Pada Kamis, 20 April 2017 8:26, "'Chan CT' [email protected] 
[GELORA45]" <[email protected]> menulis:
 

     Pertimbangan jaksa dalam menuntut AhokKamis, 20 April 2017 12:49 WIB | 140 
ViewsPewarta: Benardy FerdiansyahTerdakwa kasus dugaan penistaan agama Basuki 
Tjahaja Purnama atau Ahok mengikuti sidang lanjutan di Pengadilan Negeri 
Jakarta Utara, Auditorium Kementerian Pertanian, Jakarta, Kamis (20/4/2017). 
(ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja) Jakarta (ANTARA News) - Tim Jaksa Penuntut Umum 
menggunakan Pasal 156 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) untuk menuntut 
terdakwa kasus penodaan agama Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). 

Saat membacakan tuntutan terhadap Ahok di Auditorium Kementerian Pertanian, 
Jakarta, Kamis, Ketua Tim Jaksa Penuntut Umum Ali Mukartono menyatakan 
perbuatan Basuki terbukti memenuhi rumusan-rumusan unsur pidana dalam Pasal 156 
KUHP.

Ali menyatakan sepanjang pemeriksaan dalam persidangan telah didapat fakta 
mengenai kesalahan terdakwa dan tidak ditemukan alasan pemaaf dan pembenar atas 
perbuatan terdakwa.

"Pertimbangan memberatkan, perbuatan terdakwa menimbulkan keresahan masyarakat 
dan menimbulkan kesalahpahaman masyakarat antar golongan rakyat Indonesia," 
tuturnya.

Sementara hal yang meringankan, menurut dia, terdakwa mengikuti proses hukum 
dengan baik, sopan di persidangan, ikut andil dalam membangun Jakarta, dan 
mengaku telah bersikap lebih humanis.

Selain itu, menurut jaksa, keresahan masyarakat timbul setelah orang bernama 
Buni Yani mengunggah video pidato Ahok di Kepulauan Seribu pada 27 September 
2016, ketika dia mengatakan bahwa ada pihak yang menggunakan Alquran Surat Al 
Maidah Ayat 51 untuk membohongi.

Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan itu, jaksa menuntut majelis hakim 
menyatakan Ahok terbukti bersalah melakukan tindak pidana di muka umum dan 
menyatakan perasaan permusuhan, kebencian atau penghinaan terhadap satu 
golongan sebagaimana diatur Pasal 156 KUHP. 

Jaksa menuntut majelis hakim menjatuhkan pidana penjara selama satu tahun 
dengan masa percobaan dua tahun kepada Ahok.

Sidang kasus tersebut akan dilanjutkan pada Selasa (25/4) dengan agenda 
pembacaan pleidoi terdakwa. 


