Pada Senin, 15 Mei 2017 5:04, "[email protected] [GELORA45]"
<[email protected]> menulis:
Ada Jusuf Kalla di Balik Vonis Ahok?
211BY ASAARO LAHAGU ON MAY 10, 2017POLITIKWapres Jusuf Kalla (detik.com)Jusuf
Kalla adalah seorang politisi ulung, lihai dan agresif. Publik masih ingat
bagaimana Jusuf Kalla (JK) memainkan peran “the real president’ di era Presiden
SBY 2004-2009. SBY pun kelimpungan dan terperangah atas permainan nan cantik
JK. Secara cerdas JK memanfaatkan politik untuk melanggengkan kepentingan
ekonomi keluarganya.Pada Pilpres 2009, SBY pisah jalan dengan JK dan memilih
Budiono (non partai) sebagai wakilnya. Sementara JK langsung berkompetisi
dengan SBY dan memilih Wiranto sebagai wakilnya. Hasilnya, lewat jargon
“Lanjutkan” SBY-Budiono melenggang ke istana. JK pun tersingkir dan kemudian
mencurahkan perhatiannya di Palang Merah Indonesia.Saat JK mendengar Jokowi
mencalonkan diri sebagai calon Presiden 2014, JK langsung berkomentar pedas.
“Tapi jangan tiba-tiba karena dia (Jokowi) terkenal di Jakarta, tiba-tiba
dicalonkan presiden, bisa hancur negeri ini, bisa masalah negeri”. Namun ketika
JK dicalonkan sebagai cawapres Jokowi lewat peran partai yang sudah dirangkul
keluarga JK, JK kemudian bersorak kegirangan. Ia berbalik mengagung-agungkan
kinerja Jokowi.Pada Pilpres 2014, secara mengejutkan Jokowi-JK menang atas
Prabowo-Hatta. JK pun bersorak dan merasa di atas angin. Ia mungkin berpikir
dapat mendikte Jokowi yang minim pengalaman di pentas nasional. Namun apa yang
terjadi kemudian? JK tidak berkutik di bawah Jokowi. Publik tidak banyak
melihat sepak terjang JK. Publik hanya mengenal JK yang kerap beda pendapat
dengan Jokowi soal PSSI, perseteruan KPK-Polri dan lain-lain.Selama dua
setengah tahun mendampingi Jokowi, JK terlihat menderita. Tidak banyak peran
yang dia mainkan. Pemanfaatan politik sebagai batu loncatan untuk terus
memperluas ekonomi keluarganya, stagnan. JK kemudian semakin terkebiri ketika
para loyalis JK seperti Yudi Chrisnandi, Sudirman Said, hingga Anies Baswedan
dibabat habis Jokowi.Di permukaan, intrik antara Jokowi dan JK tidak begitu
tampak. Namun di tataran tersembunyi, ada pertarungan hebat. Penyingkiran
loyalis JK di pemerintahan, membuat JK meradang. JK ingin memberi pelajaran
kepada Jokowi. Caranya JK menebar pengaruh kepada kelompok-kelompok Islam untuk
mendelegitimasi kekuasaan Jokowi.Ketika Ahok-Djarot sudah resmi diusung oleh
Megawati, JK mulai bermanufer. Ia melobi Prabowo agar mengusung Anies (loyalis
JK) sebagai calon gubernur DKI Jakarta mengalahkan Ahok. Hal ini diakui sendiri
oleh ketua MPR dan PAN Zulkifi Hasan.JK yakin bahwa Anies dapat mengalahkan
Ahok yang double minoritas. Jika Ahok tidak tersandung kasus Al-Maida
sekalipun, Ahok tetap akan diserang dengan isu politisasi agama sebaran
kebencian berbau SARA. Dan itu bisa dilihat ketika JK sebagai ketua Dewan
Masjid tetap membiarkan masjid-masjid untuk dipolitisasi dan menebar
kebencian.Dari berbagai pernyataan JK terkait kasus Ahok, terang bahwa JK ikut
berperan menyudutkan Ahok. Ketika Ahok mengatakan bahwa Indonesia belum
Pancasilais selama belum ada Presiden yang berasal dari minoritas non Islam, JK
merasa tersinggung.“Jangan mengatakan kalau minoritas itu tidak dipilih,
Pancasila tidak lengkap, bukan, salah itu. Berarti sekarang kita tidak
Pancasila Indonesia ini, begitu Anda mau? Karena presidennya bukan non-Islam
maka tidak Pancasilais? Saya tersinggung!” tegas JK di kantornya, Jalan Merdeka
Utara, seperti dilansir Detik.com (21/10/2-16).Ketika Ahok menyerempet Surat
Al-Maidah, JK turut menyalahkan Ahok. Menurutnya Ahok telah salah menyinggung
Surat Al-Maidah ayat 51 itu karena menyertakan kata “Dibohongi”. “Itu, bukan
ayat itu dipersoalkan, boleh baca semua, saya yang dipersoalkan kata bohong”,
ujar Jusuf Kalla kepada wartawan di Kantor Wakil Presiden RI, Jakarta Pusat,
Jumat (21/10/2016).Saat demo besar 411, JK mengatasnamakan Jokowi untuk bertemu
perwakilan pendemo termasuk Amin Rais. Saat itu JK secara lantang menegaskan
bahwa Ahok akan diproses secara hukum. “Kita sudah berbicara dengan teman-teman
yang wakil masalah yang luar biasa banyaknya. Kesimpulannya ialah dalam hal
saudara Ahok, kita akan tegakkan dan laksanakan dengan hukum yang tegas. Oleh
Kapolri dijanjikan selesai dalam dua minggu, pelaksanaan hukum yang cepat itu.
