Pada Sabtu, 20 Mei 2017 18:15, "[email protected] [GELORA45]"
<[email protected]> menulis:
Tionghoa, Trauma Politik dan Kemunculan Ahok
Patricia Diah Ayu Saraswati , CNN IndonesiaSabtu, 20/05/2017 17:15 WIB
Warga etnis Tionghoa takut untuk mengambil peran di bidang politik karena
trauma pada pemerintahan masa lalu. Namun kemunculan Ahok mengubahnya perlahan.
(CNN Indonesia/ Hesti Rika)Jakarta, CNN Indonesia -- Mungkin sebagian orang
berpikir etnis Tionghoa lebih dikenal sebagai seorang pengusaha atau pedagang.
Hal itu bisa jadi tak sepenuhnya keliru.
Hal itu diungkapkan Candra Jap dari Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI). Dia
menyatakan sebagian warga etnis Tionghoa di Indonesia memiliki kesadaran
politik yang rendah. Hal tersebut merupakan salah satu akibat dari pemerintahan
di masa lalu.
Candra menceritakan pada masa pemerintahan Soekarno sebelum kemerdekaan,
masyarakat Tionghoa terbelah menjadi dua kubu, yaitu kubu integrasi dan kubu
asimilasi.
Kubu integrasi mendirikan sebuah organisasi yang disebut Baperki (Badan
Permusyawaratan Kewarganegaraan Indonesia). Baperki dipimpin oleh Siauw Giok
Tjhan dan memiliki hubungan yang dekat Soekarno yang kala itu menjabat sebagai
Presiden.
|
Lihat juga:
Mengingat 98, Saat Kami Dipanggil 'Cina' |
Bagi kubu integrasi, jika etnis Tionghoa ingin bergabung dengan Indonesia, maka
orang Indonesia harus mau menerima segala kebudayaan, adat istiadat yang dibawa
oleh etnis Tionghoa.
Sementara kubu asimilasi lebih memiliki kedekatan dengan pemerintah Belanda.
Bagi kubu asimilasi, jika mau menjadi orang Indonesia maka harus meninggalkan
semua yang berbau China, mulai dari nama, perayaan Imlek, barongsai, dan
lainnya.
Kubu asimilasi akhirnya didekati oleh kubu lawan politik Soekarno, yaitu
Soeharto untuk dijadikan alat menjatuhkan Soekarno.
"Supaya pengaruh yang berbau Soekarno hilang, Baperki semua ditumpas sampai ke
daerah-daerah. Ini akhirnya bikin orang Tionghoa takut berpolitik, kalau
berpolitik nanti jadi kayak Baperki," ujar Candra.
Orang-orang Tionghoa yang hidup pada 1965, lanjut Candra, menurunkan doktrin
tersebut ke anak-anaknya dengan melarang mereka untuk tidak masuk ke dunia
politik dan mengarahkan untuk berdagang saja.
Tak hanya melarang anaknya untuk masuk ke dunia politik, efek yang ditimbulkan
pun membuat para orangtua sampai tidak mengajarkan bahasa dialek Tionghoa
kepada anak-anaknya.
|
Lihat juga:
Orang-orang dari 'Chineesche Kamp' untuk Batavia |
"Traumanya sampai seperti itu ditambah ada satu surat yang sangat menganggu
SKBRI (Surat Keterangan Bukti Kewarganegaraan Indonesia), bikin paspor masih
(kena) pungli, apalagi yang enggak punya. Itu yang bikin Tionghoa enggak
berpolitik, jadi susah karena politik," kata Candra.
Pasca reformasi atau tepatnya saat pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid
alias Gus Dur pada 1999-2001, terjadi euforia yang dirasakan oleh etnis
Tionghoa.
Di masa pemerintahannya, etnis Tionghoa kembali bisa merayakan Imlek. Tak hanya
itu, agama Kong Hu Cu pun diterima dan diakui di Indonesia.
Candra mengatakan posisi etnis Tionghoa lebih baik dibandingkan dengan masa
pemerintahan sebelumnya. Hal ini karena etnis Tionghoa mulai diterima di segala
bidang, termasuk politik.
Di masa Orde Baru yakni 1966-1998, etnis Tionghoa memang tidak diperbolehkan
masuk ke dalam dunia politik dan hanya diarahkan untuk berdagang saja.
| Basuki Tjahaja Purnama divonis dua tahun penjara dalam kasus penodaan agama.
(Antara/Sigid Kurniawan) |
Kemunculan Ahok
Meski begitu, euforia kebebasan yang dirasakan oleh etnis Tionghoa ini, diakui
Candra tak melulu berdampak positif.