Editor: Maryati  
Kekalahan Ahok dan Kemenangan Anies dalam Sorotan Media Asing
PASCAL S BIN SAJUKompas.com - 20/04/2017, 07:00 WIB Cagub dan cawagub DKI nomor 
urut 2, Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat serta pasangan kandidat 
nomor urut 3, Anies Baswedan-Sandiaga Uno saat debat publik putaran kedua 
pilkada di Jakarta, Rabu (12/4/2017). Quick count lembaga survei untuk putaran 
kedua Pilkada DKI Jakarta, Rabu (19/4/2017) mengunggulkan pasangan ini atas 
Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat.(KOMPAS.com / KRISTIANTO PURNOMO) 
DOHA, KOMPAS.com -  Pemilihan Gubernur-Wagub DKI Jakarta yang menyebabkan 
tersingkirnya gubernur petahana, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, menjadi 
sorotan media asing arus utama.Ahok dilihat sebagai tokoh fenomenal dan 
antikorupsi. Namun, Ahokmenjadi pergunjingan luas, tidak saja di Indonesia 
tetapi di luar negeri, akibat sentimen agama dan etnis.Beberapa media asing 
menyinggung bagaimana Anies sebenarnya telah merangkul seluruh warga Jakarta 
untuk bersatu dan melupakan perbedaan.Kekalahan Ahok dan kemenangan Anies 
Baswedan, mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan di Kabinet Kerja Presiden 
Joko Widodo, itu diartikulasikan dalam terminologi atau diksi yang dikaitkan 
dengan masalah agama dan ras oleh sejumlah media asing arus utama.Media Arab 
berbasis di Doha, Qatar, Al Jazeera, menyebutkan, Ahokyang sedang “diadili 
karena penistaan” agama kalah dari Anies "setelah kampanye agama yang memecah 
belah”.Dari hasil penghitungan cepat oleh 10 lembaga survei, “gubernur Kristen 
di ibu kota Jakarta” kalah telak setelah “kampanye yang dimulai dengan 
perbedaan agama dan rasial di negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia itu," 
demikian Al Jazeera, Rabu (19/4/2017).Ahok sedang diadili karena kasus 
penistaan agama Islam, demikian media Arab tersebut.Baca: Hasil Final "Quick 
Count" Kompas: Ahok-Djarot 42 Persen, Anies-Sandi 58 PersenDalam beberapa bulan 
ini, “ratusan ribu warga Indonesia melakukan protes menentangnya di Jakarta, 
mencaci maki keturunan China itu, dan menuntut dia untuk dipenjara atau 
dibunuh,” kata media Arab itu.Anies dilihat sebagai “seorang politisi Muslim 
berpendidikan tinggi, memanfaatkan serangan balik terhadap Ahok dengan mencari 
dukungan dari para ulama konservatif dan tokoh radikal ‘pinggiran’ yang 
menentang pemilihan non-Muslim.”Anies Baswedan disebut mendapat dukungan dari 
“elite politik dan bisnis yang kalah telak pada Pilpres 2014” dan yang mencari 
jalan untuk maju pada Pilpres 2019, demikian Al Jazeera.Ian Wilson, ahli 
Indonesia dari Murdoch University di Australia barat, mengatakan, kemenangan 
Anies atau kekalahan Ahok sebagai indikasi bahwa identitas digunakan sebagai 
“senjata politik”.Pemberitaan dengan nada yang yang sama disampaikan harian New 
York Times (NYT).Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok saat memberikan konferensi 
pers di Hotel Pullman, Jakarta, Rabu (19/4/2017).(GARRY ANDREW LOTULUNG)Salah 
satu media arus utama AS itu menambahkan, Ahok kalah “dalam pertarungan sengit 
yang secara luas dipandang sebagai ujian toleransi agama dan etnis.”Ahok telah 
mengaku kalah dan mengucapkan selamat kepada Anies. Ia meminta para 
pendukungnya untuk “melupakan semua hal yang terjadi selama kampanye” – merujuk 
kepada isu perbedaan agama dan sentimen rasial yang mewarnai kampanye.Menurut 
para analis, Ahok sulit bangkit dari kerusakan yang dilakukan 
“kelompok-kelompok radikal yang menggunakan agama sebagai senjata politik, 
meskipun peraturan pemerintah puluhan tahun melarang  cara seperti itu,” 
demikian media AS tersebut.“Hal itu menunjukkan kepada saya bahwa kelompok 
radikal semakin mengakar di masyarakat, khususnya di daerah perkotaan,” 
demikian NYT mengutip salah satu pengamat di Indonesia.Baca: Ahok Mengaku Sudah 
Telepon dan WhatsApp AniesNYT menambahkan,  “Kekalahan Basuki akan semakin 
