---------- Forwarded message ----------
*SINGAPORE* Ethnic groups: <https://www.cia.gov/library/publications/the-world-factbook/docs/notesanddefs.html?fieldkey=2075&term=Ethnic%20groups> <https://www.cia.gov/library/publications/the-world-factbook/fields/2075.html#sn> Chinese 74.3%, Malay 13.4%, Indian 9.1% (includes Sri Lankan), other 3.2% (2016 est.) Languages: <https://www.cia.gov/library/publications/the-world-factbook/docs/notesanddefs.html?fieldkey=2098&term=Languages> <https://www.cia.gov/library/publications/the-world-factbook/fields/2098.html#sn> Mandarin (official) 36.3%, English (official) 29.8%, Malay (official) 11.9%, Hokkien 8.1%, Cantonese 4.1%, Tamil (official) 3.2%, Teochew 3.2%, other Indian languages 1.2%, other Chinese dialects 1.1%, other 1.1% (2010 est.) Religions: <https://www.cia.gov/library/publications/the-world-factbook/docs/notesanddefs.html?fieldkey=2122&term=Religions> <https://www.cia.gov/library/publications/the-world-factbook/fields/2122.html#sn> Buddhist 33.9%, Muslim 14.3%, Taoist 11.3%, Catholic 7.1%, Hindu 5.2%, other Christian 11%, other 0.7%, none 16.4% (2010 est.) https://www.cia.gov/library/publications/the-world-factbook/geos/sn.html The *separation of church and state* is a philosophic concept for defining political distance in the relationship between organized religion <https://en.wikipedia.org/wiki/Organized_religion> and the nation state <https://en.wikipedia.org/wiki/Nation_state>. Conceptually, the term refers to the creation of a secular state <https://en.wikipedia.org/wiki/Secular_state> (with or without legally explicit church–state separation) and to disestablishment, the changing of an existing, formal relationship between the church and the state.[1] <https://en.wikipedia.org/wiki/Separation_of_church_and_state#cite_note-1> In a society, the degree of political separation between the church and the civil state are determined by the legal structures and prevalent legal views that define the proper relationship between organized religion and the state. The Arm's length principle <https://en.wikipedia.org/wiki/Arm%27s_length_principle> proposes a relationship wherein the two, political entities interact as organizations independent of the authority of the other. The strict application of secular principle of *laïcité <https://en.wikipedia.org/wiki/La%C3%AFcit%C3%A9>* (secularity) is used in France and Turkey, while secular societies, such as Denmark and the United Kingdom, maintain a form of constitutional recognition of an official state religion <https://en.wikipedia.org/wiki/State_religion>.[2] <https://en.wikipedia.org/wiki/Separation_of_church_and_state#cite_note-2> The philosophy of the separation of the church from the civil state parallels the philosophies of secularism <https://en.wikipedia.org/wiki/Secularism>, disestablishmentarianism <https://en.wikipedia.org/wiki/Disestablishmentarianism>, religious liberty <https://en.wikipedia.org/wiki/Religious_liberty>, and religious pluralism <https://en.wikipedia.org/wiki/Religious_pluralism>, by way of which the European states assumed some of the social roles of the church, the welfare state <https://en.wikipedia.org/wiki/Welfare_state>, a social shift that produced a culturally secular population and public sphere <https://en.wikipedia.org/wiki/Public_sphere>.