Pada Selasa, 11 April 2017 2:50, "'Chan CT' [email protected]
[GELORA45]" <[email protected]> menulis:
Kekalahan Anies-Sandiaga Makin Jelas,
Tim Sukses Panik Dan Membuat Blunder
https://seword.com/politik/kekalahan-anies-sandiaga-makin-jelas-tim-sukses-panik-dan-membuat-blunder/
BY TATSUYA ON APRIL 11, 2017POLITIKTanggal 19 April sudah makin mendekat,
pertarungan antar pasangan calon Gubernur DKI telah memasuki tahap akhir.
Pertarungan kedua kubu makin panas. Namun dalam beberapa hari terakhir ini
adalah hari-hari yang sangat tidak menyenangkan bagi Anies dan Sandiaga karena
munculnya beberapa peristiwa yang makin menyudutkan peluangi Anies-Sandiaga
dalam pertarungan Pilkada DKI ini.Pembelotan Relawan Anies-SandiagaJika bulan
lalu Ketua Ranting Gerindra Duren Sawit membelot ke Ahok-Djarot, kali ini
relawan Anies-Sandiaga Pasar Rebo menyatakan bahwa mereka mengalihkan dukungan
mereka kepada Ahok-Djarot. Pembelotan ini cukup serius karena menunjukkan
keretakan di kalangan para pendukung Anies-Sandiaga, apalagi terjadi di
hari-hari terakhir Pilkada DKI sehingga Anies-Sandiaga sulit menetralisir
dampaknya. Terlihat dengan jelas sekali bahwa golongan nasionalis yang benci
dengan penggunaan isu SARA sudah muak dengan cara-cara kampanye yang dilakukan
oleh pasangan Anies-Sandiaga sehingga mengalihkan dukungan mereka. Apalagi
sejak muncul isu Jakarta Bersyariah yang menyebabkan pertengkaran di internal
pendukung Anies-Sandiaga, golongan nasionalis makin tidak nyaman untuk tetap
berada di kubu Anies-Sandiaga.Dukungan PKBSandiaga tadinya sangat berharap PKB
mengalihkan dukungannya dari AHY kepada pasangan Anies-Sandiaga. Setelah
pemungutan suara tahap pertama selesai, sebenarnya Sandiaga sangat optimis
terhadap pengalihan dukungan PKB kepada dirinya, karena sebelum penentuan calon
Gubernur DKI diresmikan, awalnya PKB sudah ada tanda-tanda untuk ikut mengusung
Sandiaga menjadi calon Gubernur DKI., Namun yang terjadi malah PKB
mendeklarasikan dukungannya secara resmi kepada Ahok yang dilakukan tanggal 9
April. Di hadapan publik, Sandiaga bicara kalau arus bawah pendukung PKB tidak
akan mempedulikan pengalihan dukungan PKB kepada Ahok dan tetap memilih
Anies-Sandiaga. Jujur saja, sebagai warga awam, saya bisa merasakan betapa
remuk hati Sandiaga hanya dari perkataannya ini. Bisa diibaratkan, Sandiaga
pingin sekali tunangan dengan seorang wanita cantik, namun wanita itu malah
langsung menikah dengan pria lainnya. Rasanya di belakang layar, Sandiaga
berkata-kata seperti yang Rhoma Irama katakan : TERLALU.Sebenarnya arah
dukungan PKB sudah jelas. Selama sebulan terakhir, kemesraan antara PKB dan
Ahok sangat jelas terlihat. Apalagi sebelum PKB mendeklarasikan dukungannya
kepada Ahok-Djarot secara resmi, GP Ansor sudah terlebih dahulu menyatakan
dukungan mereka kepada Ahok-Djarot. Maka lengkaplah sudah, secara kelembagaan
NU memang netral, namun organisasi-organisasi yang memiliki hubungan dengan NU
cenderung mendukung Ahok-Djarot. Bahkan PPP versi Romi pun, walaupun belum
secara resmi menyatakan dukungannya, memilih untuk memberikan dukungannya
kepada Ahok-Djarot.Blunder Lagi, Blunder lagiBegitu PKB mengalihkan dukungan
