Sandiaga Uno: Perda Syariat, proses hukum, dan berbagai isu lain 
http://www.bbc.com/indonesia/majalah-39543850 1 jam lalu

 Tautan eksternal dan akan terbuka di layar baru Bagikan artikel ini dengan 
Facebook http://www.bbc.com/indonesia/majalah-39543850#  Bagikan artikel ini 
dengan Twitter http://www.bbc.com/indonesia/majalah-39543850#  Bagikan artikel 
ini dengan Messenger http://www.bbc.com/indonesia/majalah-39543850#  Bagikan 
artikel ini dengan Email 
mailto:?subject=Shared%20from%20BBC%20Indonesia&body=http%3A%2F%2Fwww.bbc.com%2Findonesia%2Fmajalah-39543850
  Kirim http://www.bbc.com/indonesia/majalah-39543850#share-tools




 
 Hak atas fotoTWITTER SANDIAGA UNOImage captionSandiaga Uno saat bertemu 
pendukungnya di Jakarta, 21 Maret 2017 lalu. Ketika wawancara berlangsung, 
Sandiaga Uno tiba-tiba menginterupsi "apakah wawancaranya dihentikan dulu atau 
tetap dilanjutkan?" Saat itu terdengar bunyi adzan maghrib dari alat pengeras 
suara di salah-satu ruangan kantor Recapital di kawasan Kebayoran Baru, 
Jakarta, salah-satu perusahaan miliknya.
 Wawancara akhirnya dihentikan sementara. "Kita break dulu ya," ujar pria 
kelahiran 1969 ini. Petang itu, Senin, 27 Maret, calon Wakil Gubernur Jakarta 
yanng berpasangan dengan cagub Anies Baswedan ini mengenakan kaos Polo putih, 
celana krem dan sepatu kets warna hitam.
 Hari itu, seperti hari-hari sebelumnya, kegiatan Sandiaga dipadati dengan 
aktivitas kampanye Pilkada Jakarta dan kegiatan lainnya. Di akun Twitter 
miliknya, Sandi hari itu antara lain menghadiri rapat kerja HIPMI hingga 
menerima wartawan Majalah Bollywood untuk sebuah wawancara.
 "Maaf saya agak flu," katanya, sebelum wawancara, namun politikus Partai 
Gerindra ini menerima wartawan BBC Indonesia, Heyder Affan, Christine 
Franciska, Oki Budhi serta Mehulika Sitepu, untuk wawancara.
 Anies-Sandi 'gunakan masjid' untuk kalahkan Ahok-Djarot? 
http://www.bbc.com/indonesia/indonesia-39494240 Isu SARA meningkat di Pilkada 
DKI Jakarta, salah siapa? http://www.bbc.com/indonesia/indonesia-39372353 
Akankah isu agama makin kuat di putaran dua pilkada Jakarta? 
http://www.bbc.com/indonesia/indonesia-38992963 Selama sekitar satu jam, 
pengusaha yang pernah digolongkan sebagai salah satu orang terkaya di Indonesia 
ini menjawab berbagai pertanyaan.
 Mulai soal program kerjanya, pilihannya berpolitik, persoalan isu agama dan 
ras yang merebak selama pilkada. Pencinta olah raga lari ini juga menepis 
berbagai isu yang dilekatkan pada dirinya dan Anies Baswedan.
 "Ini salah-satu hoax. Perda syariat itu tidak pernah ada dalam platform kita, 
dalam rencana kerja kita," katanya menanggapi informasi yang beredar di 
masyarakat tentang agenda pemberlakuan Perda Syariat di Jakarta jika pasangan 
Anies Baswedan dan Sandiaga Uno memenangkan pemilihan gubernur nanti.
 Berikut petikan wawancara BBC Indonesia dengan Sandiaga Uno:
 Anda sudah lama malang-melintang di bisnis, dan bahkan Forbes pernahmenobatkan 
Anda sebagai salah seorang terkaya di Indonesia. Namun Anda memutuskan terjun 
ke politik. Di titik mana Anda bisa memutuskan meninggalkan bisnis dan total 
terjun ke politik?
 Awal 2015, saya terlibat pembicaraan dengan yang bisa dikatakan heart to 
heartdengan Pak Prabowo. Singkatnya, beliau menyampaikan undangannya agar saya 
bergabung ke Partai Gerindra. Dan saya sampaikan pada saat itu, saya belum siap 
dan saya menolak.
