Pada Selasa, 16 Mei 2017 19:02, "roeslan [email protected] 
[GELORA45]" <[email protected]> menulis:
 

        Teman-teman milis Yb,  Tulisan ini yang seharusnya akan saya 
postingkan, tapi karena adakesalahan tekan tombol secara tidak sengaja, maka 
tulisan yang belum selesai itu meloncat terkirim dengan sendirinya. MELEK 
PANCASILA MelekPancasila berarti harus memahamiprinsip-prinsip dasar Pansasila 
yaitu: 1. Ketuhanan YangMaha Esa. Dalampidato membangun dunia kembali dimula 
sidang umum P.B.B September 1960, Bungkarno mengatakan : bangsa saya meliputi 
orang-orang yang menganut berbagaimacam agama, ada yang Islam, ada yang 
Kristen, ada yang Buda dan ada yang tidakmenganut sesuatu agama. Meskipun 
demikian untuk delapan puluh lima persen darisembilan dua juta rakyat kami, 
bangsa Indonesia terdiri dari  penganutIslam. Berpangkal pada kenyataan ini dan 
mengingat akan bebeda-beda tetapibersatunya bangsa kami, kami menempatkan 
Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai yangpaling utama dalam filsafah hidup 
kami.Bahkan mereka yang tidak percaya kepadaTuhanpun, karena toleransinya yang 
menjadi pembawaan, mengakui bahwakepercayaan kepada Yang Maha Kuasa merupakan 
karateristik dari bangsanya,sehingga mereka menerima Sila pertama ini (kutiapan 
selesai). Dari kutipantersebut diatas jelas bahwa Sila Pertama dari pancasila 
mencerminkan adanya budayaPluralisme, dan budaya pluralisme inilah yang menjadi 
kunci daripersatuan bangsa Indonesia dalam mendirikan Negara Kesatua Republik 
Indonesia(NKRI. 2. Kemanusiaan yang adil dan beradab. Dalamsila yang kedua ini 
terkandung nilai-nilai: Pengakuan terhadap adanya martabatmanusia dengan segala 
hak asasinya yang harus dihormati oleh siapapun; Perlakuanyang adil terhadap 
sesama manusia. 3. PersatuanIndonesia- Nasionalisme. Kekuatan yangmembakar dari 
nasionalisme dan hasrat akan kemerdekaan selama mempertahankan danmemberi 
kekuatan menjelang kegelapan penjajahan yang lama, dan selamaberkobarnya 
perjuangan kemerdekaan. Dewasa ini kekuatan membakar itu masihtetap 
menyala-nyala  dan tetap memberi kekuatan hidup kepada bangsa Indonesia!.Akan 
tetapi nasionalisme Indonesia bukanlah Chauvinisme. Bangsa 
Indonesiasekali-kalai tidak menganggap dirinya lebih unggul dari bangsa-bangsa 
lain 4. Kerakyatanyang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan 
dalampermusyawarataan/perwakilan” atau Demokrasi, demokrasi tampaknyamerupakan 
keadaan asli dari manusia, meskipun diubah untuk disesuaikan 
dengankondesi-kondesi sosial yang khusus. Selama beribu-ribu tahun dari 
peradabanIndonesia, telah mengembangkan bentuk-bentuk demokrasi Indonesia. 5.  
