Pada Sabtu, 22 April 2017 16:53, "'Chan CT' [email protected] 
[GELORA45]" <[email protected]> menulis:
 

     
Allan Nairn Ungkap Peran Harry Tanoe, Tommy Soeharto, Fadly Zon, Dibalik 
Gerakan Makar Al-Maidah
https://seword.com/politik/allan-nairn-ungkap-peran-harry-tanoe-tommy-soeharto-fadly-zon-dibalik-gerakan-makar-al-maidah/BY
 ARGO ON APRIL 21, 2017POLITIKSiapa Allan Nairn? Allan Nairn adalah sosok yang 
menakutkan bagi para Jenderal militer di Indonesia. Pria kelahiran Morristown, 
New Jersey, Amerika Serikat, yang lahir pada tahun 1956 yang silam adalah 
seorang jurnalis kawakan spesialis investigasi yang khusus menulis artikel 
tentang hasil investigasinya terkait kebijakan luar negeri Amerika Serikat di 
negara-negara seperti Haiti, Guatemala, Indonesia, dan East Timor.Pria yang 
diklaim pernah tujuh kali masuk ke Indonesia secara ilegal itu bagaikan monster 
yang mengerikan di kalangan militer Indonesia. Di jaman rezim Soeharto dulu, 
melalui andil Amerika Serikat, Allan Nairn pernah merasakan dinginnya jeruji 
besi karena dipenjara oleh pasukan militer Indonesia.Allan Nairn adalah saksi 
kunci dalam insiden Santa Cruz di Dili, East Timor, pada tanggal 12 November 
1991 yang silam. Militer Indonesia kala itu melakukan pembantaian terhadap 271 
warga sipil di Santa Cruz, Dili. Allan Neirn mengalami luka retak di kepala 
akibat dihajar popor senapan M16 tentara Indonesia.Pada tahun 2010, Allan Nairn 
kembali menjadi incaran militer Indonesia karena dianggap telah melakukan 
fitnah yang keji terhadap militer Indonesia. Allan Nairn menantang dan 
mengancam balik akan membuka semua borok militer Indonesia jika ia 
ditangkap.Pada masa pilpres 2014 yang lalu, nama Allan Nairn kembali mencuat ke 
permukaan karena membuat mantan Komandan Jenderal Kopassus Prabowo Subianto 
murka. Boroknya Prabowo Subianto dibuka Allan Neirn ke publik dalam wawancara 
mereka pada tahun 2001 yang silam.Prabowo berang karena Allan Nairn telah 
melanggar janji untuk tidak mengungkap isi wawancara itu ke publik sehingga 
banyak orang awam di negeri ini akhirnya jadi tahu sisi gelap pemikiran sang 
mantan Jenderal.Akibat nyanyian merdu Allan Nairn saat itu, elektabilitas 
Prabowo Subianto yang sedang berjuang keras memenangkan pertarungannya melawan 
Jokowi untuk merebut kursi orang nomor satu di negeri ini akhirnya tumbang dan 
ambruk tanpa ampun.Itulah sekilas sepak terjang Allan Neirn, sosok yang paling 
dibenci dan sekaligus momok yang paling mengerikan dikalangan militer 
Indonesia. Lantas apa peran Hary Tanoe, Tommy Soeharto, dan Fadly Zon dibalik 
otak upaya makar melalui Kasus Al-Maidah? Mari kita simak paparan Allan Nairn 
berikut ini.Permufakatan Jahat Untuk Menjungkalkan Presiden Jokowi Melalui 
Kasus Al-MaidahDalam tulisan investigasi Allan Nairn yang berjudul, “Trump’s 
Indonesian Allies in Bed with ISIS-Backed Militia Seeking to Oust Elected 
President”, disebutkan bahwa pendukung utama gerakan permufakatan jahat dalam 
aksi makar untuk menggulingkan Presiden Jokowi yaitu didukung penuh dari 
belakang layar oleh Fadli Zon, Wakil Ketua DPR-RI saat ini, dan rekan bisnis 
Donald Trump di Indonesia, Hary Tanoe.Sumber-sumber hasil investigasi Allan 