 Tapi beliau menyampaikan bahwa politik di Indonesia itu butuh kontribusi dari 
orang-orang yang sudah selesai dengan kebutuhan ekonominya. Jadi betul-betul 
ingin kontribusi untuk bangsa dan negara. Saya waktu itu, awalnya mengatakan, 
saya sudah berkontribusi untuk bangsa dan negara melalui dunia usaha, yaitu 
menciptakan lapangan kerja.
Hak atas fotoTWITTER SANDIAGA UNOImage captionSandiaga Uno, Prabowo Subianto 
dan Anies Baswedan dalam sebuah acara kampanye di Jakarta. Tapi dia sampaikan 
bahwa kalau di politik itu dampaknya bukan hanya 50 ribu karyawan, tapi bisa 
dirasakan oleh mungkin jutaan, belasan juta atau bahkan puluhan juta warga atau 
rakyat Indonesia.
 Dia ceritakan bahwa saya punya passion terhadap UMKM (usaha mikro kecil dan 
menengah). Dia bilang kalau kamu hadirkan kebijakan yang sangat mumpuni, 57 
juta UMKM akan terbantukan dengan policy yang berpihak kepada mereka dan akan 
meningkatkan ekonomi mereka.
 Akhirnya di titik itu, dia juga sampaikan: 'mau kaya sampai gimana lagi sih? 
Sudah jadi pengusaha sangat sukses, dan mungkin jarang sekali ada anak muda 
dengan usahanya sendiri bisa membangun usaha. Kamu tanya deh sama orang tua, 
tanya sama ibu.'
Hak atas fotoTWITTER SANDIAGA UNOImage captionSandiaga mengaku keputusannya 
untuk terjun ke politik praktis tidak terlepas dari peranan ibunya, Mien Uno. 
Untuk mengakhirinya saya bilang 'ya pak, saya akan tanya', karena saya sudah 
pernah tanya kepada orang tua, dan orang tua saya tidak pernah mengizinkan.
 Pagi-paginya, saya menghadap ibu saya dan ibu saya tanya: 'kenapa pagi-pagi 
ini datang ke sini, mau tanya boleh atau enggak masuk politik?' Saya jawab: Kok 
tahu. Ternyata Pak Prabowo sudah mendahului saya, berkomunikasi dengan ibu 
saya, dan saya diizinkan masuk politik.
Hak atas fotoTWITTER SANDIAGA UNOImage captionSelama masa kampanye, Sandiaga 
menyempatkan memangkas rambut di kawasan Glodok, Jakarta, 28 Maret lalu. 
Sekitar bulan April 2015, di situlah dimulai. Tapi saya langsung konsekuen, 
saya tidak mau hidup di dua dunia. Saya mau betul-betul totalitas. Saya 
tinggalkan dunia usaha. Saya tidak mau berpolitik sambil berdagang dalam waktu 
yang sama. Saya tidak mau mempolitikkan dagang, dan saya tidak mau 
memperdagangkan politik. Saya tinggalkan secara totalitas posisi-posisi saya di 
dunia usaha.
 Jadi memang benar anggapan yang menyatakan bahwa peran ibu Anda sangat besar 
dalam menentukan pilihan Anda untuk berpolitik?
 Ibu sangat, sangat sentral peranannya dalam keputusan-keputusan strategis yang 
saya ambil. Karena beliau yang menanamkan nilai-nilai luhur tentang harus 
amanah, harus rajin, harus disiplin, dan bagaimana bertutur kata, bagaimana 
berinteraksi secara sosial.
Hak atas fotoTWITTER SANDIAGA UNOImage captionSandiaga Uno, Anies Baswedan, 
Djarot Syaiful Hidayat dan Basuki Tjahaja Purnama usai mengikuti sebuah acara 
di Net TV. Saya beruntung ibu memberikan bimbingan sedari awal. Dan untuk 
keputusan penting, salah-satunya waktu memutuskan untuk terjun ke politik 
secara totalitas, saya berdiskusi dengan beliau dan beliau memberikan arahan 
dan bimbingannya, dan sepertinya itu mungkin menjadi takdir yang maha kuasa, 
dan pada saat itu saya juga akhirnya memutuskan untuk melangkah masuk ke dalam 
politik.
