Pada Selasa, 16 Mei 2017 19:02, "roeslan [email protected]
[GELORA45]" <[email protected]> menulis:
Teman-teman milis Yb, Tulisan ini yang seharusnya akan saya
postingkan, tapi karena adakesalahan tekan tombol secara tidak sengaja, maka
tulisan yang belum selesai itu meloncat terkirim dengan sendirinya. MELEK
PANCASILA MelekPancasila berarti harus memahamiprinsip-prinsip dasar Pansasila
yaitu: 1. Ketuhanan YangMaha Esa. Dalampidato membangun dunia kembali dimula
sidang umum P.B.B September 1960, Bungkarno mengatakan : bangsa saya meliputi
orang-orang yang menganut berbagaimacam agama, ada yang Islam, ada yang
Kristen, ada yang Buda dan ada yang tidakmenganut sesuatu agama. Meskipun
demikian untuk delapan puluh lima persen darisembilan dua juta rakyat kami,
bangsa Indonesia terdiri dari penganutIslam. Berpangkal pada kenyataan ini dan
mengingat akan bebeda-beda tetapibersatunya bangsa kami, kami menempatkan
Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai yangpaling utama dalam filsafah hidup
kami.Bahkan mereka yang tidak percaya kepadaTuhanpun, karena toleransinya yang
menjadi pembawaan, mengakui bahwakepercayaan kepada Yang Maha Kuasa merupakan
karateristik dari bangsanya,sehingga mereka menerima Sila pertama ini (kutiapan
selesai). Dari kutipantersebut diatas jelas bahwa Sila Pertama dari pancasila
mencerminkan adanya budayaPluralisme, dan budaya pluralisme inilah yang menjadi
kunci daripersatuan bangsa Indonesia dalam mendirikan Negara Kesatua Republik
Indonesia(NKRI. 2. Kemanusiaan yang adil dan beradab. Dalamsila yang kedua ini
terkandung nilai-nilai: Pengakuan terhadap adanya martabatmanusia dengan segala
hak asasinya yang harus dihormati oleh siapapun; Perlakuanyang adil terhadap
sesama manusia. 3. PersatuanIndonesia- Nasionalisme. Kekuatan yangmembakar dari
nasionalisme dan hasrat akan kemerdekaan selama mempertahankan danmemberi
kekuatan menjelang kegelapan penjajahan yang lama, dan selamaberkobarnya
perjuangan kemerdekaan. Dewasa ini kekuatan membakar itu masihtetap
menyala-nyala dan tetap memberi kekuatan hidup kepada bangsa Indonesia!.Akan
tetapi nasionalisme Indonesia bukanlah Chauvinisme. Bangsa
Indonesiasekali-kalai tidak menganggap dirinya lebih unggul dari bangsa-bangsa
lain 4. Kerakyatanyang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan
dalampermusyawarataan/perwakilan” atau Demokrasi, demokrasi tampaknyamerupakan
keadaan asli dari manusia, meskipun diubah untuk disesuaikan
dengankondesi-kondesi sosial yang khusus. Selama beribu-ribu tahun dari
peradabanIndonesia, telah mengembangkan bentuk-bentuk demokrasi Indonesia. 5.
“Keadilansosial bagi seluruh rakyat Indonesia” Pada keadilan Sosial ini,
dimaksudjuga kemakmuran sosial, karena dua masalah ini tidak dapat
dipisah-pisahkan. Lima sendi utama penyusun Pancasila adalah Ketuhanan Yang
MahaEsa, kemanusiaan yang adil dan beradab, kerakyatan yang dipimpin olehhikmat
kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, dan keadilan sosial bagiseluruh
rakyat Indonesia; ini tercantum pada paragraf ke-4 (Pembukaan) Undang-undang
Dasar 1945. Melek Pancasila harus denganprinsip-prinsip Pancasila tersebut
diatas, untuk membentuk suatukomunitas-nomunitas dalam masyarakat Indonesia
yang beradab, menuju pada suatumasyarakat yang demokratis, adil dan makmur,
bagi seluruh RakyatIndonesia termasuk pada generasi-generasi bangsa yang
berkelanjutan. Sejakberkuasanya Orde Baru Pancasila telah di modifikasi menjadi
KesaktianPancasila sebagai payung jukum bagi pelaksanaan pembantaian
massal(Genosida)1965-1966, sedangkan di era ``reformasi`` Ideologi Negara
Pancasila tidakmendepatkan perhatian secara khusus oleh rezim-rezim
``Reformasi`` yang silihberganti. Dampaknya adalah sedikit demi sedikit
bermunculangerakan-gerakan Islam konservatif varisan Masyumi, yangmenggunakan
Topeng Pancasila, tapi dalam perbuatannya menentang Pancasila.Misalnya MUI
ternyata hanya setuju judulnya saja, yaitu Pancasila, tapi dalamkenyataannya
MUI menolak keras pluralismeyang terkandung dalam jiwa Pancasila, dan
merupakan kunciutama bagi persatuan bangsa dalam suatu Negara Kesatuan Republik
Indonesia. Penomenakehahiran MUI dikuti oleah kelahiran FPI, FUI dll ; ormas
pendukung fatawa MUI,yang terkait dengan HTI, dampaknya yang kita saksikan
sekarang ini telah mengancam kehidupan NKRI , dengan adanya MUI,FPI FU dll,
karenaadanya MUI,FPI,FUI dll; ibarat duri dalamdaging didalam tubuh NKRI.