“Keadilansosial bagi seluruh rakyat Indonesia” Pada keadilan Sosial ini, 
dimaksudjuga kemakmuran sosial, karena dua masalah ini tidak dapat 
dipisah-pisahkan.  Lima sendi utama penyusun Pancasila adalah Ketuhanan Yang 
MahaEsa, kemanusiaan yang adil dan beradab, kerakyatan yang dipimpin olehhikmat 
kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, dan keadilan sosial bagiseluruh 
rakyat Indonesia; ini tercantum pada paragraf ke-4 (Pembukaan) Undang-undang 
Dasar 1945. Melek Pancasila harus denganprinsip-prinsip Pancasila tersebut 
diatas, untuk membentuk suatukomunitas-nomunitas dalam masyarakat Indonesia 
yang beradab, menuju pada suatumasyarakat yang  demokratis, adil dan makmur, 
bagi seluruh RakyatIndonesia termasuk pada generasi-generasi bangsa yang 
berkelanjutan. Sejakberkuasanya Orde Baru Pancasila telah di modifikasi menjadi 
KesaktianPancasila  sebagai payung jukum  bagi pelaksanaan pembantaian 
massal(Genosida)1965-1966, sedangkan di era ``reformasi`` Ideologi Negara 
Pancasila tidakmendepatkan perhatian secara khusus oleh rezim-rezim 
``Reformasi`` yang silihberganti.  Dampaknya adalah sedikit demi sedikit 
bermunculangerakan-gerakan Islam konservatif varisan Masyumi, yangmenggunakan 
Topeng Pancasila, tapi dalam perbuatannya menentang Pancasila.Misalnya MUI 
ternyata hanya setuju judulnya saja, yaitu Pancasila, tapi dalamkenyataannya 
MUI menolak  keras pluralismeyang terkandung dalam jiwa Pancasila, dan 
merupakan kunciutama bagi persatuan bangsa dalam suatu Negara Kesatuan Republik 
Indonesia.   Penomenakehahiran MUI dikuti oleah kelahiran FPI, FUI dll ; ormas 
pendukung fatawa MUI,yang terkait dengan HTI, dampaknya yang kita saksikan 
sekarang ini telah mengancam kehidupan NKRI , dengan adanya MUI,FPI FU dll, 
karenaadanya MUI,FPI,FUI  dll; ibarat duri dalamdaging didalam tubuh NKRI. 
Mereka mengaku Pancasilais, tapi dalam kenyataannya mereka antiPancasila 1 juni 
1945,karena mereka menyetujui sikap HTI, yang berkeinginan merubahNKRI menjadi 
negara  Syariah Islam, yang cenderung menegakkan negarakekalifahan, sesuai 
dengan strategi HTI. Semakindalam kita mempelajari masalah-masalah utama 
tentang bagaimana terbentunyaBangsa dan Tanah-air Indonesia, kita akan 
menyadari bahwa ia tak dapatdimengerti secara terepisah, dari jutaan 
manusia-manusia yang menempati ribuanpulau-pulau, yang berderet-deret dari 
Sabang sampai Meraoke, yang bersatu padudalam berjuang bersama-sama melawan 
penjajahan kolonialisme Belanda, adalahmerupakan satu kesatuan. Masalah–masalah 
itu adalah merupakan masalahsistemik, artinya  semuanya itu saling terkait dan 
tergantung satu samalain.  Sebagaicontoh misalnya:   1.Menstabilkan populasi 
NKRI, hanya mungkin bila kemiskinan diseluruh NKRIdituntaskan.  2.Kepunahan 
binatang dan spesis tumbuh-tumbuhan (pembakaranhutan-hutan) dalamslaka 
besar-besaran akan berlanjut, selama NKRI terjerat utang luar negeri,yang 
bertmpuk-tumpuk. 3.Kelangkaan sumber daya (kekayaan alam bumi Indonesia), 
karena telah tergadaikandan terjual pada pihak asing, dan degradasi lingkungan, 
ditambah denganpertambahan pesat populasi menimbulkan kerusakan 
komunitas-komunitas lokal,dalam bentuk kekerasan etnis, suku, agama, yang sudah 
menjadi ciri utama eraorde baru dan era ``reformasi``sekarang ini. 4. 
Konflikkeagamaan, kepercayaan, ideologi dll, hanya mungkin distabilkan bila 
masalah pluralismedi NKRI bisa di laksanakan sesuai dengan Pancasila 1 Juni 
1945, UUD 45naskah asli. 5. Menstabilkankeadaan sosial, ekonomi dan politik di 
NKRI hanya mungkin jika di negegeri inibisa menegakkan supermasi hukum, dan TNI 
sudah benar-benar bisa bersifatprofesional, sehingga tidak lagi melakukan 
keterlibatannya dalam politik,ekonomi, administrasi dan dunia usaha, dan 
keterlibatannya dalam partai-partaipolitik, terutama partai-partai politik yang 
beraliran Islam garis keras (MUI,FPI, wahabi, Ihwanul  Muslimin dll). 
6.Gagasan-gagasan untuk memisahkan diri dari NKRI akan terus berlanjut 
jikastaknasi dan demokrasi yang ambruladul, terus berkelanjutan, dan 
ditambahdengan semakin memaraknya budaya KKN di kalangan lembanga-lembanag 
legislatif,eksekutif, judikatif dan dikalangan birokrat-birokrat pemerintahan. 