Neirn tentang gerakan makar untuk menggulingkan Presiden Jokowi diperoleh Allan 
dari sejumlah wawancaranya dan dokumen-dokumen yang ia peroleh dari internal 
TNI, Kepolisian, Intelijen Indonesia, serta Badan Keamanan Nasional Amerika 
Serikat (NSA) yang dibocorkan oleh Edward Snowden.Dalam investigasi Allan Nairn 
dengan tokoh-tokoh kunci yang menggerakan perlawanan terhadap Presiden Jokowi, 
kasus penistaan agama yang menimpa Ahok hanyalah jembatan untuk menuju tujuan 
yang lebih besar, yaitu menumbangkan Presiden Jokowi dari jabatannya sebagai 
Presiden Republik Indonesia.Awal gerakan makar dimulai dari gelombang aksi 
besar-besaran dengan tema aksi bela Islam yang bermunculan bak jamur di musim 
penghujan dalam masa Pilpres DKI Jakarta 2017. Aksi-aksi itu sengaja diciptakan 
sebagai pintu masuk gerakan makar dengan dalih menuntut Ahok segera ditangkap 
dan dijebloskan ke dalam penjara atas tuduhan penistaan terhadap agama Islam 
dalam kasus Al-Maidah.Kivlan Zein mengatakan kepada Allan Nairn bahwa Ahok 
adalah berkah bagi gerakan makar melalui kasus keseleo lidahnya tentang 
Al-Maidah ayat 51 itu.Aktor dalam rantai jejaring komando yang berperan sebagai 
pembuka jalan adalah Front Pembela Islam (FPI) yang dipimpin oleh Rizieq 
Shihab. Selain Rizieq, juga ada peran Juru Bicara dan Ketua Bidang 
Keorganisasian FPI, Munarman, serta Fadli Zon, Wakil Ketua DPR RI saat 
ini.Arsip Snowden banyak menyimpan dokumen tentang ormas besutannya Rizieq 
Shihab yang merupakan cabang dari Jemaah Islamiyah, yaitu jaringan jihad yang 
terlibat dalam kasus Bom Bali pada tahun 2002 yang silam. Selain itu, Munarman 
juga pernah terekam hadir dalam pembaiatan massal kepada ISIS dan Abu Bakar al 
Baghdadi.Dengan kekuatan pendanaan yang baik dan terorganisir rapih, mereka 
berhasil mengumpulkan masa umat Islam dari berbagai wilayah di Jakarta dan dari 
luar Jakarta untuk mengepung Jakarta.Allan Nairn mendapat informasi yang detil 
terkait aksi-aksi tersebut dari lima laporan internal Intelijen Indonesia. 
Salah satu laporan menjelaskan bahwa penyandang dana gerakan aksi bela Islam 
sebagian didanai oleh Tommy Soeharto.Peran Tommy Soeharto dalam aksi upaya 
makar terhadap Presiden Jokowi juga diakui oleh Jenderal (Purn) Kivlan Zein 
yang memiliki peran yang besar untuk membantu FPI dalam memimpin aksi 
besar-besaran bela Islam di Jakarta pada bulan November 2016 yang lalu.Selain 
Tommy Soeharto, laporan lainnya memaparkan bahwa sebagian dana berasal dari 
Hary Tanoe, rekanan bisnis Donald Trump di Indonesia. Hary Tanoe adalah sosok 
yang dianggap penting untuk menjembatani akses Prabowo Subianto ke Donald 
Trump.Laporan lainnya yang dipaparkan Allan Nairn dalam tulisan hasil 
Investigasinya bahwa sebagian dana gerakan FPI juga berasal dari mantan 
Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono. Tujuh staf intelijen/militer dan 
pensiunan militer mengatakan kepada Allan Nairn bahwa SBY memang menyumbang 
dana untuk aksi-aksi FPI, tetapi ia menyalurkannya secara tidak langsung.Salah 
satu informan Allan Nairn adalah Laksamana (Purn) Soleman Ponto, mantan Kepala 
Badan Intelijen Strategis (BAIS) dan penasehat aktif Badan Intelijen Negara 
(BIN). Soleman Ponto mengatakan bahwa SBY menyalurkan bantuannya melalui Masjid 