Mereka mengaku Pancasilais, tapi dalam kenyataannya mereka antiPancasila 1 juni
1945,karena mereka menyetujui sikap HTI, yang berkeinginan merubahNKRI menjadi
negara Syariah Islam, yang cenderung menegakkan negarakekalifahan, sesuai
dengan strategi HTI. Semakindalam kita mempelajari masalah-masalah utama
tentang bagaimana terbentunyaBangsa dan Tanah-air Indonesia, kita akan
menyadari bahwa ia tak dapatdimengerti secara terepisah, dari jutaan
manusia-manusia yang menempati ribuanpulau-pulau, yang berderet-deret dari
Sabang sampai Meraoke, yang bersatu padudalam berjuang bersama-sama melawan
penjajahan kolonialisme Belanda, adalahmerupakan satu kesatuan. Masalah–masalah
itu adalah merupakan masalahsistemik, artinya semuanya itu saling terkait dan
tergantung satu samalain. Sebagaicontoh misalnya: 1.Menstabilkan populasi
NKRI, hanya mungkin bila kemiskinan diseluruh NKRIdituntaskan. 2.Kepunahan
binatang dan spesis tumbuh-tumbuhan (pembakaranhutan-hutan) dalamslaka
besar-besaran akan berlanjut, selama NKRI terjerat utang luar negeri,yang
bertmpuk-tumpuk. 3.Kelangkaan sumber daya (kekayaan alam bumi Indonesia),
karena telah tergadaikandan terjual pada pihak asing, dan degradasi lingkungan,
ditambah denganpertambahan pesat populasi menimbulkan kerusakan
komunitas-komunitas lokal,dalam bentuk kekerasan etnis, suku, agama, yang sudah
menjadi ciri utama eraorde baru dan era ``reformasi``sekarang ini. 4.
Konflikkeagamaan, kepercayaan, ideologi dll, hanya mungkin distabilkan bila
masalah pluralismedi NKRI bisa di laksanakan sesuai dengan Pancasila 1 Juni
1945, UUD 45naskah asli. 5. Menstabilkankeadaan sosial, ekonomi dan politik di
NKRI hanya mungkin jika di negegeri inibisa menegakkan supermasi hukum, dan TNI
sudah benar-benar bisa bersifatprofesional, sehingga tidak lagi melakukan
keterlibatannya dalam politik,ekonomi, administrasi dan dunia usaha, dan
keterlibatannya dalam partai-partaipolitik, terutama partai-partai politik yang
beraliran Islam garis keras (MUI,FPI, wahabi, Ihwanul Muslimin dll).
6.Gagasan-gagasan untuk memisahkan diri dari NKRI akan terus berlanjut
jikastaknasi dan demokrasi yang ambruladul, terus berkelanjutan, dan
ditambahdengan semakin memaraknya budaya KKN di kalangan lembanga-lembanag
legislatif,eksekutif, judikatif dan dikalangan birokrat-birokrat pemerintahan.
