http://www.bbc.com/indonesia/majalah-39912183
 http://www.bbc.com/indonesia/majalah-39912183
 Mengecap toleransi dan keharmonisan dalam semangkuk Soto Betawi 
http://www.bbc.com/indonesia/majalah-39912183 Jerome WirawanWartawan BBC 
Indonesia
 14 Mei 2017

 Tautan eksternal dan akan terbuka di layar baru Bagikan artikel ini dengan 
Facebook http://www.bbc.com/indonesia/majalah-39912183#  Bagikan artikel ini 
dengan Twitter http://www.bbc.com/indonesia/majalah-39912183#  Bagikan artikel 
ini dengan Messenger http://www.bbc.com/indonesia/majalah-39912183#  Bagikan 
artikel ini dengan Email 
mailto:?subject=Shared%20from%20BBC%20Indonesia&body=http%3A%2F%2Fwww.bbc.com%2Findonesia%2Fmajalah-39912183
  Kirim http://www.bbc.com/indonesia/majalah-39912183#share-tools




 
 Hak atas fotoBBC INDONESIAImage captionSoto Betawi yang disajikan di Restoran 
Sambung Nikmat di Pondok Pinang, Jakarta Selatan. Jarum jam menunjukkan pukul 
10 pagi, namun belasan pengunjung sudah berjajar di Restoran Sambung Nikmat 
yang terletak di kawasan Pondok Pinang, Jakarta Selatan.
 Sejak didirikan almarhum Haji Ridwan pada awal 1980-an, restoran ini cukup 
kondang bagi penyuka Soto Betawi. Salah satunya, Budi, yang telah menjadi 
pengunjung setia selama sembilan tahun terakhir.
 "Rasanya beda dengan soto betawi lainnya. Kuahnya, rempahnya, rasa dagingnya 
keluar. Setiap saya meeting di luar kantor, saya selalu mengajak rekan kerja ke 
sini," kata Budi.
 Selain daging sapinya yang empuk, keunggulan Soto Betawi di restoran ini 
adalah kuahnya yang merah kental. Hajjah Atiyah, istri mendiang Haji Ridwan, 
yang kini mengelola restoran, mengatakan proses memasak Soto Betawi cukup 
panjang.
 Tempe: 'Makanan ajaib' yang (masih) dianggap murahan di Indonesia 
http://www.bbc.com/indonesia/indonesia-38529395 Kuliner Mie Aceh, antara isu 
ganja, hikmah tsunami dan GAM 
http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2016/01/160108_majalah_bisnis_mieaceh 
Minuman daun kopi dan yogurt susu kerbau ala Minang 
http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2016/07/160711_majalah_bisnis_kawa_dadiahHak
 atas fotoBBC INDONESIAImage captionKuah Soto Betawi menggunakan santan yang 
disarikan dari kelapa utuh. Setelah digodok selama dua jam, daging diungkep 
dengan bumbu asam, garam, dan kecap. Daging kemudian digoreng sampai berwarna 
kekuningan. Untuk kuah, Hajjah Atiyah dan anak-anaknya memakai santan murni dan 
cabai sehingga kuah menjadi merah kental.
 "Kalau orang-orang lain kan bikin Soto Betawi kuahnya kan putih pakai susu. 
Saya mahnggak, santan tok. Kelapanya aja 80 biji," kata ujar perempuan berusia 
70 tahun itu.
 Sayangnya, restoran ini hanya menyajikan Soto Betawi.
 Untuk menikmati beragam sajian khas Betawi lainnya, saya harus beranjak sejauh 
17 kilometer ke arah selatan di Kota Depok, Jawa barat.
 Di sini, terdapat restoran Dapur Betawi dengan menu gabus pucung dan sayur 
besan.
Hak atas fotoBBC INDONESIAImage captionGabus pucung adalah sajian berbahan 
utama ikan gabus dan pucung atau buah kluwek. 'Menu terlangka di dunia' Menurut 
Harno Didin, pemilik Dapur Betawi, gabus pucung sejatinya adalah santapan 
berbahan utama gabus, ikan air tawar yang dulu mudah ditemukan di kawasan rawa 
sekitar Jakarta. Adapun pucung adalah istilah Betawi untuk buah kluwek yang 
juga sering dipakai untuk bumbu Soto Rawon di Jawa Timur. Ini sebabnya sajian 
gabus pucung berwarna hitam.
 Berbeda dengan gabus pucung yang menjadi makanan sehari-hari masyarakat 
Betawi, sayur besan bisa dibilang istimewa karena khusus disajikan untuk 
menyambut keluarga besan dalam pernikahan. Bahan utama sayur besan adalah 
trumbuk, semacam buah tebu yang terasa lembut saat disantap.
 "Kedua menu ini sekarang amat langka. Seiring pembangunan, kawasan rawa 
dipenuhi rumah dan populasi ikan gabus menurun. Sekarang sulit mencari ikan 
gabus, begitu pula trumbuk. Sudah begitu, jarang ada orang Betawi yang 
menyajikannya untuk umum. Karena mencarinya di Jakarta saja sulit, apalagi 
dunia. Tidak berlebihan dong kalau saya sebut ini menu terlangka di dunia," 
kata Didin, sembari terkekeh.
