Laporan Khusus

Menyusuri Tapak 'Raksasa' Pabrik Semen Rembang

Abraham Utama & Rosmiyati Dewi Kandi, CNN IndonesiaRabu, 12/04/2017 10:04 WIB   
   - Sebarkan:
    
   - 
    
   - 
    
   - 
Pabrik milik PT Semen Indonesia (Persero) Tbk di Desa Kadiwono, Rembang. )CNN 
Indonesia/Andry Novelino)Rembang, CNN Indonesia -- Persoalan izin lingkungan 
yang belum tuntas memaksa PT Semen Indonesia (Persero) Tbk menunda penambangan 
batu gamping atau batu kapur di Desa Tegaldowo, Kecamatan Gunem, Kabupaten 
Rembang, Jawa Tengah. Namun permasalahan itu tidak menghentikan perusahaan itu 
memproduksi semen di Rembang.

CNNIndonesia.com mengunjungi pabrik yang tapaknya berada di Desa Kadiwono itu, 
3 April lalu. Dari pusat Rembang, perjalanan menuju pabrik PT Semen Indonesia 
memakan waktu sekitar 60 menit dengan menempuh rute jalan provinsi yang 
menghubungkan Rembang dan Blora.

Rute dari tapak pabrik hingga zona inti pabrik didominasi jalan berbatu. 
Hilir-mudik truk bertonase tinggi membuat jalan tersebut jauh dari kata mulus.

Di tapak pabrik itulah, tenda perjuangan Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan 
Kendeng sempat berdiri, berhadapan dengan tenda milik warga pendukung industri 
semen.

Tidak hanya portal utama pabrik yang dijaga petugas keamanan, di sepanjang 
tapak pabrik terdapat dua pos sekuriti. Selain pekerja Semen Indonesia, setiap 
tamu perusahaan yang ingin masuk ke area pabrik harus mengisi daftar hadir dan 
menyerahkan kartu identitas.

| 
Lihat juga:
Perlawanan Orang-orang Tegaldowo |

Tiga silo yang masing-masing berkapasitas 20 ribu ton mendominasi pemandangan 
utama pabrik. Kepala Perencanaan Proyek Pabrik PT Semen Indonesia di Rembang 
Wahyudi Eko Prasetyo mengatakan, dua dari tiga silo itu dibangun untuk 
menampung semen jenis portland pazzoland cement (PPC), sementara satu sisanya 
untuk ordinary portland cement (OPC). 



| Pabrik milik PT Semen Indonesia (Persero) Tbk di Desa Kadiwono, Rembang. 
Keberadaan pabrik diperkirakan menyerap sekitar 3.500 tenaga kerja. (CNN 
Indonesia/Andry Novelino) |

Wahyudi mengatakan, semen yang sudah masuk ke silo akan disaring sebelum masuk 
tahap akhir produksi semen, yakni penyaringan dan pengepakan. Semen maksimal 
berada di silo selama sebulan atau akan mengeras dan gagal produksi jika 
melebihi batas waktu tersebut.

Selama enam bulan terakhir, tiga silo itu selalu terisi. Wahyudi memaparkan, 
perusahaannya mendatangkan setidaknya 60 ribu ton material batu kapur dari 
Tuban ke Rembang sejak Oktober 2016. Kebijakan itu diambil agar proses uji coba 
produksi di pabrik Rembang tetap berjalan.

| 
Lihat juga:
Merangkul Semen, Memutar Garis Hidup |

Sebelum masuk ke Rembang, PT Semen Indonesia lebih dulu beropersi di Tuban, 
mengekspoitasi batu gamping serta mendirikan empat pabrik berkapasitas 8,5 juta 
ton semen di kabupaten itu.

“Sekarang proses uji coba produksi sudah berhenti karena materialnya habis. 
Tujuannya hanya untuk uji coba peralatan saja,” ujar Wahyudi.