Sehingga semua berjalan sesuai aturan tapi dengan tegas, itu saja”, ujar JK
dikutip Tribunnews.com (4/11/2017).Selang dua minggu kemudian, ucapan JK itu
terbukti. Pada tanggal 16 November 2017, kepolisian menetapkan Ahok sebagai
tersangka. Saat mendengar Ahok sebagai tersangka, JK mengeluarkan pernyataan
agar Ahok menjalani prose hukum dengan baik. “Ahok meski menjalani proses ini.
Itu kan tersangka belum tentu terhukum kan? Ya, nantilah (kita lihat
bagaimana),” ucap Jusuf Kalla.Dalam perjalanan sidang Ahok, JK tetap menyindir
Ahok. Saat Ahok terpaksa meminta maaf kepada Rais Aam Pengurus Besar Nadlhatul
Ulama KH Ma’ruf Amin, JK ikut menyerang Ahok. “Seorang pemimpin itu jangan
terpaksa terlalu sering minta maaf, karena terlalu sering minta maaf berarti
membikin kesalahan”, kata Kalla, Jumat, 3 Februari 2017 sebagai dikutip
Tempo.co (03/02/2017).Pada putaran pertama 15 Februari 2017, JK ikut
menyaksikan perhitungan cepat Pilgub DKI Jakarta putaran pertama. Foto berikut
ini adalah bukti perhatian besar JK atas perhelatan Pilkada DKI. Ketika
jagoannya masuk putaran kedua, JK mulai menyusun strategi untuk memenangkan
Anies di putaran kedua. Publik pun bertanya mengapa JK begitu intens menyerang
Ahok dan juga ikut menyaksikan perhitungan cepat Pilgub DKI? Jawabannya jelas
karena JK ingin jagoannya Anies menang. Kemenangan Anies dan kekalahan Ahok
adalah pelajaran pahit bagi Jokowi.Demi Anies, JK ikut mendorong
kelompok-kelompok Islam untuk menyerang habis Ahok. Selain itu orang-orang
dekat JK seperti Aksa Mahmud, Erwin Aksa dikerahkan untuk memenangkan Anies.
Maka tak heran ketika Anies sudah menang quick count, Anies bisa naik
Helikopter ke Balai Kota yang dipinjam dari Erwin Aksa untuk bertemu dengan
Ahok.Setelah Anies mengalahkan Ahok, JK kemudian tampil ngeles di muka publik.
Ia mencoba mengelabui publik dengan mengeluarkan pernyataan bahwa Anies dekat
dengan Jokowi. Itu sebetulnya hanya sebagai hiburan kepada publik yang sudah
mabuk isu-isu SARA. Pun ucapan JK saat mendengar Ahok divonis dua tahun
hanyalah bentuk simpati agar terlihat negawaran. “Bagaimanapun Ahok itu
gubernur DKI, wakil pusat di daerah. Karena itu saya sampaikan rasa simpati
atas apa yang terjadi”, kata JK kepada wartawan di kantornya (9/5/2017).Lalu
bagaimana menjawab pertanyaan judul artikel ini: Ada Jusuf Kalla di balik Vonis
Ahok?Saat ada kabar yang disebarkan oleh Laskar Cikeas menyebutkan bahwa ada
keterkaitan antara vonis Ahok dengan Wapres JK, Jubir Wapres, Husain Abdullah,
mengatakan bahwa gambar JK yang bertemu dengan MA Hatta Ali adalah hoax.
