*Apakah ada yang tahu Negara mana saja yang iri kepada Indonesia yang
toleran? Bagaimana dengan surat keputusan tiga menteri?*


http://www.antaranews.com/berita/630921/presiden-beberkan-negara-lain-iri-kepada-indonesia-yang-toleran?utm_source=fly&utm_medium=related&utm_campaign=news



*Presiden beberkan negara lain iri kepada Indonesia yang toleran*

Selasa, 23 Mei 2017 15:59 WIB | 5.055 Views

Pewarta: Hanni Sofia Soepardi

[image: Presiden beberkan negara lain iri kepada Indonesia yang toleran]

Presiden Joko Widodo (kiri) bersama Wakil Presiden Jusuf Kalla (kanan)
menyampaikan arahan di depan tokoh-tokoh agama yang tergabung dalam
Asosiasi Forum Kerukunan Umat Beragama di Istana Bogor, Jawa Barat, Selasa
(23/5/2017). Presiden berpesan agar tokoh-tokoh agama di seluruh pelosok
Indonesia menjadi garis depan dalam menjaga kerukunan, toleransi,
persaudaraan, dan persatuan. (ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari)

Saya titip agar kalau ada percikan sekecil apa pun untuk segera
diselesaikan. Jangan tunggu esok hari, selesaikan pada saat api itu masih
sangat kecil

Bogor, Jawa Barat (ANTARA News) - Presiden Joko Widodo menyebut negara lain
iri kepada Indonesia karena dianggap berbeda-beda dari berbagai segi namun
tetap rukun, penuh toleransi, penuh persaudaraan, dan persatuan.

"Saya ingin bercerita sedikit mengenai kekaguman dan keirian negara-negara
lain terhadap kita, selalu setiap bertemu dengan kepala negara, kepala
pemerintahan, perdana menteri maupun presiden selalu saya sampaikan
Indonesia ini ada 17.000 pulau, 516 kabupaten dan kota, dan 34 provinsi ada
lebih dari 700 suku, 1.100 lebih bahasa lokal," kata Presiden kepada tokoh
lintas agama yang tergabung dalam Asosiasi Forum Kerukunan Umat Beragama
Indonesia di Istana Kepresidenan Bogor, Selasa.

"Tidak ada di negara mana pun di dunia ini yang sebegitu ragamnya seperti
Indonesia dengan juga beragam agama, enggak ada, di dunia mana pun, enggak
ada."

Presiden melanjutkan, kekaguman dunia terhadap Indonesia adalah soal betapa
rukunnya bangsa Indonesia selama 72 tahun merdeka dengan tidak pernah
menghadapi persoalan berkaitan dengan keberagaman.

Presiden menambahkan kekaguman negara lain kepada Indonesia itulah yang
kerap disampaikan langsung kepada Presiden Jokowi.

"Bahkan yang saya ingat dulu Presiden Palestina Mahmoud Abbas dan terakhir
Presiden Afghanistan Asraf Ghani menceritakan sedikit mengenai keadaan
negara mereka," kata Jokowi.

Afghanistan sebagaimana diceritakan oleh Presiden Ghani adalah negara kaya
sumber daya alam dengan tambang emas terbesar di dunia tetapi belum
tereksplorasi, memiliki tambang migas yang juga termasuk terbesar, tapi
terus diamuk pertikaian besar.

Presiden Ghani bahkan menyampaikan pesan khusus kepada Presiden Jokowi.

"Presiden Jokowi, negaramu ini sangat beragam, sukunya banyak sekali,
agamanya banyak, bahasa lokal juga banyak. Jaga betul yang namanya
kerukunan dan persatuan itu," begitu pesan Presiden Afghanistan, Ashraf
Ghani, sebagaimana ditirukan Presiden siang ini.

Di hadapan para tokoh daerah itu, Presiden Joko Widodo menyampaikan pesan
dari Presiden Afghanistan saat berkunjung ke Indonesia pada 5 April 2017 di
mana Presiden Ghani sempat menceritakan kondisi terkini di negaranya.

Karena pertikaian, berdasarkan pengakuan Presiden Ghani, selama 24 tahun
Ghani berada di luar Afghanistan.

Menurut Ghani, saat ini ada sekitar 40 faksi yang sudah sangat sulit
dirukunkan di Afghanistan.

Presiden Jokowi mengakui, dalam dinamika kehidupan bermasyarakat, Indonesia
juga pasti sesekali mengalami sedikit gesekan, tetapi gesekan kecil itu
segera diselesaikan sehingga menjadi pembelajaran yang mendewasakan
masyarakat.

"Jadi kalau kita ini ada gesekan-gesekan kecil ya wajar, tapi segera
selesaikan. Jangan sampai dibawa berbulan-bulan, persoalan yang sebetulnya
bisa diselesaikan dengan cepat," kata Presiden Jokowi.

Menurut dia, kerukunan dan stabilitas memang diperlukan untuk membangun
negara, apalagi pada era kompetisi global seperti sekarang persatuan dan
soliditas bangsa Indonesia akan diuji dalam kancah persaingan dunia.

"Menurut saya, ada sebuah etos kerja kedisiplinan nasional yang memang
harus kita bangun mulai sekarang ini dalam rangka kompetisi dengan
negara-negara lain. Sekali lagi, jangan habiskan pikiran kita untuk hal-hal
yang menyebabkan iri, dengki, saling hujat, menjelekkan, dan menyalahkan,"
kata Jokowi.

Jokowi mengajak seluruh pihak, terutama para tokoh dan pemuka di daerah
untuk bersama-sama mewujudkan kerukunan nasional.

"Saya titip agar kalau ada percikan sekecil apa pun untuk segera
diselesaikan. Jangan tunggu esok hari, selesaikan pada saat api itu masih
sangat kecil. Segera padamkan. Ingatkan kepada yang akan bergesekan, kita
ini bersaudara. Bahwa kita ini berbeda-beda iya, tapi kita tetap saudara
sebangsa dan se-Tanah Air," kata Jokowi.

Editor: Jafar M Sidik

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Kirim email ke