Akhirnyamasalah–masalah tersebut diatas harus dilihat sebagai aspek-aspekyang 
berbeda dari krisis tunggal, yakni terutama adalahsuatu krisis persepsi dalam 
menerima dan menanggapi hakekatProklamasi Kemerdekaan NKRI 17 Agustus 1945, 
yaitu kemerdekaan penuh, demokrasisejati, harga diri dan jati diri sebagai 
bangsa yang mandiri dalam NKRI, UUD 45naskah asli dan Pancasila 1 Juni 1945 
seperti yang sudah di uraikan diatas. Menurutpengamatan saya, krisis itu 
berasal dari fakta bahwa sebagian besar kita, dankhususnya lembaga-lembaga 
sosial kita yang besar, yaitu lembaga-lembaga politik(partai-partai politik), 
lembaga pemerinthan yaitu legislatif, eksekutif danjudikatif, kebudayaan, 
keagamaan, kemiliteran, kepolisian,kelompok–kelompok etnis, dan lembaga-lembaga 
sosial yang lainnya(ormas-ormas), masih mendukung konsep-konsep feodalisme, 
konservativisme,liberalisme, federalisme, kapitalisme, neloliberal, dan 
fasisme, yang berakardari pandangan dunia yang sudah kedalu warso, yaitu 
pandangan dunia mekanistik(Cartesian), dalam menerima dan menanggapi persoalan 
terbentuknya bangsa dantanah air Indonesia, yaitu motto Bineka tunggal 
Ika,Pancasila 1 Juni 1945, dan UUD 45 naskah asli.  Sebagaicontoh misalnya : 
Pandangankuno itu tercermin dalam menerima dan menaggapi terjadinya suatu 
bangsa, yangmegatakan bahwa : Syarat terjadinya suatu bangsa  adalah ``le 
désird`etre ensamble´´  yaitu  kehendak akan bersatu; Jadibangsa, adalah 
gerombolan anusia-manusia yang mau bersatu, dan merasa dirinyabersatu 
demikialah pandangan Ernes Renan ( 1823-1892). Atau Bangsaadalah satu persatuan 
perangai yang timbul karena persamaan nasib.Demikian menurut pandangan  Otto 
Bauer (1881-1892), yangdikemukakan dalam bukunya yang berjudul 
„DieNationalitäten frage“, dikatakan bahwa Ein Nation ist eineaus 
Schiksalsgemeinschaft erwachsene Charaktergemeinschaft“. Duapandangan tersebut 
adalah merupakan sebuah persepsi realis, yang tidak memperhatikantempat,  yang 
di diami oleh manusia-manusia, karena padasaat itu belum muncul paradigma baru, 
yaitu Geopolitik (yang barumuncul padatahuan 1899 dari Rudoft Kjellen), yang 
memberikan divinisi tentangadanya saling hubungan secara fundamental antara, 
orang dantempat tinggalnya. Selaindari pada itu pandangan Ernes Renan, maupun 
Otto van Bauer, dua-duanyatidak memadai untuk menangani hakekat kultural 
Proklamasi Kemerdekaan 17Agustus 1945, yaitu Pembebasan, kemerdekaan penuh, 
Demokrasi sejati,emansipasi, jatidiri sebagai bangsa yang mandiri didalam suatu 
negara yangdidiami oleh beraneka ragam manusia-manusia, yang menganut 
bermacam-macambudaya, etnis, kepercayaan, agama, keyakinan, adat dll; yang 
mendiami deretranribuan pulau-pulau dari Sabang sampai Meraoke. Olehkarena itu 
dalam kaitannya dengan Geolpolitik, maka dalam pidato lahirnyaPancasila 1 Juni 
1945 Bung Karno mengatakan bahwa terjadinya suatu bangsa ituadalah : 
Persatuanantara orang dan tempat, artinya ada hubungan yang saling tergantung 
antaraorang dan tempatnya secara fundamental.  ParadigmaGeopolitik dapat 
dikategorikan  sebagai suatu pandangan dunia holistik,ia memandang dunia 
sebagai suatu keseluruhan yang terpadu, ketimbang suatukumpulan bagian-bagian 
yang terpisah. Ia dapat juga disebut suatu pandanganekologis, jika istilah 
`ekologis` juga dipakai dalam arti yang luas dan lebihdalam dari biasanya. Ada 
dua macam kesadaran ekologi, yaitu ekologi dangkaldan ekologi dalam. 
