Uraian bung Roeslan yang dilandasi analisa atas perkembangan perekonomian sistim di Indonesia yang secara real tidak mengabdi rakyat ini, perlu sekali difahami. Dengan demikian kita tidak hanya mengeluh, kecewa apalagi pesimis memandang perkembangan selanjutnya, tetapi mampu dengan jernih melihat saling hubungan peranan ilmu berfikir dan peranan pelaksanaannya. Karena manusia bertindak sesuai dengan apa yang difikirkannya. Senantiasa mencari jawaban pertanyaan: untuk apa saya bertindak. Untuk kepentingan penguasa, kepentingan pengusaha atau kepentingan rakyat.
Salam. Lusi.- Angetan Thu, 18 May 2017 23:21:22 +0200 schrieb "roeslan [email protected] [nasional-list]" <[email protected]>: > REFLEKSI : Sejak semula dimulainya pemerintahan Jokowi saya sudah > menagnjualiosis bung Roeslan ini perlu sekali Halln hal-hal antara > lain seperti brikut.Kita harus memilih Urgensi bukan gengsi, artinya > bukan memilih High-technologi, yaitu glamor-glamor teknologi; tapi > memilih Urgensi yaitu membangun Kecerdasan kehidupan bangsa , yang > berarti menaikkan derajat kehidupannya sebagai bagian dari SDM, > meningkatkan kemampuan pikiran dan kemampuan budaya, menghapus > sikap-sikap inlander, yang penuh dengan minderwaardigheidscomplex. > Jadi bukan tehnologinnya yang pertama harus kita bangun tapi > Rakyat-lah yang harus kita bangun, berarti manusianya yang harus kita > bangun. > > > > Tapi sanyangnya rezim Jokowi tidak memilih itu, yang dipilih adalah > Gengsi. Jadi tidak heran jika bangsa Indonesia ketinggalan Zaman, > karena Rezim Jokowi sejak semula sangat getol mengejar gengsi. Ini > tercermin dari kebijakannya yang menggantungkan dirinya pada Utang > dari negara-negara lain dalam konteks pembangunan High-technologi, > seperti kereta cepat, pabrik-pabik, gedung-gedung tinggi pencakar > lannghit dll. Bukannya meningkatkan SDM, meningkatkan kemampuan > pikiran dan kemampuan budaya bangsa Indonesia, agar supaya bisa > meraih posisinya sperti negara-negara maju yang ada sekarang ini. > > > > Harus diketahui bahwa adanya negara-negara maju yang ada sekarang ini > diawali dengan reformasi sosial yang fundamental atau mendasar dalam > berbagai aspek. Reformasi sosial yang mendasar telah mendahului > perkembangan ekonomi diseluruh negara-negara maju yang ada sekarang > ini. Tidak ada satupun dari negara maju yang ada sekarang ini, mulai > dari kawasam Amerika Utara, Eropa Barat, dan Timur jauh yang berhasil > meraih posisinya seperti sekarang ini, tanpa melalui proses > perombakan tatanan sosial-ekonomi didalam negeri. Adapun tatanan > sosoal-ekonomi yang secara mendasar dirombak itu adalah struktur > sosial yang pincang yang merefleksikan dirinya dalam dialektik > hubungan ekonomi yang eksploitatif, yang menghasilkan apa yang > disebut``renten ekonomi`` ditangan sekelompok anggota masyarakat, > yang di era rezim Jokowi adalah kelompok Oligarki ekonomi. > > Dampaknya adalah gencarnya apa yang diutarakan strategi > Mega-Infrastruktur yang bersandar pada utang luar negeri,kemungkinan > besar, tidak akan mencapai sasarannya dalam kaitannya dengan > pemerataan pembangunan, selama basis sosial masih didominasi oleh > elemen-elemen yang