Prof Nasaruddin Umar katakan :"Quran tidak pernah mengisyaratkan perlunya
ada persatuan dalam pengertian homogenitas di masyarakat." . Tetapi, pada
pihak lain juga dalam Al Quran 3:85 dikatakan : *Barangsiapa mencari agama
selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah diterima (agama itu)
dar*ipadanya,
dan dia dakhirat *termasuk orang-orang yang rug*i”.

Click situs untuk menlihat sebahagian dari ceramah:


http://www.beritasatu.com/jelajah-youtube/434811-presiden-dan-pimpinan-dpr-terpaku-dengar-tausiah-ini.html


Selasa, 06 Juni 2017 | 04:21



Presiden dan Pimpinan DPR Terpaku Dengar Tausiah ini

*Jakarta -* Acara buka puasa bersama antara Presiden Joko Widodo dengan
para pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Senin (5/6) diisi dengan
ceramah oleh Imam Besar Masjid Istiqlal Kyai Haji Prof. Nasaruddin Umar,
yang tampaknya sengaja memilih topik khusus untuk para hadirin sesuai
dengan kondisi yang dihadapi bangsa sekarang.

Nasaruddin mengaku pernah mempelajari hadits yang dirasanya cocok dengan
dinamika bangsa sekarang dan harus mencari-cari riwayat sahih hadits
tersebut agar dia merasa yakin bisa disampaikan ke para pemimpin dan rakyat
Indonesia, dan akhirnya dia temukan juga.

"Kita hanya menghukum apa yang tampak, jangan menghukum akidahnya orang.
Mau aliran sesat atau aliran apapun juga, asalkan formalnya sudah
bersyahadat, jangan dikorek-korek lagi," kata Nasaruddin menjelaskan hadits
tersebut.

"Hanya Allah yang tahu apa yang tersembunyi dalam hati orang. Jadi kalau
ada orang yang menghakimi akidahnya orang lain 'kamu itu aliran sesat'
misalnya, saya ingin meningatkan kita semua jangan terlalu gampang
mengaliransesatkan orang."

"Dan sebaliknya juga jangan terlalu gampang mengkafir-kafirkan orang,
karena hadits Nabi mengatakan kalau kita mengkafirkan orang yang tidak
kafir -- itu *mental* (memantul), kita yang jadi kafir. Tidak ada
keuntungan untuk memvonis seseorang itu kafir atau sesat," ujar pria
kelahiran Bone, Sulawesi Selatan itu.

*Masyarakat Plural Kehendak Allah*
Presiden dan hadirin yang lain tampak makin tekun menyimak tausiah kyai
tersebut, ketika dia menyebutkan bahwa masyarakat heterogen yang terdiri
atas berbagai suku atau agama seperti Indonesia adalah suatu keniscayaan
yang dikehendaki Allah.

"Dalam masyarakat plural seperti kita, saya ingin mengingatkan sebuah ayat
bahwa *nggak* mungkin kita akan bisa menyatukan umat dalam pengertian
persatuan yang homogen. Ayatnya dalam surah An Nahl ayat 93," ujarnya.

* -- Dan kalau Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikan kamu satu umat
(saja), tetapi Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan memberi
petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan sesungguhnya kamu akan
ditanya tentang apa yang telah kamu kerjakan.* [QS An Nahl: 93] --

"Jadi mustahil kita bisa menciptakan masyarakat yang homogen di atas muka
bumi ini, yang terjadi adalah masyarakat heterogen," jelas Nasaruddin,
lulusan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah.

"Heterogenitas itu juga perlu bingkai, dan itulah sebetulnya Bhinneka
Tunggal Ika yang dicerminkan dalam Quran."

"Quran tidak pernah mengisyaratkan perlunya ada persatuan dalam pengertian
homogenitas di masyarakat."

"Membaca ayat ini, kalau orang paham Bahasa Arab, insya Allah dia akan
berkesimpulan tidak mutlak kita harus menciptakan suatu masyarakat yang
homogen (satu umat saja)."

"Masyarakat yang heterogen itu yang penting adalah bagaimana *wai‘tashimuu
bihabli allaahi jamii’an* [QS Ali Imran: 103], berpegang teguh kepada
sebuah tali, *common platform*, ini yang paling penting."

"Kita dinamisnya tidak mungkin bisa menyatukan menjadi satu Indonesia yang
utuh dalam pengertian homogennya. Tetaplah menjadi sukunya masing-masing,
tetapi yang paling penting adalah kita berpegang pada sebuah tali universal
yang kita ikuti."

"Inilah yang dimaksud *wai‘tashimuu bihabli allaahi jamii’an*. Semuanya
kalian harus berpegang teguh pada hanya satu tali. Kalau kita di sini
itulah Pancasila. Ini perintah Quran, bukan perintah siapa-siapa."

Simak tausiah Nasaruddin dalam video berikut:

Kirim email ke