“Gambar Ibnu Munzir dipelintir jadi Hatta Ali bertemu beberapa tokoh dan
membuat opini sesat, bahwa Hatta Ali mengatur vonis Ahok, padahal tidak”, kata
Jubir Wapres Husain Abdullah kepada Detik.com, Rabu (10/5/2017).Foto yang
dianggap hoax oleh istana Wapres (detik.com)Tentu saja foto itu tidak bisa
dipercaya begitu saja. Foto Hatta Ali bisa saja tidak benar. Namun pernyataan
Husain yang mengakui bahwa JK memang melakukan pertemuan dengan Hatta Ali di
lingkungan Istana Negara dan acara-acara kenegaraan lainnya bisa membuat publik
menduga-duga isi pertemuan mereka. Artinya Husain mengakui bahwa JK pernah
melakukan pertemuan dengan Hatta Ali. Silahkan beropini apa isi pertemuan
JK-Hatta Ali.Foto yang dirilis istana Wapres untuk menangkal foto hoax
(Detik.com)Jika melihat penolakan Ahok atas tim Sinkronisasi tim Anies yang di
dalamnya terdapat orang JK, Sudirman Said, maka bisa diduga bahwa Ahok yang
sudah kalah, masih dianggap keras kepala menjelang akhir masa jabatannya. Ahok
bersikeras untuk tidak memasukan semua program Anies-Sandi pada APBDP DKI 2017.
Bahkan Ahok mengatakan bahwa rancangan jangka menengah APBD DKI 2018-2022, ia
yang akan menandatanganinya. Belum lagi janji Ahok untuk tetap menggusur
kembali rumah kumuh di Pasar Ikan, maka lengkaplah Ahok dianggap sebagai
ancaman.Pun mengalirnya bunga ke Balai Kota dan terpaksa dikasih rekor MURI
oleh musuh Ahok, Jaya Suprana, bisa membuat lawan-lawan Ahok sakit hati dan
emosi. Apalagi ucapan Amin Rais yang mengatakan jika Ahok bebas ia bisa apa
saja di pemerintahan Jokowi. Ahok bisa Mendagri, bisa Menhankam atau apa
saja.Jadi jelas jika Ahok divonis bebas, ia akan menjadi ancaman besar bagi
lawan-lawannya. Bisa dibayangkan jika ia bebas, lalu Jokowi memintanya menjadi
Mendagri dan bertemu dengan JK yang mengusung Anies, maka cerita seru bisa
berlanjut di istana. Lalu mengapa Ahok langsung ditahan?Jika Ahok tidak
ditahan, maka Ahok dipandang menghalangi tim Sinkroniasi APBD dari tim Anies.
Jika Ahok tidak ditahan, maka hati lawan-lawannya semakin tersayat hatinya
melihat fans Ahok terus menyerbu Balai Kota setiap hari. Pertanyaannya: Ada
Jusuf Kalla di balik Vonis Ahok? Entahlah. Hanya Tuhan dan JK sendiri yang
tahu. Kita hanya bisa menduga dari sinyal-sinyal ucapan JK kepada Ahok selama
ini. Salam Seword,
#yiv7746848113 #yiv7746848113 -- #yiv7746848113ygrp-mkp {border:1px solid
#d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px 0;padding:0 10px;}#yiv7746848113
#yiv7746848113ygrp-mkp hr {border:1px solid #d8d8d8;}#yiv7746848113
#yiv7746848113ygrp-mkp #yiv7746848113hd
{color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px
0;}#yiv7746848113 #yiv7746848113ygrp-mkp #yiv7746848113ads
{margin-bottom:10px;}#yiv7746848113 #yiv7746848113ygrp-mkp .yiv7746848113ad
{padding:0 0;}#yiv7746848113 #yiv7746848113ygrp-mkp .yiv7746848113ad p
{margin:0;}#yiv7746848113 #yiv7746848113ygrp-mkp .yiv7746848113ad a
{color:#0000ff;text-decoration:none;}#yiv7746848113 #yiv7746848113ygrp-sponsor
#yiv7746848113ygrp-lc {font-family:Arial;}#yiv7746848113
#yiv7746848113ygrp-sponsor #yiv7746848113ygrp-lc #yiv7746848113hd {margin:10px
0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}#yiv7746848113
#yiv7746848113ygrp-sponsor #yiv7746848113ygrp-lc .yiv7746848113ad
{margin-bottom:10px;padding:0 0;}#yiv7746848113 #yiv7746848113actions
{font-family:Verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}#yiv7746848113
#yiv7746848113activity
{background-color:#e0ecee;float:left;font-family:Verdana;font-size:10px;padding:10px;}#yiv7746848113
#yiv7746848113activity span {font-weight:700;}#yiv7746848113
#yiv7746848113activity span:first-child
{text-transform:uppercase;}#yiv7746848113 #yiv7746848113activity span a
{color:#5085b6;text-decoration:none;}#yiv7746848113 #yiv7746848113activity span
span {color:#ff7900;}#yiv7746848113 #yiv7746848113activity span