 Kembali ke soal pilihan Anda terjun ke politik. Apakah pilihan itu diambil 
ketika usaha Anda sedang mengalami penurunan?
 Usaha saya yang saya bangun sekitar 20 tahun, terus berkembang. Dan saya 
berhaisl mencatatkan saham di Bursa Efek Indonesia sehingga sangat transparan. 
Bisa dicek kinerjanya. Bisa dicek investasi portfolionya di mana saja. 
Perusahaannya terus berkembang, dan setelah tinggal alhamdulillah kinerjanya 
terus membaik.
Hak atas fotoTWITTER SANDIAGA UNOImage captionSandiaga Uno bersama mantan 
Presiden BJ Habibie pada Februari 2017 lalu. Sampai saya berpikir, apakah saya 
terlalu lama menjadi CEO, karena saya hampir lebih dari 17 tahun. Sekarang 
dengan tim yang solid, profesional, anak-anak muda yang menjalankan, ternyata 
portfolio yang saya bangun saat itu menghasilkan kinerja yang sangat memuaskan.
 Bisa Anda ceritakan apa yang terjadi pada Mandala Airlines dan TV Bloomberg 
Indonesia yang akhirnya ditutup?
 Ada beberapa hal tidak kita hitung dengan baik. Walaupun kita bermitra dengan 
perusahaan terbaik di dunia di bidang penerbangan (yaitu Singapore Airlines), 
ternyata ada masalah infrastruktur yang ada di Indonesia, mengenai rute, 
airport, dan juga kita akhirnya terterpa dua permasalahan yang sangat inti 
tidak terbayangkan saat itu, yaitu harga minyak yang melonjak tinggi dan nilai 
tukar Rupiah atas Dollar AS yang melambung tinggi juga. Bisnisnya jadi tidak 
dapat hidup terus. Karena incomemenurun draktis, karena incomenya dalam Rupiah, 
sementara pengeluarannya yang Dollar itu meningkat tajam. Akhirnya setelah kita 
berembug, kami putuskan untuk menghentikan operasinya.
Hak atas fotoTWITTER SANDIAGA UNOImage captionSandiaga Uno dikerubuti anak-anak 
muda di sela-sela Rakernas HIPMI, 27 Maret lalu Bloomberg itu di-drive oleh 
anak muda yang waktu itu saya betul-betul tertarik. (Sandiaga Uno menyebut 
nama). Dia membawa proposal, mengajak Bloomberg untuk eksis di Jakarta dan 
dengan business model yang bagus sekali. Dia ingin pendanaan dari kita. Saya 
sampaikan bahwa saya tidak terlalu aktif di Recapital (nama perusahaan) dari 
tahun 2007. Rupanya juga sama terpaan daripada pengeluaran yang tinggi dan 
biaya yang tinggi ini tidak diimbangi revenue karena belum bisa menarik iklan, 
akhirnya harus ditutup. Saya sedih juga. Setiap ada investasi yang tidak 
berhasil.
 Ketika Anda memutuskan untuk menjadi calon wakil gubernur dan Anies menjadi 
calon gubernur, padahal sebelumnya Anda yang disebut-sebut sebagai calon 
gubernur. Mengapa Anda akhirnya membiarkan Anies menjadi calon gubernur?
 Saya bukan membiarkan. Saya meminta mas Anies sebagai calon gubernur. Karena, 
saya melihat kombinasi ini bisa menawarkan sebuah solusi dan inovasi dalam 
perpolitikan di Indonesia.
 Pertama, saya melihat bahwa masalah pendidikan, Anies adalah ahlinya. Kedua, 
saya melihat bahwa ini juga pelajaran politik yang baik, karena saya dulu 
jubirnya Pak Prabowo, beliau jubirnya Pak Jokowi. Kita menunjukkan ke khalayak 
ramai, kepada Jakarta dan Indonesia, bahwa demi memajukan masyarakat Jakarta, 
kita tidak punya beban politik, kita berdamai dengan masa lalu dan kita menapak 
masa depan.
 Ketiga, saya melihat bahwa ini juga jawaban bahwa selama ini politik sarat 
dengan harus menjadi gubernur, harus menjadi pimpinan, harus menjadi nomor 
satu. Tapi saya tunjukkan bahwa di dalam politik itu ada inovasi. Di mana kita 
sama-sama sepakat konsepnya itu adalah Dwi Tunggal. Kita bagi porsisnya secara 
kongkrit dari awal bahwa kalau posisinya adalah ekonomi dan infrastruktur, itu 
tanggungjawab saya, dan beliau membidangi institusi dan manusia.
