Seperti apa perubahan Jakarta di bawah Anies Baswedan?


  
|  
|   
|   
|   |    |

   |

  |
|  
|    |  
Seperti apa perubahan Jakarta di bawah Anies Baswedan? - BBC Indonesia
 Dengan hitung cepat yang menempatkan kemenangan Anies Baswedan sebagai 
gubernur baru di Jakarta, seperti apa per...  |   |

  |

  |

 

Isyana ArthariniWartawan BBC Indonesia   
   - 20 April 2017
   
Tautan eksternal dan akan terbuka di layar baru   
   - Bagikan artikel ini dengan Facebook
    
   - Bagikan artikel ini dengan Twitter
    
   - Bagikan artikel ini dengan Messenger
    
   - Bagikan artikel ini dengan Email
    
   - Kirim
Hak atas fotoADEK BERRY/AFP/GETTY IMAGESImage captionPasangan Anies-Sandi 
sebelumnya mengkampanyekan penolakan terhadap proyek reklamasi.Hasil hitung 
cepat berbagai lembaga survei di Pilkada DKI Jakarta menunjukkan keunggulan 
pasangan Anies Baswedan dan Sandiaga Uno.Perhitungan yang sudah diakui kedua 
belah pihak dengan pidato kemenangan oleh Anies dan ucapan selamat dari Basuki 
Tjahaja Purnama atau Ahok kepada Anies-Sandi.Dengan kepemimpinan baru setelah 
pelantikan pada Oktober nanti, tentu ada kemungkinan perubahan kebijakan pula 
dan salah satu aspek yang diperkirakan akan mengalami perubahan adalah 
ketegasan di birokrasi.Menurut Direktur Eksekutif Lembaga Survei Indonesia 
(LSI), Kuskridho Ambardi, kemampuan pasangan Anies-Sandi dalam menggerakkan 
birokrasi mungkin akan mendapat tantangan."Karena selama ini Ahok berani 
mengambil keputusan dan berani tidak populer, dan itulah yang nanti kita lihat, 
apakah gaya Anies yang lebih lembut akan efektif.""Mungkin juga efektif, karena 
tercapai tujuannya, tapi kurang efisien," tambah Kuskridho.   
   - Ucapkan selamat pada Anies Baswedan, Ahok akui kekalahan
   - Seperti apa wajah politik Indonesia setelah Pilkada Jakarta berakhir?
Dalam masa kepemimpinan Gubernur Ahok, Dodi melihat adanya kejelasan tugas yang 
diberikan dan harus dipenuhi oleh para bawahannya."Kriterianya ini, targetnya 
ini, kalau tak bisa, tak mampu, boleh mundur. Elemen itu yang mungkin akan 
terkurangi kalau melihat gaya kepemimpinan Anies, mungkin sluggish bureaucracy, 
lambat sedikit (kinerja birokrasinya)," ujar Kuskridho.Salah satu alasan yang 
disebutnya mennjadi dasar penilaian adalah pengalaman Anies sebagai Mendikbud 
dalam mendistribusikan Kartu Indonesia Pintar yang 'tidak mencapai target'.Hak 
atas fotoBAY ISMOYO/AFP/GETTY IMAGESImage captionGubernur Ahok selama ini 
dinilai bisa menggerakkan birokrasi.Informasi ini, menurutnya, bisa dijadikan 
salah satu cara untuk menilai kira-kira kemampuan Anies dalam menggerakkan 
birokrasi untuk melakukan kebijakannya."Tapi kan mereka belum bekerja. Nantilah 
lihat dalam lima enam bulan," tambahnya.Soal lain yang diperkirakan akan 
berubah adalah kebijakan pembangunan perkotaan, terutama karena pasangan 
Anies-Sandi mengkampanyekan penolakan terhadap proyek reklamasi sementara 
Ahok-Djarot mendukungnya.Namun yang jelas akan jadi sorotan dalam kepemimpinan 
Anies, menurut pengamat perkotaan Yayat Supriyatna, adalah program uang muka 
angsuran rumah atau DP 0%.Janji kampanye itu, tegas Yayat, 'harus dipertajam 
dan bisa diwujudkan dalam rencana pembangunan ke depan'.Yayat juga berharap 
tidak ada perubahan yang drastis dari sisi pembangunan perkotaan dengan alasan 
kerangka dasar sudah dibentuk dalam mekanisme pembangunan lewat proses 
musyawarah rencana pembangunan dan rencana pembangunan jangka 
menengah."Sebetulnya untuk membangun Jakarta itu tidak harus membongkar habis, 
banyak yang sudah bagus yang sudah dibangun. Tadi pun kita dengar komitmen dari 
Pak Ahok, akan melakukan upaya pembenahan dalam sisa waktu enam bulan untuk 
membangun fondasi dasarnya," kata Yayat.Hak atas fotoED WRAY/GETTY IMAGESImage 
captionKetua Umum Gerindra, Prabowo Subianto, menyatakan kemenangan Anies-Sandi 
tak lepas dari peran Rizieq Shihab.Meski begitu, Yayat mengharapkan pola 
