Gizi Buruk di Indonesia Memburuk

Kamis, 26 Januari 2017 | 06:54


MENGKHAWATIRKAN: Gizi buruk di Indonesia. Foto: assets.rappler

INDOPOS.CO.ID– Kinerja pemerintah dalam menangani gizi buruk ternyata juga 
buruk. Berdasar laporan Global Nutrition Report Independent, kondisi gizi 17,8 
persen anak balita di Indonesia di bawah standar WHO. Kementerian Kesehatan 
mengaku kewalahan mengatasi malanutrisi itu.Co-Chair of the Global Nutrition 
Report Independent Lawrence Haddad menjelaskan, Indonesia dinilai sudah keluar 
jauh dari jalur untuk mencapai target world health assembly 2025. Indikasinya, 
prevalensi 14 persen kasus wasting (kurus) pada anak balita di Indonesia 
tercatat paling besar di kawasan ASEAN. Selanjutnya, dalam kasus stunting 
(cebol), Indonesia hanya lebih baik daripada Laos dan Timor Leste. Prevalensi 
Indonesia tercatat 36 persen, sedangkan Laos 44 persen.
Indonesia kalah jauh dari negara-negara tetangga seperti Thailand dan Malaysia. 
Thailand mencatat prevalensi wasting 7 persen dan prevalensi stunting 16,3 
persen. Sebagaimana diketahui, wasting dan stunting merupakan parameter utama 
dalam menentukan gizi buruk.’’Indonesia berada dalam kategori orange. Yakni, 
sudah ada progres, tapi kurang cepat,’’ kata Haddad dalam peringatan Hari Gizi 
Nasional 2017 di Jakarta kemarin (25/1).Menteri Kesehatan (Menkes) Nila Moeloek 
mengakui, pemberantasan gizi buruk belum sepenuhnya berhasil. Namun, dia 
menegaskan bahwa pihaknya sudah bekerja keras untuk mengatasinya. ’’Hasil mulai 
terlihat meski belum dalam jumlah besar,’’ ucapnya.Nila lantas menunjukkan 
data. Untuk parameter tinggi badan terhadap umur, prevalensinya turun dari 29 
persen pada 2015 menjadi 27,5 persen pada 2016.Dia menjelaskan, ada multifaktor 
yang memengaruhi masalah gizi buruk di Indonesia. Misalnya, persoalan ekonomi 
dan kurangnya pengetahuan. Karena itu, Kementerian Kesehatan tengah menjalin 
kerja sama dengan kementerian/lembaga terkait untuk bersama-sama mengatasi gizi 
buruk tersebut.’’Soal pangan, misalnya, tentu Kementerian Pertanian (Kementan) 
harus terlibat. Akses ke daerah-daerah terpencil tentu dengan Kementerian 
Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. Kami juga sudah kerja sama dengan Kominfo 
untuk jaringan internet di daerah untuk edukasi puskesmas-puskesmas,’’ 
bebernya.Selain masalah tersebut, mitos-mitos di daerah menjadi sandungan. 
Misalnya, di Batam ada mitos bahwa ibu hamil pantang makan ikan selama 40 hari. 
Belum lagi di Atambua, Nusa Tenggara Timur (NTT), dengan tradisi panggang api 
untuk ibu yang baru melahirkan. Lalu, puasa 40 hari pasca melahirkan. Hal itu 
mengakibatkan hampir 40 persen mengalami stunting.’’Mereka nggak makan. Lalu, 
gimana bisa memberikan ASI? Padahal, ASI ini paling penting untuk pertumbuhan 
anak. Cara berpikir itu sudah tidak benar dan sudah saya sampaikan ke Bapak 
Presiden,’’ ungkapnya. (mia/bil/JPG/sam/c5/ang/JPG)Editor : Wahyu Sakti Awan

Kirim email ke