bahwa manusia masih
memiliki harapan, terutama dengan kekuatan warga yang mandiri. Membangun
jejaring di jagat maya, mempromosikan kesetiaan, saling menghargai dan
mendamba ketulusan-ketulusan seperti dua anjing tersebut.
Di /event/ yang sama, pada seni-seni lain, yang banyak bertebaran di
kota Milan, pengunjung ekshibisi melihat para desainer independen,
kelompok-kelompok inisiatif kreatif dengan produknya me-/Review
<http://indeks.kompas.com/tag/review>/ jejaring bisnis swakelola sebagai
lelaku katalis pemasaran anyar.
Demokratisasi pasar terjadi dengan revolusi teknologi informasi serta
strategi memproduksi produk-produk yang dipresentasikan secara unik.
Korporat besar tak mau kalah, seperti Ikea dan Amazon, menjajal
produk-produknya dengan kemungkinan menjadi tren pada 2017 dengan
dukungan logistik yang sangat maju dan berakar di benak konsumennya.
Tahun ini, ajang prestisius bazaar produk desain sejagat yang dilakoni
3.000 /exhibitor/ dari berbagai negara berlokasi di beberapa tempat di
Milan.
Pavilliun Indonesia yang mewakili negara dengan puluhan desainer
partisipannya memamerkan karya-karya produk yang lolos seleksi kurasi
Bekraf (Badan Ekonomi Kreatif), dengan tampil membawa detail berbasis
kekayaan budaya kita, misalnya rotan, kayu, kain tenun dan batik.
Sedangkan jenis produk mebel seperti meja, kursi dan sofa, serta home décor.
EditorAmir Sodikin