http://megapolitan.kompas.com/read/2017/05/25/10313271/pengamat.bom.kampung.melayu.bentuk.
dendam.teroris.kepada.polisi
Pengamat: Bom Kampung Melayu Bentuk
Dendam Teroris kepada Polisi
Ambaranie Nadia Kemala Movanita
Kompas.com - 25/05/2017, 10:31 WIB
<javascript:void(0);>
<javascript:void(0);>
<javascript:void(0);>
Polres Metro Tangerang Selatan saat melakukan upacara penyerahan jenazah
almarhum Briptu Ridho Setiawan, di Rumah Duka Kelurahan Bojong Nangka
Kecamatan Kelapa Dua, Tangerang, Kamis (25/5/2017). Ridho merupakan
salah satu korban bom di Kampung Melayu Jakarta Timur tadi malam, proses
pemakamannya akan dilaksanakan di Lampung tempat
kelahirannya.(KOMPAS.com/ANDREAS LUKAS ALTOBELI)
*JAKARTA, KOMPAS.com* - Dua ledakan bom terjadi di kawasan terminal
Transjakarta Kampung Melayu, Jakarta Timur, Rabu (24/5/2017) malam.
Saat itu, di sekitar lokasi, tengah digelar aktivitas masyarakat yakni
pawai obor menyambut bulan suci Ramadhan.
Akibatnya, sejumlah polisi yang tengah mengawal pawai dan warga sipil
terluka hingga meninggal dunia.
Berdasarkan informasi terakhir, peristiwa itu memakan korban 15 orang.
*Baca: Kondisi Bripda Yogi, Korban Selamat Bom Kampung Melayu dengan
Luka Paling Parah
<http://megapolitan.kompas.com/read/2017/05/25/10270971/kondisi.bripda.yogi.korban.selamat.bom.kampung.melayu.dengan.luka.paling.parah>*
Pengamat masalah terorisme Harits Abu Ulya mengatakan, belakangan aksi
teror bom sengaja ditujukan kepada petugas keamanan, khususnya polisi.
Para teroris, kata dia, menyimpan dendam lantaran Polri gencar
memberantas kelompok-kelompok radikal.
"Kalau ada /victim/, sebenarnya /impact/ saja. Ini soal dendam. Di kasus
sebelumnya mereka merasa rugi karena banyak temannya yang meninggal dan
ditangkap," ujar Harits kepada /Kompas.com/, Kamis (25/4/2017).
Motif serupa sudah banyak dijumpai di berbagai daerah, seperti di
Bandung, Jatiluhur, dan Serpong.
Mereka menyasar fasilitas milik kepolisian, seperti pos-pos polisi.
Terkait kejadian di Kampung Melayu, teroris menyasar kegiatan yang
dikawal sejumlah petugas kepolisian.
Harits mengatakan, biasanya kelompok teroris mempertimbangkan target
yang paling mudah dijangkau. Selain adanya niat dan kenekatan faktor
peluang juga masuk dalam perhitungan mereka.
"Bagi mereka mana yang paling mudah dengan keterbatasan yang mereka
miliki dan momentum yang pas. Sementara polisi juga agendanya sedang
mengawal agenda publik," kata Harits.
Menurut Harits, selain ingin balas dendam ke polisi, teroris menyasar
tempat ramai untuk menunjukkan eksistensi diri.
Seolah mereka ingin menunjukkan kepada khalayak, khususnya polisi, bahwa
mereka masih berkeliaran di luar meski sudah banyak rekan mereka
diberantas Densus 88.
*Baca: Bripda Gilang Telepon Ibunya Sebelum Ledakan Bom di Kampung
Melayu
<http://megapolitan.kompas.com/read/2017/05/25/09595891/bripda.gilang.telepon.ibunya.sebelum.ledakan.bom.di.kampung.melayu>*
Secara umum, misi mereka memang menebarkan teror dan ketakutan di
masyarakat.
"Dan ingin menunjukkan bahwa mereka masih eksis," kata Harits.
Dari pola aksinya, Harits menduga teror bom di Kampung Melayu masih ada
kaitannya dengan kelompok yang terafiliasi ISIS. "Mereka hanya komunitas
cair dari kelompok yang terafiliasi ISIS," kata dia.
<javascript:void(0);>
<javascript:void(0);>
<javascript:void(0);>
PenulisAmbaranie Nadia Kemala Movanita
EditorErvan Hardoko
Tag:
* polisi <http://indeks.kompas.com/tag/polisi>
* bom kampung melayu <http://indeks.kompas.com/tag/bom.kampung.melayu>