Hak atas fotoTWITTER SANDIAGA UNOImage captionAnies Baswedan dan Sandiaga Uno 
dalam acara sholat subuh di Masjid Istiqlal, Jakarta, 10 Februari 2017. Saya 
melihat ini sebuah terobosan. Biasanya orang politik itu berpikir tidak ada 
keikhlasan. Tapi menurut saya, kalau politik mau membangun buat warga, 
khususnya warga Jakarta, kita harus lakukan ini dengan pikiran terbuka. Enggak 
boleh pokoknya. Harus ada kemauan dan kemampuan untuk melihat kombinasi yang 
terbaik.
 Kepada media Anda menyebut telah mengeluarkan sekitar Rp7milyar selama 
kampanye pilkada putaran kedua. Dan pasti lebih besar jika ditambah dana yang 
Anda keluarkan selama putaran pertama. Gelontoran uang Anda ini tentu sangat 
besar, dan pasti ada pertanyaan di masyarakat, mengapa Anda sampai mengeluarkan 
uang banyak demi sebuah jabatan. Apa yang melatari dan memotivasi Anda?
 Saya tidak hitung-hitungan. Kalau melihat di dalam politik bahwa apa yang saya 
lakukan ini murni demi untuk menjawab harapan masyarakat. Dan saya sampaikan 
kepada tim, kalau bisa cari pendanaan. Tapi memang kondisi ekonomi lagi sulit, 
dan kita tidak didukung oleh pengusaha-pengusaha besar, tidak didukung oleh 
kekuatan-kekuatan yang besar. Jadi saya begini: Jangan takut. Kalau ada 
kekurangan, saya akan mencoba memberikan dana dari pribadi saya.
 Tentang pro-kontra reklamasi Teluk Jakarta, bagaimana posisi Anda? Menolak, 
atau menerima dengan catatan, atau seperti yang Anda utarakan ke media: akan 
mengkomunikasikan orang-orang di belakang proyek itu dan masyarakat nelayan?
 Posisi kami menolak reklamasi dan kami akan menghentikan reklamasi yang 
dilakukan hari ini. Karena kami sudah lihat prosesnya sangat tidak terbuka, 
sangat tidak berkeadilan. Kita sudah melihat juga ada kasus hukum yang menerpa 
di mana sudah ada vonis yang dijatuhkan. Jadi mari kita duduk bersama, jangan 
dipaksakan, karena akhirnya akan menimbulkan ketidakpastian dan ini akan 
menjadi sebuah komoditas politik.
Hak atas fotoTWITTER SANDIAGA UNOImage captionSandiaga saat berkampanye di 
Kampung Bali, Jakarta, 22 Maret. Bagi kami selama reklamasi itu bisa 
menghadirkan kepentingan dan keberpihakan kepada warga kebanyakan, khususnya 
nelayan-nelayan yang ada di pesisir, masyarakat di pesisir, dan membangun 
Jakarta dan Indonesia berbasis maritim, dan sebuah keinginan masyarakat bisa 
memiliki akses terhadap pantai, akses terhadap rekreasinya, mari kita duduk 
bersama, kita komunikasikan dan kita coba mendengar apayang menjadi isu yang 
dihadapi oleh para nelayan, investor.
 Tapi kalau reklamasi yang seperti sekarang ini, kita sudah putuskan untuk 
menghentikan reklamasi. Kita tidak mau kompromi.
 Setelah lolos ke putaran kedua Pilkada Jakarta, sebuah survei memprediksi Anda 
dan pasangan Anies dan Sandiaga lebih diunggulkan untuk memenangiPilkada 
Jakarta. Apa komentar Anda?
 Masih perlu kerja keras. Kami tidak terlalu menitikberatkan kepada survei. 