memblokir proses emansipasi sosial yang luas. > Karena struktur atas yaitu pelaku ekonomi yang melakukan > kegiatan-kegiatan pencarian dan penumpukan rente ekonomi, akan > berdampah sistemik terhadap pembangunan ekonomi. > > > > Mengapa Indonesia terlihat ketinggalan Zamam dalam IPTEK? > > > > Sampai sekarang saya belum yakin bahwa strategi industrialisasi yang > dibangun oleh rezim Jokowi yang berdasarkan pada utang luarnegeri > dapat membawa Indonesia kearah pembangunan ekonomi yang adil untuk > seluruh rakyat Indonesia. Juga sampai sekarang saya belum yakin bahwa > akumulasi humam capital yang bermutu yang juga melandasi strtegi > industrialisasi ini dapat meluas secara effektif sehingga dapat > menimbulkan spil-overs dalam ekonomi. Pesimisme ini didasarkan atas > kenyataan bahwa hingga kini selama 2 tahu lebih Jokowi meminpin > negeri ini, Indonesia belum menjalankan TRISAKTI BUNG KARNO, sebagai > sarana untuk melaksanakan reformasi sosial yang mendasar, seperti > yang sudah diutarakan diatas, sebagai sarana yang mutlak bagi > emansipasi yang massif. > > > > Unit-unit ekonomi yang melakukan kegiatan-kegiatan pencarian, dan > penumpukan renten ekonomi, yang intensitas cengkeramannya cukup > tinggi dalam realitas masyarakat kita, tidak akan dapat dirangsang > untuk melakukan akkumulasi human capital yang bermutu. Oleh karena > keberhasilan unit-unit ekonomi baik yang domestik maupun asing, > hampir sepenuhnya ditentukan oleh pemanfaattan socially unproductive > human capital dengan bayaran rendah . > > > > Jadi Pak Jokowi jangan mengeluh jika negara lain berbicara Ruang > Angkasa, dan kita sudah ketinggalan jaman, karena Indonesia yang > Merdeka sejak jamannya Orde sampai saat ini telah mejadi Negara > Jajahan Model Baru, Penjajahnya adalah kaum kapitalis Neoliberal yang > sudah menggelobal dibawah pimpimpinan Imperialisme Amerika Serikat. > Dampaknya adalah Indonesia terus menjadi pemasok surplus ekonomi yang > setia pada pihak asing sehingga kemajuan IPTEK terhambat. > > > > Roeslan > > > > > > > > Von: [email protected] [mailto:[email protected]] > Gesendet: Donnerstag, 18. Mai 2017 10:59 > An: [email protected]; [email protected]; > [email protected] Betreff: [temu_eropa] Jokowi > lisis bung Roeslan ini baik seklai difahami. 'Gregetan', Negara Lain > Bicara Ruang Angkasa, Kita Berkutat Demo, Fitnah, Hujat > > > > > > > > > > > > http://nasional.kompas.com/read/2017/05/18/14184671/jokowi.gregetan.negara.lain.bicara.ruang. > > angkasa.kita.berkutat.demo.fitnah.hujat > > > Jokowi 'Gregetan', Negara Lain Bicara Ruang > > > Angkasa, Kita Berkutat Demo, Fitnah, Hujat > > > Fabian Januarius Kuwado > > Kompas.com - 18/05/2017, 14:18 WIB > > cid:[email protected] > > Presiden Joko Widodo saat berpidato di acara pembukaan Rapat > Koordinasi Nasional Pengawasan Internal Pemerintah Tahun 2017 di > Istana Negara, Kamis (18/5/2017).