dan sekolah.Soleman Ponto mengetahui hal ini karena selain keterlibatannya di 
dunia intelijen, ia juga tergabung dalam grup WhatsApp “The Old Soldier” yang 
terdiri dari Jenderal-Jenderal tua. Menurut Soleman Ponto, para pendukung 
gerakan makar menunggangi kasus Ahok sebagai pintu masuk untuk menggulingkan 
Presiden Jokowi.Caranya bukan dengan melakukan serangan langsung militer ke 
Istana Negara dengan melakukan kontak senjata, melainkan melalui kudeta hukum 
dengan menduduki gedung parlemen, seperti yang dilakukan mahasiswa ketika 
menggulingkan Presiden Soeharto pada tahun 1998 yang silam.“Makar ini seperti 
people power. Tetapi karena semuanya sudah ada yang mengongkosi, militer 
tinggal tidur. Dan Presiden sudah terjengkang saat mereka bangun”, ujar Soleman 
Ponto dalam tulisan investigasinya Allan Nairn.Skenario lainnya, aksi-aksi yang 
dipimpin FPI dikondisikan untuk membikin Jakarta dan kota-kota lain di 
Indonesia kacau balau. Tentara hanya akan turun tangan jika ada kekacauan, 
dalam keadaan damai, mereka tidak dapat berbuat apa-apa. Rencana besar ini 
diuraikan secara rinci oleh dua pentolan FPI, Muhammad Khattath dan Usamah 
Hisyam, saat Allan Nairn bertemu mereka pada bulan Februari yang lalu.Setelah 
Al Khattath diringkus Polisi, Usamah mengirim pesan kepada Allan Nairn bahwa 
kini ia yang ambil alih kendali perjuangan di lapangan, seperti halnya peran 
Khattath yang mengambil alih kendali di lapangan setelah Rizieq digembosi 
melalui kasus skandal seks dengan Firza Husein, Ketua Yayasan Solidaritas 
Cendana.Kivlan Zein memberitahu Allan Nairn bahwa beberapa hari sebelum 
demonstrasi besar-besaran digelar di Jakarta pada tanggal 4 November 2016 yang 
lalu, Kivlan menerima pesan teks dari Mayjen (Purn) l Budi Sugiana yang 
memintanya untuk ikut serta dan mengambil alih gerakan 411.Misinya yaitu 
bergabung bersama Rizieq di atas mokom (mobil komando) selama demonstrasi 
berlangsung, karena mereka butuh orang untuk mengambil alih massa di luar 
Istana Negara seandainya Rizieq ditembak mati.Di depan massa, para pemimpin 
gerakan diharuskan mengklaim bahwa mereka sangat terluka oleh ucapan Ahok. 
Tetapi secara strategis, pernyataan Ahok itu mereka terima dengan senang hati 
karena membuka jalan bagi mereka ke arah makar. Pada bulan Desember 2016, subuh 
dini hari, Kivlan Zein ditangkap Polisi dan digelandang ke Mako Brimob Kelapa 
Dua, Depok.Saat Allan Nairn duduk dengan Usamah dan para pimpinan gerakan lain, 
mereka berdiskusi panjang lebar tentang Hary Tanoe yang mereka puji sebagai 
pendukung utama gerakan mereka melalui bantuan dana langsung dan melalui 
stasiun-stasiun televisi milik Hary Tanoe.Mereka yang berada dalam ruangan itu 
sepakat dan satu suara menginginkan duet pemerintahan Prabowo-Hary Tanoe, Hary 
sebagai Presiden dan Prabowo sebagai Wakil Presiden, atau sebaliknya, 
tergantung polling nantinya bagaimana.***Artikel ini saya tulis berdasarkan 
referensi tulisan dari versi asli tulisan Allan Nairn yang berjudul, “Trump’s 
Indonesian Allies in Bed with ISIS-Backed Militia Seeking to Oust Elected 
President”.Gaya bahasa dalam tulisan ini saya olah dengan gaya bahasa yang 
mudah dimengerti oleh semua kalangan. Apa yang dipaparkan oleh Allan Nairn 