Kami terus gunakan kesempatan untuk menangkap aspirasi warga. Kami tidak mau 
takabur atau jumawa karena kami dikatakan unggul. Tapi selama 18 bulan, saya 
tidak pernah diperhitungkan. Saya selalu dianggap anak baru di politik, enggak 
akan punya peluang sama sekali. Tapi dengan kerja keras, dan saya sampaikan ke 
mas Anies, kalau mas Anies ikut dengan ritme saya, dan mas Anies percaya bahwa 
tiga isu itu, yaitu pendidikan, lapangan pekerjaan dan biaya hidup di Jakarta, 
kita mestinya mendapatkan sebuah kampanye yang sangat mendapat feedback yang 
bagus dari masyarakat. Kita akan memenangkan hati dan pikiran warga Jakarta 
kalau kita fokus isunya itu adalah isunya yang sangat riil yang mereka hadapai 
dalam keseharian.
 Selain tema ekonomi kerakyatan yang disebut menjadi kampanye Anda dan Anies, 
apa yang bisa Anda katakan ketika sebagian pengamat mengatakan faktor lain 
yaitu isu sentimen agama yang diderita lawan politik Anda?
 Saya dididik di Sekolah Dasar PSKD (Persatuan Sekolah Kristen Djakarta), saya 
lulus dari SMA Katolik. Partner-partner saya dari multi etnis, ada multi etnis 
Tionghoa, ada Kristen. Komitmen saya, yang tidak bisa dikompromikan, adalah 
Bhinneka Tunggal Ika. Dan yang sangat disayangkan dua isu itu, agama dan ras, 
membuat kita terpecah belah. Dua isu itu membuat kita terkotak-kotak.
Hak atas fotoJAKARTA MAJU BERSAMA.COMImage captionPrabowo Subianto dan Sandiaga 
Uno. Sekarang alhamdulillah, putaran kedua jauh lebih tenang, pembicaraan lebih 
fokus pada program. Tapi di putaran pertama kemarin, fokus kami tetap dalam 
koridor lapangan pekerjaan, pendidikan dan biaya hidup. Dan kami tidak suprise 
dengan hasil akhir putaran pertama, karena survei internal kami - yang tidak 
pernah kami rilis - menunjukkan memang tiga isu yang kami pilih, kalau kami 
disiplin mengkomunikasikan dengan baik ke masyarakat dan menghadirkan 
solusinya, mestinya kita bisa memenangkan hati dan pikiran warga Jakarta.
 Tetapi bagaimana dengan pendukung Anda dan Anies di kalangan bawah yang 
menggunakan isu agama untuk menyerang rival Anda?
 Itu tugas kita bersama untuk meyakinkan mereka bahwa bangsa kita ini bangsa 
yang menghargai keberagaman. Jadi tugas kita sebagai pemimpin adalah yang bisa 
mempersatukan, mengingatkan mereka. Dan bukan hanya di pihak yang mengutarakan 
SARA, ada juga di pihak lain yang sangat, kalau boleh dibilang, pokoknya. 
Enggak mau mendengar. Jadi ini ada dua spektrum sama-sama enggak bicara satu 
sama lain. Kita butuh pemimpin yang bisa mempersatukan. Nah saya mencoba ke 
spektrum yang satu, dan mas Anies ke spektrum yang lain. Dan kita mencoba 
menjembatani ini semua. Karena kalau tidak akhirnya kota kita akan terbelah, 
dan akhirnya menyatukannya sangatlah sulit. Itu yang selalu saya ingatkan.
 Soal misi sebagai jembatan itu, apakah ini yang mendasari Anies Baswedan 
menemui pimpinan FPI Rizieq Shihab, walaupun para pengamnat menganggapnya 
sebagai blunder?
 Pak Anies datang ke sana itu diundang FPI untuk mengklarifikasi beberapa isu 
yang sangat menganggu mereka, dan pada saat yang sama, saya diterima oleh 
Kongregasi lebih dari 40 pendeta, dan itu tidak diangkat sama-sekali. Kami 
memang melihat harus ada yang menjembatani. Haters itu sangat-sangat mudah 
terpicu kalau tidak ada komunikasi. Kita ingin adanya pengertian di antara 
kelompok masyarakat yang ada di spektrum yang berbeda.
Hak atas fotoTWITTER SANDIAGA UNOImage captionSandiaga Uno diajak selfie oleh 
warga Jakarta di sela-sela kampanye, 9 Maret silam. Anies punya kemampuan untuk 
bicara dengan siapapun. Dan bukan berarti kalau saya datang ke satu tempat 
kemudian saya menjadi pendukung atau didukung, belum tentu. Tapi 
berkomunikasiitu hal yang positif.