memberanikan kelompok-kelompok garis keras untuk memberikan tekanan lebih 
lanjut di Jakarta dan pemerintah pusat untuk mewujudkan agenda 
ultrakonservatif, yang meliputi pelembagaan hukum Islam dan melarang penjualan 
alkohol.”Anies oleh para pendukungnya “disebut gubernur ‘anak pribumi’ dan 
berjanji menyelesaikan masalah ibu kota,” kata NYT. Ia juga mengatakan, 
“perjalanan kita masih panjang.”Menurut NYT, Anies secara pribadi tidak 
langsung menyerang soal agama dan etnis Basuki, tapi “ia bertemu dengan para 
pemimpin garis keras selama kampanye dan tur ke masjid-masjid."Sementara CNN 
menyebutkan, kekalahan Ahok “kemungkinan akan dilihat sebagai kemenangan bagi 
umat Islam konservatif di Indonesia, yang telah berkampanye keras terhadap 
gubernur Kristen etnis Tionghoa yang dikenal sebagai Ahok itu.”Indonesia adalah 
negara yang paling padat penduduk Muslim-nya di dunia. Dari sekitar 263 juta 
jiwa penduduk Indonesia, sekitar 87 persen di antaranya adalah pemeluk 
Islam."Kami harus melupakan perbedaan. Kita semua sama," kata Ahoksetelah hasil 
pemilu awal menunjukkan ia tertinggal jauh dari Anies, tulis CNN.Calon gubernur 
DKI nomor urut 3 Anies Baswedan usai menggunakan hak suaranya di TPS 28, 
Cilandak Barat, Jakarta Selatan, Rabu (19/4/2017). Quick count lembaga survei 
untuk putaran kedua Pilkada DKI Jakarta mengunggulkan pasangan Anies-Sandi atas 
Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat.(KOMPAS.com / KRISTIANTO 
PURNOMO)Para analis, demikian CNN, mengatakan, “kekalahan Ahok akan mendorong 
penggunaan agama sebagai alat politik dalam pemilu di Indonesia.”Majalah Times, 
kantor berita Associated Presse (AP) dan ABC NewsAustralia juga 
mengartikulasikan kekalahan Ahok dan kemenangan Anies dengan nada yang hampir 
sama.“Baswedan telah menarik dukungan dari ulama konservatif yang menentang 
pemilihan non-Muslim,” demikian AP.“Polarisasi masa kampanye telah merusak 
reputasi Indonesia yang menganut bentuk Islam moderat,” tulis AP lagi.Baca: 
Saat Arak-arakan Perayaan Kemenangan Anies-Sandi Lintasi Posko Pemenangan 
Ahok-Djarot...Meski demikian, Anies telah mengajak warga Jakarta untuk bersatu 
dan bersama-sama membangun Jakarta, tak lagi menonjolkan perbedaan."Bagi kami, 
perjalanan masih panjang, usaha kami tidak hanya memenangkan pemilu tapi tujuan 
utama kami adalah untuk menciptakan kembali keadilan sosial bagi warga 
Jakarta," kata Anies seperti dirilis ABC News.   #yiv1680689584 #yiv1680689584 
-- #yiv1680689584ygrp-mkp {border:1px solid 
#d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px 0;padding:0 10px;}#yiv1680689584 
#yiv1680689584ygrp-mkp hr {border:1px solid #d8d8d8;}#yiv1680689584 
#yiv1680689584ygrp-mkp #yiv1680689584hd 
{color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px 
0;}#yiv1680689584 #yiv1680689584ygrp-mkp #yiv1680689584ads 
{margin-bottom:10px;}#yiv1680689584 #yiv1680689584ygrp-mkp .yiv1680689584ad 
{padding:0 0;}#yiv1680689584 #yiv1680689584ygrp-mkp .yiv1680689584ad p 
{margin:0;}#yiv1680689584 #yiv1680689584ygrp-mkp .yiv1680689584ad a 
{color:#0000ff;text-decoration:none;}#yiv1680689584 #yiv1680689584ygrp-sponsor 
#yiv1680689584ygrp-lc {font-family:Arial;}#yiv1680689584 
#yiv1680689584ygrp-sponsor #yiv1680689584ygrp-lc #yiv1680689584hd {margin:10px 
0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}#yiv1680689584 
#yiv1680689584ygrp-sponsor #yiv1680689584ygrp-lc .yiv1680689584ad 
{margin-bottom:10px;padding:0 0;}#yiv1680689584 #yiv1680689584actions 
{font-family:Verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}#yiv1680689584 
#yiv1680689584activity 
{background-color:#e0ecee;float:left;font-family:Verdana;font-size:10px;padding:10px;}#yiv1680689584
 #yiv1680689584activity span {font-weight:700;}#yiv1680689584 
#yiv1680689584activity span:first-child 
{text-transform:uppercase;}#yiv1680689584 #yiv1680689584activity span a 
{color:#5085b6;text-decoration:none;}#yiv1680689584 #yiv1680689584activity span 