Akhirnyamasalah–masalah tersebut diatas harus dilihat sebagai aspek-aspekyang
berbeda dari krisis tunggal, yakni terutama adalahsuatu krisis persepsi dalam
menerima dan menanggapi hakekatProklamasi Kemerdekaan NKRI 17 Agustus 1945,
yaitu kemerdekaan penuh, demokrasisejati, harga diri dan jati diri sebagai
bangsa yang mandiri dalam NKRI, UUD 45naskah asli dan Pancasila 1 Juni 1945
seperti yang sudah di uraikan diatas. Menurutpengamatan saya, krisis itu
berasal dari fakta bahwa sebagian besar kita, dankhususnya lembaga-lembaga
sosial kita yang besar, yaitu lembaga-lembaga politik(partai-partai politik),
lembaga pemerinthan yaitu legislatif, eksekutif danjudikatif, kebudayaan,
keagamaan, kemiliteran, kepolisian,kelompok–kelompok etnis, dan lembaga-lembaga
sosial yang lainnya(ormas-ormas), masih mendukung konsep-konsep feodalisme,
konservativisme,liberalisme, federalisme, kapitalisme, neloliberal, dan
fasisme, yang berakardari pandangan dunia yang sudah kedalu warso, yaitu
pandangan dunia mekanistik(Cartesian), dalam menerima dan menanggapi persoalan
terbentuknya bangsa dantanah air Indonesia, yaitu motto Bineka tunggal
Ika,Pancasila 1 Juni 1945, dan UUD 45 naskah asli. Sebagaicontoh misalnya :
Pandangankuno itu tercermin dalam menerima dan menaggapi terjadinya suatu
bangsa, yangmegatakan bahwa : Syarat terjadinya suatu bangsa adalah ``le
désird`etre ensamble´´ yaitu kehendak akan bersatu; Jadibangsa, adalah
gerombolan anusia-manusia yang mau bersatu, dan merasa dirinyabersatu
demikialah pandangan Ernes Renan ( 1823-1892). Atau Bangsaadalah satu persatuan
perangai yang timbul karena persamaan nasib.Demikian menurut pandangan Otto
Bauer (1881-1892), yangdikemukakan dalam bukunya yang berjudul
„DieNationalitäten frage“, dikatakan bahwa Ein Nation ist eineaus
Schiksalsgemeinschaft erwachsene Charaktergemeinschaft“. Duapandangan tersebut
adalah merupakan sebuah persepsi realis, yang tidak memperhatikantempat, yang
di diami oleh manusia-manusia, karena padasaat itu belum muncul paradigma baru,
yaitu Geopolitik (yang barumuncul padatahuan 1899 dari Rudoft Kjellen), yang
memberikan divinisi tentangadanya saling hubungan secara fundamental antara,
orang dantempat tinggalnya. Selaindari pada itu pandangan Ernes Renan, maupun
Otto van Bauer, dua-duanyatidak memadai untuk menangani hakekat kultural
Proklamasi Kemerdekaan 17Agustus 1945, yaitu Pembebasan, kemerdekaan penuh,
Demokrasi sejati,emansipasi, jatidiri sebagai bangsa yang mandiri didalam suatu
negara yangdidiami oleh beraneka ragam manusia-manusia, yang menganut
bermacam-macambudaya, etnis, kepercayaan, agama, keyakinan, adat dll; yang
mendiami deretranribuan pulau-pulau dari Sabang sampai Meraoke. Olehkarena itu
dalam kaitannya dengan Geolpolitik, maka dalam pidato lahirnyaPancasila 1 Juni
1945 Bung Karno mengatakan bahwa terjadinya suatu bangsa ituadalah :
Persatuanantara orang dan tempat, artinya ada hubungan yang saling tergantung
antaraorang dan tempatnya secara fundamental. ParadigmaGeopolitik dapat
dikategorikan sebagai suatu pandangan dunia holistik,ia memandang dunia
sebagai suatu keseluruhan yang terpadu, ketimbang suatukumpulan bagian-bagian
yang terpisah. Ia dapat juga disebut suatu pandanganekologis, jika istilah
`ekologis` juga dipakai dalam arti yang luas dan lebihdalam dari biasanya. Ada
dua macam kesadaran ekologi, yaitu ekologi dangkaldan ekologi dalam.