kepada Ahok, semua rencana tim sukses Anies-Sandiaga berantakan total. Dengan
bergabungnya partai Islam ke pasangan Ahok-Djarot, isu penistaan agama menjadi
sama sekali tidak relevan lagi. Bahkan penggunaan isu SARA yang digunakan oleh
pendukungan Anies-Sandiaga yang tadinya menguntungkan Anies-Sandiaga sehingga
mereka diam saja dan pura-pura tidak tahu, sekarang malah menjadi blunder dan
momok yang menakutkan sendiri karena senjata yang dipikir mereka akan ampuh
untuk menjatuhkan Ahok malah berbalik melawan mereka sendiri. Persis seperti
saya ramalkan sebelumnya
(https://seword.com/politik/kampanye-penolakan-mensholatkan-jenazah-bisa-menjadi-blunder-terbesar-anies),
kampanye penolakan untuk mensholatkan jenazah pendukung Ahok menjadi blunder
terbesar yang dilakukan pendukung Anies-Sandiaga dan titik balik isu SARA
menjadi senjata yang menghabisi pencetusnya sendiri. Saat ini Anies dan
Sandiaga mati-matian berusaha membantah bahwa pihak mereka tidak memainkan isu
SARA dan malah menjadi korban fitnah, namun nasi sudah menjadi bubur. Rakyat
Jakarta sudah tidak bisa ditipu lagi. Rakyat Jakarta sudah tahu siapa pelaku
aslinya dan siapa korbannya.Merasa terpojok dengan gagalnya mendapat dukungan
PKB, tim sukses Anies-Sandiaga mencari pengganti PKB, dan mereka mendapatkannya
dari seorang Daeng Azis. Sekali lagi pasangan Anies-Sandiaga menciptakan
blunder dengan mengundang Daeng Azis, mantan orang kuat di Kalijodo, untuk
mengikuti kampanye Anies-Sandiaga. Sebelum Ahok mereformasi daerah Kalijodo,
Daeng Azis adalah orang kuat yang ditakuti oleh banyak orang, termasuk pejabat.
Bahkan ketika jabatan Gubernur DKI dipegang oleh seorang mantan jenderal pun
Kalijodo tidak terusik. Padahal sudah lama Kalijodo terkenal sebagai dunia
maksiatnya Jakarta. Ini menunjukkan betapa kuatnya pengaruh seorang Daeng Azis.
Hanya Ahok yang berani mengusik ketenangan Daeng Azis, padahal sudah ada
ancaman pembunuhan terhadap Ahok pun tidak dipedulikan. Memang benar kata
orang, urat takutnya Ahok sudah putus, sampai mati pun dia rela untuk
menjalankan amanah jabatannya.Beda tim sukses, beda lagi pasangan
Anies-Sandiaga. Ketika mereka melihat Daeng Azis, mereka kaget dan berusaha
menghindar. Parahnya, tim suksesnya tidak mengerti hal itu, bahkan memperparah
keadaan. Awalnya Daeng Aziz duduk di bagian belakang, namun beberapa relawan
Anies-Sandiaga malah mengarahkan Daeng Azis untuk pindah ke bagian depan, tepat
di hadapan Anies yang berada di panggung. Di atas panggung, Anies mengucapkan
terima kasih kepada pendukungnya dan menyebutkan nama-nama tokoh masyarakat
yang duduk di depan, kecuali Daeng Asiz. Ketika acara berakhir, lagi-lagi
relawan Anies-Sandiaga memaksa Anies berfoto bersama Daeng Azis. Di akhir
acara, Daeng Azis menyatakan dukungannya kepada Anies-Sandiaga. Klop deh, Anies
mendapat tambahan dukungan, walaupun dia sendiri mungkin tidak suka dengan
dukungan itu. Aneh kan? Yang lebih lucu lagi, ketika ditanya oleh wartawan,
keduanya mengaku tidak tahu siapa siapa Daeng Azis itu. Suatu hal yang mustahil
dan tidak masuk akal kalau Anies dan Sandiaga tidak tahu siapa itu Daeng Azis.
