Senin 22 Mei 2017, 11:38 WIB


Panglima TNI Baca Puisi 'Tapi Bukan Kami Punya' di Rapimnas Golkar

Gibran Maulana Ibrahim - detikNews

Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo di Rapimnas Golkar / Foto: Gibran Maulana 
Ibrahim/detikcom

Balikpapan - Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo hadir di acara Rapimnas 
Golkar 2017. Di lokasi, Gatot memberikan sejumlah arahan dan materi tentang 
kesatuan dan keamanan bangsa. 

Gatot hadir di lokasi acara yang bertempat di Novotel Hotel, Balikpapan, 
Kalimantan Timur, Senin (22/5/2017) didampingi sejumlah petinggi TNI. Gatot 
berbicara banyak isu bangsa, salah satunya soal pengungsi ilegal. 

"Pengungsi ilegal masuk, pulau kita banyak, ini yang sangat bahaya. Dampak 
imigrasi penduduk, dulu ada bangsa Indian, sekarang nggak ada, hampir punah. 
Aborigin sekarang hampir punah," tutur Gatot sembari menunjukkan slide tentang 
peta jalur imigrasi di seluruh dunia. 

Gatot mengatakan dia punya puisi yang tepat terkait pembahasan soal pengungsi 
ilegal. Puisi tersebut milik Denny JA yang berjudul 'Tapi Bukan Kami Punya'. 
Dia lantas membacakan puisi itu. 

"Lihatlah aneka barang, dijual belikan orang. Oh makmurnya, tapi bukan kami 
punya," demikian bunyi penggalan puisi yang dibacakan Gatot. 

Gatot pun lalu menyimpulkan isi puisi tersebut. Menurutnya, puisi itu 
menceritakan soal tangisan di suatu wilayah. 

"Ini tangisan suatu wilayah, dulu dihuni Melayu, di Singapura, sekarang menjadi 
seperti ini (sambil memperlihatan slide tentang pengungsi). Kalau kita tak 
waspada, suatu saat bapak ibu sekalian, anak cucunya tidak lagi tinggal di 
sini. Gampangnya, kita ke Jakarta semua teratur rapi, punya Betawi di sana?" 
sebut Gatot. 

Gatot lalu berpesan ke Golkar terkait puisi ini. Menurutnya, Golkar harus bisa 
memiliki bangsa Indonesia seutuhnya. 

"Partai Golkar adalah partai rakyat. PR buat Anda semuanya untuk memiliki 
bangsa dan negara. Itu ancaman pertama yang paling signifikan dan secara pasti 
bergerak di Indonesia," tandasnya. 

Berikut puisi lengkap 'Tapi Bukan Kami Punya' yang dibacakan Gatot:

Sungguh Jaka tak mengerti
Mengapa ia dipanggil ke sini. 
Dilihatnya Garuda Pancasila 
Tertempel di dinding dengan gagah. 

Dari mata burung Garuda 
Ia melihat dirinya
Dari dada burung Garuda 
Ia melihat desa

Dari kaki burung Garuda
Ia melihat kota 
Dari kepala burung Garuda 
Ia melihat Indonesia

Lihatlah hidup di desa
Sangat subur tanahnya
Sangat luas sawahnya
Tapi bukan kami punya

Lihat padi menguning
Menghiasi bumi sekeliling
Desa yang kaya raya
Tapi bukan kami punya

Lihatlah hidup di kota
Pasar swalayan tertata
Ramai pasarnya
Tapi bukan kami punya

Lihatlah aneka barang
Dijual belikan orang
Oh makmurnya
Tapi bukan kami punya 
(gbr/imk)

Kirim email ke