Ekologidangkal bersifat antroposentris, atau berpusat pada manusia. Memandang
manusiaberada di atas atau diluar alam, sebagi sumber nilai, dan alam
dianggapbersifat instrumental atau hanya memiliki nilai `guna`. Pandangan
ekologi dangkal tercermin dalam pandangan Ernes Renan, dan Otto Bauer, yang
hanya berpusat padamanusianya saja. Ini tercermin dalam definisinya Ernes
Renan, yang hanyamengutamakan perasaan manusianya saja „l`ame et le desir“,
dandifinisi Otto Bauer yang mengutamakan „gemeinschaft“ (hidupbersama) dan
perasaannya. Mereka hanya mengingat karakter tidak memikirkan tempat, tidak
memikirkan bumi, yaitu bumi yang di diami olehmanusia-manusia itu. Karena
mereka memandang manusia berada di atas ataudiluar alam. Geopolitik,dapat juga
digolongkan dalam kesadaranekologi dalam. Ekologi-dalam tidak memisahkan
manusia- atau apapun- darilingkungan alamiah. Benar-benar melihat bumi bukan
sebagai kumpulanobjek-objek yang terpisah, tetapi sebagai suatu jaringan yang
salingberhubungan dan saling tergantung satu sama lain secara fundamental.
Dalampidato lahirnya Pancasila 1 Juni 1945, Bung Karno telah mendivinisikan apa
yangdisebut bangsa menurut pandamgan dunia modern yaitu Geopolitik,
yangsenafas dengan pandangan ekologi dalam. Dalam konteks ini Bung
Karnomengatakan: Terjadinya suatau bangsa adalah : Persatuan antara orang dan
tempat, artinya ada hubungan yangsaling tergantung antara orang dan tempatnya
secara fundamental. Yangdimaksud oleh Bung Karno dengan tempat adalah
Tanah-air,dan tanah air itu adalah bumi yang didiami oleh manusia, yang dalam
konteks iniadalah bangsa Indonesia. Bumi yang ditempati oleh bangsa Indonesia
yangberaneka ragam etnisnya, budayannya, agamanya, kepercayaanna, dll;
yangmenempati kumpulan pulau-pulau yang terpisah-pisah, yang terbentang dari
Sabangsampai ke Meraoke, adalah merupakan jaringan fenomeana yang saling
berhubungandan salaing tergantung satu sama lain secara fundametal, sehingga
merupakansuatu kesatuan yaitu satu untaiandalam jaringan hehidupan, yang
berjuang serentak bersama-sama melawanpenjajahan kolonialisme Belanda. Kesatuan
seperti itu tercermin dalam Sumpahpemuda 28 Oktober 1928, yang medeklarasikan
Satu bangsa, satubahasa dan satu tanah air yaitu tanah air Indonesia.
Geopolitikmengakui adanya nilai intrinsik semua manusia yang hidup tersebar
dideretan ribuan pulau-pulau, tak lebih dari satu untaian dalamjaringan
kehidupan, artinya manusia-manusia dan bumi yang ditempatinya (tanahair), yang
berbentuk deretan ribuan pulau dari Sabang sampai Meraoke adalahmerupakan suatu
kesatuan, yang disebutBineka Tunggal Ika. Dalampidato lahirnya Pancasila 1
Juni 1945, Bung Karno menekankan bahwa NasionInonesia bukanlah sekedar satu
golongan orang yang hidup dengan ``le désird`etre ensamble´´ diatas daerah yang
kecil seperti Minagkabau, atau Madura,atau Jogya, atau Sunda, atau Bugis, tapi
bangsa Indonesia ialah seluruh manusia-manusiayang menurut Geopolitik, yang
telah ditentukan oleh Allah s.w.t. tinggaldikesatuannya semua pulau-pulau
Indonesia dari ujung Utara Sumatra sampai keIrian! S e l u r u h n y a!, karena
antara manusia yang lebih dari70.000.000 ini sudah ada (pada saat itu)``le
désir d`etreensamble´´, sudah terjadi „Charaktergemeinschaft“!Nation Indonesia,
bangsa Indonesia, umat Indonesia jumlah orangnya adalah70.000.000, tetapi
70.000.000 ini sudah menjadi satu, satu,sekalilagi satu! (tepuk tangan hebat).
