Setuju,asal klas tidak bisa diubah, dan banyak juga pahlawan 
nasional yang berstatus bangsawan bahkan raja semisal Ida 
Anak Agung Gde Agung, Sultan Hasanuddin, maupun Ki Hajar 
Dewantara dll. 

Tidak bisa dipungkiri bahwa perjuangan Kartini sangat dipengaruhi 
persahabatannya dengan pemikiranBarat. Tetapi bagi anak sekarang 
sangatlah ironisketika Kartini sendiri tak berdaya dijadikan selir, 
lebih-lebih sang madusedang mengandung benih suaminya – kelak 
jabang bayi ini kitakenal sebagai Abdulmadjid, anak bangsawan 
yang berhaluan Kiri. Sayamenangkap adanya kegelisahan anak sekarang terhadap
pemahaman kita tentang Kartini yang mereka anggap cuma 
berdasarkan sisi pandangBarat. Mereka beberkan argumentasi 
bahwa Kartini adalah perempuan pahlawan yang paling banyak 
literaturnya. Dibuat oleh Barat dan tersebar kemancanegara 
sehingga, suka atau tidak, literatur buatan Barat mendominasi 
referensi yang membentuk pemahaman kita tentang Kartini. Terusterang saya 
setuju klaim "mengekor sisi pandang Barat ini". 
Bukan perkara literaturnya, melainkanterkait terbitnya terang di benak 
Kartini yang tidak bisa dilepas dari dimulainya pemberontakan
perempuan di Barat akibat revolusi industri. Seperti kita tahu, 
revolusi industri adalah pintu gerbang bagi kaum perempuan Barat
untuk terlibat secara kolosal dalam kegiatan/ pekerjaan di luar rumah 
yang kemudian melahirkan gerakan emansipasi perempuan. 
Karena industri di Belanda saat itu belum berkembang (masih nyaman 
dengan merampok tanah jajahan) maka yang diperjuangkan perempuan 
Belanda pada jaman itu adalah menuntut persamaan hak perempuan 
dalam pemilu legislatif meski baru sebatas persamaan hak untuk memilih, 
belum persamaan hak untuk dipilih. 

Inilah yang dicekokkan para sahabat Belanda kepadaKartini; persamaan 
hak perempuan. Pendeknya, Kartini dijadikan bahan propaganda di 
Belanda untuk menjewer para meneer; “cewek inlander saja ngerti emansipasi!” 

Lalu, kita ikut-ikutan fasih menyebut Kartini sambil tergagap menyebut 
pejuang persamaan hak perempuan lainnya seperti Maria Maramis, 
Dewi Sartika, Rasuna Said dll. Kita terlanjur terjebak bicara emansipasi 
perempuan dari sisi pandang Barat yang saat itu sedang berontak terhadap 
kultur sosial mereka. Tambah parah lagi dari sederet pahlawan nasional 
hanya Kartini yang tercatat bersahabat dengan penjajah Belanda, selebihnya 
menentangbahkan memerangi Belanda. 
TulisanEndah di bawah saya pikir cukup bagus sebagai ringkasan 
biografi Kartini. Dan saya tidak sependapat dengan ulasannya tentang 
kultur sebagai persoalan paling mendasar bagi perempuan 
Indonesia.BarangkaliEndah lupa, perjuangan surat-menyurat Kartini 
berlangsungmenjelangberakhirnya masa penjajahan Belanda (era politik etis), 
artinya 
setelah begitu lama kultur penjajah mencengkeram kehidupan pribumi 
perkotaan, setelah mendarah-daging di kalanganelit. Jadi, saya menolak 
kalau budaya yang disebut-sebut sebagaipersoalan bagi perempuan 
Indonesia adalah budaya pribumi. Tidak, kultur penjajah selamaratusan 
tahun itulah yang menular dan menjadi biang kerok bagi anak pribumi.  Boleh 
jadi Endah juga terjebak dalam sisi pandang Barat sehingga 
bersukacita dengan status Kartini sebagai pahlawan emansipasi wanita. 
Dialupa bahwa di era yang sama perempuan-perempuan lainnya 
semakin gigihmelawan penjajahan sampai perlu mengadakan Kongres 
Perempuan untuk menyongsong kemerdekaan / emansipasi bangsa.  Kurangjelas apa 
sebenarnya arti ‘emansipasi wanita’ yang dilekatkan 
pada Kartini. Yang pasti, orang sering memahaminya sebagaipersamaan 
hak perempuan dalam kedudukan sosial maupun profesi. 