Apalagi Daeng Azis terkenal dengan dendamnya terhadap Ahok karena menghabisi
bisnis lendirnya di Kalijodo dan mengubahnya menjadi taman bermain yang ramah
anak.Jelas terlihat bahwa di dalam tim sukses Anies-Sandiaga timbul kepanikan
karena dalam beberapa hari ini banyak kejadian yang sangat merugikan pasangan
mereka. Tim sukses Anies-Sandiaga sadar bahwa peluang Anies-Sandiaga untuk
menang makin hari makin tipis sehingga mereka bertindak drastis dengan
mengundang Daeng Azis untuk mendapatkan dukungannya tapi hal ini malah
menimbulkan blunder baru.Apakah ini yang dimaksud oleh Anies bahwa dia akan
merangkul semua pihak? Bahkan sampai golongan Islam garis keras dan tokoh
kemaksiatan pun dirangkul dalam kubunya? Kedua kubu ini dalam keadaan normal
seharusnya tidak bisa dipersatukan, namun dalam Pilkada DKI ini mereka
dipersatukan oleh satu kepentingan, yaitu menjatuhkan Ahok. Ternyata memang
benar slogan yang satu ini : orang baik kumpulnya dengan orang baik, orang
brengsek kumpulnya dengan orang brengsek. Silahkan pembaca yang menentukan
sendiri, siapa yang termasuk orang baik dan siapa yang termasuk orang
brengsek.http://megapolitan.kompas.com/read/2017/04/08/17085801/daeng.azis.datang.ke.acara.anies.di.jagakarsahttp://megapolitan.kompas.com/read/2017/04/10/08323681/reaksi.anies-sandi.soal.dukungan.daeng.azishttp://www.tribunnews.com/metropolitan/2017/04/09/membelot-relawan-anies-sandi-ini-alihkan-dukungan-menangkan-ahok-djarot-di-pasar-rebo
Surabaya Memanas, Demo Tolak Rizieq Dapat Perlawanan,
Ternyata Pengajian Rizieq di Masjid Ampel Tanpa izin
https://seword.com/politik/surabaya-memanas-demo-tolak-rizieq-dapat-perlawanan-ternyata-pengajian-rizieq-di-masjid-ampel-tanpa-izin/BY
PALTI HUTABARAT ON APRIL 11, 2017 POLITIKWarga Surabaya tolak pengajian Habib
Rizieq Foto: Imam WahyudiyantaRencana akan hadirnya Rizieq Shihab dalam acara
pengajian yang digelar di Masjid Ampel, Selasa (11/4/2017), menuai polemik.
Protes kedatangan Rizieq sudah dilakukan oleh masyarakat yang tidak
menginginkan kehadiran Rizieq. Demo penolakan dilakukan lebih dari sekali.Dalam
demo terakhir, masyarakat yang menolak kehadiran Rizieq mendapatkan perlawanan
dari sekelompok orang yang mengatasnamakan panitia pengajian. Polisi yang
menjaga demo tersebut dengan sigap menghadanga massa yang melakukan protes
terhadap demo tersebut untuk menghindari bentrok.Warga Surabaya yang tergabung
dalam Solidaritas Aktivis Surabaya (SAS) ngeluruk Polsek Semampir. Mereka
menolak pengajian Habib Rizieq Shihab yang digelar di Masjid Ampel, Selasa, 11
April 2017. Penolakan itu mereka lakukan dengan mendesak polisi agar tak
memberi izin pengajian tersebut. Alasannya, Rizieq membawa paham radikal yang
bisa mengacaukan Surabaya yang kondusif.“Surabaya sudah tertata rapi, sudah
kondusif. Jangan sampai pengajian oleh Rizieq jadi pemicu pecah belah dan
persatuan kesatuan di Surabaya,” ujar korlap aksi, Udin Sakera kepada wartawan,
Jumat (7/4/2017).“Di mana-mana Rizieq itu kan membawa kekacauan. Jangan sampai
menyebarkan pahamnya di sini. Apalagi Masjid dan Makam Ampel merupakan tempat
yang sakral dan religius,” lanjut Udin.Penolakan yang dilakukan oleh masyarakat