[cuplikan dari pidato lahirnyaPancasila 1 Juni 1945, yang diucapkan oleh Bung
Karno, Presiden Pertama dariNKRI]. Jadi apa yang dinamakam Bineka tunggal ika
itu sudah menjadisuatu kenyataan!!! Memangdalam menerima dan memahami Bineka
Tunggal Ika itu, ada orang-orang yang polapikirnya keblinger, karena
dipengaruhi oleh keinginan-keinginan, sikap-sikappolitik, dan faktor-faktor
psikologis lainnya, sehingga terjadilah kesalahanpersepsi, dalam menerima dan
menaggapi Motto Bineka Tunggal Ika. Persepsidisini didifinisikan sebagai proses
yang kita gunakan untukmenginterprestasikan data-data sensoris. Data sensoris
itu sampai kepada kitamelalui lima indra kita. Hasil penelitian telah
mengidentifisikan dua jenispengaruh dalam persepsi, yaitu pengaruh struktural
dan pengaruh fungsional. Pengaruhstruktural pada persepsi berasal dari
aspek-aspek rangsangan, yangterpapar pada kita; sedangkan pengaruh fungsional
merupakanfaktor-faktor psikologis yang mempengaruhi persepsi, dan oleh karena
itumembawa subjektivitas ke dalam proses. Kecenderungan adanya persepsimanusia
yang dipengaruhi oleh keinginan-keinginan, siksp-siksp politik,dan
faktor-faktor psikologi lainnya, seperti yang sudah disinggungdiatas, secara
umum disebut Persepsi selektif. Menurut pengamatan saya diera ``reformasi``
ini persepsi selektiftelah merusak kehidupan Pancasila dan UUD 45, ini
tercermin dalam amandemen UUD45, yang telah menghasilkan produk UUD 1999-2002,
suatu UUD yang telahmengkhianati Pancasila dan UUD 45, Ini tercermin dalam
produk kebijakan ekonominya yang menolak ekonomi Pancasilayang berdasarkan pada
Pasal 33 UUD 45, bukan hanya menjadi rujukan kitabersama, tetapai juga menjadi
kekuatan untuk mewujutkan rekonsiliasi nasionaldalam pembangunan ekonomi bagi
kepentingan Rakyat banyak. Persepsiselektif juga nampak dalam pandangan yang
menolak kebinekaan, yang tercermindalam bukunya May jen TNI (Pur) Kivlan Zen,
yang berjudul `` Konflik danIntegrasi`` TNI-AD. Yang pada halaman 142-143,
disitu dinyatakanbahwa perlunya diadakan penafsiran ulang terhadap motto
``BinekaTunggal Ika``, dan Pasal 1 UUD 45, yakni Negara berbentuk
kesatuanmenjadi persatuan; Pembukaan UUD 45 dan lagu tanah airku,yang berbunyi
``tanah tumpah darahku´´ agar diubah menjadi ``tanahkuyang tercinta``. Sungguh
luar biasa sikap politik dan keinginan Mayjen TNI(Pur) Kivlan Zen ini!!!
Bisadipercaya bahwa persepsi Mayjen TNI (pur) Kivlan Zen, dalam menerina
danmenanggapi motto Bineka Tunggal Ika, jelas berlatar belakang politik
yangdidasari pada keinginannya untuk memecah belah kesatuan bangsaIndonesia;
seperti kehendak para penyeleweng-penyeleweng ProklamasiKemerdekaan 17 Agustus
1945, yang didukung secara tersembunyi oleh kaumkolonialisme, neokolonialisme,
Imperialisme, dan juga golongan neoliberalisme(neolib) diera ``reformasi``ini,
yang menhendaki adanya perubahan dari kesatuanmenjadi persatuan, artinya
merubah Negara KesatuanRepublik Indonesia (NKRI) menjadi Negara Federal a´la
van Mook. Pembentukannegara federal a´la van Mook telah ditentang keras oleh
mayoritas rakyatIndonesia penggerak revolusi Agustus 1945, karena federalisme
hakekatnya adalahmemecah belah potensi bangsa Indonesia yang berkepribadian
„TunggalIka“, dan federalisme itu adalah alat imperialisme dalammenjalankan
politik „divide et impera“ (politik pecahbelah). MeskipunMayjen TNI Kivlan Zen
nampaknya kukuh untuk mempertahankan kedaulatan RebiblikIndonesia, namun ia
menghendaki kelompok militer yaitu TNI/AD yang prokelompok Islam
konservatiflah yang memimpinnegara ini. Rencana ini, kata Kivlan, sudah disusun
sejak 1968. Bisa dipercayabahwa rencana seperti itu adalah sejajar dengan
tujuan Kartosouwiryo, yanghendak menrubah NKRI menjadi NII (Negara Islam
Indonesia), yang sesuai denganstrategi politik partai Masyumi yang sudah
dinyatakan sebagai partai terlarang,karena keterlibatannya dalah pemberontakan
PRRI/Permesta. Saat sekarang ini telah bermunculaan kehendak untukmerubah NKRI
menjadi Negara syariat Islam Indonesia, yang menganut sistenKeklifahan, yang
dipelopori oleh HTI. Kivlanmenyebut periode 1993-1998 adalah "ijo royo-royo".