Ekologidangkal bersifat antroposentris, atau berpusat pada manusia. Memandang 
manusiaberada di atas atau diluar alam, sebagi sumber nilai, dan alam 
dianggapbersifat instrumental atau hanya memiliki nilai `guna`. Pandangan 
ekologi dangkal tercermin dalam pandangan Ernes Renan, dan Otto Bauer, yang 
hanya berpusat padamanusianya saja. Ini tercermin dalam definisinya Ernes 
Renan, yang hanyamengutamakan perasaan manusianya saja „l`ame et le desir“, 
dandifinisi Otto Bauer yang mengutamakan „gemeinschaft“ (hidupbersama) dan 
perasaannya. Mereka hanya mengingat karakter tidak memikirkan tempat, tidak 
memikirkan bumi, yaitu bumi yang di diami olehmanusia-manusia itu. Karena 
mereka  memandang manusia berada di atas ataudiluar alam. Geopolitik,dapat juga 
digolongkan dalam kesadaranekologi dalam. Ekologi-dalam tidak memisahkan 
manusia- atau apapun- darilingkungan alamiah. Benar-benar melihat bumi bukan 
sebagai kumpulanobjek-objek yang terpisah, tetapi sebagai suatu jaringan yang 
salingberhubungan dan saling tergantung satu sama lain secara fundamental. 
Dalampidato lahirnya Pancasila 1 Juni 1945, Bung Karno telah mendivinisikan apa 
yangdisebut bangsa menurut  pandamgan dunia modern yaitu Geopolitik, 
yangsenafas dengan pandangan ekologi dalam. Dalam konteks ini Bung 
Karnomengatakan:  Terjadinya suatau bangsa adalah : Persatuan antara orang dan 
tempat, artinya ada hubungan yangsaling tergantung antara orang dan tempatnya 
secara fundamental. Yangdimaksud oleh Bung Karno dengan tempat adalah 
Tanah-air,dan tanah air itu adalah bumi yang didiami oleh manusia, yang dalam 
konteks iniadalah bangsa Indonesia. Bumi yang ditempati oleh bangsa Indonesia 
yangberaneka ragam etnisnya, budayannya, agamanya, kepercayaanna, dll; 
yangmenempati kumpulan pulau-pulau yang terpisah-pisah, yang terbentang dari 
Sabangsampai ke Meraoke, adalah merupakan jaringan fenomeana yang saling 
berhubungandan salaing tergantung satu sama lain secara fundametal, sehingga 
merupakansuatu kesatuan yaitu satu untaiandalam jaringan hehidupan,  yang 
berjuang serentak bersama-sama melawanpenjajahan kolonialisme Belanda. Kesatuan 
seperti itu tercermin dalam Sumpahpemuda 28 Oktober 1928, yang medeklarasikan 
Satu bangsa, satubahasa dan satu tanah air yaitu tanah air Indonesia. 
Geopolitikmengakui adanya nilai intrinsik semua manusia yang hidup tersebar 
dideretan ribuan pulau-pulau, tak lebih dari satu untaian dalamjaringan 
kehidupan, artinya manusia-manusia dan bumi yang ditempatinya (tanahair), yang 
berbentuk deretan ribuan pulau dari Sabang sampai Meraoke adalahmerupakan suatu 
kesatuan, yang  disebutBineka Tunggal Ika. Dalampidato lahirnya Pancasila 1 
Juni 1945, Bung Karno menekankan bahwa  NasionInonesia bukanlah sekedar satu 
golongan orang yang hidup dengan ``le désird`etre ensamble´´ diatas daerah yang 
kecil seperti Minagkabau, atau Madura,atau Jogya, atau Sunda, atau Bugis, tapi 
bangsa Indonesia ialah seluruh manusia-manusiayang menurut Geopolitik, yang 
telah ditentukan oleh Allah s.w.t. tinggaldikesatuannya semua pulau-pulau 
Indonesia dari ujung Utara Sumatra sampai keIrian! S e l u r u h n y a!, karena 
antara manusia yang lebih dari70.000.000 ini sudah ada  (pada saat itu)``le 
désir d`etreensamble´´, sudah terjadi „Charaktergemeinschaft“!Nation Indonesia, 
bangsa Indonesia, umat Indonesia jumlah orangnya adalah70.000.000, tetapi 
70.000.000 ini sudah menjadi satu, satu,sekalilagi satu! (tepuk tangan hebat). 