"Kita enggak bisa bilang semua orang Tionghoa itu baik, ada beberapa yang
memang oknum. Contohnya ingin jadi anggota DPR bukan karena keinginan untuk
berbakti tetapi karena melihat ada potensi bisa cari uang, main proyek. Itu
tidak bisa dipungkiri," ujar Candra.
Candra juga menyebut bahwa saat ini ada pula pengusaha Tionghoa yang melakukan
kolusi dengan pejabat. "Jadi dua sisi mata uang, di satu sisi mendapat
kebebasan merayakan Imlek, Kong Hu Cu jadi agama itu yang baik, yang buruk juga
berjalan," kata Candra.
Namun, kemunculan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok sebagai gubernur DKI
Jakarta pada 2014 lalu mulai menumbuhkan semangat anak muda Tionghoa untuk
masuk ke dunia politik.
Ketika sebagian besar anak muda Tionghoa memiliki cita-cita sebagai pengusaha
sebelumnya, popularitas Ahok membuat anak-anak muda Tionghoa memiliki keinginan
untuk mencalonkan diri sebagai anggota legislatif.
"Begitu Ahok jadi gubernur, anak muda Tionghoa mulai semangat. Biasanya kalau
ditanya mau jadi apa (dijawab) jadi pengusaha, jadi dokter, sekarang bisa
ngomong gue mau nyaleg," ungkap Candra.
Namun, menurut Candra yang menjadi persoalan adalah anak-anak muda Tionghoa
yang terjun ke dunia politik ini kurang mendapatkan pendidikan politik yang
baik.
"Parpol rekrut karena punya potensi suara dan finansial. Kalau saya bilang
parpol salah enggak memberikan pendidikan politik, karena cuma dianggap sebagai
komoditas untuk mendapatkan duit dan suara," ucap Candra.
Ahok naik sebagai gubernur DKI Jakarta pada 2014, menggantikan Joko Widodo yang
terpilih sebagai Presiden. Namun dia dikalahkan pada Pilkada 2017 oleh pasangan
Anies Baswedan dan Sandiaga Uno.
Sebelumnya, dia dikenal gubernur yang transparan dan tegas, selain sosok yang
ceplas-ceplos. Masalah ucapan ini pula yang akhirnya membuatnya terbelit kasus
hukum.
Dia divonis bersalah oleh Pengadilan Negeri Jakarta Utara karena dianggap
terbukti melakukan penodaan agama saat mengutip Alquran surat Al Maidah pada 9
Mei lalu. Dan kasus Ahok itu, bisa jadi pula sedikit banyak berpengaruh pada
euforia keinginan berpolitik muda-mudi etnis Tionghoa hari ini. (asa)
#yiv0493082447 #yiv0493082447 -- #yiv0493082447ygrp-mkp {border:1px solid
#d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px 0;padding:0 10px;}#yiv0493082447
#yiv0493082447ygrp-mkp hr {border:1px solid #d8d8d8;}#yiv0493082447
#yiv0493082447ygrp-mkp #yiv0493082447hd
{color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px
0;}#yiv0493082447 #yiv0493082447ygrp-mkp #yiv0493082447ads
{margin-bottom:10px;}#yiv0493082447 #yiv0493082447ygrp-mkp .yiv0493082447ad
{padding:0 0;}#yiv0493082447 #yiv0493082447ygrp-mkp .yiv0493082447ad p
{margin:0;}#yiv0493082447 #yiv0493082447ygrp-mkp .yiv0493082447ad a
{color:#0000ff;text-decoration:none;}#yiv0493082447 #yiv0493082447ygrp-sponsor
#yiv0493082447ygrp-lc {font-family:Arial;}#yiv0493082447
#yiv0493082447ygrp-sponsor #yiv0493082447ygrp-lc #yiv0493082447hd {margin:10px
0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}#yiv0493082447
#yiv0493082447ygrp-sponsor #yiv0493082447ygrp-lc .yiv0493082447ad
{margin-bottom:10px;padding:0 0;}#yiv0493082447 #yiv0493082447actions
{font-family:Verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}#yiv0493082447
#yiv0493082447activity
{background-color:#e0ecee;float:left;font-family:Verdana;font-size:10px;padding:10px;}#yiv0493082447
#yiv0493082447activity span {font-weight:700;}#yiv0493082447
#yiv0493082447activity span:first-child
{text-transform:uppercase;}#yiv0493082447 #yiv0493082447activity span a
{color:#5085b6;text-decoration:none;}#yiv0493082447 #yiv0493082447activity span
span {color:#ff7900;}#yiv0493082447 #yiv0493082447activity span
.yiv0493082447underline {text-decoration:underline;}#yiv0493082447