diatas hampir mendekati kebenaran, karena realitanya Ahok hanyalah tumbal 
politik. Saya ingat ucapan Presiden Jokowi di televisi ketika diwawancarai oleh 
wartawan, masalah pilkada kok larinya ke saya.Untungnya Presiden Jokowi bukan 
Presiden yang mudah digulingkan. Beliau mampu mengkosolidasikan kekuatan dalam 
situasi genting saat itu dengan mengunjungi kekuatan militer yang setiap saat 
bisa digerakan dan melakukan pendekatan kepada para Ulama pemimpin agama, 
sehingga ketegangan politik dalam negeri akhirnya dapat dilumpuhkan dan situasi 
menjadi kondusif.Sekalipun latar belakangnya bukan militer, Presiden Jokowi 
adalah sosok seorang pemimpin bangsa yang mampu menaklukan para Jenderal bengis 
yang siap menerkam dan mencabik-cabiknya setiap saat dikala lengah.Seperti 
statement Jokowi dalam acara debat pilpres 2014 yang lalu, “Kalau soal 
kedaulatan bangsa, jangan dikira saya tidak bisa tegas. Kita akan bikin rame”.  
 #yiv7297008883 #yiv7297008883 -- #yiv7297008883ygrp-mkp {border:1px solid 
#d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px 0;padding:0 10px;}#yiv7297008883 
#yiv7297008883ygrp-mkp hr {border:1px solid #d8d8d8;}#yiv7297008883 
#yiv7297008883ygrp-mkp #yiv7297008883hd 
{color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px 
0;}#yiv7297008883 #yiv7297008883ygrp-mkp #yiv7297008883ads 
{margin-bottom:10px;}#yiv7297008883 #yiv7297008883ygrp-mkp .yiv7297008883ad 
{padding:0 0;}#yiv7297008883 #yiv7297008883ygrp-mkp .yiv7297008883ad p 
{margin:0;}#yiv7297008883 #yiv7297008883ygrp-mkp .yiv7297008883ad a 
{color:#0000ff;text-decoration:none;}#yiv7297008883 #yiv7297008883ygrp-sponsor 
#yiv7297008883ygrp-lc {font-family:Arial;}#yiv7297008883 
#yiv7297008883ygrp-sponsor #yiv7297008883ygrp-lc #yiv7297008883hd {margin:10px 
0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}#yiv7297008883 
#yiv7297008883ygrp-sponsor #yiv7297008883ygrp-lc .yiv7297008883ad 
{margin-bottom:10px;padding:0 0;}#yiv7297008883 #yiv7297008883actions 
{font-family:Verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}#yiv7297008883 
#yiv7297008883activity 
{background-color:#e0ecee;float:left;font-family:Verdana;font-size:10px;padding:10px;}#yiv7297008883
 #yiv7297008883activity span {font-weight:700;}#yiv7297008883 
#yiv7297008883activity span:first-child 
{text-transform:uppercase;}#yiv7297008883 #yiv7297008883activity span a 
{color:#5085b6;text-decoration:none;}#yiv7297008883 #yiv7297008883activity span 
span {color:#ff7900;}#yiv7297008883 #yiv7297008883activity span 
.yiv7297008883underline {text-decoration:underline;}#yiv7297008883 
.yiv7297008883attach 
{clear:both;display:table;font-family:Arial;font-size:12px;padding:10px 
0;width:400px;}#yiv7297008883 .yiv7297008883attach div a 
{text-decoration:none;}#yiv7297008883 .yiv7297008883attach img 
{border:none;padding-right:5px;}#yiv7297008883 .yiv7297008883attach label 
{display:block;margin-bottom:5px;}#yiv7297008883 .yiv7297008883attach label a 
{text-decoration:none;}#yiv7297008883 blockquote {margin:0 0 0 
4px;}#yiv7297008883 .yiv7297008883bold 
{font-family:Arial;font-size:13px;font-weight:700;}#yiv7297008883 
.yiv7297008883bold a {text-decoration:none;}#yiv7297008883 dd.yiv7297008883last 
