http://news.indopos.co.id/read/2017/05/15/98404/Waspadai-Kelompok-Dibalik-Ahok


Waspadai Kelompok Dibalik Ahok

*Senin, 15 Mei 2017 | 21:46*

Share:

Foto : Ilustrasi

*INDOPOS.CO.ID <http://INDOPOS.CO.ID>* - Pemerintah diingatkan agar
bijaksana dan berhati-hati menyikapi isu aksi-aksi dukungan terhadap Basuki
Tjahaja Purnama alias Ahok di sejumlah daerah pasca putusan hakim dua tahun
penjara. Terlebih, aksi yang muncul mulai berkembang pada isu disintegrasi
seperti adanya ajakan referendum untuk terwujudnya Minahasa Raya Merdeka.
Demikian yang disampaikan Hendri Satrio,  pengamat politik di Jakarta,
kemarin, (15/5).

Dia melihat ada empat kelompok terpisah, namun seakan-akan melebur dalam
satu gerakan untuk membela Ahok dengan alasan ketidakadilan. "Jadi saya
kira perlu disikapi secara bijaksana. Karena saya melihat ada empat hal
terpisah. Di satu sisi, gerakan yang dilakukan murni untuk membela Ahok.
Mereka merupakan kelompok yang memuji Ahok apa pun kondisinya," ujar Hendri.

Menurut Hendri, kelompok pertama ini merupakan kumpulan orang-orang yang
kaget melihat Ahok kalah dan sekaligus divonis dua tahun penjara atas
dugaan penodaan agama. Dia juga melihat ada dukungan yang sifatnya abu-abu.
Kelompok kedua ini bergerak mengatasnamakan kebhinekaan, namun memiliki
tujuan-tujuan tertentu. "Saya mengatakan dukungan abu-abu, karena kelompok
ini tidak berani terbuka dan terus terang tujuan ikut aksi," ucap dosen
Universitas Paramadina ini.

Kelompok ini, lanjut Hendri, sering berteriak NKRI harga mati. Namun saat
ditanya kelompok mana yang ingin memecah NKRI, jawabannya tidak jelas.
Mereka biasanya langsung menunjuk kelompok yang mereka anggap radikal.
Kelompok ini juga sering berteriak ada usaha untuk menggulingkan Joko
Widodo (Jokowi) sebelum 2019 dari kursi presiden. ”Jadi, kelompok ini
nembaknya ke mana-mana," tandasnya.

Selain itu, Hendri melihat ada juga kemungkinan kelompok tertentu yang
sengaja membonceng isu dukungan pada Ahok untuk melakukan makar. Ini
merupakan kelompok ketiga. Hal tersebut terlihat dari beberapa rumor
beredar, misalnya jika benar ada kelompok yang meneriaki *'huuuuu'* saat
suara adzan di Palembang, Sumatera Selatan (Sumsel) seperti yang viral di
media sosial (medsos). Kemudian kelompok yang menginginkan Minahasa Raya
Merdeka.

"Sedangkan yang keempat ada kelompok yang memang ingin Indonesia kembali
adem ayem, damai selalu. Tanpa gejolak politik yang keras. Kelompok ini
juga paham bahwa Jokowi harus dikawal hingga 2019. Karena itu, saya kira
pemerintah perlu berhati-hati menyikapinya," pungkas Hendri.

Pengamat Politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Siti Zuhro
menilai, ungkapan Minahasa Raya Merdeka yang muncul di sela aksi dukungan
sekelompok masyarakat Sulawesi Utara (Sulut) terhadap Ahok tidak bisa
dianggap gurauan politk biasa tanpa makna. Pemerintah harus segera
menyikapinya secara bijaksana, karena jika dibiarkan akan menjadi hal-hal
yang kurang baik bagi perjalanan bangsa ke depan. "Saya kira ajakan
'Minahasa Merdeka' bukanlah gurauan politik yang tak bermakna. Karena itu
harus direspons secara seksama, tangkas, akurat dan solutif," ujarnya.

Menurut Siti, dalam hal ini Gubernur Sulut Olly Dondokambey yang perlu
terlebih dahulu mengambil langkah solutif. Karena sebagaimana diatur dalam
Undang-Undang Nomor 23/2014 tentang Pemerintahan Daerah, gubernur mengemban
amanah sebagai wakil pemerintah pusat, bertanggung jawab terhadap jalannya
pemerintahan, keamanan dan stabilitas politik di daerah. "Jadi langkah
solutif penting, karena tuntutan-tuntutan yang intensif dan terus menerus
akan melahirkan ketidakpastian dan keriuhan yang tak menutup kemungkinan
bisa berubah menjadi tuntutan politik, seperti suara-suara yang mulai
menggaung 'Minahasa Merdeka," ucap wanita yang akrab disapa Mbak Wiwiek ini.