Islamophobia terhadapIslam mulai berkurang. Panglima ABRI dijabat oleh Feisal
Tanjung. Bersamaandengan itu orang-orang yang pro terhadap Islam mulai naik
posisinya."Kitamenang selama lima tahun," ungkapnya. "Tapi reformasi 1998
akhirnyamenghancurkan semua," lanjutnya. Untuk melanjutkan perjuangannya,
Kivlanmengaku kini menjadi calon anggota legislatif.Partai yang dipilih adalah
PPP. "Partai ini bersejarah," katanya.( JAKARTA(voa-islam.com) - Saat
menyampaikan sambutannya dalamPengajian Politik Islam di Masjid Agung Al Azhar,
Jakarta Selatan, Ahad(29/9/2013), ) Nampaknya mayor Jenderal TNI (Purn.) Kivlan
Zen, mantan KasKostrad (Kepala Staf Komando Strategis Angkatan Darat), putera
Minangkabaukelahiran Langsa, Nanggroe Aceh Darussalam, 24 Desember 1946.
Seorang jenderalyang kontroversial namun teguh dalam prinsip jika terkait
kedaulatan R.I. Olehkarena itu bisa dipercaya bahwa Jenderal TNI (Purn.) Kivlan
Zen ingin meggantiNKRI menjadi Negara Federal yang berhaluan Islam, dimana
kelompokmiliter yaitu TNI/AD kelompok pro Islam konservatiflahyang memimpin
negara ini. Sejarahbangsa Indonesia telah mencatat bahwa Negara Kesatuan
Republik Indonesia sanggupdan mampu mengatasi berbagai gempuran dari luar,
yaitu gempuran darikaum kolonialisme, neokolonialisme dan Imeperialaisme:
Pengalaman sejarah initercermin dalam gempuran dari kolonialisme Belanda dalam
bentuk aksi militeryang ke dua, kita bangsa Indonesia, yang Bineka Tunggal Ika
tetap survive,dihantam oleh federalisme van Mook, yang hendak merobek-robek
dadakita, kita tetapsurvive. Dihantam oleh krisis ekonomi sebagai akibat
daripengambilalihan perusahaan-perusahaan Belanda, tat kala lautan-lautan
kitaboleh dikatakan sunyi-senyap karena bersih ditinggalkan oleh
kapal-kapalK.P.M., kita tetap survive. Dihantam oleh DI-TII,P.R.R.I-Permesta
dengan bantuannya dari luar, yaitu Imperialisme AS, kita tetapsurvive (culpikan
dari pidato Penemuan Kembali Revolusi kita,- PidatoPresiden Soekarno pada
tanggal 17 Agustus 1959). DenganProklamsi Kemerdekaan, yang terjadi pada
tanggal 17 Agustus 1945 keadaanmasyarakat kita tidak segera berubah dari
masyarakat warisan kolonial menjadimasyarakat seperti yang dicita-citakan oleh
Proklamasi Kemerdekaan itu.Kemerdekaan itu oleh Bung Karno disebut sebagai
jembatan emas untuk memasukimasyarakat yang kita kehendaki, yang sesuai dengan
cita-cita kemerdekaan, yangmasih harus terus dibina, oleh karena itu segala
potensi masih harusdikerahkan. Karena tindakan memproklamirkan kemerdekaan itu
ternyatabertentangan dengan kehendak sekutu (Inggris dan Amerika), sehingga
timbulpertentangan yang perlu diselesaikan. Sementara itu penjajah Belanda
tentu jugaberusaha memperkuat kedudukannya. NederlandschIndië Civil
Administratie atau Netherlands-IndiesCivil Administration (disingkat NICA),yang
dipimpin oleh Dr.H.J.van Mook, sebagai Lt.Gouverneur General telahberusaha
memecah belah kekuatan Rakyat Indonesia, yaitu dengan cara
membentuk``negera-negara`` federalisme a´la van Mook, yaitu NegaraIndonesia
Timur, Negara Sumatra Selatan, Negara Sumatra Utara, dan lain-lain ,sebagai
kelanjutan konferensi yang diselenggarakan di Den Pasar dan Malino(Sulawesi
Selatan). Njatalah bahwa mereka tidak mau mengerti apa yang kitanamakan
revolusi Agustus 1945. Modal pokok bagi setiap revolusi nasional
