https://bisnis.tempo.co/read/news/2017/05/17/087875939/bi-utang-luar-negeri-indonesia-
triwulan-i-2017-naik-2-9-persen?BeritaUtama&campaign=BeritaUtama_Click_3
BI: Utang Luar Negeri Indonesia
Triwulan I 2017 Naik 2,9 Persen
Rabu, 17 Mei 2017 | 08:02 WIB
* share facebook <javascript:void(0)>
* share twitter <javascript:void(0)>
* share google+ <javascript:void(0)>
* share pinterest <javascript:void(0)>
BI: Utang Luar Negeri Indonesia Triwulan I 2017 Naik 2,9 Persen
TEMPO/Nita Dian
*TEMPO.CO*, *Jakarta* - Bank Indonesia menyatakan utang luar negeri
<https://bisnis.tempo.co/read/news/2017/04/18/090866983/bi-utang-luar-negeri-per-februari-2017-tumbuh-melambat>Indonesia
pada akhir triwulan I pada 2017 mencapai US$ 326,3 miliar atau tumbuh
2,9 persen yoy. Jumlahnya meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya
yang sebesar 2 persen yoy.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Tirta Segara mengatakan
rasio ULN Indonesia terhadap produk domestik bruto (PDB) relatif stabil
di kisaran 34 persen seperti pada akhir triwulan IV 2016. "Jika
dibandingkan dengan triwulan I 2016, rasio ULN menurun yaitu sebesar 37
persen," kata dia seperti dilansir keterangan tertulis, Selasa, 16 Mei 2017.
Berdasarkan kelompok peminjam, peningkatanutang luar negeri
<https://bisnis.tempo.co/read/news/2017/02/17/087847725/utang-luar-negeri-ri-akhir-2016-mencapai-us-317-miliar>dipengaruhi
kontraksi pertumbuhan utang luar negeri swasta yang lebih kecil di
triwulan I 2017 yaitu sebesar -3,6 persen yoy. Triwulan sebelumnya,
utang luar negeri swasta mencapai -5,5 persen yoy. Nilai utang luar
negeri swasta mencapai US$ 159,9 miliar.
*Baca:* Peraturan BI Diterapkan, Utang Luar Negeri Swasta Turun
<https://m.tempo.co/read/news/2017/03/07/087853575/peraturan-bi-diterapkan-utang-luar-negeri-swasta-turun>
Tirta mengatakan posisi utang luar negeri swasta pada akhir triwulan I
tahun ini terkonsentrasi di sektor keuangan, industri pengolahan,
pertambangan, serta listrik, gas, dan air bersih. Pangsa utang luar
negeri keempat sektor tersebut terhadap total utang luar negeri swasta
mencapai 76,5 persen.
Pertumbuhan tahunan utang luar negeri sektor industri pengolahan dan
sektor listrik, gas dan air bersih meningkat dibandingkan dengan
triwulan IV 2016, sementara utang luar negeri sektor pertambangan dan
sektor keuangan masih mengalami kontraksi pertumbuhan.
Utang luar negeri sektor publik pun tumbuh melambat dari 11 persen yoy
pada triwulan sebelumnya menjadi 10 persen yoy. Jumlahnya tercatat
sebesar US$ 166,5 miliar. Rasio utang luar negeri sektor publik mencapai
51 persen dari total utang luar negeri.
*Simak:* BI: Pembangunan Indonesia Masih Bergantung pada Utang Luar
Negeri
<https://bisnis.tempo.co/read/news/2016/10/24/087814602/bi-pembangunan-indonesia-masih-bergantung-pada-utang-luar-negeri>
Berdasarkan jangka waktu asal, pertumbuhan utang luar negeri jangka
panjang melambat. Tirta mengatakan posisi utang luar negeri jangka
panjang yang mendominasi utang luar negeri Indonesia pada akhir triwulan
I 2017 tercatat sebesar US$ 282,4 miliar atau 86,5 persen dari total
utang luar negeri Nilainya tumbuh 1,1 persen yoy atau sedikit melambat
dibandingkan triwulan IV 2016 yang tumbuh sebesar 1,5 persen yoy.
Sementara itu pertumbuhan utang luar negeri jangka pendek meningkat.
Pada akhir triwulan I 2017, nilainya sebesar US$ 43,9 miliar atau 13,5
persen dari total utang luar negeri. Utang tumbuh 16,3 persen yoy atau
meningkat dibandingkan dengan triwulan IV 2016 yang tumbuh sebesar 6,0
persen yoy.
Tirta mengatakan rasio utang jangka pendek terhadap cadangan devisa
sedikit meningkat dibandingkan triwulan IV 2016. Jumlahnya naik dari
35,3 persen pada triwulan IV 2016 menjadi 36,1 persen pada triwulan I 2017.
Menurut Tirta, Bank Indonesia memandang perkembangan utang luar negeri
pada triwulan I 2017 tetap sehat. "Namun terus mewaspadai risikonya
terhadap perekonomian nasional," katanya.
Bank Indonesia akan terus memantau perkembangan utang luar negeri,
khususnya utang luar negeri
<https://bisnis.tempo.co/read/news/2017/01/16/090836637/bi-utang-luar-negeri-turun-ini-pemicunya>sektor
swasta. "Ini untuk memberikan keyakinan bahwa utang luar negeri dapat
berperan secara optimal dalam mendukung pembiayaan pembangunan tanpa
menimbulkan risiko yang dapat memengaruhi stabilitas makroekonomi," ujarnya.
*VINDRY FLORENTIN*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*