Selain itu, semua pihak menurut Mbak Titiek, juga perlu menyadari bahwa
untuk merawat Indonesia sebagai sebuah negara, perlu komitmen bersama
menjunjung empat konsensus dasar yaitu, Pancasila, UUD 1945, NKRI dan
Bhineka Tunggal Ika.

Wakil Sekretaris Jenderal Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Daniel Johan
mengatakan, keinginan mendirikan Minahasa Raya Merdeka harus menjadi
perhatian Presiden Jokowi. Presiden harus mengundang semua ketua umum
partai, tokoh agama, tokoh masyarakat untuk sama-sama meneduhkan suasana.
"Kami dorong presiden undang semuanya untuk meneduhkan suasana dan
tunjukkan kenegarawanan bersama untuk kecintaan terhadap Indonesia,"
katanya.

Daniel mengatakan, harus disepakati pula bahwa musuh utama bukan ada di
dalam negeri. Namun musuh bersama dan utama adalah kekuatan asing yang
merugikan dan melemahkan Indonesia. "Ini yang harus dihadapi bersama,"
tegas legislator asal Kalbar yang juga wakil ketua Komisi IV DPR itu.

Daniel melanjutkan, agenda besar mewujudkan kedaulatan dan kemandirian di
segala bidang sebagai fokus bersama bisa terwujudkan. "Dan itu bisa
berjalan kalau semua kekuatan bersatu. Kita harus rawat dan majukan
Indonesia dengan sebaik-baiknya secara bersama-sama," tandasnya.

Sebelumnya, di tengah aksi sejuta lilin untuk mendukung Ahok di Manado,
Rabu (10/5) lalu, bergema keinginan sebagian kalangan mendeklarasikan
Minahasa Raya Merdeka. Gema tersebut terus berlanjut di medsos, dengan
adanya ajakan referendum Minahasa Raya Merdeka di halaman Kantor Gubernur
Sulut, kemarin.

*Tangkap Habib Rizieq, Gandeng Interpol *

Polda Metro Jaya (PMJ) melihat Habib Rizieq Shihab tidak menunjukkan itikad
baik untuk memenuhi panggilan pemeriksaan dalam kasus dugaan percakapan
atau chat mesum dengan perempuan bernama Firza Husein. Karenanya, PMJ bakal
segera menggandeng Interpol untuk menangkap imam besar Front Pembela Islam
(FPI) itu.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Raden Prabowo Argo Yuwono
mengungkapkan, pihaknya sudah mengetahui keberadaan Rizieq di mancanegara.
Rizieq saat ini berada di Arab Saudi setelah sebelumnya mengunjungi
Malaysia. "Kami *step by step* sesuai aturan, kami lakukan sesuai aturan
dulu. Soal surat pemberitahuan (Rizieq, Red) tidak ada di Indonesia nanti
akan dikoordinasikan," katanya.

Untuk rencana menggandeng Interpol, lanjut Argo, hal itu akan dirapatkan
penyidik. Selanjutnya, nanti Polri akan mengirim red notice ke Interpol
tentang status Rizieq sebagai buron. ”Yang penting kami urus dulu hari ini
(kemarin, Red) atau besok (hari ini, Red). Setelah tidak ada di Indonesia
nanti akan dirumuskan langkah selanjutnya," tambah dia.

Yang pasti, kata Argo, Polri akan memanfaatkan Interpol untuk bisa
memulangkan Rizieq. "Kita kan juga punya interpol, makanya kita manfaatkan
semuanya," tegasnya.

Selain Rizieq, PMJ  juga akan menjemput paksa Ketua DPD FPI DKI Jakarta
Muchsin Alatas. Menurut Argo, penyidik sudah dua kali melayangkan surat
panggilan ke Muchsin. Namun, surat panggilan itu tak digubris. "Untuk
Muchsin sudah dua kali dipanggil, nanti dikeluarkan surat perintah membawa
dia juga,” tegasnya. *(gir/boy/jpnn/elf/jpg)*

Kirim email ke