Ahok-Djarot Menjaring Pemilih Muslim di Putaran Kedua 
https://tirto.id/ahok-djarot-menjaring-pemilih-muslim-di-putaran-kedua-cmQ4 Tim 
kampanye Ahok-Djarot memilih strategi merebut suara di Jakarta Timur dan 
Jakarta Selatan. Mereka ingin mengambil simpati suara Nahdliyin.
 Ahok-Djarot Menjaring Pemilih Muslim di Putaran Ke ... 
https://tirto.id/ahok-djarot-menjaring-pemilih-muslim-di-putaran-kedua-cmQ4Ikhtiar
 Anies-Sandiaga Merebut Pilkada Kedua DKI J ... 
https://tirto.id/ikhtiar-anies-sandiaga-merebut-pilkada-kedua-dki-jakarta-cmQ6

 
 Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat 
https://tirto.id/m/basuki-tjahaja-purnama-djarot-saiful-hidayat-Jp


 Reporter: Chusnul Chotimah 
https://tirto.id/author/chusnulchotimah?utm_source=internal&utm_medium=topauthor
 17 April, 2017dibaca normal 4 menit

 Djarot ditugaskan buat safari ke kantong muslim, Ahok menjaring suara milineal 
Ahok dan Djarot beberapa kali ditolak dan diadang saat berkampanye
    
mailto:?subject=Ahok-Djarot%20Menjaring%20Pemilih%20Muslim%20di%20Putaran%20Kedua&body=https://tirto.id:443/ahok-djarot-menjaring-pemilih-muslim-di-putaran-kedua-cmQ4
 19 Shares

 Tim kampanye Ahok-Djarot memilih strategi merebut suara di Jakarta Timur dan 
Jakarta Selatan. Mereka ingin mengambil simpati suara Nahdliyin.

 tirto.id https://tirto.id/?utm_source=internal&utm_medium=Article - Kedatangan 
Djarot Saiful Hidayat https://tirto.id/m/djarot-saiful-hidayat-kD di Masjid 
Jami Al-Atiq berujung pengusiran. Jumat minggu lalu, di pekan terakhir 
menjelang hari pencoblosan, Djarot yang mau menunaikan salat Jumat semula 
disambut secara baik oleh jemaah masjid di daerah Tebet itu. Ia bersalaman 
bahkan diajak berswafoto bersama para jemaah. 

Namun, saat pengurus masjid mengetahui kehadiran Djarot, situasi jadi tegang. 
Melalui pelantang suara, khatib masjid melontarkan seruan. Isinya, “Bila kita 
memilih orang non-muslim, sementara ada orang muslim sebagai pilihan, itulah 
kita mengecapnya seorang munafik.” 

Kalimat dari khatib Jumat itu jelas mengandung nada politis. Selama enam bulan 
terakhir, nada dan pesan politik lewat rumah ibadah di Jakarta semakin kencang 
dalam pusaran Pilkada DKI Jakarta https://tirto.id/dki. Kalimat itu ditujukan 
kepada sejawat Djarot, Basuki "Ahok" Tjahaja Purnama 
https://tirto.id/m/basuki-tjahaja-purnama-f, seorang Tionghoa dan beragama 
Kristen, di mana rujukan identitas rasial dan agama ini dipakai buat mengecam 
sekaligus sebaliknya mendukung kandidat lawan politik mereka, Anies Baswedan 
https://tirto.id/q/anies-baswedan-bc1 dan Sandiaga Uno 
https://tirto.id/q/sandiaga-uno-k8. 

Selanjutnya, khatib Jumat mengingatkan jemaah: “Mereka yang memilih pemimpin 
seorang Nasrani atau Yahudi adalah orang munafik.” 

Provokasi macam itu punya pengikut dan daya gerak. Usai salat, sejumlah jemaah 
Jumat menggusah Djarot dengan satu nada teriakan: “Usir, usir, usir... Pergi, 
pergi.”

Djarot melenggang tak ambil pusing dan bergegas dari masjid Al-Atiq di Jakarta 
Selatan itu. Ia meneruskan perjalanannya untuk satu agenda menghadiri istigasah 
di Gelanggang Olahraga Ciracas, Jakarta Timur. 

