http://regional.kompas.com/read/2017/04/21/12125721/kisah.sri.hartini.kartini.penjaga.hutan.adat.
<http://regional.kompas.com/read/2017/04/21/12125721/kisah.sri.hartini.kartini.penjaga.hutan.adat.yang.pegang.teguh.pesan.ayah>
yang.pegang.teguh.pesan.ayah
<http://regional.kompas.com/read/2017/04/21/12125721/kisah.sri.hartini.kartini.penjaga.hutan.adat.yang.pegang.teguh.pesan.ayah>
Kisah Sri Hartini, "Kartini" Penjaga Hutan
Adat yang Pegang Teguh Pesan Ayah
Kontributor Yogyakarta, Markus Yuwono
Kompas.com - 21/04/2017, 12:12 WIB
Sri Hartini menunjukkan sebuah sumber mata air di tengah Hutan Adat
Wonosadi(Kompas.com/Markus Yuwono)
*YOGYAKARTA, KOMPAS.com* - Kawasan Hutan Adat Wonosadi, di Desa Beji,
Kecamatan Ngawen, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta
<http://indeks.kompas.com/tag/yogyakarta>, masih terjaga kelestariannya
sampai sekarang.
Dari kejauhan terlihat, hijau perbukitan sisi utara yang berbatasan
langsung dengan kabupaten Klaten, Jawa Tengah
<http://indeks.kompas.com/tag/jawa.tengah> terhampar. Mata air masih
mengalir deras dari celah perbukitan.
Hutan adat Wonosadi terletak di dua dusun, yakni Dusun Duren dan
Sidorejo, warga setempat masih sangat menjaga kelestarian Hutan Wonosadi
yang dianggap sebagai penopang utama kehidupan.
Salah satu yang berperan Sri Hartini (48). Warga Dusun Duren ini
merupakan ketua kelompok penjaga hutan 'Ngudi Lestari'. Dia menggantikan
ayahnya Sudiyo yang meninggal tahun 2009 lalu.
Ibu dua orang anak ini harus bertanggung jawab menjaga kelestarian hutan
seluas 25 hektar ini bersama segala macam flora dan fauna di dalamnya,
termasuk menjaga mata air yang menjadi sumber kehidupan dan penghidupan
untuk ratusan keluarga.
Oleh masyarakat setempat pun, Sri dipilih sebagai ketua kelompok karena
sejak kecil mendampingi ayahnya merawat hutan.
"Sejak tahun 2009 saya mulai menggantikan ayah saya yang meninggal tahun
2009 lalu," katanya saat ditemui di rumahnya, Kamis (20/4/2017).
Meski tak ada upah, namun Sri tetap ingin menjaga hutan. Dia pun ingat
pesan ayahnya, Sudiyo.
"Janganlah meninggalkan air mata, tetapi tinggalkanlah mata air,"
demikian bunyi pesan ayahnya.
Pesan tersebut sangat membekas di dalam hatinya hingga menjadi alasan
baginya menjaga dan melestarikan Hutan Wonosadi.
"Sebelum meninggal, ayah saya berpesan untuk menjaga hutan itu," tuturnya.
Dari cerita ayahnya, Sri mengatakan sekitar medio tahun 1965 wilayah
Hutan Wonosadi ditebang habis oleh masyarakat setempat. Hanya tersisa 4
buah batang pohon.
Seluruh mata air di wilayah tersebut mati dan tanah longsor terjadi di
wilayah tersebut. Hewan yang bermukim di wilayah tersebut pun tak pergi
bahkan sering ke pemukiman warga.
"Menurut cerita ayah saya, waktu itu tanah di sini menjadi tandus. Tidak
ada mata air yang mengalir," ucapnya.
Pada tahun 1966, ayahnya, Sudiyo, bersama warga sekitar melakukan
penanaman hutan. Setiap hari, ayahnya menjaga tanaman yang ditanam di
lereng perbukitan tersebut.
Berkat hasil kerja keras ayahnya dan warga setempat, Hutan Wonosadi
terpilih menjadi kawasan percontohan pengelolaan hutan rakyat dan
memenangi penghargaan Kehati di tingkat nasional serta kader lingkungan
hidup <http://indeks.kompas.com/tag/lingkungan.hidup>. Bahkan, ayahnya
bisa berangkat umrah.
Meski awalnya sempat ada yang meragukannya karena dirinya wanita, namun
Sri Hartini membuktikan bahwa anggapan itu tidak benar. Hingga saat ini,
tak ada yang berani menebang ataupun mengambil kayu.
Mereka percaya pada hukum adat tak tertulis yang berlaku di hutan ini
dan di Dusun Duren. Saat ini, berbagai tumbuhan mulai dari munggur yang
sudah berusia ratusan tahun hingga pohon buah-buahan masih tetap
terjaga. Berbagai hewan juga hidup bebas di Hutan Wonosadi, mulai dari
elang hingga kijang.
Dia menilai, keberadaan air sebagai penopang kehidupan sehari-hari harus
dijaga kelestarian sumbernya dengan menjaga hutan. Saat ini, masyarakat
sekitar tidak lagi kekurangan air. Bahkan bisa menanam sepanjang tahun.
*Tanpa pamrih*
Dalam menjalankan tugas ini, Sri Hartini belajar dari sosok ayahnya. Dia
tak menempatkan uang sebagai prioritas.
"Saya mengambil semangat tanpa pamrih dari Bapak, sejak tahun 1966 tanpa
dibayar pun mau menjaga dan hasilnya bisa dirasakan sampai sekarang,"
katanya.
Sebagai seorang istri dan ibu dua anak, Sri tak melupakan tanggung
jawabnya. Untuk membantu suaminya yang merupakan pensiunan PNS, dia
pernah mengajar PAUD dengan upah yang tak seberapa, dan saat ini membuka
toko kelontong kecil di rumahnya yang berada tak jauh dari Hutan Wonosadi.
Upah yang didapat dari Jagawana hanya berjumlah Rp 50.000, yang dia
terima tiga bulan sekali ikhlas dia terima.
"Pedoman saya selagi saya bisa dan mampu insya Allah akan tetap menjaga
Hutan Wonosadi," tandasnya.
Dia selalu berpesan kepada anak-anaknya dan generasi muda untuk menjaga
lingkungan. Tak lupa, Sri berharap perempuan-perempuan indonesia agar
tetap menjadi perempuan yang tangguh, dan menjadi insan-insan yang
bermanfaat untuk orang banyak, termasuk menjaga kelestarian lingkungan.
"Saya sangat berharap, kepada perempuan-perempuan Indonesia, jadilah
sosok-sosok Kartini <http://indeks.kompas.com/tag/kartini> masa kini
yang tangguh," pungkasnya.
*(Baca juga: Perjuangan Sairin Menjaga Hutan Adat Marga Serampas
<http://nasional.kompas.com/read/2016/12/05/20254851/perjuangan.sairin.menjaga.hutan.adat.marga.serampas>)
*