Sebenarnya saja, pernyataan “SAYA WARGA INDONESIA, TITIK” tidak ada salahnya, 
khususnya dalam menghadapi suasana memanas berbau SARA jelang PILKADA DKI 
Jakarta 5-6 bulan terakhir ini. Artinya, kita semua harus berkesadaran dan 
menekankan HANYA ADA SATU jenis warga Indonesia! Yang mempunyai hak dan 
kewajiban sama, TIDAK dibeda-bedakan karena adanya beda ras, beda suku, beda 
etnik, beda Agama bahkan juga beda pandangan ideologi/politik seseorang! Itulah 
pengenalan yang jernih atas pengertian ORANG INDONESIA berdasarkan UU 
Kewarganegaraan No.12/2006, ... Jelas TIDAK BISA lagi memperlakukan seorang 
warga berbeda berdasarkan perbedaan etnis dan Agama!

Tapi, ... begitu dilanjutkan dengan menyatakan merupakan “KEHORMATAN” bagi saya 
digolongkan “5 Tenglang Tidak Pilih Tenglang” yang menjadi sasaran bully 
ditengah suasana Pilkada ini, jelas bung Jaya terjerembab dalam SARA juga, 
khususnya mempertentangkan etnis Tionghoa dan non-Tionghoa dalam Pilkada ini. 
Tionghoa memilih Ahok yang Tionghoa tidak bisa disalahkan, sebaliknya Tionghoa 
yang tidak memilih Ahok juga tidak menjadi lebih terhormat! Yang menyerang 
pemilih Ahok yang Tionghoa TENTU saja SALAH! Seseorang tidak boleh dan tidak 
bisa disalahkan karena memilih Ahok yang Tionghoa! Siapapun tidak berhak 
mencegah dengan berbagai usaha  MENENTANG seseorang memilih paslon berdasarkan 
etnis, sebaliknya juga tidak boleh menganjurkan orang lain memilih berdasarkan 
sesama etnik nya. Jadi dalam hal memilih paslon yang mana,  penekanannya TETAP 
pada program, misi dan visi paslon saja!

Yang menjadi masalah bukan seperti dinyatakan Anies, ditemukan tidak sedikit 
TPS-UNIK (lebih 500 TPS) hanya karena lebih 90% mencoblos paslon No.2, 
Ahok-Djarot! Seolah-olah hendak menuding justru yang Tionghoa dan non-Muslim 
itu yang tidak ada “kebersamaan”, tidak “berBhineka”, ...!  Lho??? Kok bisa 
begitu kompak, lebih 90% memilih Ahok?! Saya tidak mempermasalahkan sampai 
dimana kebenaran yang dikatakan lebih 500 TPS itu lebih 90% memilih 
Ahok-Djarot, katakanlah begitu yang terjadi, lalu dimana SALAH-nya? Katakanlah 
di TPS-TPS itu mayoritas Tionghoa dan non-Muslim, ... terjadi begitu kompaknya 
mereka memilih Ahok-Djarot. Lalu Salah? TENTU saja TIDAK SALAH! Boleh-boleh 
saja seseorang menggunakan suaranya untuk memilih salah satu paslon dan 
kebetulan 90% memilih Ahok-Djarot!  Menjadi SALAH, kalau kenyataan ada kekuatan 
yang memaksa warga untuk memilih Ahok berdasarkan etnik Tionghoa!

Yang SALAH dan tidak seharusnya terjadi, adalah menganjurkan atau memberlakukan 
sesama umat Islam HARUS memilih MUSLIM, dengan berlakukan ayat-ayat Al Quran 
yang MELARANG memilih seorang non-Muslim menjadi pemimpin, bahkan menuduh 
MUNAFIK bagi mereka yang memilih non-Muslim dan, ... memusuhi mereka yang tetap 
berani memilih non-Islam sebagai pemimpinnya! 


Salam,
ChanCT


From: Salim Said 
Sent: Monday, April 17, 2017 8:58 AM
To: Group Diskusi Kita ; alumnas-oot ; [email protected] ; 
[email protected] ; Group Reboan IP ; leo_suryadinata 
Subject: Fwd: SAYA WARGA INDONESIA, TITIK.

Pernyataan politik Jaya Suprana.