Surabaya ini seperti sedang menegaskan bahwa Jawa Timur, dan khususnya
Surabaya, tidak menginginkan masuknya tokoh atau berkembangnya ormas yang
membawa paham radikal dan khilafah di daerah mereka. Menyaksikan kacaunya
daerah-daerah yang menerima kehadiran mereka, Jawa Timur tidak mau hal yang
sama terjadi juga.Itulah mengapa kegiatan HTI di Surabaya juga dihadang oleh
Banser dan GP Ansor. Seperti sudah sehati dan sama-sama melihat ancaman
Surabaya dan Jatim menjadi tidak kondusif dengan kedatangan Rizieq dan ormas
khilafah anti NKRI, masyarakat Jawa Timur mulai kompak melakukan
penolakan.Takmir masjid bertemu Kapolres Tanjung Perak/Foto: IstimewaApalagi
acara yang akan menghadirkan Rizieq Shihab ini ternyata belum mendapatkan izin
dari Takmir Masjid Ampel. Hal ini terungkap saat Ketua Takmir Masjid Ampel KH
Mohammad Azmi Nawawi saat bertemu dengan Kapolres Tanjung Perak AKBP Ronny
Suseno. #yiv0602837744 #yiv0602837744 -- #yiv0602837744ygrp-mkp {border:1px
solid #d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px 0;padding:0 10px;}#yiv0602837744
#yiv0602837744ygrp-mkp hr {border:1px solid #d8d8d8;}#yiv0602837744
#yiv0602837744ygrp-mkp #yiv0602837744hd
{color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px
0;}#yiv0602837744 #yiv0602837744ygrp-mkp #yiv0602837744ads
{margin-bottom:10px;}#yiv0602837744 #yiv0602837744ygrp-mkp .yiv0602837744ad
{padding:0 0;}#yiv0602837744 #yiv0602837744ygrp-mkp .yiv0602837744ad p
{margin:0;}#yiv0602837744 #yiv0602837744ygrp-mkp .yiv0602837744ad a
{color:#0000ff;text-decoration:none;}#yiv0602837744 #yiv0602837744ygrp-sponsor
#yiv0602837744ygrp-lc {font-family:Arial;}#yiv0602837744
#yiv0602837744ygrp-sponsor #yiv0602837744ygrp-lc #yiv0602837744hd {margin:10px
0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}#yiv0602837744
#yiv0602837744ygrp-sponsor #yiv0602837744ygrp-lc .yiv0602837744ad
{margin-bottom:10px;padding:0 0;}#yiv0602837744 #yiv0602837744actions
{font-family:Verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}#yiv0602837744
#yiv0602837744activity
{background-color:#e0ecee;float:left;font-family:Verdana;font-size:10px;padding:10px;}#yiv0602837744
#yiv0602837744activity span {font-weight:700;}#yiv0602837744
#yiv0602837744activity span:first-child
{text-transform:uppercase;}#yiv0602837744 #yiv0602837744activity span a
{color:#5085b6;text-decoration:none;}#yiv0602837744 #yiv0602837744activity span
span {color:#ff7900;}#yiv0602837744 #yiv0602837744activity span
.yiv0602837744underline {text-decoration:underline;}#yiv0602837744
.yiv0602837744attach
{clear:both;display:table;font-family:Arial;font-size:12px;padding:10px
0;width:400px;}#yiv0602837744 .yiv0602837744attach div a
{text-decoration:none;}#yiv0602837744 .yiv0602837744attach img
{border:none;padding-right:5px;}#yiv0602837744 .yiv0602837744attach label
{display:block;margin-bottom:5px;}#yiv0602837744 .yiv0602837744attach label a
{text-decoration:none;}#yiv0602837744 blockquote {margin:0 0 0
4px;}#yiv0602837744 .yiv0602837744bold
{font-family:Arial;font-size:13px;font-weight:700;}#yiv0602837744
.yiv0602837744bold a {text-decoration:none;}#yiv0602837744 dd.yiv0602837744last