 Orang-orang di sekitar Anda menyebut Anda menganut Islam moderat. Nah ketika 
Anda dikelilingi orang-orang atau kelompok yang digolongkan Islam garis keras, 
apakah Anda nyaman dalam situasi seperti itu?
 Yang mendampingi saya dalam 18 bulan berkampanye, ada etnis Tionghoa. Namanya 
Antoni Leong. Jubir saya Antoni Leong. Saya tidak melihat ada orang-orang 
(Islam) garis keras di samping saya. Tapi saya mengerti ada sebagian orang 
menghembus-hembuskan isu itu.
 Buat saya, saya sangat nyaman di dalam suasana apapun, karena saya menjunjung 
tinggi pluralisme dan menjunjung tinggi bahwa kita harus saling menghargai satu 
sama lain. Kita akhirnya sama-sama orang Indonesia, kita cinta damai, kita 
toleran, dan untuk itu saya sangat melihat bahwa Bhinneka Tunggal Ika dan 
keberagamaan kitu justru aset. Jadi sangat nyaman.
 Jika Anda dan Anies memenangi Pilkada Jakarta, apakah ada semacam politik 
balas budi kepada orang-orang yang dinamakan kelompok Islam garis keras. 
Misalnya, jika mereka menuntut pemberlakuan Perda syariat, Anda dan Anies akan 
mendukungnya?
 Ini salah-satu hoax. Perda syariat itu tidak pernah ada dalam platform kita, 
dalam rencana kerja kita. Saya harus bantah secara tegas pihak-pihak yang tidak 
bertanggungjawab terus menghembes-hembuskan ini. Mereka ingin memecah-belah 
kita. Saya percaya ekonomi syariah akan berkembang secara luar biasa di 
Indonesia, karena ini ekonomi berbasis keadilan, tetapi bukan artinya akan ada 
peraturan daerah (perda) syariah. Enggak bisa begitu.
Hak atas fotoTWITTER SANDIAGA UNOImage captionSandiaga Uno bersama para 
penggemarnya, 17 Maret lalu Kita lihat Bank Syariah, Bank Mualamat, Bank 
Syariah Mandiri. Dan ini sebuah keniscayaan di mana ada dua pemikiran di mana 
kewirausahaan itu adalah sebuah terobosan daripada prinsip ekonomi yang lebih 
berkeadilan. Dan ini ada di konsep-konsep ekonomi syariah. Kalau berkaitan 
dengan apa yang dihembus-hembuskan itu saya bisa bantah dari sekarang. Menurut 
saya, kalau orang yang mengenal saya sebagai orang moderat, komit terhadap 
NKRI, mereka sangat tercengang dan pasti tidak akan setuju. Karena itu jauh 
dari pribadi saya dan mas Anies. Mudah-mudahan dengan gerakan anti-hoax akan 
lebih menurunkan tensi politik.
 Ketika belakangan muncul sejumlah proses dan gugatan hukum terhadap Anda, 
apakah ini menganggu proses kampanye Anda?
 Saya harus tanggapi sebagai warga negara yang baik dan patuh terhadap hukum. 
Harus saya hadapi dengan segala konsekuensinya. Ini adalah konsekuensi kita 
menawarkan suatu perubahan. Dan begitu warga Jakarta melihat ada momentum yang 
kuat mendorong dan sekarang Anies-Andi sebagai alternatif kepemimpinan baru di 
Jakarta, ada pihak-pihak yang tentunya menggunakan kesempatan ini dengan 
motivasi yang berbeda-beda.
Hak atas fotoTWITTER SANDIAGA UNOImage captionBersama warga Cakung, Jakarta, 
Sandiaga Uno mengkampanyekan program kerjanya. Mungkin ada motivasi ingin 
menjatuhkan, ada motivasi ekonomi. Tapi kenapa tidak dulu-dulu? Apalagi ini 
kasusnya 10 atau 20 tahun lalu. Mengapa sekarang (dipermasalahkannya)? Tapi, 
ya, itulah, saya enggak boleh cengeng dengan isu ini, karena sudah diingatkan 
bahwa akan ada isu-isu yang muncul. Jadi akan kita hadapi dengan baik. Dan kami 
tahu, ini basisnya adalah politik. Dan tentunya kita akan hadapi dan kita 
pastikan bahwa proses hukumnya berlangsung dengan penuh transparansi dan jujur.

 

Kirim email ke