adalahmenentang imperialisme dan kolonialisme, menentangpenjajahan model baru
di era Globalisasi pasar bebas, pimpinan imperialisme AS;artinya kita harus
melakukan konsentrasi kekuatan nasionalbukan perpecahan nasional. Meskipun kita
menyetujui pemberian autonomi-daerahseluas-luasnya sesuai dengan Motto Bineka
Tunggal Ika, makafederalisme a´la van Mook, harus kita kikis-habis
selekas-lekasnya, oleh karenafederalisme a´la van Mook itu pada hakekatnya
adalah alat pemecahbelah kekuatan nasional. Jahatnya politik pemecah belah ini
ternyata sekalipada tahun 1950, dan mencapai klimaknya dalam pemberontakan
P.R.R.I.Permesta. Demikianlahdampak –dampak sitemik dari krisis Persepsi,yang
terjadi karena sebagian besar dikalanganbanggsa Indonesia nampaknya masih belum
Melek Pancasila. Sayangnya pemerintah yang mengklaim dirinya sebagai
pemerintahanreformasi, sampai sekarang belum pernah melakukan gerakan revolusi
mentalyang nyata, misalnya mengadakan Indoktrinasi Pancasila 1 Juni 1945,
terhadap semua Rakyat Indonesia, sebagai sarana untuk membangkitkan kesadaran
rakyatnya agar supayaMelek Pancsila. Roeslan. #yiv6103765512
#yiv6103765512 -- #yiv6103765512ygrp-mkp {border:1px solid
#d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px 0;padding:0 10px;}#yiv6103765512
#yiv6103765512ygrp-mkp hr {border:1px solid #d8d8d8;}#yiv6103765512
#yiv6103765512ygrp-mkp #yiv6103765512hd
{color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px
0;}#yiv6103765512 #yiv6103765512ygrp-mkp #yiv6103765512ads
{margin-bottom:10px;}#yiv6103765512 #yiv6103765512ygrp-mkp .yiv6103765512ad
{padding:0 0;}#yiv6103765512 #yiv6103765512ygrp-mkp .yiv6103765512ad p
{margin:0;}#yiv6103765512 #yiv6103765512ygrp-mkp .yiv6103765512ad a
{color:#0000ff;text-decoration:none;}#yiv6103765512 #yiv6103765512ygrp-sponsor
#yiv6103765512ygrp-lc {font-family:Arial;}#yiv6103765512
#yiv6103765512ygrp-sponsor #yiv6103765512ygrp-lc #yiv6103765512hd {margin:10px
0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}#yiv6103765512
#yiv6103765512ygrp-sponsor #yiv6103765512ygrp-lc .yiv6103765512ad
{margin-bottom:10px;padding:0 0;}#yiv6103765512 #yiv6103765512actions
{font-family:Verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}#yiv6103765512
#yiv6103765512activity
{background-color:#e0ecee;float:left;font-family:Verdana;font-size:10px;padding:10px;}#yiv6103765512
#yiv6103765512activity span {font-weight:700;}#yiv6103765512
#yiv6103765512activity span:first-child
{text-transform:uppercase;}#yiv6103765512 #yiv6103765512activity span a
{color:#5085b6;text-decoration:none;}#yiv6103765512 #yiv6103765512activity span
span {color:#ff7900;}#yiv6103765512 #yiv6103765512activity span
.yiv6103765512underline {text-decoration:underline;}#yiv6103765512
.yiv6103765512attach
{clear:both;display:table;font-family:Arial;font-size:12px;padding:10px
0;width:400px;}#yiv6103765512 .yiv6103765512attach div a
{text-decoration:none;}#yiv6103765512 .yiv6103765512attach img
{border:none;padding-right:5px;}#yiv6103765512 .yiv6103765512attach label
{display:block;margin-bottom:5px;}#yiv6103765512 .yiv6103765512attach label a
{text-decoration:none;}#yiv6103765512 blockquote {margin:0 0 0
4px;}#yiv6103765512 .yiv6103765512bold
{font-family:Arial;font-size:13px;font-weight:700;}#yiv6103765512