Kepada wartawan, sesudah berita pengusiran itu ramai, Djarot bilang 
https://tirto.id/djarot-sebut-dia-diusir-dari-masjid-sebab-ada-takmir-politis-cmKl
 ia memilih salat Jumat di masjid tersebut karena "memang searah" dengan lokasi 
tujuannya, sekitar 30 menit dengan kendaraan. Dan, tambahnya, sebagai muslim, 
semestinya ia berhak menjalankan salat Jumat di masjid mana pun. 

Pengusiran itu bukan sekali ini saja diterima oleh Djarot.

Bersama Ahok, pasangan ini pernah diusir, ditolak, dan diadang saat kampanye 
putaran pertama di sejumlah titik daerah Cipinang dan Ciracas, Jakarta Timur, 
November lalu. Aksi macam itu meneruskan provokasi dari sentimen agama yang 
menjegal Ahok. (Baca: Ada Pengurus MUI di Balik Aksi Penolakan Ahok di Ciracas 
https://tirto.id/ada-pengurus-mui-di-balik-aksi-penolakan-ahok-di-ciracas-b5Dz) 
 

Meski demikian, aksi penolakan macam itu, dengan merujuk hasil resmi 
perhitungan KPU, tak berdampak pada perolehan suara kandidat nomor urut dua 
ini. Mereka mengungguli dua kandidat lain di lokasi penolakan di Ciracas. Dari 
11 Tempat Pemungutan Suara di RW 10, Kelurahan Ciracas, Ahok-Djarot unggul 
https://tirto.id/ahok-menang-di-lokasi-penghadangan-kampanye-di-ciracas-cjbc di 
empat TPS.  

Djarot agaknya ambil enteng dari kejadian pengusiran terbaru. “Yang lebih keras 
daripada itu pun saya maafkan, kok. Betul-betul saya maafkan dari dalam hati 
yang terdalam, tidak ada rasa dendam,” ujarnya. 
 Meyakinkan Pemilih MuslimMeski sering mengalami penolakan saat berkampanye, 
Djarot dan Ahok punya tujuan buat meraih suara muslim pada putaran kedua. 
Daerah sasarannya adalah Jakarta Timur dan Jakarta Selatan.

Berdasarkan hasil perhitungan KPU putaran pertama 
https://pilkada2017.kpu.go.id/hasil/t1/dki_jakarta, pasangan Anies-Sandiaga 
https://tirto.id/m/anies-baswedan-sandiaga-uno-Jq unggul di dua wilayah 
tersebut. Di Jakarta Selatan, mereka meraih suara 46,5 persen, dan meraup 41,7 
di di Jakarta Timur. Sebaliknya, berturut-turut, Ahok-Djarot 
https://tirto.id/m/basuki-tjahaja-purnama-djarot-saiful-hidayat-Jp memperoleh 
38,7 persen dan 38,8 persen suara. Di luar dua wilayah ini, Ahok-Djarot 
memenangi suara di empat wilayah lain.

Lantaran kalah suara itu, Tubagus Ace Hasan Syadzily, sekretaris Tim Pemenangan 
Ahok-Djarot, mengatakan partai koalisi pendukung menugaskan para kader bekerja 
di kawasan selatan dan timur Jakarta. 

“Salah satu insiatif dan penugasan adalah terjun langsung ke dua wilayah, yakni 
Jakarta Selatan dan Jakarta Timur,” ujarnya saat menghadiri pengajian di 
kediaman Ketua Dewan Pembina Partai Golkar, Agung Laksono, Kamis (13/4). 

Di putaran kedua, Djarot dan Ahok bersama tim suksesnya berbagi tugas. 

Untuk Djarot, ia lebih sering menghadiri kegiatan keagamaan. Setidaknya ada 
empat acara bernuansa keislaman yang dihadiri Djarot. Pada 3 April lalu, Djarot 
menghadiri peringatan Isra Mikraj dan Istigasah Islam Nusantara di Kalideres, 
Jakarta Barat. 

Kedua, pada Senin, 20 Maret, Djarot menghadiri undangan pengajian warga di 
Majelis Taklim Annisa, daerah Senen, Jakarta Pusat. Kedatangan Djarot, 
lagi-lagi, sempat diwarnai penolakan. Sekira sepuluh perempuan mendatangi 
pengajian itu seraya membawa spanduk penolakan. Meski begitu, kunjungan Djarot 
buat menghadiri undangan acara keislaman tetap ia lakukan.