Kalaucuma itu yang dimaksud, mari kita coba pindah ke sisi pandang 
kitasendiri, nantiakan terlihat bahwa sebelum penjajah datang, dalam kultur 
pribumi sudah banyak perempuan dinusantara yang bekerja sebagai petani, 
pedagang, malah ada yang menjadi ratu segala. Di awal masuknya penjajah 
Belanda pada abad 16, kita bahkan punya perempuan laksamanalaut. 
Dia bukan saja piawai mengatur siasat perang laut, tapi juga mampuberduel 
satu lawan satu dengan si Cornelis de Houtman.
--- lusi_d@... wrote:
Sebagai tanggapan atas persoalan yang bung Ajeg kemukakan dibawah:
". . . kenapa Kartini yang bersahabat deh kalau itu yang dimaksud saya
kira ngan Belanda itu yang dijadikan sri panggung." baiklah saya
tambahkan sbb.:

Bagaimana kalau dijelaskan seperti pendapat Endah di bawah ini yang
juga mengajak para pembacanya untuk mengawali analisisnya dengan
memberi gambaran situasi masyarakat feodalisme dan kolonial di Jawa
waktu itu awal tahun-tahun 1900-an dan perjuangan gadis jaman penjajahan
Hindia Belanda yang juga masih harus mengalami masa dipingit, tokh
achirnya termasuk berhasil dan yang tidak ketinggalan jaman dalam
pengetahuannya, karena kecerdasan dan tindakannya yang penuh inisiatif
dan bisa menembus tembok pingitan dan penghalang kemajuan zaman yang
ada pada waktu itu.

Sementara itu kalau kita bandingkan kemajuan pikiran yang sampai
sekarang banyak dianggap sebagai pelopor paham nasionalis, misalnya Budi
Oetomo yang didirikan pada tanggal 20 Mei 1908 saya pikir belum sejauh
hasil perjuangan pikiran yang dikemukakan gadis Kartini ini yang sejak
berumur 12 tahun menjalani hidup pingitan sesuai dng tradisi yang
harus dijalankannya, namun melalui surat-menyuratnya dengan
wanita-wanita yang sudah bebas berpikir di Eropa terutama di Belanda
mampu mengembangkan alam pikirannya. Perkembangan tingkat pikirannya
sudah sampai pada menyatukan masalah perjuangan kemerdekaan nasional
dengan peningkatan kesejahteraan sosial lapisan yang ditindas oleh
feodalisme maupun kolonialisme.

Masalah siapa yang jadi sri panggung dan soal kepeloporan terserah pada
siapa atau lapisan mana yang mempresentasikan. Ditilik dari isi dan
sifat persoalan yang menjadi perhatiannya, persahabatan Kartini dng
sahabat-sahabatnya di dunia barat sifatnya bertumpu pada pandangan anti
feodalisme dan anti kolonialisme yang bersifat ilmu pengetahuan dan
lapisan klas dalam masyarakat yang mendukungnya. Pengetahuan sejarah
juga menunjukkan, bahwa asal klas tidak bisa diubah, tapi pandangan dan
sikap klas yang menentukan peranan setiap manusia dalam perkembangan
masyarakat.

Berikut kutipan pendapat Endah ttg Kartini:

Endah
Oct 06, 2008
Endah rated it really liked it

Buku ini (Pram - Panggil Aku Kartini Saja) merupakan telaah psikologis
Kartini melalui surat-suratnya.

