Mengapa warga Indonesia di berbagai penjuru dunia gelar aksi dukung Ahok?
   
   - 14 Mei 2017
   
Tautan eksternal dan akan terbuka di layar baru   
   - Bagikan artikel ini dengan Facebook
    
   - Bagikan artikel ini dengan Twitter
    
   - Bagikan artikel ini dengan Messenger
    
   - Bagikan artikel ini dengan Email
    
   - Kirim
Hak atas fotoASTRIDImage captionLebih dari 2.000 orang berkumpul di 
Museumplein, Amsterdam, pada Sabtu (13/05) untuk mendukung Basuki Tjahaya 
Purnama alias Ahok.Lebih dari 2.000 warga Indonesia berkumpul di Amsterdam, 
Belanda, pada Sabtu (13/05) malam, sebagai respons atas vonis kasus penistaan 
agama yang menimpa mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias 
Ahok.Aksi bertajuk "Malam solidaritas untuk keadilan di Indonesia" berlangsung 
sejak pukul 20.00 hingga 21.30 waktu setempat di Museumplein, sebuah lapangan 
yang dikelilingi empat museum besar. Ini adalah aksi kedua di Belanda setelah 
aksi serupa digelar di Kota Groningen pada Jumat (12/05).   
   - Korban Mei 1998 dan aksi lilin untuk Ahok yang meluas
   - Vonis Ahok, kampanye anti-Cina, dan trauma 98
   - Parlemen Belanda angkat upaya pembebasan Ahok dalam debat
Hak atas fotoFEBRIANA FIRDAUSImage captionAksi solidaritas untuk Ahok di 
Amsterdam tidak hanya diikuti warga Indonesia, tapi juga sejumlah warga 
Belanda.Menurut wartawan Febriana Firdaus yang melaporkan dari Belanda, peserta 
aksi mayoritas warga Indonesia yang telah menetap lama di 'Negeri Tulip'. 
Mereka datang dari berbagai kota, seperti Leiden, Den Haag, dan Utrecht.Salah 
seorang peserta bernama Heri Latief, misalnya, adalah seorang warga Indonesia 
yang telah menetap dan bekerja di Belanda sejak 1986. Ia mengaku ingin 
bergabung dengan aksi ini karena menaruh simpati pada Ahok. "Ini tidak adil, 
kasus itu dicari-cari, rekayasa," katanya sambil membawa kertas bertuliskan 
Free Ahok dan bendera merah putih.Lain lagi, Arnold, 50, warga negara Belanda, 
salah satu peserta aksi. Meski bukan warga negara Indonesia dan tak akrab 
dengan sepak terjang Ahok di Jakarta, ia menganggap kasus penistaan agama yang 
membuat mantan gubernur DKI Jakarta itu masuk penjara sebagai sesuatu yang 
konyol."Dia tidak spesial, sama dengan orang lain. Tapi ketika seseorang masuk 
penjara selama dua tahun karena urusan itu, ini konyol," ujarnya.Hak atas 
fotoCECILIA RIZALImage captionPara peserta aksi di Amsterdam berdatangan dari 
berbagai kota di Belanda. Selama acara berlangsung, mereka menyanyikan beberapa 
lagu nasional.
'Bermuatan politis'
Sebelum Ahok, ada beberapa kasus penistaan agama yang menimpa kelompok 
minoritas di Indonesia.Sebut saja kasus yang menimpa pemimpin kaum Syiah di 
Madura, Tajul Muluk. Kemudian, tokoh Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar), Ahmad 
Musadeq. Kasus ini juga menimpa Lia Aminudin, atau Lia Eden, yang mengaku 
sebagai imam Mahdi dan mendapat wahyu dari malaikat Jibril.Kasus penistaan 
agama juga pernah menyeret penulis Arswendo Atmowiloto karena memuat survei 
tokoh pilihan pembaca dalam tabloid Monitor yang menempatkan Presiden Soeharto 
kala itu di tempat pertama sementara Nabi Muhammad di urutan ke-11.   
   - Seruan badan internasional atas 'penistaan agama Ahok'
   - Bagaimana warga keturunan Cina menanggapi vonis Ahok?
   - Dampak vonis penjara Ahok terhadap politik di Indonesia
Hak atas fotoCECILIA RIZALImage captionBeberapa peserta aksi mengatakan mereka 
mengikuti acara tersebut bukan semata-semata mendukung Ahok, melainkan 
keprihatinan atas keutuhan Indonesia.Namun, mengapa tiada aksi buat mereka? 
Mengapa Ahok diistimewakan?Heri Latief mengatakan kasus Ahok menjadi penting 
karena diduga bermuatan politis."Yang membedakan, karena ini politisasi 
pertarungan kelompok Orde Baru yang masih diwakili Prabowo (Subianto) dan super 
baru yang diwakili Jokowi (Joko Widodo) dan Ahok," katanya.Cecilia Rizal, warga 
