Allan Nairn Ungkap Peran Harry Tanoe, Tommy Soeharto, Fadly Zon, Dibalik 
Gerakan Makar Al-Maidah
https://seword.com/politik/allan-nairn-ungkap-peran-harry-tanoe-tommy-soeharto-fadly-zon-dibalik-gerakan-makar-al-maidah/
BY ARGO ON APRIL 21, 2017POLITIK


Siapa Allan Nairn?



Allan Nairn adalah sosok yang menakutkan bagi para Jenderal militer di 
Indonesia. Pria kelahiran Morristown, New Jersey, Amerika Serikat, yang lahir 
pada tahun 1956 yang silam adalah seorang jurnalis kawakan spesialis 
investigasi yang khusus menulis artikel tentang hasil investigasinya terkait 
kebijakan luar negeri Amerika Serikat di negara-negara seperti Haiti, 
Guatemala, Indonesia, dan East Timor.

Pria yang diklaim pernah tujuh kali masuk ke Indonesia secara ilegal itu 
bagaikan monster yang mengerikan di kalangan militer Indonesia. Di jaman rezim 
Soeharto dulu, melalui andil Amerika Serikat, Allan Nairn pernah merasakan 
dinginnya jeruji besi karena dipenjara oleh pasukan militer Indonesia.

Allan Nairn adalah saksi kunci dalam insiden Santa Cruz di Dili, East Timor, 
pada tanggal 12 November 1991 yang silam. Militer Indonesia kala itu melakukan 
pembantaian terhadap 271 warga sipil di Santa Cruz, Dili. Allan Neirn mengalami 
luka retak di kepala akibat dihajar popor senapan M16 tentara Indonesia.

Pada tahun 2010, Allan Nairn kembali menjadi incaran militer Indonesia karena 
dianggap telah melakukan fitnah yang keji terhadap militer Indonesia. Allan 
Nairn menantang dan mengancam balik akan membuka semua borok militer Indonesia 
jika ia ditangkap.

Pada masa pilpres 2014 yang lalu, nama Allan Nairn kembali mencuat ke permukaan 
karena membuat mantan Komandan Jenderal Kopassus Prabowo Subianto murka. 
Boroknya Prabowo Subianto dibuka Allan Neirn ke publik dalam wawancara mereka 
pada tahun 2001 yang silam.

Prabowo berang karena Allan Nairn telah melanggar janji untuk tidak mengungkap 
isi wawancara itu ke publik sehingga banyak orang awam di negeri ini akhirnya 
jadi tahu sisi gelap pemikiran sang mantan Jenderal.

Akibat nyanyian merdu Allan Nairn saat itu, elektabilitas Prabowo Subianto yang 
sedang berjuang keras memenangkan pertarungannya melawan Jokowi untuk merebut 
kursi orang nomor satu di negeri ini akhirnya tumbang dan ambruk tanpa ampun.

Itulah sekilas sepak terjang Allan Neirn, sosok yang paling dibenci dan 
sekaligus momok yang paling mengerikan dikalangan militer Indonesia. Lantas apa 
peran Hary Tanoe, Tommy Soeharto, dan Fadly Zon dibalik otak upaya makar 
melalui Kasus Al-Maidah? Mari kita simak paparan Allan Nairn berikut ini.

Permufakatan Jahat Untuk Menjungkalkan Presiden Jokowi Melalui Kasus Al-Maidah

Dalam tulisan investigasi Allan Nairn yang berjudul, “Trump’s Indonesian Allies 
in Bed with ISIS-Backed Militia Seeking to Oust Elected President”, disebutkan 
bahwa pendukung utama gerakan permufakatan jahat dalam aksi makar untuk 
menggulingkan Presiden Jokowi yaitu didukung penuh dari belakang layar oleh 
Fadli Zon, Wakil Ketua DPR-RI saat ini, dan rekan bisnis Donald Trump di 
Indonesia, Hary Tanoe.

Sumber-sumber hasil investigasi Allan Neirn tentang gerakan makar untuk 
menggulingkan Presiden Jokowi diperoleh Allan dari sejumlah wawancaranya dan 
dokumen-dokumen yang ia peroleh dari internal TNI, Kepolisian, Intelijen 
Indonesia, serta Badan Keamanan Nasional Amerika Serikat (NSA) yang dibocorkan 
oleh Edward Snowden.

