Mengapa kok menggunakan istilah Hari Move On Nasional? Apa kata-kata Hari Kebangkitan Nasional yang selama ini didengungkan masih kurang patut untuk dihargai? Dengan menggunakan istilah Hari Move On Nasional ini kok rasanya yang mengucapkan itu masih memiliki jiwa kintel mengabdi imperialisme.
Am Sat, 20 May 2017 16:07:08 +0800 schrieb "'Chan CT' [email protected] [GELORA45]" <[email protected]>: > Selamat Hari Move On Nasional > > -------------------------------------------------------------------------------- > > respati wasesa > > Sabtu 20 Mei 2017 - 06:44 > > https://kumparan.com/respati-wasesa/selamat-hari-move-on-nasional > > > > Story ini dari user, isi di luar tanggung jawab redaksi kumparan > > Apa yang sebenarnya terjadi pada 20 Mei, sehingga kita menyebutnya > sebagai kebangkitan nasional? > > > > > > > 20 Mei --tepatnya 20 Mei 1908-- hanyalah sebuah tanggal berdirinya > Boedi Oetomo: organisasi pribumi di Hindia Belanda yang > keningkrat-ningratan dan akhirnya mengalami pingsan berkepanjangan. > Para pemuda terpelajar yang mendirikannya tersingkir, dan digantikan > para pembesar. Bagaimana kita mendasarkan kepingsanan ini menjadi > sebuah kebangkitan? > > Akhirnya kita mesti kembali kepada pameo lama: sejarah memang > dibentuk sesuai selera penguasa. Bung Karno, yang gandrung pada > simbol-simbol angka, menjadikan 20 Mei sebagai Hari Kebangkitan > Nasional pada tahun 1948. Tujuannya tentu sangat politis. > > Lima tahun terakhir setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia, Belanda > dan sekutunya masih menginginkan berkuasa. Sementara, di dalam negeri > kita, pertikaian antartokoh terus meluas--ini membuat Indonesia > rentan mengalami perpecahan dan pada akhirnya revolusi terancam tidak > selesai. > > Sebagai seorang yang ambisius dengan gagasan persatuan, Bung Karno > ingin rakyat Indonesia mendapatkan asupan semangat tiap kali > menapaktilasi masa lalu. Tapi, toh, kita tidak bisa membaca sejarah > hanya dengan mengingat tanggal dan nama-nama. Sejarah, bagaimana pun, > punya duduk perkara sendiri pada masanya. > > Duduk perkara mengenai kebangkitan ini dijelaskan oleh Bung Karno > dengan sangat bagus dalam otobiografinya. Kalau frasa kebangkitan > terlalu berat, saya sarankan gunakan move on: sebuah istilah yang > sering berkaitan dengan mantan. Bedanya, ini bukan gerakan melupakan > mantan kekasih, lho! > > Bung Karno ingin kita beranjak, bergerak meninggalkan penjajahan, > lekas move on. Tapi itu ternyata tidak mudah, bahkan setelah > Indonesia sudah merdeka. Salah satu kisah yang dicurhatkannya adalah > soal panganan. Di dalam sebuah momen di istana, ia marah ketika > mengetahui menu yang disajikan untuk perjamuan adalah panganan Eropa. > > “Kita mempunyai panganan enak kepunyaan kita sendiri, kataku dengan > marah. Mengapa tidak itu saja dihidangkan? 