'Induk dari Segala Bom': Daya ledak, biaya produksi hingga efek ketakutan 
http://www.bbc.com/indonesia/dunia-39599559 14 April 2017

 Tautan eksternal dan akan terbuka di layar baru Bagikan artikel ini dengan 
Facebook http://www.bbc.com/indonesia/dunia-39599559#  Bagikan artikel ini 
dengan Twitter http://www.bbc.com/indonesia/dunia-39599559#  Bagikan artikel 
ini dengan Messenger http://www.bbc.com/indonesia/dunia-39599559#  Bagikan 
artikel ini dengan Email 
mailto:?subject=Shared%20from%20BBC%20Indonesia&body=http%3A%2F%2Fwww.bbc.com%2Findonesia%2Fdunia-39599559
  Kirim http://www.bbc.com/indonesia/dunia-39599559#share-tools




 
 Hak atas fotoGETTY IMAGESImage captionUji coba 'Induk dari Segala Bom' di 
Florida, AS, pada 2003. 'Induk dari Segala Bom' yang dijatuhkan militer Amerika 
Serikat di kawasan Afghanistan Timur menewaskan 36 anggota kelompok militan, 
kata pemimpin Afghanistan Abdullah Abdullah.
 Selain menewaskan milisi, bom ini juga menghancurkan persediaan senjata.
 Ia mengatakan serangan pada Kamis (13/04) ini dirancang bersama antara militer 
AS dan Afghanistan dan ditujukan untuk melemahkan kelompok yang menamakan diri 
Negara Islam (ISIS).
 Beriut tiga hal dari 'Induk dari Segala Bom' yang mungkin perlu Anda ketahui:
 1. Seperti apa bentuknya? Nama resmi senjata ini adalah GBU-43/B Massive 
Ordnance Air Blast Boms (MOAB). Dalam istilah militer, biasa disebut 'Induk 
dari Segala Bom'.
 Bom ini memiliki panjang sembilan meter dengan bobot 9.800 kilogram, tak 
mengherankan jika dikatakan sebagai senjata dengan ukuran raksasa.
 Amerika Serikat jatuhkan 'induk dari segala bom' dengan sasaran ISIS 
Afghanistan http://www.bbc.com/indonesia/dunia-39583975 Serangan 'induk dari 
segala bom' AS tewaskan puluhan militan ISIS 
http://www.bbc.com/indonesia/39598429 Ada bukti ISIS menggunakan perisai 
manusia di Irak http://www.bbc.com/indonesia/dunia-39487803 Dilengkapi dengan 
GPS, sistem penentu letak berbasis satelit, bom ini bisa diatur sedemikian rupa 
sehingga bisa menghantam sasaran dengan akurat, berkat parasut dan empat sirip 
yang ada pada senjata ini.
Hak atas fotoGETTY IMAGESImage caption'Induk dari Segala Bom' disiapkan di 
pangkalan Angkatan Udara AS di Eglin, Florida. GBU-43/B diledakkan sesaat 
sebelum mencapai permukaan tanah. Efek gelombang ledakan sangat masif dengan 
area yang terkena dampak ledakan mencapai lebih dari 1,2 kilometer ke segala 
arah. Daya ledak yang sangat besar ini dimungkinkan karena bom ini dibuat dari 
8.000 kilogram bahan peledak Trinitrotoluena (TNT).
 Lapisan luar (casing) terbuat dari alumunium, yang ditujukan untuk 
memaksimalkan dampak ledakan.
 GBU-43/B masuk dalam kategori bom nonnuklir dan karena itu penggunaannya tidak 
memerlukan persetujuan presiden AS.
 2. Kapan mulai diproduksi? Berapa ongkosnya? GBU-43/B dikembangkan saat 
militer AS melancarkan perang di Irak, dengan salah satu tujuan adalah 
menghancurkan terowongan dan fasilitas di bawah tanah.
 Produksi satu unit GBU-43/B memerlukan ongkos US$16 juta atau sekitar Rp212 
miliar. Pertama kali diuji coba pada 2003 tapi tak pernah dipakai, hingga hari 
Kamis, 13 April 2017.
 Dari sisi dimensi, GBU-43/B adalah bom nonnklir paling berat dan untuk 
mengangkutnya, militer AS mengerahkan pesawat MC-130.
 Bom ini dikembangkan oleh perusahaan bernama Dynetics yang berkantor di 
Alabama.
 3. Selain AS, negara mana yang mengembangkan bom masif ini?Hak atas fotoPUBLIC 
DOMAINImage caption'Induk dari Segala Bom' diledakkan sebelum menyentuh 
daratan. Selain Amerika Serikat, Rusia juga mengembangkan jenis bom serupa yang 
diberi nama Bapak dari Segala Bom.
 Bom yang dikembangkan Rusia masuk dalam jenis senjata thermobaric, yang 
memanfaatkan oksigen di sekitarnya untuk menghasilkan ledakan dengan daya dan 
temperatur tinggi.
 Bom yang dibuat Rusia ini biasanya diledakkan dalam dua tahap.
 Dampak lain dari bom-bom ini -selain daya ledaknya yang masif- adalah efek 
psikologis, yaitu menyebabkan ketakutan di pihak lawan.
 GBU-43/B dikembangkan setelah senjata serupa seperti BLU-82 Daisy Cutter yang 
berbobot 6.800 kilogram, yang antara lain dipakai untuk meratakan tanah agar 
bisa didarati helikopter.

 

Kirim email ke