span {color:#ff7900;}#yiv1680689584 #yiv1680689584activity span 
.yiv1680689584underline {text-decoration:underline;}#yiv1680689584 
.yiv1680689584attach 
{clear:both;display:table;font-family:Arial;font-size:12px;padding:10px 
0;width:400px;}#yiv1680689584 .yiv1680689584attach div a 
{text-decoration:none;}#yiv1680689584 .yiv1680689584attach img 
{border:none;padding-right:5px;}#yiv1680689584 .yiv1680689584attach label 
{display:block;margin-bottom:5px;}#yiv1680689584 .yiv1680689584attach label a 
{text-decoration:none;}#yiv1680689584 blockquote {margin:0 0 0 
4px;}#yiv1680689584 .yiv1680689584bold 
{font-family:Arial;font-size:13px;font-weight:700;}#yiv1680689584 
.yiv1680689584bold a {text-decoration:none;}#yiv1680689584 dd.yiv1680689584last 
p a {font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv1680689584 dd.yiv1680689584last p 
span {margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv1680689584 
dd.yiv1680689584last p span.yiv1680689584yshortcuts 
{margin-right:0;}#yiv1680689584 div.yiv1680689584attach-table div div a 
{text-decoration:none;}#yiv1680689584 div.yiv1680689584attach-table 
{width:400px;}#yiv1680689584 div.yiv1680689584file-title a, #yiv1680689584 
div.yiv1680689584file-title a:active, #yiv1680689584 
div.yiv1680689584file-title a:hover, #yiv1680689584 div.yiv1680689584file-title 
a:visited {text-decoration:none;}#yiv1680689584 div.yiv1680689584photo-title a, 
#yiv1680689584 div.yiv1680689584photo-title a:active, #yiv1680689584 
div.yiv1680689584photo-title a:hover, #yiv1680689584 
div.yiv1680689584photo-title a:visited {text-decoration:none;}#yiv1680689584 
div#yiv1680689584ygrp-mlmsg #yiv1680689584ygrp-msg p a 
span.yiv1680689584yshortcuts 
{font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}#yiv1680689584 
.yiv1680689584green {color:#628c2a;}#yiv1680689584 .yiv1680689584MsoNormal 
{margin:0 0 0 0;}#yiv1680689584 o {font-size:0;}#yiv1680689584 
#yiv1680689584photos div {float:left;width:72px;}#yiv1680689584 
#yiv1680689584photos div div {border:1px solid 
#666666;height:62px;overflow:hidden;width:62px;}#yiv1680689584 
#yiv1680689584photos div label 
{color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}#yiv1680689584
 #yiv1680689584reco-category {font-size:77%;}#yiv1680689584 
#yiv1680689584reco-desc {font-size:77%;}#yiv1680689584 .yiv1680689584replbq 
{margin:4px;}#yiv1680689584 #yiv1680689584ygrp-actbar div a:first-child 
{margin-right:2px;padding-right:5px;}#yiv1680689584 #yiv1680689584ygrp-mlmsg 
{font-size:13px;font-family:Arial, helvetica, clean, sans-serif;}#yiv1680689584 
#yiv1680689584ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}#yiv1680689584 
#yiv1680689584ygrp-mlmsg select, #yiv1680689584 input, #yiv1680689584 textarea 
{font:99% Arial, Helvetica, clean, sans-serif;}#yiv1680689584 
#yiv1680689584ygrp-mlmsg pre, #yiv1680689584 code {font:115% 
monospace;}#yiv1680689584 #yiv1680689584ygrp-mlmsg * 
{line-height:1.22em;}#yiv1680689584 #yiv1680689584ygrp-mlmsg #yiv1680689584logo 
{padding-bottom:10px;}#yiv1680689584 #yiv1680689584ygrp-msg p a 
{font-family:Verdana;}#yiv1680689584 #yiv1680689584ygrp-msg 
p#yiv1680689584attach-count span {color:#1E66AE;font-weight:700;}#yiv1680689584 
#yiv1680689584ygrp-reco #yiv1680689584reco-head 
{color:#ff7900;font-weight:700;}#yiv1680689584 #yiv1680689584ygrp-reco 
{margin-bottom:20px;padding:0px;}#yiv1680689584 #yiv1680689584ygrp-sponsor 
#yiv1680689584ov li a {font-size:130%;text-decoration:none;}#yiv1680689584 
#yiv1680689584ygrp-sponsor #yiv1680689584ov li 
{font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;}#yiv1680689584 
#yiv1680689584ygrp-sponsor #yiv1680689584ov ul {margin:0;padding:0 0 0 
8px;}#yiv1680689584 #yiv1680689584ygrp-text 
{font-family:Georgia;}#yiv1680689584 #yiv1680689584ygrp-text p {margin:0 0 1em 
0;}#yiv1680689584 #yiv1680689584ygrp-text tt {font-size:120%;}#yiv1680689584 
#yiv1680689584ygrp-vital ul li:last-child {border-right:none 
!important;}#yiv1680689584 

   

Kirim email ke