[cuplikan dari pidato lahirnyaPancasila 1 Juni 1945, yang diucapkan oleh Bung 
Karno, Presiden Pertama dariNKRI]. Jadi apa yang dinamakam Bineka tunggal ika 
itu sudah menjadisuatu kenyataan!!!  Memangdalam menerima dan memahami Bineka 
Tunggal Ika itu, ada orang-orang yang polapikirnya keblinger, karena 
dipengaruhi oleh keinginan-keinginan, sikap-sikappolitik, dan faktor-faktor 
psikologis lainnya, sehingga terjadilah kesalahanpersepsi, dalam menerima dan 
menaggapi Motto Bineka Tunggal Ika. Persepsidisini didifinisikan sebagai proses 
yang kita gunakan untukmenginterprestasikan data-data sensoris. Data sensoris 
itu sampai kepada kitamelalui lima indra kita. Hasil penelitian telah 
mengidentifisikan dua jenispengaruh dalam persepsi, yaitu pengaruh struktural 
dan pengaruh fungsional. Pengaruhstruktural pada persepsi berasal dari 
aspek-aspek rangsangan, yangterpapar pada kita; sedangkan pengaruh fungsional 
merupakanfaktor-faktor psikologis yang mempengaruhi persepsi, dan oleh karena 
itumembawa subjektivitas ke dalam proses.  Kecenderungan adanya persepsimanusia 
yang dipengaruhi oleh keinginan-keinginan, siksp-siksp politik,dan 
faktor-faktor psikologi lainnya, seperti yang sudah disinggungdiatas, secara 
umum disebut Persepsi selektif.  Menurut pengamatan saya diera ``reformasi`` 
ini persepsi selektiftelah merusak kehidupan Pancasila dan UUD 45, ini 
tercermin dalam amandemen UUD45, yang telah menghasilkan produk UUD 1999-2002, 
suatu UUD yang telahmengkhianati Pancasila dan UUD 45, Ini tercermin dalam 
produk kebijakan ekonominya yang menolak ekonomi Pancasilayang berdasarkan pada 
Pasal 33 UUD 45, bukan hanya menjadi rujukan kitabersama, tetapai juga menjadi 
kekuatan untuk mewujutkan rekonsiliasi nasionaldalam pembangunan ekonomi bagi 
kepentingan Rakyat banyak.  Persepsiselektif juga nampak dalam pandangan yang 
menolak kebinekaan, yang tercermindalam bukunya May jen TNI (Pur) Kivlan Zen, 
yang berjudul `` Konflik danIntegrasi``  TNI-AD. Yang pada halaman 142-143, 
disitu dinyatakanbahwa perlunya diadakan penafsiran ulang terhadap motto 
``BinekaTunggal Ika``, dan Pasal 1 UUD 45, yakni Negara berbentuk 
kesatuanmenjadi persatuan; Pembukaan UUD 45  dan lagu tanah airku,yang berbunyi 
``tanah tumpah darahku´´ agar diubah menjadi ``tanahkuyang tercinta``. Sungguh 
luar biasa sikap politik dan keinginan Mayjen TNI(Pur) Kivlan Zen ini!!! 
Bisadipercaya bahwa persepsi Mayjen TNI (pur) Kivlan Zen, dalam menerina 
danmenanggapi motto Bineka Tunggal Ika, jelas berlatar belakang politik 
yangdidasari pada keinginannya untuk memecah belah kesatuan bangsaIndonesia; 
seperti kehendak para  penyeleweng-penyeleweng ProklamasiKemerdekaan 17 Agustus 
1945, yang didukung secara tersembunyi oleh kaumkolonialisme, neokolonialisme, 
Imperialisme, dan juga golongan neoliberalisme(neolib) diera ``reformasi``ini, 
yang menhendaki adanya perubahan dari kesatuanmenjadi persatuan, artinya  
merubah Negara KesatuanRepublik Indonesia (NKRI) menjadi Negara Federal a´la 
van Mook.  Pembentukannegara federal a´la van Mook telah ditentang keras oleh 
mayoritas rakyatIndonesia penggerak revolusi Agustus 1945, karena federalisme 
hakekatnya adalahmemecah belah potensi bangsa Indonesia yang berkepribadian 
„TunggalIka“, dan federalisme itu adalah alat imperialisme dalammenjalankan 
politik „divide et impera“ (politik pecahbelah). MeskipunMayjen TNI Kivlan Zen 
nampaknya kukuh untuk mempertahankan kedaulatan RebiblikIndonesia, namun ia 
menghendaki kelompok militer yaitu TNI/AD yang  prokelompok Islam 
konservatiflah yang memimpinnegara ini. Rencana ini, kata Kivlan, sudah disusun 
sejak 1968. Bisa dipercayabahwa rencana seperti itu adalah sejajar dengan 
tujuan Kartosouwiryo, yanghendak menrubah NKRI menjadi NII (Negara Islam 
Indonesia), yang sesuai denganstrategi politik partai Masyumi yang sudah 
dinyatakan sebagai partai terlarang,karena keterlibatannya dalah pemberontakan 
PRRI/Permesta. Saat sekarang ini telah bermunculaan kehendak untukmerubah NKRI 
menjadi Negara syariat Islam Indonesia, yang menganut sistenKeklifahan, yang 
dipelopori oleh HTI.  Kivlanmenyebut periode 1993-1998 adalah "ijo royo-royo". 