p a {font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv0602837744 dd.yiv0602837744last p
span {margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv0602837744
dd.yiv0602837744last p span.yiv0602837744yshortcuts
{margin-right:0;}#yiv0602837744 div.yiv0602837744attach-table div div a
{text-decoration:none;}#yiv0602837744 div.yiv0602837744attach-table
{width:400px;}#yiv0602837744 div.yiv0602837744file-title a, #yiv0602837744
div.yiv0602837744file-title a:active, #yiv0602837744
div.yiv0602837744file-title a:hover, #yiv0602837744 div.yiv0602837744file-title
a:visited {text-decoration:none;}#yiv0602837744 div.yiv0602837744photo-title a,
#yiv0602837744 div.yiv0602837744photo-title a:active, #yiv0602837744
div.yiv0602837744photo-title a:hover, #yiv0602837744
div.yiv0602837744photo-title a:visited {text-decoration:none;}#yiv0602837744
div#yiv0602837744ygrp-mlmsg #yiv0602837744ygrp-msg p a
span.yiv0602837744yshortcuts
{font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}#yiv0602837744
.yiv0602837744green {color:#628c2a;}#yiv0602837744 .yiv0602837744MsoNormal
{margin:0 0 0 0;}#yiv0602837744 o {font-size:0;}#yiv0602837744
#yiv0602837744photos div {float:left;width:72px;}#yiv0602837744
#yiv0602837744photos div div {border:1px solid
#666666;height:62px;overflow:hidden;width:62px;}#yiv0602837744
#yiv0602837744photos div label
{color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}#yiv0602837744
#yiv0602837744reco-category {font-size:77%;}#yiv0602837744
#yiv0602837744reco-desc {font-size:77%;}#yiv0602837744 .yiv0602837744replbq
{margin:4px;}#yiv0602837744 #yiv0602837744ygrp-actbar div a:first-child
{margin-right:2px;padding-right:5px;}#yiv0602837744 #yiv0602837744ygrp-mlmsg
{font-size:13px;font-family:Arial, helvetica, clean, sans-serif;}#yiv0602837744
#yiv0602837744ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}#yiv0602837744
#yiv0602837744ygrp-mlmsg select, #yiv0602837744 input, #yiv0602837744 textarea
{font:99% Arial, Helvetica, clean, sans-serif;}#yiv0602837744
#yiv0602837744ygrp-mlmsg pre, #yiv0602837744 code {font:115%
monospace;}#yiv0602837744 #yiv0602837744ygrp-mlmsg *
{line-height:1.22em;}#yiv0602837744 #yiv0602837744ygrp-mlmsg #yiv0602837744logo
{padding-bottom:10px;}#yiv0602837744 #yiv0602837744ygrp-msg p a
{font-family:Verdana;}#yiv0602837744 #yiv0602837744ygrp-msg
p#yiv0602837744attach-count span {color:#1E66AE;font-weight:700;}#yiv0602837744
#yiv0602837744ygrp-reco #yiv0602837744reco-head
{color:#ff7900;font-weight:700;}#yiv0602837744 #yiv0602837744ygrp-reco
{margin-bottom:20px;padding:0px;}#yiv0602837744 #yiv0602837744ygrp-sponsor
#yiv0602837744ov li a {font-size:130%;text-decoration:none;}#yiv0602837744
#yiv0602837744ygrp-sponsor #yiv0602837744ov li
{font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;}#yiv0602837744
#yiv0602837744ygrp-sponsor #yiv0602837744ov ul {margin:0;padding:0 0 0
8px;}#yiv0602837744 #yiv0602837744ygrp-text
{font-family:Georgia;}#yiv0602837744 #yiv0602837744ygrp-text p {margin:0 0 1em
0;}#yiv0602837744 #yiv0602837744ygrp-text tt {font-size:120%;}#yiv0602837744
#yiv0602837744ygrp-vital ul li:last-child {border-right:none
!important;}#yiv0602837744