pemerintah menjadi penggerak utama masyarakat seperti dengan keberadaan Pasukan 
Oranye, Biru, Kuning yang sudah berjalan selama ini, akan berubah."Kelebihan 
Anies-Sandi adalah mereka aktor-aktor yang mampu berkomunikasi, berbahasa yang 
baik, dan kelihatannya orang-orang yang terbuka mengajak masyarakat 
bermusyawarah. Kelebihan itu harus dimanfaatkan supaya tidak semuanya di 
Jakarta ini pemerintah yang mengambil peran lebih dulu," kata Yayat.Salah satu 
kritik yang disampaikan terhadap Gubernur Ahok adalah beberapa penggusuran yang 
dilakukan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang tidak memberi ruang dialog bagi 
masyarakat untuk ikut menentukan pembangunan kota.   
   - Isu SARA meningkat di Pilkada DKI Jakarta, salah siapa?
   - Soal penggusuran, Ahok diminta ajak warga berdialog
Seorang warga yang ditemui oleh BBC Indonesia, Putu, menyatakan khawatir akan 
proses pembangunan di Jakarta dengan pergantian gubernur."Pembangunannya masih 
terus nggak, karena sudah bagus, dan ada yang baru, ngelanjutin atau tidak?" 
katanya.Dan seperti yang dikhawatirkan pada masa kampanye, muncul pula 
pertanyaan tentang pengaruh kemenangan pasangan Anies-Sandi terhadap 
keberagaman di Jakarta.Hak atas fotoADEK BERRY/AFP/GETTY IMAGESImage 
captionAnies menyatakan agenda utama dan pertama adalah menyatukan kembali 
Jakarta.Wakil ketua Setara Institute, Bonar Tigor Naipospos mengkhawatirkan 
sentimen SARA yang besar di pilkada DKI Jakarta justru akan semakin meluas pada 
pilpres 2019 nanti, termasuk lewat penggunaan kartu agama dan intoleransi."Saya 
masih mempertanyakan apakah Anies-Sandiaga mampu mengambil jarak dengan 
kelompok ekstrem, karena bagaimanapun mereka berutangbudi. Kelompok-kelompok 
ini akan merasa percaya diri dan bargaining position semakin kuat, dan 
(Anies-Sandiaga) harus memperhitungkan dan mengakomodasi tuntutan mereka. Tidak 
gampang juga dibilang setelah pilkada akan back to normal," kata Bonar.Bonar 
memprediksi bahwa tak lama setelah Anies-Sandiaga menjadi gubernur definitif, 
akan muncul tuntutan dari kelompok ekstrem soal pelarangan alkohol atau tempat 
hiburan. Padahal gaya hidup metropolitan, terutama tempat hiburan di Jakarta 
yang multikultural, menjadi motor ekonomi."Kita lihat apakah Anies-Sandi mampu 
menghadapi tuntutan seperti itu, harus mencari jalan tengah antara tuntutan 
kelompok ekstrem dengan kehidupan Jakarta yang multikultural, modern, 
metropolitan," kata BonarKekhawatiran Bonar Tigor akan keragaman di Jakarta 
juga dirasakan beberapa orang warga yang ditemui oleh BBC Indonesia."Saya 
sebagai minoritas, takut kalau kelompok minoritas bukan tertindas tapi 
terintimidasi oleh yang mayoritas," kata Abraham Mahan, seorang mahasiswa. 
Selain itu, dia berharap, "Kinerja (PNS) harus sesuai dengan (saat bekerja di 
bawah) Bapak Basuki, jangan sampai kendor."Hak atas fotoED WRAY/GETTY 
IMAGESImage captionWarga berjalan membawa bendera merayakan keunggulan pasangan 
Anies-Sandi setelah keluar hasil hitung cepat.Warga lain, Karen Jessica, juga 
merasa khawatir dengan terpilihnya gubernur baru."Kalau mau jujur ada 
kekhawatiran, ya sebagai masyarakat harus bisa menerima. Isunya SARA, karena 
dengan begini mayoritas menang, namun sebagai minoritas merasa, bukan pada 
pemimpinnya, tapi di belakangnya siapa."Anies Baswedan sendiri saat 
menyampaikan pidato kemenangannya menegaskan bahwa agenda utama dan pertama 
kepemimpinannya adalah menyatukan Jakarta."Jakarta tetap milik semua, Anies dan 
Sandi bukan hanya mengabdi pada sekelompok orang, bukan hanya mengabdi pada 
pemilihnya tapi mengabdi kepada seluruh warga Jakarta."Dan Rabu (19/04) malam, 
Anies melakukan sujud syukur merayakan kemenangan bersama Ketua FPI, Rizieq 
Syihab, dan Ketua Umum Gerindra, Prabowo Subianto, politisi senior Gerindra, 
Fadli Zon, serta Ketua Gerakan Nasional Pengawal Fatwa MUI, Bachtiar Nasir.

Kirim email ke