Islamophobia terhadapIslam mulai berkurang. Panglima ABRI dijabat oleh Feisal 
Tanjung. Bersamaandengan itu orang-orang yang pro terhadap Islam mulai naik 
posisinya."Kitamenang selama lima tahun," ungkapnya. "Tapi reformasi 1998 
akhirnyamenghancurkan semua," lanjutnya. Untuk melanjutkan perjuangannya, 
Kivlanmengaku kini menjadi calon anggota legislatif.Partai yang dipilih adalah 
PPP. "Partai ini bersejarah," katanya.( JAKARTA(voa-islam.com) - Saat 
menyampaikan sambutannya dalamPengajian Politik Islam di Masjid Agung Al Azhar, 
Jakarta Selatan, Ahad(29/9/2013), ) Nampaknya mayor Jenderal TNI (Purn.) Kivlan 
Zen, mantan KasKostrad (Kepala Staf Komando Strategis Angkatan Darat), putera 
Minangkabaukelahiran Langsa, Nanggroe Aceh Darussalam, 24 Desember 1946. 
Seorang jenderalyang kontroversial namun teguh dalam prinsip jika terkait 
kedaulatan R.I. Olehkarena itu bisa dipercaya bahwa Jenderal TNI (Purn.) Kivlan 
Zen ingin meggantiNKRI menjadi Negara Federal yang berhaluan Islam, dimana 
kelompokmiliter yaitu TNI/AD  kelompok pro Islam konservatiflahyang memimpin 
negara ini.  Sejarahbangsa Indonesia telah mencatat bahwa Negara Kesatuan 
Republik Indonesia sanggupdan mampu mengatasi berbagai gempuran dari luar, 
yaitu gempuran darikaum kolonialisme, neokolonialisme dan Imeperialaisme: 
Pengalaman sejarah initercermin dalam gempuran dari kolonialisme Belanda dalam 
bentuk aksi militeryang ke dua, kita bangsa Indonesia, yang Bineka Tunggal Ika 
tetap survive,dihantam oleh federalisme van Mook, yang hendak merobek-robek 
dadakita, kita tetapsurvive. Dihantam oleh krisis ekonomi sebagai akibat 
daripengambilalihan perusahaan-perusahaan Belanda, tat kala lautan-lautan 
kitaboleh dikatakan sunyi-senyap karena bersih ditinggalkan oleh 
kapal-kapalK.P.M., kita tetap survive. Dihantam oleh DI-TII,P.R.R.I-Permesta 
dengan bantuannya dari luar, yaitu Imperialisme AS, kita tetapsurvive (culpikan 
dari pidato Penemuan Kembali Revolusi kita,- PidatoPresiden Soekarno pada 
tanggal 17 Agustus 1959).  DenganProklamsi Kemerdekaan, yang terjadi pada 
tanggal 17 Agustus 1945 keadaanmasyarakat kita tidak segera berubah dari 
masyarakat warisan kolonial menjadimasyarakat seperti yang dicita-citakan oleh 
Proklamasi Kemerdekaan itu.Kemerdekaan itu oleh Bung Karno disebut sebagai 
jembatan emas untuk memasukimasyarakat yang kita kehendaki, yang sesuai dengan 
cita-cita kemerdekaan, yangmasih harus terus dibina, oleh karena itu segala 
potensi masih harusdikerahkan. Karena tindakan memproklamirkan kemerdekaan itu 
ternyatabertentangan dengan kehendak sekutu (Inggris dan Amerika), sehingga 
timbulpertentangan yang perlu diselesaikan. Sementara itu penjajah Belanda 
tentu jugaberusaha memperkuat kedudukannya. NederlandschIndië Civil 
Administratie atau Netherlands-IndiesCivil Administration (disingkat NICA),yang 
dipimpin oleh Dr.H.J.van Mook, sebagai Lt.Gouverneur General telahberusaha 
memecah belah kekuatan Rakyat Indonesia, yaitu dengan cara 
membentuk``negera-negara`` federalisme a´la van Mook, yaitu NegaraIndonesia 
Timur, Negara Sumatra Selatan, Negara Sumatra Utara, dan lain-lain ,sebagai 
kelanjutan konferensi yang diselenggarakan di Den Pasar dan Malino(Sulawesi 
Selatan). Njatalah bahwa mereka tidak mau mengerti apa yang kitanamakan 
revolusi Agustus 1945. Modal pokok bagi setiap revolusi nasional 