.yiv7746848113underline {text-decoration:underline;}#yiv7746848113
.yiv7746848113attach
{clear:both;display:table;font-family:Arial;font-size:12px;padding:10px
0;width:400px;}#yiv7746848113 .yiv7746848113attach div a
{text-decoration:none;}#yiv7746848113 .yiv7746848113attach img
{border:none;padding-right:5px;}#yiv7746848113 .yiv7746848113attach label
{display:block;margin-bottom:5px;}#yiv7746848113 .yiv7746848113attach label a
{text-decoration:none;}#yiv7746848113 blockquote {margin:0 0 0
4px;}#yiv7746848113 .yiv7746848113bold
{font-family:Arial;font-size:13px;font-weight:700;}#yiv7746848113
.yiv7746848113bold a {text-decoration:none;}#yiv7746848113 dd.yiv7746848113last
p a {font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv7746848113 dd.yiv7746848113last p
span {margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv7746848113
dd.yiv7746848113last p span.yiv7746848113yshortcuts
{margin-right:0;}#yiv7746848113 div.yiv7746848113attach-table div div a
{text-decoration:none;}#yiv7746848113 div.yiv7746848113attach-table
{width:400px;}#yiv7746848113 div.yiv7746848113file-title a, #yiv7746848113
div.yiv7746848113file-title a:active, #yiv7746848113
div.yiv7746848113file-title a:hover, #yiv7746848113 div.yiv7746848113file-title
a:visited {text-decoration:none;}#yiv7746848113 div.yiv7746848113photo-title a,
#yiv7746848113 div.yiv7746848113photo-title a:active, #yiv7746848113
div.yiv7746848113photo-title a:hover, #yiv7746848113
div.yiv7746848113photo-title a:visited {text-decoration:none;}#yiv7746848113
div#yiv7746848113ygrp-mlmsg #yiv7746848113ygrp-msg p a
span.yiv7746848113yshortcuts
{font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}#yiv7746848113
.yiv7746848113green {color:#628c2a;}#yiv7746848113 .yiv7746848113MsoNormal
{margin:0 0 0 0;}#yiv7746848113 o {font-size:0;}#yiv7746848113
#yiv7746848113photos div {float:left;width:72px;}#yiv7746848113
#yiv7746848113photos div div {border:1px solid
#666666;height:62px;overflow:hidden;width:62px;}#yiv7746848113
#yiv7746848113photos div label
{color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}#yiv7746848113
#yiv7746848113reco-category {font-size:77%;}#yiv7746848113
#yiv7746848113reco-desc {font-size:77%;}#yiv7746848113 .yiv7746848113replbq
{margin:4px;}#yiv7746848113 #yiv7746848113ygrp-actbar div a:first-child
{margin-right:2px;padding-right:5px;}#yiv7746848113 #yiv7746848113ygrp-mlmsg
{font-size:13px;font-family:Arial, helvetica, clean, sans-serif;}#yiv7746848113
#yiv7746848113ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}#yiv7746848113
#yiv7746848113ygrp-mlmsg select, #yiv7746848113 input, #yiv7746848113 textarea
{font:99% Arial, Helvetica, clean, sans-serif;}#yiv7746848113
#yiv7746848113ygrp-mlmsg pre, #yiv7746848113 code {font:115%
monospace;}#yiv7746848113 #yiv7746848113ygrp-mlmsg *
{line-height:1.22em;}#yiv7746848113 #yiv7746848113ygrp-mlmsg #yiv7746848113logo
{padding-bottom:10px;}#yiv7746848113 #yiv7746848113ygrp-msg p a
{font-family:Verdana;}#yiv7746848113 #yiv7746848113ygrp-msg
p#yiv7746848113attach-count span {color:#1E66AE;font-weight:700;}#yiv7746848113
#yiv7746848113ygrp-reco #yiv7746848113reco-head
{color:#ff7900;font-weight:700;}#yiv7746848113 #yiv7746848113ygrp-reco
{margin-bottom:20px;padding:0px;}#yiv7746848113 #yiv7746848113ygrp-sponsor
#yiv7746848113ov li a {font-size:130%;text-decoration:none;}#yiv7746848113
#yiv7746848113ygrp-sponsor #yiv7746848113ov li
{font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;}#yiv7746848113
#yiv7746848113ygrp-sponsor #yiv7746848113ov ul {margin:0;padding:0 0 0
8px;}#yiv7746848113 #yiv7746848113ygrp-text
{font-family:Georgia;}#yiv7746848113 #yiv7746848113ygrp-text p {margin:0 0 1em
0;}#yiv7746848113 #yiv7746848113ygrp-text tt {font-size:120%;}#yiv7746848113
#yiv7746848113ygrp-vital ul li:last-child {border-right:none
!important;}#yiv7746848113