Syukurlah, Ahok Kalah 

19 April 2017 16:26:25   Diperbarui: 19 April 2017 17:32:14 

HENDRA BUDIMAN
Selengkapnya : 
http://www.kompasiana.com/hendra_budiman/syukurlah-ahok-kalah_58f72d4140afbd5c6ff3385c



Sampai tulisan ini dibuat hasil hitung cepat dari tiga lembaga survei (LSI, 
SMRC dan Polmark) menunjukan Ahok kalah dalam pertarungan Pilkada DKI Jakarta 
putaran kedua. Saya tidak mempersoalkan siapapun yang menang dalam Pilkada ini. 
Yang saya syukuri, Ahok kalah!. Agar saudara tidak cepat emosional membaca 
judul tulisan ini, alangkah eloknya membaca tuntas hingga akhir. 



Artikel ini adalah tulisan saya pertama bertema Pilkada DKI Jakarta. Dan secara 
khusus Kompasiana membuatnya dalam rubrik Kotak Suara. Meski banyak masalah 
yang saya temukan dalam proses Pilkada kali ini, saya menahan diri untuk tidak 
menuliskannya. Menunggu di akhir pertarungan dan berharap Ahok kalah. Sebagai 
seorang praktisi dan konsultan Pilkada, tentu tema ini merupakan “makanan” 
saya. Beberapa pihak mendorong saya untuk menuliskannya, tapi saya menolaknya. 
Karena “masalah ahok” bukan masalah Pilkada DKI. Ini murni politik yang 
tersangkut dengan kekuasaan Jokowi.



Masalah Ahok – saya menyebutnya demikian, bukanlah masalah hukum, bukan masalah 
agama, apalagi masalah Pilkada. Bila kita masuk dalam perdebatan tiga ranah ini 
(hukum, agama, pilkada) maka akan terjadi banyak paradok yang tidak logis. Saya 
menyadari bahwa acapkali masalah agama dan Pilkada menyeret argumen-argumen 
yang emosional sehingga bantahan rasional bukanlah jawaban yang jitu. Tetapi 
seberapa besar argumen emosional itu dikemukakan masih cukup relevan, jika 
disangkutpautkan dengan fakta atau peristiwa lain. Tetapi “masalah Ahok” sudah 
emosional terjadi paradok didalamnya. 



Masalahnya pun bukan soal Syariah Islam atau tidak, sentimen rasial anti cina 
atau tidak. Bukan itu. Ini semua hanya alat propaganda. Suatu isyu untuk 
menarik lebih banyak simpati masuk kedalam kerumunan atau crowd yang potensial 
untuk digerakan sewaktu-waktu. 



Paradoksnya misal anti Cina kafir yang ditujukan ke Ahok tetapi sujud pada 
Harry Tanoe. Pertentangan yang tidak masuk akal sehat. Atau sebaliknya cap 
Liberal dan Syiah yang disematkan pada Anies sebelumnya tapi dianggap akan 
membawa DKI Jakarta bersyariah. 



Pertanyaan kritis yang harus diajukan adalah mengapa pihak kepolisian seperti 
takut membubarkan Front Pembela Islam (FPI). Jelas semua kegaduhan di Jakarta 
dalam enam bulan terakhir dimotori oleh FPI. Mengapa polisi sampai tak berdaya? 
Jawabnya akan terbuka jika saudara menelusuri sejarah dan perjalanan FPI sejak 
tahun 1998. Sebagaimana harus juga diketahui sejarah KISDI dan Pamswakarsa. 
Jawabnya sederhana, FPI tidak lebih “binaan” para Jendral Angkata Darat dan 
mantan Kapolri. Soal “binaan” sudah menjadi tradisi dikalangan tentara dan 
polisi untuk memelihara kelompok-kelompok ekstrim (termasuk para preman / Gali) 
untuk dijadikan pemukul barisan depan. 



Dalam kaitan “masalah Ahok”, saya tidak melihat FPI sebagai aktor utama. 
Organisasi ini tidak lebih sabagai bemper dan barisan pemukul awal. Artinya 
saya pun tidak memperdulikan wacana, slogan atau apapun namanya yang diteriakan 
oleh FPI yang sebenarnya tidak lebih sekedar alat propaganda. Propoganda untuk 
menyatukan emosi bersama, sekaligus membuat musuh bersama. Dan rupanya isyu 
Islam dinistakan sangat ampuh untuk menipu termasuk menghipnotis kalangan kelas 
menengah terdidik. 