.yiv0493082447attach
{clear:both;display:table;font-family:Arial;font-size:12px;padding:10px
0;width:400px;}#yiv0493082447 .yiv0493082447attach div a
{text-decoration:none;}#yiv0493082447 .yiv0493082447attach img
{border:none;padding-right:5px;}#yiv0493082447 .yiv0493082447attach label
{display:block;margin-bottom:5px;}#yiv0493082447 .yiv0493082447attach label a
{text-decoration:none;}#yiv0493082447 blockquote {margin:0 0 0
4px;}#yiv0493082447 .yiv0493082447bold
{font-family:Arial;font-size:13px;font-weight:700;}#yiv0493082447
.yiv0493082447bold a {text-decoration:none;}#yiv0493082447 dd.yiv0493082447last
p a {font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv0493082447 dd.yiv0493082447last p
span {margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv0493082447
dd.yiv0493082447last p span.yiv0493082447yshortcuts
{margin-right:0;}#yiv0493082447 div.yiv0493082447attach-table div div a
{text-decoration:none;}#yiv0493082447 div.yiv0493082447attach-table
{width:400px;}#yiv0493082447 div.yiv0493082447file-title a, #yiv0493082447
div.yiv0493082447file-title a:active, #yiv0493082447
div.yiv0493082447file-title a:hover, #yiv0493082447 div.yiv0493082447file-title
a:visited {text-decoration:none;}#yiv0493082447 div.yiv0493082447photo-title a,
#yiv0493082447 div.yiv0493082447photo-title a:active, #yiv0493082447
div.yiv0493082447photo-title a:hover, #yiv0493082447
div.yiv0493082447photo-title a:visited {text-decoration:none;}#yiv0493082447
div#yiv0493082447ygrp-mlmsg #yiv0493082447ygrp-msg p a
span.yiv0493082447yshortcuts
{font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}#yiv0493082447
.yiv0493082447green {color:#628c2a;}#yiv0493082447 .yiv0493082447MsoNormal
{margin:0 0 0 0;}#yiv0493082447 o {font-size:0;}#yiv0493082447
#yiv0493082447photos div {float:left;width:72px;}#yiv0493082447
#yiv0493082447photos div div {border:1px solid
#666666;height:62px;overflow:hidden;width:62px;}#yiv0493082447
#yiv0493082447photos div label
{color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}#yiv0493082447
#yiv0493082447reco-category {font-size:77%;}#yiv0493082447
#yiv0493082447reco-desc {font-size:77%;}#yiv0493082447 .yiv0493082447replbq
{margin:4px;}#yiv0493082447 #yiv0493082447ygrp-actbar div a:first-child
{margin-right:2px;padding-right:5px;}#yiv0493082447 #yiv0493082447ygrp-mlmsg
{font-size:13px;font-family:Arial, helvetica, clean, sans-serif;}#yiv0493082447
#yiv0493082447ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}#yiv0493082447
#yiv0493082447ygrp-mlmsg select, #yiv0493082447 input, #yiv0493082447 textarea
{font:99% Arial, Helvetica, clean, sans-serif;}#yiv0493082447
#yiv0493082447ygrp-mlmsg pre, #yiv0493082447 code {font:115%
monospace;}#yiv0493082447 #yiv0493082447ygrp-mlmsg *
{line-height:1.22em;}#yiv0493082447 #yiv0493082447ygrp-mlmsg #yiv0493082447logo
{padding-bottom:10px;}#yiv0493082447 #yiv0493082447ygrp-msg p a
{font-family:Verdana;}#yiv0493082447 #yiv0493082447ygrp-msg
p#yiv0493082447attach-count span {color:#1E66AE;font-weight:700;}#yiv0493082447
#yiv0493082447ygrp-reco #yiv0493082447reco-head
{color:#ff7900;font-weight:700;}#yiv0493082447 #yiv0493082447ygrp-reco
{margin-bottom:20px;padding:0px;}#yiv0493082447 #yiv0493082447ygrp-sponsor
#yiv0493082447ov li a {font-size:130%;text-decoration:none;}#yiv0493082447
#yiv0493082447ygrp-sponsor #yiv0493082447ov li
{font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;}#yiv0493082447
#yiv0493082447ygrp-sponsor #yiv0493082447ov ul {margin:0;padding:0 0 0
8px;}#yiv0493082447 #yiv0493082447ygrp-text
{font-family:Georgia;}#yiv0493082447 #yiv0493082447ygrp-text p {margin:0 0 1em
0;}#yiv0493082447 #yiv0493082447ygrp-text tt {font-size:120%;}#yiv0493082447
#yiv0493082447ygrp-vital ul li:last-child {border-right:none
!important;}#yiv0493082447