Survei Terbaru Anies Ungguli Ahok, 


Tapi Ini Fakta Mengejutkan Soal Tingkat Kepuasan Warga



Selasa, 11 April 2017 06:02

http://style.tribunnews.com/2017/04/11/survei-terbaru-anies-ungguli-ahok-tapi-ini-fakta-mengejutkan-soal-tingkat-kepuasan-warga?page=all




Anies Baswedan (kanan) dan pasangan Ahok-Djarot. 



TRIBUNSTYLE.COM - Lembaga survei Media Survei Nasional (Median) merilis survei 
terbaru jelang putaran kedua Pilkada DKIJakarta 2017.

Dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, Direktur Eksekutif Median 
Rico Marbun menjelaskan elektabilitas pasangan calon gubernur-wakil gubernur 
nomor pemilihan tiga DKI Jakarta Anies Baswedan-Sandiaga Uno mengungguli 
elektabilitas pasangan calon gubernur-wakil gubernur nomor pemilihan dua DKI 
Jakarta Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat.

"Ketika kami tanyakan kepada responden, pasangan mana yang akan anda pilih 
menjadi gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta nanti? Ternyata 49,8 persen 
responden memilih Anies-Sandi," kata Rico, dalam keterangan tertulisnya, Senin 
(10/4/2017).

Sementara itu, elektabilitas Ahok-Djarot sebesar 43,5 persen. Sisanya, sekitar 
6,7 persen belum menentukan pilihan.

Meski demikian, menurut dia, elektabilitas ini tak sebanding lurus dengan 
tingkat kepuasan warga.

Dari survei ini, tingkat kepuasan warga terhadap kinerja Ahok-Djarot sebesar 
65,6 persen.

"Tingginya kompetensi Ahok-Djarot dibandingkan Anies-Sandi di mata pemilih, 
tidak lantas berbanding lurus dengan tingkat elektabilitasnya," kata Rico.

Survei ini dilakukan pada tanggal 1-6 April 2017, terhadap 1.200 responden 
warga DKI Jakarta yang memiliki hak pilih.

Dengan margin of error sebesar +/- 2,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 
persen.

Sampel dipilih secara random dengan teknikMultistage Random Sampling dan 
proporsional atas Kotamadya dan gender.

Calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta nomor urut dua, Basuki Tjahaja 
Purnama atau Ahok dan Djarot Saiful Hidayat hadir dalam acara debat di program 
Rosi di Kompas TV, Minggu (2/4/2017). Acara debat yang dirancang untuk dua 
pasangan cagub-cawagub DKI hanya dihadiri pasangan Ahok - Djarot. KOMPAS 
IMAGES/KRISTIANTO PURNOMO(KRISTIANTO PURNOMO) () 


Meski Elektabilitas Turun, Ahok-Djarot Dinilai Lebih Mampu Benahi Jakarta 
Dibanding Anies-Sandi

Berdasarkan survei terbaru yang dirilis Media Survei Nasional (Median), 
menyebut terjadi paradoks pada pemilih DKI Jakarta.

Direktur Eksekutif Median, Rico Marbun, menjelaskan paradoks itu menyebut 
pasangan calon gubernur-wakil gubernur nomor pemilihan dua DKI Jakarta Basuki 
Tjahaja Purnama atau Ahok dengan DjarotSaiful Hidayat dianggap lebih mampu 
membenahi Jakarta.

Hanya saja, elektabilitas Ahok-Djarot tak sebanding dengan hal tersebut.

"Berdasarkan survei, ada 44,9 persen responden menilai bahwa Ahok-Djarot 
dianggap paling mampu membenahi Jakarta. Sementara yang menilai pasangan 
Anies-Sandi (Anies Baswedan-Sandiaga Uno) paling mampu hanya 40,9 persen, dan 
sekitar 14,6 persen menjawab tidak tahu," kata Rico, dalam keterangan 
tertulisnya yang diterimaKompas.com, Senin (10/4/2017).

