Makanya Ian tak kaget jika melihat hasil Pilkada DKI Jakarta yang menyatakan 
Ahok-Djarot kalah atas pesaingnya Anies Baswedan-Sandiaga Uno. Apalagi bagi 
korban penggusuran, mereka tidak ingin Ahok memimpin Jakarta lagi. Dari catatan 
dia, ada sekitar 50 ribu warga Jakarta yang jadi korban penggusuran Ahok. Dia 
memprediksikan kritik ini kemudian meluas di kalangan kelas bawah Jakarta dan 
ditambah kasus penistaan agama.

 ,,,
 Penyebab Ahok Kalah versi Dua Peneliti Australia 
https://pilkada.tempo.co/read/news/2017/04/23/348868728/penyebab-ahok-kalah-versi-dua-peneliti-australia
 MINGGU, 23 APRIL 2017 | 02:07 WIB
 
 Profesor dari Universitas Nasional Australia (ANU), Marcus Mietzner dan Dr. 
Ian Wilson dari Murdoch University diskusi kritis terkait politik identitas 
Pilkada Jakarta di Sekolah Tinggi Hukum Indonesia Jentera pada Sabtu, 22 April 
2017. Tempo/Avit Hidaya

 TEMPO.CO, Jakarta - Peneliti dari Murdoch University Australia Ian Wilson 
menganggap kekalahan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama dalam pilkada 
di Jakarta tidak terlepas dari peran rakyat kecil Jakarta. Menurut dia, 
sebagian besar rakyat kecil Jakarta tak menyukai gaya bicara Ahok dan 
penggusuran yang dilakukan dengan cara sewenang-wenang.

"Awalnya ada antusiasme warga miskin kota terhadap Jokowi (ketika menjabat 
Gubernur DKI Jakarta), namun kemudian ada pergeseran dengan kepemimpinan Ahok," 
kata Ian dalam sebuah diskusi kritis di Sekolah Tinggi Hukum Indonesia Jentera, 
Sabtu, 22 April 2017. "Mereka tidak suka dengan gaya bicaranya."

Menurut Ian, pada saat kepemimpinan Jokowi, warga Jakarta tak begitu 
mempermasalahkan Ahok. Alasannya, karena Jokowi lebih banyak merangkul 
masyarakat kecil, meski sama-sama melakukan penggusuran. Bedanya, penggusuran 
yang dilakukan Jokowi dianggap lebih santun.

Setelah Ahok memimpin menggantikan Jokowi, masyarakat kelas bawah diperkirakan 
kecewa dengan kesewenang-wenangan Ahok. Sebagian besar masyarakat menganggap 
gaya komunikasi Ahok yang sering diperdebatkan dan menimbulkan masalah. Namun 
sebagian besar warga Jakarta sepakat bahwa kinerja Ahok sangat bagus.

"Sebagai gubernur dia oke, tapi masyarakat tidak suka gaya bicaranya," ucap 
Ian. Masyarakat kemudian menganggap kasus penistaan agama sebagai puncak 
kegelisahan. Mereka menganggap Ahok sering melontarkan pernyataan tanpa 
terlebih dulu dipikirkan.

Hal ini kemudian dimanfaatkan oleh kelompok konservatif seperti Front Pembela 
Islam (FPI) masuk mewakili aspirasi masyarakat. Padahal, kata dia, banyak orang 
yang benci dengan FPI. Ia telah lebih dari 10 tahun meneliti perkembangan FPI 
di Indonesia. "Banyak orang benci FPI, tapi satu hal yang patut digarisbawahi: 
mereka ada di kampung-kampung, mereka mendampingi kaum miskin," kata Ian Wilson.

Makanya Ian tak kaget jika melihat hasil Pilkada DKI Jakarta yang menyatakan 
Ahok-Djarot kalah atas pesaingnya Anies Baswedan-Sandiaga Uno. Apalagi bagi 
korban penggusuran, mereka tidak ingin Ahok memimpin Jakarta lagi. Dari catatan 
dia, ada sekitar 50 ribu warga Jakarta yang jadi korban penggusuran Ahok. Dia 
memprediksikan kritik ini kemudian meluas di kalangan kelas bawah Jakarta dan 
ditambah kasus penistaan agama.

Peneliti Universitas Nasional Australia (ANU) Marcus Mietzner menambahkan bahwa 
isu agama dan politik identitas sudah lama digunakan dalam pemilu di Indonesia. 
Pada Pilkada DKI Jakarta 2012, Marcus juga mendapati upaya tim Fauzi Bowo 
menggunakan isu agama. Namun isu itu bisa diredam karena Ahok kala itu hanya 
wakil gubernur.

"Menurut saya, jelas persoalan agama menjadi penentu dalam pilkada," kata dia. 
Apalagi ditambah Ahok dituding telah menistakan agama. Tanpa kasus itu pun, 
peta politik warga Jakarta adalah 40 persen warga adalah orang konservatif yang 
memilih pemimpin Muslim dan ada 35 persen pemilih adalah orang pluralistik. 
Sisanya, lebih banyak terpengaruh kasus penistaan agama dan gaya kepemimpinan 
Ahok.

Menurut dia, kasus kekalahan Ahok agak unik di Indonesia. Mengingat, selama ini 
tidak ada calon inkumben kalah saat memiliki tingkat kepuasan di atas 60 
persen. "Ini (Ahok) tingkat kepuasannya 74 persen dan dia kalah?"

Marcus khawatir, contoh penggunaan isu agama seperti ini akan diterapkan di 
daerah lain di Indonesia. Terlebih, ini nantinya akan digunakan pada pemilihan 
presiden 2019. Dia menduga isu agama, isu komunisme, dan isu politik identitas 
akan ada pada pemilihan presiden mendatang.

AVIT HIDAYAT



 

Kirim email ke