Sejarah kelahiran Kartini nyaris bersamaan dengan berakhirnya politik
Tanam Paksa di Hindia Belanda, termasuk Jepara. Menjelang dihapuskannya
Tanam Paksa, seorang Asisten Wedana onderdistrik Mayong, Kabupaten
Jepara, bersua dengan seorang gadis desa dari kalangan rakyat jelata.
Gadis itu bernama Ngasirah, anak dari Modirono, seorang buruh pabrik
gula Mayong. Sang Asisten Wedana jatuh cinta pada si gadis walaupun
saat itu ia telah berbini dan beranak empat. Ngasirah, tanpa kuasa
menolak, lalu dijadikan selir. Asisten Wedana ini adalah R.M. Adipati
Sosroningrat yang kelak menjadi bupati Jepara dan ayahanda R.A.
Kartini. Dalam catatan sejarah, nama Ngasirah nyaris tidak pernah
disebut. Mungkin karena statusnya sebagai istri kedua dan asal-usulnya
yang hanya rakyat jelata.

Sebagai peranakan berdarah separuh rakyat jelata dan separuh bangsawan,
Kartini bukan tergolong wanita berparas cantik. Ini bisa dilihat dari
foto-foto peninggalannya. Oleh Pram dideskripsikan sebagai berikut:
Mula-mula orang akan terkesan pada wajahnya yang bundar–wajah kakeknya.
Kemudian matanya, yang juga tidak terlalu dalam terpasang pada
rongganya, bahkan boleh dikata agak keluar. Bentuk muka dan mata ini
adalah warisan kakeknya, dan terutama mata itu, tidak meninggalkan ciri
kebangsawanan Pribumi. Tetapi kalau orang sampai pada hidungnya,
sekaligus orang telah bisa mendapat gambaran lain. Hidung itu tidak
biasa ada pada golongan bangsawan, tapi lebih umum pada rakyat jelata.
Baik kemancungannya, ketinggiannya, maupun ketipisannya bukan lagi
hidung Tjondronegoro ataupun Sosroningrat. Itulah hidung warisan
seseorang yang gambarnya tidak pernah diterbitkan orang sampai dewasa
ini, hidung ibu kandung Kartini, seorang wanita yang berasal dari
rakyat jelata (hlm.28)

Nama Kartini diduga diberikan oleh ibu kandungnya. Sesuai adat Jawa
tradisional, ayah hanya memberi nama bagi anak-anak lelakinya saja. Tak
ada nama ditinggalkan untuk anak perempuan. Namun, bukan berarti anak
perempuan itu tidak dekat dengan ayahnya. Hubungan mereka berdua justru
sangat dekat. Kartini sangat mencintai sekaligus menghormati ayahnya.
Kartini adalah anak sang bapak. Tatkala ia tak mampu menolak
perjodohannya di usia 24, itu pun karena tak ingin menyakiti hati
Sosroningrat, kendati dalam hati yang paling dalam ia mengutuki
nasibnya yang harus mengalami poligami, mengulang sejarah hidup
Ngasirah.

Benar kiranya apa yang dikatakan oleh Mariana Amiruddin, Direktur
Eksekutif Yayasan Jurnal Perempuan dalam sebuah wawancara dengan saya
beberapa waktu lalu, bahwa persoalan perempuan Indonesia yang paling
mendasar adalah kultur. Dan agaknya itu telah berlangsung sejak dulu.
Kultur yang di dalamnya termasuk adat, tradisi, dan agama telah
mengekalkan penindasan terhadap perempuan. Umpamanya soal “kawin paksa”
dan permaduan (poligami) yang harus dijalani Kartini, itu pun berangkat
dari kultur Jawa tradisional yang telah ada jauh sebelum masuknya Islam.

