WNI di Swiss Rela Bayar Rp 2,1 Juta demi Izin Unjuk Rasa Pro-Ahok 
http://internasional.kompas.com/read/2017/05/21/20254581/wni.di.swiss.rela.bayar.rp.2.1.juta.demi.izin.unjuk.rasa.pro-ahok

 
 
 Kompas.com - 21/05/2017, 20:25 WIB




 

 

 Sekitar 300-an warga Indonesia dar(Krisna Diantha)

 

 ZURICH, KOMPAS.com - Jembatan Gedung Perlemen. Sesuai namanya, jembatan yang 
membelah Sungai Limmat ini, berjarak hanya selemparan batu dari Rathhaus, 
gedung parlemen kota Zurich.  
 

 Sisi selatan jembatan menghubungkan kota baru, sedangkan bagian utara 
menyambung ke Kota Tua dan juga Bahnhofstrasse, ruas jalan tempat pusat 
perbelajaan mewah berlokasi.   
 

 Dari jembatan ini, hanya butuh dua menit jalan kaki, terdapat pelataran Gereja 
Grossmuenster, landmark kota Zurich, yang berdampingan dengan gereja terkenal 
lainnya, Fraumuenster.
 

 Tidak mengherankan, jika Rathausbruecke, cukup ramai dengan lalu lalang 
manusia. Baik itu warga Zurich atau para turis yang ingin menikmati keindahan 
kota terbesar dan termahal di Swiss ini.
 

 Baca: WNI di Swiss Gelar Aksi Lilin dan Doa untuk Keutuhan NKRI 
http://internasional.kompas.com/read/2017/05/17/17525011/wni.di.swiss.gelar.aksi.lilin.dan.doa.untuk.keutuhan.nkri
 

 Pada Sabtu (20/5/2017) petang, jembatan beton ini menjadi lebih ramai dari 
pada hari biasa. Sekitar 300-an pendukung Basuki Tjahaja Purnama, atau Ahok, 
yang sebagian besar berpakaian merah putih, menggelar demonstrasi damai 
memrotes pemenjaraan Gubernur DKI Jakarta non-aktif itu.
 

 "Ini memang tak lepas dari apa yang terjadi di Jakarta," kata kordinator 
demonstrasi, Denny Ramsy.
 

 Selain solidaritas terhadap pemenjaraan Ahok, imbuh Denny, pengumpulan 300-an 
warga Indonesia di Zurich ini sebagai wujud keprihatinan terhadap semakin 
maraknya intoleransi terhadap nilai-nilai pancasila.
 

 Aksi damai di Zurich ini merupakan yang ketiga kalinya terjadi di Swiss, 
setelah aksi serupa di Jenewa dan Bern di pekan sebelumnya.
 

 Berdasarkan pantauan di lapangan, inilah demonstrasi terbesar di Swiss. Sebab, 
bukan hal mudah mengumpulkan 300-an warga Indonesia di negeri ini.
 

 Aksi serupa di Jenewa, diklaim penyelenggara diikuti 200-an orang sementara di 
Bern, malah tak sampai 100-an orang.
 
"Semua orang di Swiss sibuk, tapi syukurlah kami bisa mencapai sejumlah ini,“ 
kata Denny.
 

 Baca: Dibantu Wali Kota Amsterdam, Warga RI Gelar "Aksi Ahok" di Museumplein 
http://internasional.kompas.com/read/2017/05/15/09341751/dibantu.wali.kota.amsterdam.warga.ri.gelar.aksi.ahok.di.museumplein
 

 Padahal, masih kata Denny, semua panitia tak menyediakan apapun misalnya nasi 
bungkus atau uang transport.
 

 "Kalau lapar ya cari makan sendiri, kalau mau sampai di Zurich, ya harus naik  
kereta atau bawa mobil sendiri," tuturnya.  
 

 Ratusan warga Indonesia yang ikut aksi ini datang dari berbagai kota misalnya 
Thurgau, Saint Gallen, Lucerne, Basel, Bern, hingga Jenewa dan Tessin.
 

 Kota-kota ini termasuk kota yang letaknya agak jauh dari Zurich. Warga 
Indonesia di Jenewa, misalnya, memerlukan waktu tiga jam naik kereta api menuju 
Zurich.
 

 Seperti di Jenewa dan Bern, aksi di Zurich ini juga diisi dengan menyanyikan 
lagu-lagu nasional, membaca doa lintas agama, dan penyulutan lilin.
 

 Ni Nyoman Hartini, warga Indonesia yang menetap di Kloten, pinggiran Zurich, 
terlihat terisak-isak ketika menyanyikan lagu kebangsaan, Indonesia Raya.
 

 Terharu, sedih, campur aduk,“ kata Hartini.
 

 Demonstrasi yang berlangsung satu jam itu berakhir pukul 22.30 waktu setempat, 
ketika Zurich  mulai menjadi gelap.
 

 Usai berunjuk rasa, beberapa peserta menggosok bekas lilin yang menempel di 
lantai jembatan.
 

 "Syaratnya memang begitu, harus dibersihkan seperti sedia kala. Kalau tidak 
(dibersihkan), Pemkot Zurich akan membersihkannya," ujar Denny.
 

 Namun biaya pembersihan akan ditagihkan ke panitia aksi. Sementara, biaya 
pembersihan cukup mahal yaitu 200-400 franc Swiss (CHF) atau setara Rp 2,3 juta 
hingga Rp 4,4 juta.
 

 Baca: Ribuan Warga Indonesia di Australia Gelar Aksi Mendukung Ahok 
http://internasional.kompas.com/read/2017/05/15/18023081/ribuan.warga.indonesia.di.australia.gelar.aksi.mendukung.ahok
 Selain harus membersihkan lokasi, kata Denny, mereka juga harus membayar biaya 
unjuk rasa yang berlangsung satu jam itu sebesar 190 CHF atau sekitar Rp 2,1 
juta.
 

 "Kami juga dilarang minta sumbangan di jalanan, dan mengucapkan hate speech," 
katanya.
 

 Biaya sejumlah itu, kata Denny, dikumpulkan dari patungan dengan 
teman-temannya.
 

 Sementara hate speech yang umum terjadi dalam demonstrasi di Indonesia, tidak 
terlihat di demonstrasi ini.
 

 Berbagai poster yang dibawa juga lebih menyuarakan dukungan terhadap utuhnya 
NKRI, toleransi antar-manusia, dan keprihatinan terhadap nasib Ahok.
  
 Cacian ke kelompok lain, sama sekali tak ada.
 

 "Kita ini demonstrasi damai, juga menyuarakan toleransi kehidupan bersama. 
Tentunya ya tidak menggunakan hate speech,“ katanya.
 

 
 "Jika ada pelanggaran sesuai perjanjian dengan kepolisian Zurich, maka Denny 
Ramsy, kordinator acara ini, harus bertanggung jawab," sambung Denny. (Krisna 
Diantha)
 

Kirim email ke