adalahmenentang  imperialisme dan kolonialisme, menentangpenjajahan model baru 
di era Globalisasi pasar bebas, pimpinan imperialisme AS;artinya kita harus 
melakukan konsentrasi kekuatan nasionalbukan perpecahan nasional. Meskipun kita 
menyetujui pemberian autonomi-daerahseluas-luasnya sesuai dengan Motto Bineka 
Tunggal Ika, makafederalisme a´la van Mook, harus kita kikis-habis 
selekas-lekasnya, oleh karenafederalisme a´la van Mook itu  pada hakekatnya 
adalah alat  pemecahbelah kekuatan nasional. Jahatnya politik pemecah belah ini 
ternyata sekalipada tahun 1950, dan mencapai klimaknya dalam pemberontakan 
P.R.R.I.Permesta. Demikianlahdampak –dampak sitemik dari krisis Persepsi,yang 
terjadi karena sebagian besar dikalanganbanggsa Indonesia nampaknya masih belum 
Melek Pancasila. Sayangnya pemerintah yang mengklaim dirinya sebagai 
pemerintahanreformasi, sampai sekarang belum pernah melakukan gerakan revolusi 
mentalyang nyata, misalnya mengadakan Indoktrinasi Pancasila 1 Juni 1945, 
terhadap semua Rakyat Indonesia, sebagai sarana untuk membangkitkan kesadaran 
rakyatnya agar supayaMelek Pancsila. Roeslan.             #yiv6103765512 
#yiv6103765512 -- #yiv6103765512ygrp-mkp {border:1px solid 
#d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px 0;padding:0 10px;}#yiv6103765512 
#yiv6103765512ygrp-mkp hr {border:1px solid #d8d8d8;}#yiv6103765512 
#yiv6103765512ygrp-mkp #yiv6103765512hd 
{color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px 
0;}#yiv6103765512 #yiv6103765512ygrp-mkp #yiv6103765512ads 
{margin-bottom:10px;}#yiv6103765512 #yiv6103765512ygrp-mkp .yiv6103765512ad 
{padding:0 0;}#yiv6103765512 #yiv6103765512ygrp-mkp .yiv6103765512ad p 
{margin:0;}#yiv6103765512 #yiv6103765512ygrp-mkp .yiv6103765512ad a 
{color:#0000ff;text-decoration:none;}#yiv6103765512 #yiv6103765512ygrp-sponsor 
#yiv6103765512ygrp-lc {font-family:Arial;}#yiv6103765512 
#yiv6103765512ygrp-sponsor #yiv6103765512ygrp-lc #yiv6103765512hd {margin:10px 
0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}#yiv6103765512 
#yiv6103765512ygrp-sponsor #yiv6103765512ygrp-lc .yiv6103765512ad 
{margin-bottom:10px;padding:0 0;}#yiv6103765512 #yiv6103765512actions 
{font-family:Verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}#yiv6103765512 
#yiv6103765512activity 
{background-color:#e0ecee;float:left;font-family:Verdana;font-size:10px;padding:10px;}#yiv6103765512
 #yiv6103765512activity span {font-weight:700;}#yiv6103765512 
#yiv6103765512activity span:first-child 
{text-transform:uppercase;}#yiv6103765512 #yiv6103765512activity span a 
{color:#5085b6;text-decoration:none;}#yiv6103765512 #yiv6103765512activity span 
span {color:#ff7900;}#yiv6103765512 #yiv6103765512activity span 
.yiv6103765512underline {text-decoration:underline;}#yiv6103765512 
.yiv6103765512attach 
{clear:both;display:table;font-family:Arial;font-size:12px;padding:10px 
0;width:400px;}#yiv6103765512 .yiv6103765512attach div a 
{text-decoration:none;}#yiv6103765512 .yiv6103765512attach img 
{border:none;padding-right:5px;}#yiv6103765512 .yiv6103765512attach label 
{display:block;margin-bottom:5px;}#yiv6103765512 .yiv6103765512attach label a 
{text-decoration:none;}#yiv6103765512 blockquote {margin:0 0 0 
4px;}#yiv6103765512 .yiv6103765512bold 
{font-family:Arial;font-size:13px;font-weight:700;}#yiv6103765512 