.yiv6103765512bold a {text-decoration:none;}#yiv6103765512 dd.yiv6103765512last
p a {font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv6103765512 dd.yiv6103765512last p
span {margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv6103765512
dd.yiv6103765512last p span.yiv6103765512yshortcuts
{margin-right:0;}#yiv6103765512 div.yiv6103765512attach-table div div a
{text-decoration:none;}#yiv6103765512 div.yiv6103765512attach-table
{width:400px;}#yiv6103765512 div.yiv6103765512file-title a, #yiv6103765512
div.yiv6103765512file-title a:active, #yiv6103765512
div.yiv6103765512file-title a:hover, #yiv6103765512 div.yiv6103765512file-title
a:visited {text-decoration:none;}#yiv6103765512 div.yiv6103765512photo-title a,
#yiv6103765512 div.yiv6103765512photo-title a:active, #yiv6103765512
div.yiv6103765512photo-title a:hover, #yiv6103765512
div.yiv6103765512photo-title a:visited {text-decoration:none;}#yiv6103765512
div#yiv6103765512ygrp-mlmsg #yiv6103765512ygrp-msg p a
span.yiv6103765512yshortcuts
{font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}#yiv6103765512
.yiv6103765512green {color:#628c2a;}#yiv6103765512 .yiv6103765512MsoNormal
{margin:0 0 0 0;}#yiv6103765512 o {font-size:0;}#yiv6103765512
#yiv6103765512photos div {float:left;width:72px;}#yiv6103765512
#yiv6103765512photos div div {border:1px solid
#666666;height:62px;overflow:hidden;width:62px;}#yiv6103765512
#yiv6103765512photos div label
{color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}#yiv6103765512
#yiv6103765512reco-category {font-size:77%;}#yiv6103765512
#yiv6103765512reco-desc {font-size:77%;}#yiv6103765512 .yiv6103765512replbq
{margin:4px;}#yiv6103765512 #yiv6103765512ygrp-actbar div a:first-child
{margin-right:2px;padding-right:5px;}#yiv6103765512 #yiv6103765512ygrp-mlmsg
{font-size:13px;font-family:Arial, helvetica, clean, sans-serif;}#yiv6103765512
#yiv6103765512ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}#yiv6103765512
#yiv6103765512ygrp-mlmsg select, #yiv6103765512 input, #yiv6103765512 textarea
{font:99% Arial, Helvetica, clean, sans-serif;}#yiv6103765512
#yiv6103765512ygrp-mlmsg pre, #yiv6103765512 code {font:115%
monospace;}#yiv6103765512 #yiv6103765512ygrp-mlmsg *
{line-height:1.22em;}#yiv6103765512 #yiv6103765512ygrp-mlmsg #yiv6103765512logo
{padding-bottom:10px;}#yiv6103765512 #yiv6103765512ygrp-msg p a
{font-family:Verdana;}#yiv6103765512 #yiv6103765512ygrp-msg
p#yiv6103765512attach-count span {color:#1E66AE;font-weight:700;}#yiv6103765512
#yiv6103765512ygrp-reco #yiv6103765512reco-head
{color:#ff7900;font-weight:700;}#yiv6103765512 #yiv6103765512ygrp-reco
{margin-bottom:20px;padding:0px;}#yiv6103765512 #yiv6103765512ygrp-sponsor
#yiv6103765512ov li a {font-size:130%;text-decoration:none;}#yiv6103765512
#yiv6103765512ygrp-sponsor #yiv6103765512ov li
{font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;}#yiv6103765512
#yiv6103765512ygrp-sponsor #yiv6103765512ov ul {margin:0;padding:0 0 0
8px;}#yiv6103765512 #yiv6103765512ygrp-text
{font-family:Georgia;}#yiv6103765512 #yiv6103765512ygrp-text p {margin:0 0 1em
0;}#yiv6103765512 #yiv6103765512ygrp-text tt {font-size:120%;}#yiv6103765512
#yiv6103765512ygrp-vital ul li:last-child {border-right:none
!important;}#yiv6103765512