Pabrik PT Semen Indonesia di Rembang memiliki penyimpanan khusus batu bara. 
Wahyudi menuturkan, perusahaannya mengapalkan bahan bakar fosil itu dari 
Kalimantan. Batu bara vital untuk proses pembakaran gabungan material pembentuk 
semen.

Selain dua zona tersebut, perusahaan pelat merah itu hanya mengizinkan 
CNNIndonesia.com melihat area pengepakan dan zona muat truk. Meski mengklaim 
telah kehabisan batu kapur dari Tuban, pengiriman hasil produksi semen dari 
Rembang ke distributor masih berlangsung.

Wahyudi mengatakan, ketiadaan pasokan batu gamping dari Tuban dan belum 
dimulainya penambangan di Tegaldowo memaksa perusahaannya terus menanggung 
kerugian. Sejumlah peralatan produksi tetap harus menyala, yang berarti 
pengeluaran listrik terus berjalan.

“Kalau seperti ini terus, kami rugi banyak. Listrik kami bayar terus. Sama 
seperti rumah, tidak digunakan saja ada biaya abonemen,” kata Wahyudi.



|  |

Dari pabrik, lokasi penambangan PT Semen Indonesia di Tegaldowo berjarak 
sekitar 5 kilometer. Jalur antara dua lokasi ini berbatu dan lebih parah 
dibanding rute jalan provinsi menuju pintu masuk pabrik.

Rute menuju area penambangan menanjak karena lokasi eksploitasi material batu 
gamping berada di perbukitan, tepatnya di Bukit Watuputih. Di sisi timur Bukit 
Watuputih, sejumlah perusahaan telah mendirikan basecamp dan secara aktif 
menambang batu gamping.

Berdasarkan data izin usaha pertambangan (IUP) operasi produksi (OP) milik 
Dinas ESDM Pemprov Jawa Tengah per 29 Juni 2016, terdapat enam perusahaan yang 
hingga kini masih berhak menambang di Tegaldowo.

Selain PT Semen Indonesia, lima korporasi lainnya adalah PT Berkah Sari Bumi 
Rembang, PT Alfa Inti Mineral, PT Amir Hajar Kilsi, PT Wahyu Bumi Pertiwi, dan 
PT Paserindo Pratama Sejahtera.

Tak seperi perusahaan lainnya, PT Semen Indonesia mendirikan sabuk konveyor 
atau ban berjalan sepanjang 3,8 kilometer untuk mengangkut hasil penambangan ke 
pabrik. Cara ini disebut lebih efektif dan efisien dibandingkan membawa batu 
gamping melalui jalur terjal berbatu di atas truk.

| 
Lihat juga:
Tambang Disayang, Tambang Ditendang |

Otoritas pabrik mengklaim, ban berjalan itu kini belum difungsikan karena 
aktivitas penambangan batu gamping belum dimulai.

Merujuk izin lingkungan yang diterbitkan Pemprov Jawa Tengah pada 2017, PT 
Semen Indonesia dipersilakan membangun pabrik berkapasitas 3 juta ton per tahun 
di Rembang.

Pemprov mengizinkan PT Semen Indonesia menambang batu gamping di Desa 
Tegaldowo, Kecamatan Gunem; penambangan tanah liat serta sarana dan prasarana 
di Desa Tegaldowo, Desa Kajar, Desa Pasucen, dan Desa Timbrangan Kecamatan 
Gunem, serta Desa Kadiwono, Kecamatan Bulu, Kabupaten Rembang.

Kegiatan lain yang diizinkan kepada PT Semen Indonesia adalah pendirian pabrik 
dan utilitas di Desa Kajar dan Desa Pasucen Kecamatan Gunem; jalan produksi di 
Desa Kadiwono, Kecamatan Bulu; serta jalan tambang di Desa Tegaldowo, Desa 
Kajar, dan Desa Timbrangan, Kecamatan Gunem, Kabupaten Rembang. (rdk)

Kirim email ke