Dalam investigasi Allan Nairn dengan tokoh-tokoh kunci yang menggerakan 
perlawanan terhadap Presiden Jokowi, kasus penistaan agama yang menimpa Ahok 
hanyalah jembatan untuk menuju tujuan yang lebih besar, yaitu menumbangkan 
Presiden Jokowi dari jabatannya sebagai Presiden Republik Indonesia.

Awal gerakan makar dimulai dari gelombang aksi besar-besaran dengan tema aksi 
bela Islam yang bermunculan bak jamur di musim penghujan dalam masa Pilpres DKI 
Jakarta 2017. Aksi-aksi itu sengaja diciptakan sebagai pintu masuk gerakan 
makar dengan dalih menuntut Ahok segera ditangkap dan dijebloskan ke dalam 
penjara atas tuduhan penistaan terhadap agama Islam dalam kasus Al-Maidah.

Kivlan Zein mengatakan kepada Allan Nairn bahwa Ahok adalah berkah bagi gerakan 
makar melalui kasus keseleo lidahnya tentang Al-Maidah ayat 51 itu.

Aktor dalam rantai jejaring komando yang berperan sebagai pembuka jalan adalah 
Front Pembela Islam (FPI) yang dipimpin oleh Rizieq Shihab. Selain Rizieq, juga 
ada peran Juru Bicara dan Ketua Bidang Keorganisasian FPI, Munarman, serta 
Fadli Zon, Wakil Ketua DPR RI saat ini.

Arsip Snowden banyak menyimpan dokumen tentang ormas besutannya Rizieq Shihab 
yang merupakan cabang dari Jemaah Islamiyah, yaitu jaringan jihad yang terlibat 
dalam kasus Bom Bali pada tahun 2002 yang silam. Selain itu, Munarman juga 
pernah terekam hadir dalam pembaiatan massal kepada ISIS dan Abu Bakar al 
Baghdadi.

Dengan kekuatan pendanaan yang baik dan terorganisir rapih, mereka berhasil 
mengumpulkan masa umat Islam dari berbagai wilayah di Jakarta dan dari luar 
Jakarta untuk mengepung Jakarta.

Allan Nairn mendapat informasi yang detil terkait aksi-aksi tersebut dari lima 
laporan internal Intelijen Indonesia. Salah satu laporan menjelaskan bahwa 
penyandang dana gerakan aksi bela Islam sebagian didanai oleh Tommy Soeharto.

Peran Tommy Soeharto dalam aksi upaya makar terhadap Presiden Jokowi juga 
diakui oleh Jenderal (Purn) Kivlan Zein yang memiliki peran yang besar untuk 
membantu FPI dalam memimpin aksi besar-besaran bela Islam di Jakarta pada bulan 
November 2016 yang lalu.

Selain Tommy Soeharto, laporan lainnya memaparkan bahwa sebagian dana berasal 
dari Hary Tanoe, rekanan bisnis Donald Trump di Indonesia. Hary Tanoe adalah 
sosok yang dianggap penting untuk menjembatani akses Prabowo Subianto ke Donald 
Trump.

Laporan lainnya yang dipaparkan Allan Nairn dalam tulisan hasil Investigasinya 
bahwa sebagian dana gerakan FPI juga berasal dari mantan Presiden RI, Susilo 
Bambang Yudhoyono. Tujuh staf intelijen/militer dan pensiunan militer 
mengatakan kepada Allan Nairn bahwa SBY memang menyumbang dana untuk aksi-aksi 
FPI, tetapi ia menyalurkannya secara tidak langsung.

Salah satu informan Allan Nairn adalah Laksamana (Purn) Soleman Ponto, mantan 
Kepala Badan Intelijen Strategis (BAIS) dan penasehat aktif Badan Intelijen 
Negara (BIN). Soleman Ponto mengatakan bahwa SBY menyalurkan bantuannya melalui 
Masjid dan sekolah.

Soleman Ponto mengetahui hal ini karena selain keterlibatannya di dunia 
intelijen, ia juga tergabung dalam grup WhatsApp “The Old Soldier” yang terdiri 
dari Jenderal-Jenderal tua. Menurut Soleman Ponto, para pendukung gerakan makar 
menunggangi kasus Ahok sebagai pintu masuk untuk menggulingkan Presiden Jokowi.

Caranya bukan dengan melakukan serangan langsung militer ke Istana Negara 
dengan melakukan kontak senjata, melainkan melalui kudeta hukum dengan 
menduduki gedung parlemen, seperti yang dilakukan mahasiswa ketika 
menggulingkan Presiden Soeharto pada tahun 1998 yang silam.