 Berkat menu tersebut, Didin mengaku bisnisnya menguntungkan lantaran 
sedikitnya persaingan. Selama 12 tahun membuka usaha, pria asli Pondok Cabe, 
Tangerang Selatan, itu mampu membuka tiga cabang restoran.
 "Dalam bisnis saya untung, kemudian dalam melestarikan budaya Betawi, saya pun 
turut andil," ujarnya.
 Di restorannya, selain gabus pucung dan sayur besan, Didin menyajikan pecak 
gurame, semur jengkol, dan pecak gurame. Ragam menu itu, menurutnya, sulit 
ditemui di Jakarta dan sekitarnya.
 "Kalau tidak percaya, silakan meluncur dari sini ke Istana Negara. Selama 
perjalanan itu, berapa kali Anda bisa menemui menu gabus pucung? Lebih dari 
tiga kali saja sudah sangat bagus," katanya.
Hak atas fotoBBC INDONESIAImage captionPecak jengkol diolah menggunakan 
sejumlah rempah, termasuk kunci. Warisan budaya Kuliner Betawi yang beragam dan 
terbilang langka ini mendorong Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menetapkan 
sembilan sajian Betawi sebagai warisan budaya tak benda Indonesia. Sembilan 
sajian itu meliputi, antara lain soto Betawi, gado-gado, gabus pucung, sayur 
besan, dan bir pletok—minuman tradisional yang terbuat dari campuran rempah.
 Ketua Asosiasi Tradisi Lisan Indonesia, Pudentia, mengatakan kesembilan sajian 
tersebut dipilih karena memenuhi 15 kriteria, antara lain memiliki keunikan, 
memiliki nilai-nilai budaya, sudah diwariskan lebih dari satu generasi.
 "Kita memilih gado-gado bukan karena enak atau tidaknya, bukan ditilik dari 
sayuran yang ada dalam gado-gado, tapi dari sejarahnya dan dari filosofi yang 
terkandung di dalamnya. Makanan itu akan memperlihatkan lapis-lapis kontak 
orang-orang yang ada di Betawi dengan orang lain," kata Pudentia.
Hak atas fotoBBC INDONESIAImage captionAsinan Betawi menggunakan berbagai 
sayuran. Makanan yang tepat menggambarkan hal itu, menurut Fadly Rahman selaku 
dosen sejarah Universitas Padjajaran yang khusus meneliti sejarah kuliner, 
adalah Soto Betawi.
 Berdasarkan dari arsip dan dokumen sejarah yang dia telusuri, Fadly 
menyimpulkan Soto Betawi berasal dari Cina. Sajian itu kemudian tersebar ke 
masyarakat Betawi mengingat Jayakarta dan Batavia, yang merupakan nama lama 
Jakarta, merupakan pusat perdagangan yang didatangi orang-orang dari beragam 
etnis, termasuk etnis Cina.
 "Soto itu asalnya dari Cina, namanya Caudo. Kemudian ada pengaruh lain dari 
Arab dan India di Soto Betawi, yaitu penggunaan minyak samin atau ghee. Ini 
artinya ada keharmonisan yang sangat padu dalam masyarakat Betawi dilihat dari 
semangkuk soto," kata Fadly.
 Masyarakat Betawi toleran dan terbuka Lebih jauh, menurut Fadly, yang telah 
menulis buku bertajuk Rijstaffel: Budaya Kuliner Indonesia di Masa Kolonial, 
kuliner Betawi dengan sejarah dan filosofi yang terkandung di dalamnya 
mencerminkan bahwa masyarakat Betawi adalah masyarakat yang sangat toleran, 
terbuka, dan mampu beradaptasi dengan budaya-budaya asing yang masuk.
 Akan tetapi, kendati kuliner Betawi sarat dengan sejarah dan filosofi, 
masyarakat Betawi dinilai kurang gigih melestarikannya sehingga masakan-masakan 
seperti gabus pucung, soto Betawi, dan sayur besan tidak terlalu dikenal.
 "Masyarakat Betawi selama ini menganggap makanan mereka biasa-biasa saja, 
bukan sebuah potensi identitas yang mereka harus pertahankan dan bisa belajar 
dari itu," ujar Fadly.
Hak atas fotoBBC INDONESIAImage captionKerak telor adalah kuliner khas Betawi 
yang menggunakan beras ketan dan telur. Fadly menekankan bahwa masyarakat 
Indonesia pada umumnya masih abai terhadap sejarah makanan lokal. Padahal, dari 
makanan itulah, identitas sebuah masyarakat bisa terlihat:
 "Kajian sejarah kuliner sekarang menguat di Asia Timur hingga ke negara-negara 
tetangga kita. Tujuannya adalah menguatkan identitas mereka dari apa yang lekat 
dan dikonsumsi dalam keseharian. Ini bukan soal makan saja, tapi nilai-nilai 
filosofis yang kita makan."
 Fadly kemudian mengenang apa yang ditulis seorang gastronom asal Prancis, 
Anthelme Brillat-Savarin, pada 1826.
 "Beritahu saya apa yang Anda makan dan saya akan beritahu siapa Anda."

 

Kirim email ke