[3] <https://en.wikipedia.org/wiki/Separation_of_church_and_state#cite_note-3> In practice, church–state separation varies from total separation, mandated by the country's political constitution <https://en.wikipedia.org/wiki/Constitution>, as in India <https://en.wikipedia.org/wiki/Religion_in_India> and Singapore <https://en.wikipedia.org/wiki/Religion_in_Singapore>, to a state religion, as in the Maldives <https://en.wikipedia.org/wiki/Freedom_of_religion_in_the_Maldives>. https://en.wikipedia.org/wiki/Separation_of_church_and_state *Belajar dari cara Singapura memperlakukan agama* 21 MAY 2011 Sekitar 22 tahun silam Singapura melarang pengajaran agama di sekolah-sekolah. Hasilnya, penduduk negara itu paling tertib, disiplin, dan paling toleran antar sesama warga, walau terdiri dari banyak suku bangsa, bahasa, dan agama. Inilah sebabnya maka Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong menegaskan ahwa pemerintahnya tidak akan mengijinkan pengajaran agama dimasukkan kembali ke dalam kurikulum sekolah. PM Lee menegaskan bahwa 22 tahun silam, pemerintah di bawah kepemimpinan ayahnya—Lee Kuan Yew—sudah menetapkan bahwa agama adalah urusan pribadi dan bukan urusan sekolah. Keputusan ini diambil karena PM Lee Kuan Yew saat itu melihat bahwa pengajaran agama yang dilakukan di sekolah-sekolah telah menyebabkan penduduk semakin tercerai-berai dan bukan semakin bersatu membangun negeri pulau itu. Sejak saat itu, pemerintah melarang pendidikan agama di sekolah-sekolah. PM Lee berpendapat bahwa melarang pelajaran agama di sekolah tidak akan menghambat penduduk Singapura untuk menjalankan agamanya masing-masing. Sikap ini terbukti benar. Singapura tidak lantas menjadi negara yang berpenduduk “kafir”. Sebaliknya, Singapura kini dikenal sebagai negara yang memiliki integritas tinggi di berbagai lini pergaulan antarbangsa. *Bagaimana dengan Indonesia ?* Inilah satu-satunya negara di muka bumi yang memiliki Pancasila dengan “Ketuhanan yang Maha Esa” sebagai sila pertama. Ribuan guru agama, ribuan lembaga keagamaan, ribuan sekolah berbasis agama, dan ribuan bahkan jutaan buku-buku tentang agama bertebaran di seantero negeri ini! Rumah-rumah ibadah kecil dan besar berada di seluruh pelosok negeri, acara dan ritual keagamaan tak henti-hentinya menghiasi kalender mingguan. Agama menjadi salah satu syarat mutlak yang dicantumkan dalam kartu tanda penduduk. Bahkan agama dijadikan daya tarik sejumlah partai politik—walau hal ini semakin tak laku dijual. Menjelang 66 tahun merdeka, hasil apa yang dapat dipetik dari pengajaran agama di sekolah-sekolah Indonesia? Amat banyak hasil positif, tentunya. Tapi hasil negatif pun kian banyak dan memalukan. Korupsi, tipu daya, manipulasi, akal-akalan – atau apa pun namanya – merebak di di berbagai lembaga yang mestinya menjadi teladan dan simbol keberagamaan kita – mulai dari Kementerian Agama sampai Kementerian Pendidikan Nasional, kepolisian, kejaksaan, pengadilan negeri, Mahkamah Agung, bahkan – ini yang paling parah – DPR yang merupakan lembaga terhormat itu dinyatakan sebagai lembaga terkorup di Indonesia! Survey Kemitraan memperlihatkan lembaga legislatif menempati urutan nomor satu sebagai lembaga terkorup dibandingkan lembaga yudikatif dan eksekutif. Hasil survey yang diberitakan Metro TV tersebut menjelaskan bahwa korupsi legislatif sebesar 78%, eksekutif 32% dan yudikatif 70%. Survey 2010 ini dilakukan di 27 propinsi di Indonesia. Target responden adalah anggota parlemen, masyarakat, kalangan pemerintahan, akademisi, dan media massa. “Yang kami survey bukan orang sembarangan tapi orang-orang yang memang tahu dan paham soal instansi yang disurvey,” ujar spesialis pendidikan dan pelatihan Proyek Pengendalian Korupsi Indonesia, Laode Syarif. Di negeri ini orang taat beragama, kecuali bila berjumpa dengan proyek. READ MORE http://biologimediacentre.com/belajar-dari-cara-singapura- memperlakukan-agama/
