Presiden: perbedaan tak halangi hidup dalam keharmonisan
Sabtu, 22 April 2017 12:30 WIB | 368 Views

Pewarta: Joko Susilo




Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam cuitan menyambut Hari Raya Nyepi bagi umat 
Hindu melalui akun Twitter @jokowi pada Selasa (28/3/2017). 
(twitter.com/@jokowi)

Jakarta (ANTARA News) - Presiden Joko Widodo mengatakan perbedaan latar 
belakang suku, agama, dan budaya bukanlah penghalang untuk bersatu dan bukan 
pula penghalang untuk hidup dalam keharmonisan.

"Sekali lagi bukan penghalang bagi kita hidup dalam keharmonisan, dalam 
kehidupan sehari-hari yang saling menghormati, saling membantu dan saling 
membangun solidaritas sosial yang kokoh," kata Presiden saat menghadiri 
Dharmasanti Nasional Perayaan Hari Suci Nyepi Tahun Baru Saka 1939 di Jakarta, 
Sabtu.

Jokowi mengatakan Indonesia yang memiliki 714 suku atau data BPS 1.340 suku, 
dimana semua perbedaan itu tidak harus diseragamkan dan tidak juga harus 
ditiadakan dan bahkan dilenyapkan.

"Semua perbedaan dan keragaman itu justru harus diikat oleh tali-tali 
persaudaraan, tali-tali kebersamaan dan tali tali persatuan," tegasnya.

Presiden mengatakan Indonesia harus bersyukur karena dalam mengelola keragaman, 
mengolah kemajemukan kita memiliki Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika. 


Baca juga: (Presiden hadiri peringatan hari raya Nyepi 2017)


"Pancasila sebagai dasar negara, Pancasila sebagai falsafah hidup bangsa dan 
pemersatu kita semuanya. Kita juga mempunyai Bhineka Tunggal Ika yang menjadi 
pilar kebangsaan yang kokoh untuk mencegah dan merawat Indonesia yang majemuk," 
kata Jokowi.

Presiden mengatakan pilar kebangsaan untuk mewujudkan Indonesia yang bersatu 
Indonesia yang harmonis Indonesia yang damai.

"Saya yakin dengan berpegang pada Pancasila dengan menjunjung tinggi semua 
Tunggal Ika kita akan tetap bersatu dan bersatu kita akan maju bersama akan 
sejahtera bersama untuk menyongsong masa depan bangsa," katanya.

Dalam kesempatan ini, Presiden juga menyampaikan selamat menyambut tahun baru 
Saka 1939 kepada seluruh umat Hindu di seluruh pelosok tanah air.

"Disertai dengan ucapan selamat hari Nyepi dan juga selamat hari raya Galungan 
dan Kuningan. Semoga perayaan Nyepi yang waktunya berdekatan dengan hari raya 
Galungan dan Kuningan bisa memberikan keheningan jiwa rasa santi atau kedamaian 
dan juga jaga dia itu atau kesejahteraan bagi kita semuanya," kata Presiden. 



Editor: Unggul Tri Ratomo




Begini Cara Kementan Ajak Pemuda Turun ke Sawah
Danang Sugianto - detikFinance

Sabtu 22 Apr 2017, 12:18 WIB

https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/3481361/begini-cara-kementan-ajak-pemuda-turun-ke-sawah



Ilustrasi Foto: Yulida Medistiara/detikFinance

Gorontalo - Kementerian Pertanian (Kementan) mengubah skema penyaluran bantuan 
alat mesin pertanian (alsintan) dengan membentuk brigade. Brigade itulah yang 
nantinya akan mengelola alsintan dari pemerintah untuk dimanfaatkan oleh petani.

Direktur Pengolahan dan Pemasaran Tanaman Pangan Kementerian Pertanian Yanuardi 
menjelaskan, sebelumnya bantuan alsintan diberikan melalui kelompok tani. Namun 
ternyata banyak alsintan baik para maupun pasca panen tidak digunakan secara 
maksimal.