(Fabian Januarius Kuwado) > > JAKARTA, KOMPAS.com - Presiden Joko Widodo 'gregetan' terhadap > hal-hal yang tidak produktif. > > Ia menyerukan peningkatan disiplin dan etos kerja, baik di birokrasi > pemerintahan atau masyarakat. > > Dalam pembukaan Rapat Koordinasi Nasional Pengawasan Internal > Pemerintah Tahun 2017 di Istana Negara, Kamis (18/5/017) siang, > Jokowi mengatakan, dunia berubah sedemikian cepatnya akibat teknologi. > > "Baru kita belajar internet, sudah ganti ke mobile internet. Mobile > internet kita baru 'apa sih ini?' ganti lagi artificial intelegence," > ujar Jokowi. > > "Kita belum rampung belajar satu, sudah berubah ke yang lain. Inilah > yang sering saya katakan, perubahan sangat cepat sekali karena > teknologi," lanjut dia. > > > > (baca: Jokowi: Kalau PKI Nongol, Gebuk Saja > <http://nasional.kompas.com/read/2017/05/17/16433321/jokowi.kalau.pki.nongol.gebuk.saja> > ) > > Jokowi kemudian mencontohkan lagi tokoh Elon Musk yang sudah > mengembangkan mobil masa depan, teknologi hyperloop serta pemanfaatan > ruang angkasa bagi manusia. > > "Bagaimana dia sudah mengelola ruang angkasa agar berguna bagi > manusia. Kita masih berkutat pada hal-hal yang tidak produktif. > Urusan demo, urusan fitnah, urusan hujat menghujat yang tidak > produktif," ujar Jokowi. > > "Kita selalu mengembangkan negative thinking kita kepada yang lain, > selalu su'udzon kepada yang lain. Fitnah, kabar bohong. Apakah ini > mau diterus-teruskan?" lanjut dia.\ > > (baca: Jokowi Sebut Dua Kepentingan Panaskan Situasi Menuju Pemilu > <http://nasional.kompas.com/read/2017/05/17/17463571/jokowi.sebut.dua.kepentingan.panaskan.situasi.menuju.pemilu.2019> > 2019) > > Presiden juga menyinggung mengenai kinerja kementeriannya yang > mengurus nelayan dan petani. > > "Nelayan, misalnya, bagaimana kita membawa mereka ke off shore. Aqua > culture, misalnya. Petani juga kita bawa ke modern. Kita hanya terus > menerus, masalah irigasi masih enggak rampung-rampung. Masalah benih > enggak rampung-rampung. Nelayan masalah cantrang enggak > rampung-rampung. Kita mau ke mana?" ujar Jokowi. > > Jokowi menyerukan kebangkitan disiplin nasional serta etos kerja, > baik di birokrasi pemerintah atau masyarakat. > > "Inilah yang harus kita bangkitkan. Disiplin nasional. Etos kerja. > Harus kita ubah. Mindset kita juga harus kita ubah. Enggak bisa kita > seperti yang kemarin-kemarin. Saya sudah gregeten betul dengan > masalah-masalah yang tidak produktif itu," ujar Jokowi. > > PenulisFabian Januarius Kuwado > > EditorSandro Gatra > > Berita Terkait > > Jokowi, > <http://nasional.kompas.com/read/2017/05/17/20045631/jokowi.dongeng.dan.masa.depan.anak-anak.> > Dongeng dan Masa Depan Anak-anak... > > Jokowi > <http://nasional.kompas.com/read/2017/05/17/19091701/jokowi.tepati.janji.setiap.tanggal.17.gratis.kirim.buku.di.kantor.pos> > Tepati Janji, Setiap Tanggal 17 Gratis Kirim Buku di Kantor Pos > > Video > <http://nasional.kompas.com/read/2017/05/17/18122101/video.saat.jokowi.mendongeng.lutung.kasarung.> > Saat Jokowi Mendongeng "Lutung Kasarung"... > > Jokowi: > <http://nasional.kompas.com/read/2017/05/17/18044751/jokowi.perppu.no.1.2017.agar.indonesia.tak.masuk.negara.ecek-ecek> > Perppu No 1/2017 agar Indonesia Tak Masuk Negara Ecek-ecek > > Mendikbud: > <http://nasional.kompas.com/read/2017/05/17/18500031/mendikbud.pak.jokowi.tidak.kalah.dengan.pendongeng.profesional> > Pak Jokowi Tidak Kalah dengan Pendongeng Profesional > > > > > > > > > > > >