Selain itu, menurut Rico, sebanyak 46,1 persen pemilih menilai program kerja 
Ahok-Djarot paling bagus. Sedangkan pemilih yang menilai program kerja 
Anies-Sandi paling bagus hanya 39,3 persen.

Sisanya 14,6 persen menjawab tidak tahu. Hasil itu ketika Median menanyakan 
kepada responden terkait program kerja kandidat manakah yang terbaik, terlepas 
dari pilihan pada Pilkada DKI Jakarta 2017 nanti.

"Bahkan ketika ditanyakan terkait siapakah kandidat yang paling berpengalaman 
di antara keduanya, sebanyak 65,9 persen pemilih menilai bahwa Ahok-Djarot 
paling berpengalaman. Sementara yang menilai Anies-Sandi hanya 23,2 persen, dan 
sisanya 10,8 persen menjawab tidak tahu," kata Rico.

Selain itu, kata dia, kepuasan warga terhadap kinerja Ahok-Djarotmenurut survei 
masih cukup tinggi, yaitu mencapai 65,6 persen.

Namun tingginya kompetensi Ahok-Djarot dibandingkan Anies-Sandi di mata 
pemilih, tidak berbanding lurus dengan tingkat elektabilitasnya.

"Ketika kami tanyakan kepada responden, pasangan mana yang akan anda pilih 
menjadi gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta nanti? Ternyata 49,8 persen 
responden memilih Anies-Sandi, sementara yang akan memilih Ahok-Djarot hanya 
43,5 persen pemilih, sisanya sekitar 6,7 persen belum menentukan pilihan," kata 
Rico.

Adapun survei ini dilakukan pada tanggal 1-6 April 2017. Survei dilakukan 
terhadap 1.200 responden warga DKI Jakarta yang memiliki hak pilih, dengan 
margin of error sebesar +/- 2,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.

Sampel dipilih secara random dengan teknik Multistage Random Sampling dan 
proporsional atas kotamadya dan gender. (Kurnia Sari Aziza/ Kompas.com) 





Terbongkar! Presiden Jokowi Umumkan Naturalisasi Zakir Naik!
9 April 2017
https://indoprogress.com/2017/04/presiden-jokowi-umumkan-naturalisasi-zakir-naik/#
 
 Al-Banna


 IndoPROGRESS


Print PDF
Sumber ilustrasi: rancahpost.co.id

MELIHAT sambutan orang yang luar biasa atas rangkaian kunjungan Zakir Naik di 
Indonesia, Presiden Jokowi mengaku kesengsem. Pada Rabu, 6 April 2017, Jokowi 
mengundang Zakir secara khusus untuk makan malam di Reading Room, Kemang Timur.

Jalanan Kemang Timur, yang biasanya padat dan macet di sore hari, menjelang 
makan malam tersebut telah disterilkan paspampres dan lengang. Rombongan Zakir 
tiba lebih dahulu pada pukul 5.30. Setelah rapat singkat dengan paspampres, 
Zakir menuju Masjid Nurul Huda yang jaraknya hanya tiga rumah di utara Reading 
Room. Zakir mengimami ibadah maghrib di sana—yang biasanya hanya dua saf kali 
ini jamaah bahkan sampai memadati jalan raya. Setelah salat, orang-orang 
berebut menyalami Zakir. Paspampres sempat kerepotan menangani kerumunan.

Jokowi tiba pukul 6.50. Zakir menyambut di pintu Reading Room. Keduanya 
bersalaman, cipika-cipiki, berpelukan, lalu Jokowi mempersilakan Zakir untuk 
masuk terlebih dahulu.

Selama satu jam makan malam berlangsung, awak media hanya bisa melihat dari 
jarak tiga ratus meter. Windu Jusuf bergabung di sana, duduk bersama beberapa 
rekan wartawan di sebuah bangku panjang di depan Indomaret. Meski begitu, 
paspampres membolehkan para fotografer mengambil gambar keduanya yang hanya 
dihalangi dinding kaca.

Jokowi tampak gembira, banyak mengangguk, dan beberapa kali terlihat cekikikan 
saat Zakir ngomong.