Jika bukan FPI, lantas siapa? Saya menduga dua kelompok lama yang 
berkoloborasi: para (mantan) Jendral angkatan darat yang tidak mendapatkan 
tempat di kekuasaan bekerjasama dengan kroni Cendana Orde Baru. Kelompok ini 
menjadi kuat dalam dukungan logistik, dengan agen Trump seperti Harry Tanoe dan 
Freeport. Tujuannya satu: menjatuhkan pemerintahan Jokowi. Bahwa gerakan ini 
ada peran Amerika tidak bisa dipungkiri. Sebagaimana dulu pembentukan FPI dan 
Pamswakarsa juga dibantu oleh agen CIA di Indonesia seperti Setyawan Djodi. 



“Masalah Ahok” adalah pintu masuk untuk menjatuhkan pemerintahan Jokowi. Tetapi 
kelompok ini memang kesulitan untuk “memprovokasi” massa untuk selanjutnya 
menjadi people power seperti 1998. Akhirnya terjadi “keajaiban” Ahok kepleset 
omongan. Propaganda dan agitasi dimainkan untuk menghimpun “umat Islam” yang 
merasa dihinakan. 



Sebenarnya Istana tahu akan skenario ini. Bagaimanapun juga jaringan intelejen 
dimiliki oleh lingkungan Istana. Tapi menghadapi dengan frontal secara politis 
juga tidak akan baik. Oleh karena itu polisi seperti memainkan isyu “makar”. 
Bahwa memang ada agenda dan skenario itu, tapi sulit dibuktikan secara hukum. 
Tetapi paling tidak, pemerintahan Jokowi sudah mulai menyerang agenda politik 
kelompok ini. Beberapa panglima lapangan “ditawan” dengan tuduhan makar dan 
tuduhan perbuatan asusila. 



Jokowipun berusaha untuk bermain cantik dan melakukan tawar menawar secara 
halus. Baik tawar menawar kepada Freeport maupun kepada para Jendral 
dilingkungannya sendiri seperti Wiranto, Hendropriyono dan Rymizard. 



Dengan kalahnya Ahok, pintu untuk melakukan makar skenario pertama telah 
tertutup. Apalagi jika akhirnya pengadilan menjatuhkan hukuman pada Ahok.  Isyu 
apalagi yang ingin dimainkan? Menunggu hingga 2019 bukan waktu yang ringkas 
bagi kelompok ini. Meski begitu, ada satu isyu yang dari kemarin-kemarin tetap 
dipelihara yakni: bangkitnya PKI baru. 



Tetapi bagi FPI, isyu ini sebenarnya ahistoris. Agak sulit bagi jamaah dan 
pengikut FPI untuk mengikuti propaganda anti PKI. Berbeda halnya dulu Banser NU 
yang jelas-jelas dibentuk untuk melawan aksi sepihak PKI. Banser NU tidak bisa 
dianggap sebagai “alat” dari kekuatan angkatan darat saat itu sebab secara 
historis, memang terjadi pertempuran antara Banser NU dengan underbouw PKI saat 
itu. 



Oleh karena itu saya tidak mempersoalkan siapa pemenang Pilkada DKI Jakarta : 
Anies Baswedan. Karena tidak ada pengaruh atau perubahan apapun dalam konteks 
gerakan politik nasional. Apakah kemudian DKI Jakarta akan menerapkan Syariah 
Islam seperti Aceh? Mimpi. Jargon-jargon itu hanya propaganda. Atau apakah 
Anies lebih baik atau lebih buruk dalam menata pemerintahan di Jakarta, saya 
tidak akan mengulasnya dalam tulisan ini. 



Yang saya syukuri, Ahok telah kalah. Dan saat ini juga, agenda makar kelompok 
barisan sakit hati pada pemerintahan Jokowi, akan sedikit tertunda. Kemarahan 
massal yang dibakar oleh seruan propaganda yang massif selama ini disurutkan. 
Tapi apakah “kemarahan massal” bisa berbalik kepada kelompok pro Ahok? Marah 
mungkin saya, tapi marah yang kemudian termobilisasi dan menjadi amuk yang 
terorganisir nampaknya sulit terjadi. 



Posisi politik saya. Saya bukan pendukung Anis atau Ahok. Terlebih saya bukan 
penduduk DKI Jakarta yang punya hak pilih. Meskipun saya memilih Jokowi sebagai 
Presiden pada 2014, saya bukan bagian dari simpatisan dan partisan. Yang saya 
cemaskan adalah adanya bibit-bibit kebangkitan Orde Baru dan kroninya serta 
agen-agen Trump di Indonesia dengan memperalat umat Islam untuk melakukan 
goncangan. 



Salam Kompasiana.

Selengkapnya : 
http://www.kompasiana.com/hendra_budiman/syukurlah-ahok-kalah_58f72d4140afbd5c6ff3385c

Kirim email ke