Poligami merupakan salah satu mata rantai penderitaan kaum perempuan,
dari dulu hingga kini. Di lingkungannya Kartini saban hari menyaksikan
praktik-praktik permaduan yang dilakukan oleh ayah dan suaminya
sendiri. Ketidakberdayaan Kartini menolak nasib yang disodorkan
kepadanya kerap dianggap oleh para sahabat penanya sebagai sebuah
bentuk pengkhianatan perjuangannya sendiri. Mereka tidak paham,
situasinya saat itu sangat sulit bagi Kartini untuk melawan.

Satu-satunya perlawanan yang masih sanggup ia berikan adalah dengan
menulis surat dan menerbangkannya keluar, jauh melintasi
dinding-dinding tebal yang mengungkungnya, menemui para sahabat
sepikiran di Eropa untuk kemudian menggema ke seluruh dunia. Kepada
para sahabatnya, wanita yang tak berumur panjang ini mengemukakan
gagasan-gagasannya, mengabarkan kegalauan hatinya, keprihatinannya,
bukan saja perihal nasib dirinya semata tetapi juga bangsanya, terutama
kaum perempuan. Tembok-tembok tinggi rumah besar Bupati Sosroningrat
tak mampu menahan kebebasan berpikir Kartini.

Pada umur 12 tahun, Kartini kecil harus masuk pingitan. Lagi-lagi
karena mematuhi adat yang berlaku bagi gadis-gadis bangsawan. Kartini
mesti melupakan hasratnya untuk terus bersekolah, baik ke Batavia dan
apalagi ke Nederland. Namun, semangat belajarnya yang berkobar-kobar
terus mencari jalan keluar. Kelak, Kartini menemukan jalan itu lewat
surat-menyurat dengan para sahabatnya yang lalu mengiriminya buku-buku,
majalah, dan berbagai jurnal. Tak pelak lagi semua itu menambah
kesadaran Kartini, membukakan mata hati serta benak mungilnya dalam
melihat dunia dan sekitarnya. Semua pengetahuan yang direguknya dengan
kerakusan seorang musafir yang dahaga menanamkan sebentuk keberanian
dalam jiwanya untuk berbicara kepada dunia luar tentang bangsanya.

Sungguh mengagumkan. Seorang perempuan Jawa, masih sangat belia, hanya
keluaran sekolah rendah, memiliki keberanian, pengetahuan, serta
pikiran yang maju jauh melampaui zamannya. Ironis rasanya jika setiap
peringatan mengenang kebesarannya, memuliakannya hanya dimaknai dengan
lomba kebaya , konde, dan masak-memasak.

Seratus tahun lebih sudah berlalu sejak wafatnya Kartini, sang
inspirator. Kaum perempuan Indonesia sudah banyak mengalami kemajuan.
Bisa sekolah tinggi, bekerja, dan berorganisasi. Namun, bukan berarti
masalah perempuan telah selesai. Faktanya, hingga hari ini masih banyak
terjadi tindak kekerasan dan pelanggaran hak-hak perempuan. Masih
banyak TKW yang dianiaya, praktik trafficking masih terus berlangsung,
angka kematian ibu karena melahirkan masih tinggi, upah buruh perempuan
masih jauh lebih rendah dibandingkan buruh laki-laki; perkosaan,
pembunuhan dan masih banyak lagi kasus lainnya. Tentu kita tidak akan
cuma duduk berdiam diri menanti Kartini bangkit kembali dari kuburnya
untuk menyelesaikan ini semua, bukan?***

----------

Anden Thu, 27 Apr 2017 15:58:55 +0000 (UTC)
schrieb ajeg :