Indonesia yang bermukim di Amsterdam, mengatakan dia ikut aksi tersebut bukan 
semata-semata mendukung pembebasan Ahok."Saya khawatir akan hilangnya hati 
nurani bangsa dan keutuhan NKRI. Biasanya saya diam, tapi sekarang bukan 
saatnya diam lagi. Dia (Ahok) tidak pantas masuk penjara, menurut saya. Lebih 
dari itu keutuhan bangsa sedang krisis," ujar Cecilia.Hak atas fotoASTRIDImage 
captionSebelum dan sesaat sesudah acara berlangsung, sejumlah warga Indonesia 
menyempatkan untuk berfoto dan menyanyikan lagu-lagu nasional.
Lagu-lagu nasional
Aksi solidaritas di Museumplein cukup berbeda dengan yang dilaksanakan di 
Indonesia dan negara lain. Sebab pihak keamanan di depan museum tidak 
mengizinkan peserta aksi menyalakan lilin dan pengeras suara.Meski demikian, 
dari pantauan Febriana Firdaus, masih ada peserta yang membawa lilin.Mereka 
kompak menyanyikan beberapa lagu nasional. seperti Rayuan Pulau Kelapa gubahan 
Ismail Marzuki, Garuda Pancasila, dan Dari Sabang Sampai Merauke.Di sela-sela 
pergantian lagu, tak jarang peserta meneriakkan yel-yel, "Hidup NKRI."Kegiatan 
aksi malam ini berlangsung hingga pukul 21.30. Peserta aksi tak serta merta 
meninggalkan lokasi. Mereka berbaur dan mengibarkan bendera merah putih.Aksi 
solidaritas di Amsterdam tersebut hanyalah satu dari rangkaian aksi serupa pada 
13-14 Mei di berbagai kota di dunia, dari Washington DC, Helsinki, hingga Hong 
Kong.Hak atas fotoVALENTINA DJASLIMImage captionPara WNI di Hong Kong 
menyerukan pembebasan Ahok.
'Miris melihat perpecahan'
Di Hong Kong, sejumlah WNI menggelar aksi 'Justice for Ahok' di Victoria Park, 
Causeway Bay, Minggu (14/05).Pada aksi yang dimulai pukul 10.00 waktu setempat, 
para WNI yang sebagian besar adalah tenaga kerja di Hong Kong memakai baju 
bernuansa merah putih. Mereka membawa bunga dan menyanyikan lagu Indonesia 
Raya, Rayuan Pulau Kelapa dan Garuda Pancasila.Hak atas fotoVALENTINA 
DJASLIMImage captionPara WNI di Hong Kong meletakkan bunga sebagai tanda 
simpati terhadap Ahok.Salah satunya, Ellis, TKI asal Kediri."Saya memang orang 
Kediri, tapi saya belum pernah ngelihat pemimpin bersih seperti Ahok, saya 
minta Ahok di bebaskan untuk Indonesia karena Islam Indonesia itu toleran!" 
kata Ellis, TKI yang telah bekerja sembilan tahun di Hong Kong kepada wartawan 
Valentina Djaslim.Ellis yang hadir dengan memgenakan jilbab merah dan baju 
gamis putih ini mengaku miris melihat perpecahan akibat SARA yang kini terjadi 
di Indonesia.Hal serupa diungkapkan Erni, TKI asal Manado yang juga menghadiri 
acara tersebut. "Nenek saya Hindu, paman saya Kristen, sementara saya Muslim, 
tapi kami tak pernah ada masalah. Kenapa sekarang harus jadi masalah? Pelangi 
itu nggak satu warna'" kata Erni.Hak atas fotoNURAKI AZIZImage captionAksi 
mendukung Ahok di London.Sementara itu, di London, aksi mendukung Ahok diikuti 
setidaknya 400 orang yang berkumpul di Jubilee Gardens, dekat wahana bianglala 
raksasa atau dikenal dengan London Eye.Para peserta aksi datang tak hanya dari 
London, tapi juga dari sejumlah kota di Inggris.Hak atas fotoBBC INDONESIAImage 
captionPara peserta aksi datang dari berbagai kota di Inggris. Bahkan, beberapa 
di antara mereka merupakan warga Inggris.
Topik terkait
   
   
   - Indonesia
   - Politik
   - Belanda
   - Hukum

Berbagi berita ini Tentang berbagi
   
   - Email
   - Facebook
   - Messenger
   - Twitter
   - LinkedIn
Kembali ke atas
Berita terkait
   
   - Korban Mei 1998 dan aksi lilin untuk Ahok yang meluas12 Mei 2017
   - Vonis Ahok, kampanye anti-Cina, dan trauma 9811 Mei 2017
   - Bagaimana warga keturunan Cina menanggapi vonis Ahok?10 Mei 2017
   - Parlemen Belanda angkat upaya pembebasan Ahok dalam debat10 Mei 2017
   - Dampak vonis penjara Ahok terhadap politik di Indonesia10 Mei 2017
   - Galeri Foto Aksi solidaritas mendukung Ahok terus meluas13 Mei 2017

Kirim email ke