Sebelum kejadian itu, pada 11 Maret, Djarot yang datang sebagai tamu undangan 
juga ditolak dalam sebuah acara yang menyebut dirinya "peringatan haul Soeharto 
https://tirto.id/haul-soeharto-kaum-bersejarah-dan-kaum-tuna-sejarah-ckv3"; di 
Masjid At-Tin. Kedatangan Djarot di acara yang digelar di Taman Mini Indonesia 
Indah, Jakarta Timur, ini diwarnai aksi lempar botol minuman serta jemaah yang 
mengejar Djarot. 

Bukan tanpa alasan tim sukses Ahok-Djarot meminta sang wakil gubernur buat 
mendatangi kantong-kantong pemilih muslim. Akibat politisasi surat Al-Maidah 
https://tirto.id/search?q=al%20maidah yang menerpa Ahok, Djarot—dengan 
menyandang salah satu identitas sebagai muslim—pada akhirnya tergerak dalam 
arus kampanye Pilkada Jakarta kali ini yang lebih dominan memakai sentimen 
agama buat menjegal lawan dan sebaliknya meyakinkan pemilih, betapapun jabatan 
publik semestinya diukur melampaui sentimen rasial maupun agama.
  
Karena itulah, di sejumlah acara yang dihadirinya, Djarot kerapkali menegaskan 
ia dan Ahok selalu pro-Islam dalam hal kebijakan. 

Misalnya, Djarot menceritakan sejumlah program kerja yang mendukung umat Islam, 
seperti "KJP Santri" yang sudah ada tapi minim publikasi media. Ia juga bilang, 
sejumlah marbut—orang yang menjaga dan mengurus masjid—telah dibiayai naik 
haji. Termasuk pula ia menegaskan bahwa kepemimpinan petahana telah membangun 
masjid di beberapa wilayah Jakarta, salah satunya Masjid Raya KH Hasyim Asy'ari 
di Daan Mogot, Jakarta Barat. 

Di sela-sela cerita soal program, Djarot menyisipkan latar belakang dirinya 
yang "masih mewarisi darah kaum Nahdliyin" kelahiran Blitar, Jawa Timur, basis 
utama Nahdlatul Ulama, organisasi Islam terbesar di Indonesia. Buat meraih 
simpati itu, pada 13 April lalu, Djarot mendatangi kediaman mendiang 
Abdurrahman Wahid di Ciganjur, Jakarta Selatan. Kunjungan itu dilakukan Djarot 
sebagai bentuk "silaturahmi sekaligus meminta restu" dari mendiang keluarga Gus 
Dur. 

 share infografik

 Kampanye Diam AhokBerbeda dari Djarot, Ahok lebih memilih generasi muda atau 
menargetkan pemilih pemula dalam Pilkada Jakarta. 

Dalam beberapa kesempatan, kegiatan kampanye Ahok enggak diekspos media saat 
mendatangi warga. Pola ini berbeda sama sekali dari putaran pertama ketika 
saban ada agenda kunjungan, Ahok selalu melibatkan media. 

Misalnya, Ahok menghindari peliputan media saat berkampanye di Jatinegara, 
Jakarta Timur. Tanpa memberitahu wartawan, Ahok meluncur menemui warga. 
Belakangan, para awak media baru mengetahui kunjungan itu setelah tim sukses 
Ahok mengunggah siaran langsung via akun Facebook dia 
https://www.facebook.com/AhokBTP. 

Bila Djarot lebih sering ditemui di lapangan saat berkampanye, sebaliknya Ahok 
lebih sering bisa dilihat di ruang media sosial. Tak sekali itu ia menyiarkan 
secara langsung agenda blusukan. Guna merebut suara generasi milenial, 
misalnya, Ahok bikin acara "Kepoin Pelayan Jakarta" dan "Ahok Show". Ia juga 
mengadakan nonton bersama seperti film Kartini dan Bid’ah Cinta.

Di hadapan wartawan, Ahok beralasan bahwa ia enggan memberitahu agendanya buat 
menghindari rombongan orang yang membuntutinya. “Kalau terlalu ramai, saya 
susah jalan dan ketemu orang juga susah,” katanya saat ia datang ke Pulogadung, 
Jakarta Timur (10/3). 

Baca juga artikel terkait PILKADA DKI JAKARTA 2017 
https://tirto.id/q/pilkada-dki-jakarta-2017-cmJ?utm_source=internal&utm_medium=lowkeyword
 atau tulisan menarik lainnya Chusnul Chotimah  
https://tirto.id/author/chusnulchotimah?utm_source=internal&utm_medium=lowauthor
 (tirto.id - chs/fhr)
 



 

Kirim email ke