Banyu Bening 
· WAKTU TANPA KOMA
Oleh: Banyu BeningPagi yang pahit, kepala terasa berat
Mual pada hidup yang seakan terus membual
Pada langit-langit kuhujamkan pandang
Mengingat sisa angin semalam
Ada yang hilang tinggalkan kenangan
Juga ada yang datang membawa dendam
Sebelum beranjak, kepala harus sudah ringan
Serupa kapuk di bawah kepala
Apa yang hendak disampaikan hidup pada manusia:Bagaimanapun kita menyikapinya, 
waktu tak akan pernah berkomaAroma dupa menyesakkan
Menembus kelambu tipis yang selama ini membatasi
Kepala menolak
Meski tak mampu memungkiri bahwa dada ini bergejolak
Berhasil menggiring angin magis, berusaha mendobrak akal
Betapapun mengingkarinya
Tak urung memercikkan bunga api
Yang terlihat nyalang di gelapnya pikiran
Rupanya aku tersesat di asap dupa
Dengan gamang akupun menangkupkan telapak tangan
Pada ujungnya yang sedang membaraSepuluh tahun lalu adalah tahun 1968, kini 
sudah 1978
Sepuluh tahun lalu aku berumur 13, sekarang 28
Sepuluh tahun lalu namaku Sumirah, kini MarijahPagi pertama tidur di kamar
Setelah sepuluh tahun selalu dipaksa lelap dalam kandang
Pagi pertama tidur berbantal kapuk setelah sepuluh tahun berbantal lengan
Udara terasa sedikit ringan, mungkin karena tak saling rebutan
Namun terasa asing, sehari menghirup udara kebebasan
Baru saja pulang
Bukan ke tanah kelahiran apa lagi rumah peninggalan
Tapi ke kampung halaman yang ditentukan 
Ditentukan penguasa yang mengaku lawannya kidal"Kalau sampean memang ndak 
berasal dari Blitar, nanti ikut saya saja!
Iyakan saja!"Bukankah lebih dari sepuluh tahun ini aku masak dalam kepatuhan
Ketika aku berumur tiga belas tahun
Patuh saja dimasukkan dalam kandang bertuliskan pemberontak
Ketika usia dituakan aku juga patuh
Ketika namaku diganti akupun patuh
Ketika keperawanan direnggut aku tetap patuh
Bahkan akhirnya jadi budak nafsu dalam kerangkengpun
Aku masih saja patuhJeruji bui adalah bisu
Desau angin terus berlalu
Bahkan garuda sudah dikebiri
Dan pancasila telah matiPadang, 5 Mar’14

Kirim email ke