“Makar ini seperti people power. Tetapi karena semuanya sudah ada yang 
mengongkosi, militer tinggal tidur. Dan Presiden sudah terjengkang saat mereka 
bangun”, ujar Soleman Ponto dalam tulisan investigasinya Allan Nairn.

Skenario lainnya, aksi-aksi yang dipimpin FPI dikondisikan untuk membikin 
Jakarta dan kota-kota lain di Indonesia kacau balau. Tentara hanya akan turun 
tangan jika ada kekacauan, dalam keadaan damai, mereka tidak dapat berbuat 
apa-apa. Rencana besar ini diuraikan secara rinci oleh dua pentolan FPI, 
Muhammad Khattath dan Usamah Hisyam, saat Allan Nairn bertemu mereka pada bulan 
Februari yang lalu.

Setelah Al Khattath diringkus Polisi, Usamah mengirim pesan kepada Allan Nairn 
bahwa kini ia yang ambil alih kendali perjuangan di lapangan, seperti halnya 
peran Khattath yang mengambil alih kendali di lapangan setelah Rizieq digembosi 
melalui kasus skandal seks dengan Firza Husein, Ketua Yayasan Solidaritas 
Cendana.

Kivlan Zein memberitahu Allan Nairn bahwa beberapa hari sebelum demonstrasi 
besar-besaran digelar di Jakarta pada tanggal 4 November 2016 yang lalu, Kivlan 
menerima pesan teks dari Mayjen (Purn) l Budi Sugiana yang memintanya untuk 
ikut serta dan mengambil alih gerakan 411.

Misinya yaitu bergabung bersama Rizieq di atas mokom (mobil komando) selama 
demonstrasi berlangsung, karena mereka butuh orang untuk mengambil alih massa 
di luar Istana Negara seandainya Rizieq ditembak mati.

Di depan massa, para pemimpin gerakan diharuskan mengklaim bahwa mereka sangat 
terluka oleh ucapan Ahok. Tetapi secara strategis, pernyataan Ahok itu mereka 
terima dengan senang hati karena membuka jalan bagi mereka ke arah makar. Pada 
bulan Desember 2016, subuh dini hari, Kivlan Zein ditangkap Polisi dan 
digelandang ke Mako Brimob Kelapa Dua, Depok.

Saat Allan Nairn duduk dengan Usamah dan para pimpinan gerakan lain, mereka 
berdiskusi panjang lebar tentang Hary Tanoe yang mereka puji sebagai pendukung 
utama gerakan mereka melalui bantuan dana langsung dan melalui stasiun-stasiun 
televisi milik Hary Tanoe.

Mereka yang berada dalam ruangan itu sepakat dan satu suara menginginkan duet 
pemerintahan Prabowo-Hary Tanoe, Hary sebagai Presiden dan Prabowo sebagai 
Wakil Presiden, atau sebaliknya, tergantung polling nantinya bagaimana.

***

Artikel ini saya tulis berdasarkan referensi tulisan dari versi asli tulisan 
Allan Nairn yang berjudul, “Trump’s Indonesian Allies in Bed with ISIS-Backed 
Militia Seeking to Oust Elected President”.

Gaya bahasa dalam tulisan ini saya olah dengan gaya bahasa yang mudah 
dimengerti oleh semua kalangan. Apa yang dipaparkan oleh Allan Nairn diatas 
hampir mendekati kebenaran, karena realitanya Ahok hanyalah tumbal politik. 
Saya ingat ucapan Presiden Jokowi di televisi ketika diwawancarai oleh 
wartawan, masalah pilkada kok larinya ke saya.

Untungnya Presiden Jokowi bukan Presiden yang mudah digulingkan. Beliau mampu 
mengkosolidasikan kekuatan dalam situasi genting saat itu dengan mengunjungi 
kekuatan militer yang setiap saat bisa digerakan dan melakukan pendekatan 
kepada para Ulama pemimpin agama, sehingga ketegangan politik dalam negeri 
akhirnya dapat dilumpuhkan dan situasi menjadi kondusif.

Sekalipun latar belakangnya bukan militer, Presiden Jokowi adalah sosok seorang 
pemimpin bangsa yang mampu menaklukan para Jenderal bengis yang siap menerkam 
dan mencabik-cabiknya setiap saat dikala lengah.

Seperti statement Jokowi dalam acara debat pilpres 2014 yang lalu, “Kalau soal 
kedaulatan bangsa, jangan dikira saya tidak bisa tegas. Kita akan bikin rame”.


Kirim email ke