'Maaf, Pak,' kata mereka > dengan penyesalan, 'Tentu bikin malu kita saja. Kami rasa orang Barat > memandang rendah pada makanan kita yang melarat.' Ini adalah suatu > pemantulan kembali dan pada jaman di mana Belanda masih berkuasa." > > Imperialisme memang telah membawa dampak yang buruk sekali. Tidak > hanya membuat orang-orang di negeri jajahan menderita, tetapi > imperialisme juga menghancurkan mentalnya, mencompang-campingkan > jiwanya, dan mencabut mereka dari akar kebudayaannya. > > "Mereka mengambil kekayaan kami, mengikis kepribadian kami dan > musnalah putra-putri harapan bangsa dari suatu bangsa yang besar yang > pandai melukis, mengukir, membuat lagu, menciptakan tari. Kami tidak > lagi dikenal oleh dunia luar, kecuali oleh penghisap‐penghisap dari > Barat yang mencari kemewahan di Hindia." > > Rasa rendah diri terus dijejalkan oleh imperialis kepada bangsa > Indonesia: bahwa kita adalah bangsa yang tolol, yang tidak mampu > menjadi besar, yang perlu dicerahkan, yang cukup manut saja, yang > harus dipimpin bangsa lain. Kita menjadi bangsa yang, meminjam > istilah Bung Karno, seperti tempe: lemah dan murah. > > "Kami menjadi pengecut: takut duduk, takut berdiri, karena apa pun > yang kami lakukan selalu salah. Kami menjadi rakyat seperti dodol > dengan hati yang kecil. Kami lemah seperti katak dan lembut seperti > kapok (kapas). Kami menjadi suatu bangsa yang hanya dapat > membisikkan, Ya, Tuan." > > Imperialisme yang bercokol hampir merata di negeri-negeri Asia > lama-kelamaan mendapatkan reaksi. Di akhir abad ke-19, para pemimpin > pelopor dari negeri jajahan mulai menampakkan diri. Sun Yat Sen > mempelopori gerakan di Tiongkok, Mahatma Gandhi di India, dan Emilio > Aguinaldo di Filipina. Gerakan itu makin masif di awal abad ke-20. > > Para pribumi terpelajar di Hindia Belanda pun mendapatkan angin segar > dari pergerakan itu. Mereka mulai meraba-raba: apa itu organisasi > modern, siapa anggotanya, apa tujuannya, bagaimana gerakannya? > > > > > > > Boedi Oetomo (Foto: Istimewa) > > > > > > 'Jejak Langkah' dalam serial Tetralogi Pulau Buru karya Pramoedya > Ananta Toer adalah roman hebat yang menceritakan detail situasi di > periode ini. Tersebutlah, di tahun 1906, seorang muda terpelajar > bernama Tirto Adhisoerjo--yang juga tokoh utama dalam > cerita--mendirikan Sarekat Priyayi. Organisasi ini layu sebelum > berkembang, namun mengilhami lahirnya koran berbahasa Melayu pertama > di Hindia: Medan Priyayi. > > Di saat bersamaan, dokter tua pensiunan bernama Wahidin > Soedirohoesodo berkeliling Jawa untuk menemui para pembesar. Ia > mengajak mendirikan sebuah organisasi untuk memecahkan persoalan > sebangsanya. Usahanya gagal, tapi bukan berarti ia patah arang. > Wahidin pun mulai menyasar kaum muda terpelajar di STOVIA (School tot > Opleiding van Indische Artsen) tempat dulu ia belajar--juga sekolah > Tirto. > > Para pemuda, termasuk Tirto, terpikat dengan cara pandang Wahidin > ini: Tugas dokter Pribumi bukan saja menyembuhkan tubuh terluka dan > menanggung sakit, juga jiwanya, juga hari depannya. Siapa akan > melakukannya kalau bukan para terpelajar? Dan bukankah satu ciri > manusia modern adalah juga kemenangan individu atas lingkungannya > dengan prestasi individual? Individu-individu kuat sepatutnya > bergabung, mengangkat sebangsanya yang lemah, memberinya lampu pada > kegelapan dan memberi mata yang buta. > > Boedi Oetomo akhirnya lahir di tahun 1908, didirikan Soetomo. > Organisasi ini menjadi gaung di Hindia Belanda. Boedi Oetomo pun > besar dan berhasil merekrut pembesar-pembesar di Jawa--yang dulu > meremehkan Wahidin. Ia mendapat sokongan dana yang tak sedikit karena > diakui secara resmi oleh