"Jadi masuk ke kelompok, kelompok merasa memiliki jadi kelompok lain tidak 
dipinjamkan. Kita amati banyak traktor banyak alat panen yang tidur tidak 
dipakai, dipakainya sekali setahun. Pakai sekali kemudian tidur," tuturnya di 
Gorontalo, Sabtu (22/4/2017).

Atas dasar itulah, tahun ini Kementerian Pertanian mengubah skema penyalurannya 
dengan membentuk brigade. Brigade yang akan menampung alsintan milik pemerintah 
yang kemudian nantinya akan dipinjamkan ke petani sesuai kebutuhannya saja.

"Jadi kelompok petani A mau minjam tinggal hubungi brigade. Ada lagi kelompok B 
pindah lagi ke sana. Jadi dipakai secara maksimal, tidak ada lagi alat yang 
nganggur. Tujuannya bisa serentak tanam, serentak panen. Dipakai ketika panen, 
bajak, tanam, akhirnya alat itu berputar terus, itu tujuannya," terangnya.

Lewat brigade pemerintah juga berharap bisa menarik para pemuda desa untuk 
menjadi operator alsintan. Sehingga dengan begitu bisa meningkatkan kembali 
minat para pemuda desa untuk turun kesawah.

"Selama ini pemuda malas masuk ke sawah. Kalau kata Pak Menteri dengan adanya 
teknologi mereka bekerja hanya duduk, bisa sambil menelpon pacarnya. Kita ingin 
pemuda-pemuda itu masuk ke sawah lewat teknologi," imbuhnya.

Skema brigade sebenarnya sudah di mulai di Grontalo. Provinsi ini sudah 
terbilang sukses menerapkan skema brigade.

Kadis Pertanian Gorontalo Mulyadi Mario menjelaskan, gagasan menerapkan brigade 
di Grontalo didasari ketika para petani teriak mahalnya biaya sewa alsintan. 
Bahkan ada kelompok tani yang menyewakan alsintan dari pemerintah ke petani 
lainnya.

"Pola bantuan sebelumnya kan diserahkan ke kelompok. Tapi kenyataannya 
ketua-ketua kelompok ini menguasai alat itu kemudian disewakan. Sewanya 
bervariasi dari Rp 1,5-2 juta per hektar sampai siap tanam," imbunya.

Namun kini Gorontalo sudah membentuk brigade yang terbagi dalam 1 brigade 
provinsi. Brigade provinsi itu membawahi kabupaten/kota yang membentu 5-6 rayon 
layanan.

"Birgade provinsi sifatnya menunjang rayon, kalau rayon-rayon kekurangan alat 
baru dipinjamkan," terangnya.

Mulyadi menjelaskan, untuk mekanisme peminjaman, petani harus mengajukan 
permohonan yang diketahui terlebih dahylu oleh kepala desa. Hal itu sebagai 
bentuk pernyataan bahwa benar ada lahan yang harus digarap.

"Kemudian diajukan ke kabupaten/kota. Saat itu baru diproses," imbuhnya.

Mulyadi mengatakan, petani tidak harus membayar sewa alsintan ke brigade. Namun 
ada biaya-biaya yang harus ditanggung seperti biaya operator, bahan bakar dan 
pengiriman.

"Ya kurang lebih hanya Rp 600-700 ribu per hektar itu bedanya saja sudah jauh," 
tukasnya.

Untuk operator birgade di Gorontalo telah menyerap 250 orang. Namun kebutuhan 
operator alsintan di Gorontalo mencapai 400 orang sehingga masih dibutuhkan 
tenaga operator sebanyak 150 orang.

Minat para penduduk desa di Gorontalo untuk menjadi operator brigade cukup 
besar. Bagaimana tidak, meski tidak digaji tapi mereka bisa mendapatkan 
penghasilan hingga Rp 900 ribu per hari.

"Jadi per hektar operator bisa dapat Rp 300 ribu. Per hari dia bisa garap 3 
hektar. Karena saya minta kumpulkan dulu hingga 25 hektar kalau ada permintaan. 
Setelah 25 hektar baru saya kirim. Karena 1 alat minimal bisa garap 25 hektar," 
tandasnya. (ang/ang)


Kirim email ke