Setelah makan malam, Jokowi menggelar jumpa pers singkat di area parkir. Windu 
Jusuf beranjak dari tempat duduknya. ‘Senang saya bisa makan malam bareng Pak 
Zakir Naik,’ kata Jokowi, mengelus-elus sesuatu yang mirip kalendar dilipat.

‘Beberapa jam yang lalu saya rapat terbatas bersama Mensesneg, Mendikbud, 
Menhukham, dan Menpora, kami semua sepakat untuk menaturalisasi Pak Zakir. 
Beliau menyambut gembira rencana tersebut dan langsung mengiyakan.’

Beberapa wartawan angkat tangan dan melempar pertanyaaan. ‘Atas dasar apa, 
Pak?’ tanya Desmon dari #ManDhaniNews yang berjarak kurang dari satu meter dari 
Jokowi.

‘Ya, lihat saja sambutan atas kedatangan beliau di mana-mana. Ramai banget. 
Lebih ramai dari Raja Salman,’ jawab Jokowi. ‘Beliau kan juga populer banget di 
Youtube. Saya secara khusus mengajak beliau membuat proyek vlog baru. Namanya 
Jozana: Jokowi-Zakir Naik.’

‘Bapak presiden sudah menonton materi ceramahnya? Banyak sekali yang 
mempromosikan intoleransi,’ cecar Desmon.

Jokowi tak langsung menjawab, ia membuka gulungan yang dipegangnya sejak 
bangkit dari meja makan, membentangkannya di hadapan Desmon. Sebuah poster yang 
berisi foto empat orang: Racip Erdogan, Rizieq Shihab, Salman bin Abdul Aziz, 
dan Zakir Naik. Di atas gambar mereka tertulis: The Power of Islam’, dan pada 
masing-masing foto terdapat keterangan mengharukan. Pada orang pertama 
tertulis, ‘Sebijak Abu Bakar’; pada orang kedua, ‘Setegas Umar’; orang ketiga, 
‘Sekaya Usman’; dan keempat, ‘Secerdas Ali’.

‘Pak Zakir Naik ini secerdas Sayidina Ali,’ kata Jokowi, ‘Jangan main-main 
kamu.’ Dan Jokowi mengikik selama 15 menit, sampai Desmon kehilangan minatnya 
untuk bertanya lebih jauh.

Tawa Jokowi berhenti, area parkir Reading Room mendadak sunyi. Semua wartawan 
yang hadir melongo. Jokowi lalu mempersilakan Zakir untuk bicara.

Zakir menyampaikan keterharuannya atas kemurahan hati Jokowi dan rakyat 
Indonesia dan ia mengaku akan segera melepaskan kewarganegaraan Indianya.

‘Ini momen spesial dalam hidup saya. Di saat pemerintah India berusaha 
memperkarakan saya dengan tuduhan tidak masuk akal, tuduhan terorisme segala 
macam, Indonesia mengulurkan tangan,’ kata Zakir. ‘Saya berterima kasih kepada 
masyarakat Indonesia pada umumnya, bersyukur kepada Allah pada khususnya.’

Ditanya mengenai kecintaannya kepada Indonesia dan kendala dalam berbahasa, 
Zakir dengan tenang menjawab itu bukan masalah besar. ‘Dan tak perlu diragukan 
lagi, saya cinta Indonesia sejak pandangan pertama. Ini kesungguhan. Ini 
kebenaran. Sama benarnya dengan 2 x 2 = 4.’

‘2 x 2 = 4,’ bisik Windu berulang-ulang seperti mengucapkan mantra. Suara 
klakson mendadak menghentikan komat-kamit mulutnya. Tak ada Zakir Naik di 
hadapannya, tak ada Jokowi, tak ada gerombolan wartawan, hanya seorang sopir 
pikap yang muntab.

‘Cari mati, Tong?’ kata si Sopir. ‘Daripada cuma bengong, sekalian saja tiduran 
di tengah jalan!’***


Kirim email ke