> Maksudnya, bagaimana supaya anak-anak yang masih 
> pakai seragam SD saat Soeharto lengser itu mendapat 
> penjelasan logis, tidak patah hati lalu nekad menjadi Kanan. 
> Di antara sekian perempuan tangguh Indonesia, kenapa Kartini 
> yang bersahabat dengan Belanda itu yang dijadikan sri panggung. > 
> --- lusi_d@... wrote:
> Hari ini saya baca artikel bung Kartaprawira di GELORA, Wed, 26 Apr
> 2017 21:11:25 +0000 (UTC), yang memberikan penjelasan lebih rinci ttg
> perjalanan hidup Kardinah, adik Kartini.
> Sampai sekarang penjelasan ttg Peristiwa Tiga Daerah yang
> membicarakan kejadian peristiwa dan saling hubungannya baru saya
> mengerti dari bukunya Anton E.Lucas, "Peristiwa Tiga Daerah - Revolusi
> dalam Revolusi" dengan Pengantar Sartono Kartodirdjo, yang dia susun
> berdasar hasil wawancara dengan mereka yang terlibat dlm peristiwa
> tsb. Menurut penilaian saya, dari substansinya sangat berguna dan
> banyak yang bisa dipelajari.
> 
> Tentang pertanyaan anak-anak sekarang yang ada kalanya mengherankan,
> saya pikir normal-normal saja karena memang generasi muda pada zaman
> orba kan dibikin tidak mengerti sejarah nasionnya sendiri. Banyak yang
> fasih cerita ttg dunia barat atau amerika tapi nggak ngerti sejarah
> nasionnya sendiri. Soalnya kan kalau generasi muda ini tahu sejarah
> nasionnya sendiri kan bikin kaum neoliberal dan kompradornya akan
> ketahuan kebusukannya. Ah urusan semacam ini bung Ajeg kan tahu.
> 
> Am Mon, 24 Apr 2017 18:19:06
> +0000 (UTC) schrieb ajeg :
> > Anak sekarang pertanyaannya suka macam-macam. 
> > Saya sempat kagum waktu ada yang keheranan, Soekarno > yang katanya
> > Kiri kokmengangkat bangsawan sebagai pahlawan? 
> > 
> > Bagaimana sebenarnya posisi orang Kiri terhadap kaum 
> > bangsawan, mengingat Kardinah, adik Kartini, sempat diarak 
> > keliling kota saat pecah Peristiwa Tiga Daerah. Tetapi 
> > rezim Soekarno juga yang mengabadikan namanya sebagai 
> > nama rumahsakit besar di kota Tegal, RS Kardinah.> 
> > --- lusi_d@... wrote:
> > Saya kirimkan lampiran tulisan Pramoedya ttg Ibu Kartini dalam
> > bentuk pdf sekali lagi berhubung banyaknya kesalahan yang ada pada
> > kutipan yl. Maaf.
> > Sebenarnya masih banyak uraian Pram dalam bukunya ttg Kartini itu
> > yang memuat pandangan hidup dan hasil pemikiran Kartini yang sangat
> > bermanfaat dan bahkan aktual untuk dijadikan bahan pelajaran dan
> > diteladani. Begitu jelas uraiannya dan kita bisa menghayati
> > kecerdasan beliau. Bagaimana pandangannya ttg feodalisme, Dunia
> > Pribumi dan Dunia Eropa, ttg ketuhanan dan faham ttg tuhan dan akal
> > dan masih banyak lagi. Salam
> > Lusi.-
> > 
> > Para Sahabat dan Handaitaulan yb.
> > 
> > Seratus tigapuluh delapan tahun yang lalu - 21 April 1879 lahirlah
> > jabang bayi yang bernama Kartini. Nama yang akhirnya sangat dikenal
> > sebagai seorang wanita pejuang pelopor nasion Indonesia. 
> > Untuk mengenang jasa beliau dan untuk menambah pengenalan lebih
> > mendalam pada beliau, saya kutipkan bagian sub-judul Seni Rakyat dan
> > Di Lapangan Musik yang menguraikan kecintaan Kartini kepada
> > rakyatnya, dari karya Pramoedya Ananta Toer yang berjudul - panggil
> > aku Kartini saja. Pn. Hasta Mitra, cetak ulang 1997.
> > Salam.
> > Lusi.-
> > 21 April 2017 
> 
> 

   

Kirim email ke