pemerintah kolonial. > > Sayang, Boedi Oetomo hanya untuk orang Jawa dan berbahasa formal > Belanda. Ia, digambarkan dalam 'Jejak Langkah', sebagai organisasi > penurut. Yang muda, lagi progresif, akhirnya tersingkir. > > > > > > Terlepas dari konflik internal organisasi yang terjadi, yang jelas, > estafet perjuangan untuk move on dari penjajahan sebenarnya berjalan > dengan baik. Format gerakan pun terus membaik, seiring mulai masuknya > ideologi-ideologi politik pada dasawarsa kedua abad 20. > - Respati Wasesa > > > > > > Setragis apa pun nasibnya, Boedi Oetomo tetaplah menjadi tonggak > kebangkitan bagi para pemuda untuk mendirikan organisasi sendiri. > Pramoedya menyebut Tirto mendirikan Sarekat Dagang Islam pada 1909 > dan menjadikan kegagalan Boedi Oetomo maupun Sarekat Priyayi sebagai > pelajaran. Anggotanya tak terbatas pada suku Jawa saja. > > Bung Hatta, dalam sebuah ceramahnya di Gedung Kebangkitan Nasional > (bekas STOVIA) pada 22 Mei 1974, menyebut bahwa Tirto mendirikan > Sarekat Dagang Islam secara berturut-turut, yaitu pada 1909 di > Batavia dan pada 1911 di Bogor. Pada saat itu, seperti halnya Boedi > Oetomo, organisasi ini tidak secara terang menyebut diri sebagai > perkumpulan politik--karena aturan pemerintah kolonial melarangnya. > > Tak lama kemudian, pada tahun 1911 juga, menurut Bung Hatta, Tirto > mengubah nama Sarekat Dagang Islam menjadi Sarekat Islam. Salah satu > tujuannya, selain persaudaraan antarpedagang pribumi, adalah juga > untuk 'meninggikan derajat bangsa untuk mencapai perkembangan > kemajuan dan kebesaran negeri.' > > "Sekalipun tidak berpolitik hal itu sudah merupakan politik. > Meninggikan derajat bangsa untuk mencapai perkembangan, kemajuan dan > kebesaran negeri hanya bisa dicapai dengan gerakan politik." Bung > Hatta menekankan bahwa pandangan kebangsaan Tirto sangat penting > dalam pergerakan, terutama setelah Boedi Oetomo lahir dan tetap gagal > move on dari Belanda. Itulah sebabnya Tirto dibuang oleh pemerintah > kolonial ke Maluku, dan Sarekat Islam vakum. > > Tahun 1912 Sarekat Islam lahir kembali di Surabaya dengan anggaran > dasar baru, juga pemimpin baru: Haji Oemar Said Tjokroaminoto. Bung > Karno pun mengatakan bahwa Boedi Oetomo telah memberikan jalan bagi > Sarekat Islam di bawah Tjokroaminoto, mentor politik sekaligus > mertuanya. Seperti Tirto, Tjokroaminoto pun mempersenjatai gerakannya > dengan koran propaganda--sebagai ciri gerakan modern. > > "Bangsa Indonesia yang menderita secara perseorangan sekarang mulai > menyatukan diri dan persatuan nasional mulai tersebar. Ia (Sarekat > Islam) lahir di Jakarta, akan tetapi sang bayi baru pertamakali > melangkahkan kakinya di Surabaya." > > Terlepas dari konflik internal organisasi yang terjadi, yang jelas, > estafet perjuangan untuk move on dari penjajahan sebenarnya berjalan > dengan baik. Format gerakan pun terus membaik, seiring mulai masuknya > ideologi-ideologi politik pada dasawarsa kedua abad 20. > > Organisasi-organisasi tumbuh subur bak cendawan di musim hujan, > dengan tujuan yang terus mengerucut ke arah kemerdekaan. Begitu > banyak tokoh pergerakan nasional yang melewati jalan penderitaan: > menjalani hukuman penjara dan pembuangan. > > Akhir kata, selamat Hari Move On Nasional! > >
