Kubu Anies Serang Video Ahok Supaya Dianggap Pluralis? 
http://www.netralnews.com/news/megapolitan/read/68066/kubu.anies.serang.video.ahok.supaya.dianggap.pluralis
 Selasa, 11 April 2017 | 06:45 WIB
 
https://www.facebook.com/sharer/sharer.php?u=http://www.netralnews.com/news/nasional/read/68066/kubu.anies.serang.video.ahok.supaya.dianggap.pluralis
  
https://twitter.com/intent/tweet?original_referer=http://www.netralnews.com/news/nasional/read/68066/kubu.anies.serang.video.ahok.supaya.dianggap.pluralis&text=Kubu%20Anies%20Serang%20Video%20Ahok%20Supaya%20Dianggap%20Pluralis?&tw_p=tweetbutton&url=http://www.netralnews.com/news/nasional/read/68066/kubu.anies.serang.video.ahok.supaya.dianggap.pluralis
  
https://plus.google.com/share?url=http://www.netralnews.com/news/nasional/read/68066/kubu.anies.serang.video.ahok.supaya.dianggap.pluralis

 
 
Salah satu potongan dalam video kampanye Ahok-Djarot. (tim Ahok-Djarot)
 

 JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Pengamat politik Ray Rangkuti 
http://www.netralnews.com/news/tag/ray%20rangkutimengatakan, pendukung calon 
Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan - Sandiaga Uno, sedang 
berusaha membangun citra bahwa pasangan nomor urut tiga itu adalah sosok yang 
sangat pluralis dibanding pasangan petahana Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) - 
Djarot Saiful Hidayat.
 Menurut Ray, hal ini dilakukan pendukung Anies-Sandi setelah isu SARA yang 
digunakan di Pilkada DKI 2017 tidak terlalu berpengaruh bagi masyarakat ibukota.
 "Kan sudah dicoba Anies ke kanan sekali, ternyata gak naik, stagnan, cuma 
sekitar 40 persen yang minat dengan isu agama. Segitu-gitu saja. Sebagian 
besarnya mereka (masyarakat) gak terlalu peduli isu agama. Yang sekarang paling 
banyak dilihat masyarakat yakni pertarungan, pluralisme, visi misi, dan 
sebagainya," kata Ray kepada Netralnews.com, Selasa (11/4/2017).
 "Karena sudah mentok di angka itu, sekarang ditarik lagi ke arah tengah. Sikap 
itu dapat kebaca saat mereka dengan tegas mengatakan menolak Jakarta 
Bersyariah. Meskipun itu pernyataan datang dari Sandi bukan Anies," sambungnya.
 Salah satu contoh agar Anies-Sandi dianggap pluralis, pendukungnya menyerang 
video kampanye Ahok-Djarot, sehingga membangun opini seakan-akan pasangan nomor 
urut dua itu yang menggaungkan isu SARA.
 Yang dimaksud Ray adalah video berjudul 'Beragam Itu Basuki Djarot', di mana 
salah satu adegan yang menimbulkan pro-kontra adalah ketika video tersebut 
menampilkan sekelompok orang mengenakan sorban dan peci sedang melakukan aksi 
unjuk rasa dengan spanduk bertuliskan 'Ganyang Cina'.
 "Nah yang sekarang video ini juga, menurut saya secara politik mau dipakai, 
untuk membentuk citra mereka juga plural dan kubu Ahok yang rasis. Karena 
pemilihnya sekarang berada di lingkaran mereka yang memilih, karena tidak 
didasari agama. Karena sudah gak laku isu agama, ditariklah Anies-Sandi ke 
tengah lagi, maka dipakailah isu-isu seperti ini," ungkapnya.
 Padahal secara kasat mata, menurut Direktur Lingkar Madani Indonesia (LIMA) 
ini, Anies-Sandi tidak benar-benar melawan isu SARA. Hal itu dapat dilihat dari 
sikap mereka yang seakan-akan tidak tegas terhadap pendukungnya saat menyerang 
Ahok dengan sebutan kafir, hingga larangan mensalatkan jenazah pendukung Ahok.
 Sementara di satu sisi, video Ahok-Djarot yang menggambarkan realita yang 
mewarnai politik di Jakarta, di mana banyak aksi dengan spanduk-spanduk yang 
rasis, justru dibesar-besarkan oleh pendukung Anies-Sandi.
 "Secara kasat mata mereka minimalis. Yang kasat mata itu apa? Yang menyebut 
orang lain kafir gak boleh dipilih. Lu masih mau berdebat kalau itu bukan 
rasis? Ada yang mengatakan 'gak boleh disalatkan karena berbeda pilihan'. Lu 
masih mau berdebat lagi? Nah ini kan cuma peci dan sorban," ungkapnya.
 Sebagai informasi, kubu Ahok-Djarot meluncurkan sebuah video yang diberi judul 
"Beragam Itu Basuki Djarot". Video ini diungggah di seluruh akun sosial media 
pasangan calon nomor urut dua itu dan juga tim pemenangan mereka pada Minggu 
(9/4/2017).
 Salah satu adegan yang menimbulkan pro-kontra adalah ketika video tersebut 
menampilkan sekelompok orang mengenakan sorban dan peci sedang melakukan aksi 
unjuk rasa, dengan spanduk bertuliskan 'Ganyang Cina.'
 
 Video tersebut kemudian mendapat protes dari berbagai pihak, yang mana 
didalamnya terdapat beberapa tokoh seperti Fahri Hamzah, Fadli Zon, Ratna 
Sarumpaet, Fahira Idris, Habib Rizieq Shihab, Habib Novel Chaidir Bamukmin, 
Lieus Sungkharisma, Ahmad Dhani, dan tokoh lainnya.
 

Kirim email ke