p a {font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv7297008883 dd.yiv7297008883last p 
span {margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv7297008883 
dd.yiv7297008883last p span.yiv7297008883yshortcuts 
{margin-right:0;}#yiv7297008883 div.yiv7297008883attach-table div div a 
{text-decoration:none;}#yiv7297008883 div.yiv7297008883attach-table 
{width:400px;}#yiv7297008883 div.yiv7297008883file-title a, #yiv7297008883 
div.yiv7297008883file-title a:active, #yiv7297008883 
div.yiv7297008883file-title a:hover, #yiv7297008883 div.yiv7297008883file-title 
a:visited {text-decoration:none;}#yiv7297008883 div.yiv7297008883photo-title a, 
#yiv7297008883 div.yiv7297008883photo-title a:active, #yiv7297008883 
div.yiv7297008883photo-title a:hover, #yiv7297008883 
div.yiv7297008883photo-title a:visited {text-decoration:none;}#yiv7297008883 
div#yiv7297008883ygrp-mlmsg #yiv7297008883ygrp-msg p a 
span.yiv7297008883yshortcuts 
{font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}#yiv7297008883 
.yiv7297008883green {color:#628c2a;}#yiv7297008883 .yiv7297008883MsoNormal 
{margin:0 0 0 0;}#yiv7297008883 o {font-size:0;}#yiv7297008883 
#yiv7297008883photos div {float:left;width:72px;}#yiv7297008883 
#yiv7297008883photos div div {border:1px solid 
#666666;height:62px;overflow:hidden;width:62px;}#yiv7297008883 
#yiv7297008883photos div label 
{color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}#yiv7297008883
 #yiv7297008883reco-category {font-size:77%;}#yiv7297008883 
#yiv7297008883reco-desc {font-size:77%;}#yiv7297008883 .yiv7297008883replbq 
{margin:4px;}#yiv7297008883 #yiv7297008883ygrp-actbar div a:first-child 
{margin-right:2px;padding-right:5px;}#yiv7297008883 #yiv7297008883ygrp-mlmsg 
{font-size:13px;font-family:Arial, helvetica, clean, sans-serif;}#yiv7297008883 
#yiv7297008883ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}#yiv7297008883 
#yiv7297008883ygrp-mlmsg select, #yiv7297008883 input, #yiv7297008883 textarea 
{font:99% Arial, Helvetica, clean, sans-serif;}#yiv7297008883 
#yiv7297008883ygrp-mlmsg pre, #yiv7297008883 code {font:115% 
monospace;}#yiv7297008883 #yiv7297008883ygrp-mlmsg * 
{line-height:1.22em;}#yiv7297008883 #yiv7297008883ygrp-mlmsg #yiv7297008883logo 
{padding-bottom:10px;}#yiv7297008883 #yiv7297008883ygrp-msg p a 
{font-family:Verdana;}#yiv7297008883 #yiv7297008883ygrp-msg 
p#yiv7297008883attach-count span {color:#1E66AE;font-weight:700;}#yiv7297008883 
#yiv7297008883ygrp-reco #yiv7297008883reco-head 
{color:#ff7900;font-weight:700;}#yiv7297008883 #yiv7297008883ygrp-reco 
{margin-bottom:20px;padding:0px;}#yiv7297008883 #yiv7297008883ygrp-sponsor 
#yiv7297008883ov li a {font-size:130%;text-decoration:none;}#yiv7297008883 
#yiv7297008883ygrp-sponsor #yiv7297008883ov li 
{font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;}#yiv7297008883 
#yiv7297008883ygrp-sponsor #yiv7297008883ov ul {margin:0;padding:0 0 0 
8px;}#yiv7297008883 #yiv7297008883ygrp-text 
{font-family:Georgia;}#yiv7297008883 #yiv7297008883ygrp-text p {margin:0 0 1em 
0;}#yiv7297008883 #yiv7297008883ygrp-text tt {font-size:120%;}#yiv7297008883 
#yiv7297008883ygrp-vital ul li:last-child {border-right:none 
!important;}#yiv7297008883 

   

Kirim email ke