---------- Forwarded message ----------
From: Jaya Suprana <[email protected]>
Date: 2017-04-17 7:46 GMT+07:00
Subject: Fwd: SAYA WARGA INDONESIA, TITIK.
To: Salim Said <[email protected]>, Institut Peradaban 
<[email protected]>



 Rakyat Merdeka On Line 17 April 2017

SAYA WARGA INDONESIA, TITIK.

Oleh Jaya Suprana



Seorang sahabat saya ( yang tidak perlu saya sebutkan namanya agar tidak 
menjadi sasaran  bully-bully di tengah suasana politik paranoid menjelang 
pilkada putaran dua) memberitahu bahwa saya digolongkan ke golongan “Lima 
Tenglang Tidak Pilih Tenglang”  . Penggolongan itu merupakan kehormatan bagi 
diri saya sebab  saya digolongkan ke satu golongan bersama  Lieus Sungkharisma 
, Yusuf Hamka , Hari Tanoesoedibyo dan Kwik Kian Gie yang  saya hormati  
sebagai para tokoh  nasionalis dengan semangat kerakyatan yang senantiasa 
berpihak ke wong cilik.  Namun saya selalu merasa kurang sreg disebut Tenglang  
. 





Saya tidak merasa bahwa diri saya adalah Tenglang atau Tionghoa atau Cina atau 
apa pun sebab orang tua saya terlanjur mendidik saya untuk meyakini bahwa diri 
saya adalah warga Indonesia lalu titik tanpa embel-embel predikat apa pun. 
Silakan hujat saya sebagai Kirno (Mungkir Cino) pengkhianat, munafik atau apa 
pun juga namun apa boleh buat saya memang sudah terlanjur meyakini diri saya 
adalah seorang warga Indonesia titik . Mohon dimaafkan bahwa saya yang 
lahir-tumbuh-kembang di lahan kebudayaan Jawa lebih bisa menghayati ajaran 
kebudayaan Jawa seperti ojo dumeh, rukun agawe santoso , ngono yo ngongo ning 
ojo ngono, jer basuki mawa beya, eling lan waspada dan tentu saja Pancasila 
ketimbang ajaran Khonghocu , Lao Tse atau Maozedong . 





Sebagai warga Indonesia , saya pribadi memang lebih mengagumi Anoman ketimbang 
Sun Go Kong, Pangeran Diponegoro ketimbang Kwan Kong, Tjut Nyak Dien ketimbang 
Hua Mulan, Bung Karno ketimbang Sun Yat Sen , Bung Hatta ketimbang Chao En Lay, 
Soedirman ketimbang Yuan Shih Kay, Ronggowarsito ketimbang Qu Yuan, Taufik 
Ismail ketimbang Lu Hsun, Borobudur ketimbang Wanli Changcheng . Dalam 
karya-karya musik saya juga menggunakan pentatonik slendro dan pelog Jawa bukan 
pentatonik China.  Saya menulis naskah dan buku dalam bahasa Indonesia bukan 
Cina.  Sukma saya lebih tergetar ketika mendengar Indonesia Raya ketimbang  
Zhōnghuá Míngúo  . 





Saya juga kurang sreg terhadap istilah “Tenglang Tidak Pilih Tenglang” yang 
terkesan  SARA karena saya yakin bahwa para tokoh nasionalis pro rakyat  
seperti Lieus, Yusuf, Hary , Kwik, Yonan, Enggar, Marie, Tom, Tomy, Franky, 
Sugianto, Christianto, Anton, Hasan, Handaka dll  dalam memilih niscaya tidak 
memandang latar belakang SARA .  Namun para beliau memang tidak akan memilih 
pemimpin yang sewenang-wenang dalam menatalaksana pembangunan infra struktur 
tega hati mengorbankan rakyat miskin dengan cara melanggar hukum, HAM, 
Pancasila serta Agenda Pembangunan Berkelanjutan yang telah disepakati oleh 
segenap anggota (termasuk Indonesia) Persatuan Bangsa Bangsa sebagai pedoman 
pembangunan planet bumi abad XXI tanpa mengorbankan alam dan manusia. 





Siapa pun yang berpihak ke rakyat niscaya akan memilih pemimpin yang bukan 
menyengsarakan namun menyejahterakan rakyat selaras dengan sila-sila 
kemanusiaan adil dan beradab serta keadilan sosial bagi seluruh rakyat 
Indonesia mau pun cita-cita terluhur bangsa Indonesia yaitu masyarakat adil dan 
makmur.




(Penulis adalah warga Indonesia , titik)





-- 
Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "diskusi kita" di Google Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

Kirim email ke