Terjawab Sudah Alasan Anies Tolak Reklamasi! 
Isu SARA Hanya Pengecoh! 
Tidak Jauh dari Bisnis Para Naga
 91
BY HYSEBASTIAN ON APRIL 20, 2017UMUM



Belum dilantik menjadi gubernur, Anies sudah mendapatkan servis yang mantap 
dari para penguasa dan pengusaha. Sampai seperti itu mental elitis dari Anies 
Baswedan. Bukanlah hal yang mustahil jika kita berkesimpulan bahwa Anies 
sebenarnya bukan dimenangkan oleh warga Muslim Jakarta. Melainkan Anies Sandi 
dimenangkan oleh para naga yang merupakan bos-bos besar, politisi-politisi, dan 
juga para petinggi di negara ini.

Warga Jakarta yang kebanyakan kaum ekonomi menengah, hanya diberikan “permen 
pandora” yang merupakan iming-iming bahwa memilih gubernur harus seiman. Jika 
tidak memilih gubernur Muslim, maka mereka dijanjikan pil pahit, yaitu tidak 
disolatkan. Ini merupakan perlakuan yang sangat keji dari elit politik dan para 
pengusaha besar di Indonesia.

Saya tidak rela jika melihat bagaimana elit rakyat memperlakukan rakyatnya 
serendah itu. Betul-betul mental yang berbeda jauh dari Pak Basuki Tjahaja 
Purnama yang merasa diri selalu di bawah rakyat.Inikah yang dinamakan dengan 
“Keberpihakan” yang dikatakan terus menerus oleh Anies Baswedan?

“Saya percaya bahwa alangkah baiknya lebih banyak lagi orang Indonesia yang 
memiliki rumah. Rumah itu sebuah aset, dan aset memberdayakan si orang itu. 
Tujuannya baik sekali dan harus kita dukung…..Kalau cost satu unit Rp 160 juta 
dijual Rp 300 jutaan itu sangat mungkin,” – John Riady, Direktur Lippo Group



Hari yang sama ketika Anies ke Balai Kota dan bertemu dengan Pak Ahok, John 
Riady mengatakan bahwa rumah dengan DP nol itu merupakan program yang dapat 
direalisasikan. Namun melihat dari rekam jejak yang dimiliki oleh Lippo, tentu 
kita harus terus mengawal kebijakannya. Luar biasa. Ternyata Tuhan tidak buta, 
dan Dia sekarang mulai membongkar satu per satu isu-isu.

Ciri khas dari pebisnis adalah mencari keuntungan sebesar-besarnya dengan usaha 
sekecil-kecilnya. Ini prinsip ekonomi yang digunakan oleh para pengusaha, dan 
pada akhirnya, cenderung untuk mengeksploitasi manusianya.

Lagi-lagi, ini adalah masalah keberpihakan. Keberpihakan Anies sekarang ada 
pada pengusaha. Setelah Rizieq berhasil dimanfaatkan untuk mendulang kaum 
bawah, sekarang Anies sepertinya mulai memanfaatkan penguasa tanah Jakarta dan 
sekitarnya (Tangerang), untuk mencapai satu lagi realisasi programnya.

Tentu banyak orang mengatakan Anies ini cerdas di dalam menggunakan setiap 
momen yang ada. Namun menurut saya cara-cara jahanam ini akan membawa dampak 
yang buruk bagi kelanjutan kehidupan dan kemaslahatan hidup warga Jakarta.

Lalu mengapa Anies Sandi menolak mentah-mentah mengenai peraturan reklamasi? 
Menurut analisis yang logis, selama ini kita melihat bahwa Jakarta Utara 
merupakan daerah kekuasaan Grup Agung Sedayu. Sugianto Kusuma yang lebih 
dikenal dengan panggilan Aguan, menguasai sebuah lokasi strategis di utara kota 
Jakarta. Tidak lain dan tidak bukan adalah teluk Jakarta. Daerah teluk selalu 
menjadi daerah yang cukup mendatangkan banyak keuntungan dari segi perdagangan, 
dan pertahanan.

Reklamasi yang merupakan ide dari Pak Soeharto merupakan ide brilian yang 
bertujuan untuk memajukan ekonomi kota. Mungkin pada saat itu, Pak Harto hanya 
memikirkan keuntungan sebesar-besarnya untuk tirani Cendana. Namun selama Pak 
Dhe Jokowi dan Pak Ahok memimpin kota, mereka benar-benar ingin menyelesaikan 
proyek Pak Harto ini untuk kepentingan warga.

Namun kita tahu bahwa daerah Jakarta Utara merupakan daerah kekuasaan dari 
salah satu naga Indonesia, Aguan, mendapatkan penolakan dari Anies. Saya sangat 
mencurigai Anies, yang pastinya betul-betul gagal paham dengan fungsi 
reklamasi. Bukan hanya gagal paham, kecurigaan yang datang selanjutnya adalah 
karena kedekatan Anies dengan Bos Lippo, yang diduga sementara merupakan 
saingan dari naga Indonesia.

Tidak ada yang benar dan yang salah di dunia pengusaha, yang ada hanya siapa 
yang paling bisa memengaruhi siapa. Inilah yang menjadi persaingan di dunia 
bisnis. Maka tidak heran jika ada bau-bau busuk politis dan persaingan bisnis 
antara dua raksasa, di dalam kejelasan dan regulasi tentang lanjut atau 
tidaknya reklamasi.

Jadi, warga Jakarta yang sudah memilih Anies. Sekarang Anda sudah lebih terbuka 
bukan? Jangan sampai mata Anda ditutup dengan permen manis berlabel agama, yang 
sebenarnya hanya menjadi pengecoh dari isu besar yang sebenarnya.

Isu penistaan agama yang diterpa kepada Ahok rasanya hanya merupakan isu yang 
murah, dan bisa disebar dan memancing banyak orang. Mereka berhasil 
mengendalikan “tujuh juta laskar”, dengan cara yang murah, efektif, aman, dan 
terkendali. Namun di balik semua itu, bisnis dan elit politik, yang menerima 
buah manis tersebut.

Apa isu besar yang sebenarnya? Tentu tidak jauh dari bisnis, dan agama hanya 
dipakai secara batu loncatan. Sekali lagi ya saya katakan. Bisnis, bukan agama. 
Kenyataan yang Anda terima begitu pahit. Selamat menikmati permen manis 
tersebut. Sekarang makanan keras akan segera datang. Selamat menikmati, warga 
Jakarta.

Betul kan yang saya katakan?

Jika pembaca ingin melihat dan menikmati buah pemikiran saya yang lainnya, 
silakan klik link berikut: https://seword.com/author/hans-sebastian/



http://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20170420131018-92-208910/lippo-tertarik-program-bangun-rumah-dp-nol-persen/

https://m.tempo.co/read/news/2017/04/20/090867882/soal-program-dp-0-rupiah-bos-lippo-tertarik-bantu-anies




Kirim email ke