.yiv6103765512bold a {text-decoration:none;}#yiv6103765512 dd.yiv6103765512last 
p a {font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv6103765512 dd.yiv6103765512last p 
span {margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv6103765512 
dd.yiv6103765512last p span.yiv6103765512yshortcuts 
{margin-right:0;}#yiv6103765512 div.yiv6103765512attach-table div div a 
{text-decoration:none;}#yiv6103765512 div.yiv6103765512attach-table 
{width:400px;}#yiv6103765512 div.yiv6103765512file-title a, #yiv6103765512 
div.yiv6103765512file-title a:active, #yiv6103765512 
div.yiv6103765512file-title a:hover, #yiv6103765512 div.yiv6103765512file-title 
a:visited {text-decoration:none;}#yiv6103765512 div.yiv6103765512photo-title a, 
#yiv6103765512 div.yiv6103765512photo-title a:active, #yiv6103765512 
div.yiv6103765512photo-title a:hover, #yiv6103765512 
div.yiv6103765512photo-title a:visited {text-decoration:none;}#yiv6103765512 
div#yiv6103765512ygrp-mlmsg #yiv6103765512ygrp-msg p a 
span.yiv6103765512yshortcuts 
{font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}#yiv6103765512 
.yiv6103765512green {color:#628c2a;}#yiv6103765512 .yiv6103765512MsoNormal 
{margin:0 0 0 0;}#yiv6103765512 o {font-size:0;}#yiv6103765512 
#yiv6103765512photos div {float:left;width:72px;}#yiv6103765512 
#yiv6103765512photos div div {border:1px solid 
#666666;height:62px;overflow:hidden;width:62px;}#yiv6103765512 
#yiv6103765512photos div label 
{color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}#yiv6103765512
 #yiv6103765512reco-category {font-size:77%;}#yiv6103765512 
#yiv6103765512reco-desc {font-size:77%;}#yiv6103765512 .yiv6103765512replbq 
{margin:4px;}#yiv6103765512 #yiv6103765512ygrp-actbar div a:first-child 
{margin-right:2px;padding-right:5px;}#yiv6103765512 #yiv6103765512ygrp-mlmsg 
{font-size:13px;font-family:Arial, helvetica, clean, sans-serif;}#yiv6103765512 
#yiv6103765512ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}#yiv6103765512 
#yiv6103765512ygrp-mlmsg select, #yiv6103765512 input, #yiv6103765512 textarea 
{font:99% Arial, Helvetica, clean, sans-serif;}#yiv6103765512 
#yiv6103765512ygrp-mlmsg pre, #yiv6103765512 code {font:115% 
monospace;}#yiv6103765512 #yiv6103765512ygrp-mlmsg * 
{line-height:1.22em;}#yiv6103765512 #yiv6103765512ygrp-mlmsg #yiv6103765512logo 
{padding-bottom:10px;}#yiv6103765512 #yiv6103765512ygrp-msg p a 
{font-family:Verdana;}#yiv6103765512 #yiv6103765512ygrp-msg 
p#yiv6103765512attach-count span {color:#1E66AE;font-weight:700;}#yiv6103765512 
#yiv6103765512ygrp-reco #yiv6103765512reco-head 
{color:#ff7900;font-weight:700;}#yiv6103765512 #yiv6103765512ygrp-reco 
{margin-bottom:20px;padding:0px;}#yiv6103765512 #yiv6103765512ygrp-sponsor 
#yiv6103765512ov li a {font-size:130%;text-decoration:none;}#yiv6103765512 
#yiv6103765512ygrp-sponsor #yiv6103765512ov li 
{font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;}#yiv6103765512 
#yiv6103765512ygrp-sponsor #yiv6103765512ov ul {margin:0;padding:0 0 0 
8px;}#yiv6103765512 #yiv6103765512ygrp-text 
{font-family:Georgia;}#yiv6103765512 #yiv6103765512ygrp-text p {margin:0 0 1em 
0;}#yiv6103765512 #yiv6103765512ygrp-text tt {font-size:120%;}#yiv6103765512 
#yiv6103765512ygrp-vital ul li:last-child {border-right:none 
!important;}#yiv6103765512 

   

Kirim email ke