http://nasional.kompas.com/read/2017/06/15/06554731/novel.baswedan.ungkap.ada.jenderal.polisi.
terlibat.teror.terhadapnya
Novel Baswedan Ungkap Ada Jenderal Polisi
Terlibat Teror Terhadapnya
Kompas.com - 15/06/2017, 06:55 WIB
<javascript:void(0);>
<javascript:void(0);>
<javascript:void(0);>
Kapolda Metro Jaya Irjen Mochammad Iriawan saat menjenguk penyidik KPK
Novel Baswedan di Rumah Sakit Mitra, Kelapa Gading, Jakarta Utara,
Srlasa (11/4/2017).(Istimewa)
*SINGAPURA, KOMPAS.com* - Penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi
Novel Baswedan <http://indeks.kompas.com/tag/Novel-Baswedan> buka suara
mengenai kasus penyiraman air keras terhadap dirinya.
Dalam sebuah wawancara kepada /Time/
<http://time.com/4815928/indonesia-corruption-novel-baswedan-graft-kpk/>,
Novel mengatakan bahwa serangan itu terkait sejumlah kasus korupsi yang
ditanganinya.
"Begitu banyak korupsi untuk dilawan," kata Novel kepada /Time/, yang
dilansir /Kompas.com/, Kamis (15/6/2017).
Saat diwawancara /Time/,
<http://time.com/4815928/indonesia-corruption-novel-baswedan-graft-kpk/>
Novel masih dalam proses penyembuhan terhadap matanya yang terkena
siraman air keras. Sebuah pelindung mata terlihat terpasang di wajahnya
untuk melindungi penglihatannya yang mulai membaik.
Dalam perhitungan Novel, serangan air keras itu merupakan kali keenam
dia mendapat serangan terkait pekerjaannya sebagai penyidik KPK.
Pada 2011, sebuah mobil nyaris menabraknya saat dia mengendarai sepeda
motor. Novel sempat berpikir bahwa itu adalah kejadian biasa. Namun,
pikiran itu berubah saat kejadian yang sama terulang pada pekan berikutnya.
Terhadap serangan air keras yang terjadi usai dia menunaikan shalat
subuh itu, Novel pun berharap polisi bisa segera menemukan pelakunya.
Namun, sekitar dua bulan sejak peristiwa itu terjadi, polisi hingga kini
belum menemukan pelakunya.
Novel pun menduga ada "orang kuat" yang menjadi dalang serangan itu.
Bahkan, dia mendapat informasi bahwa seorang jenderal polisi ikut terlibat.
"Saya memang mendapat informasi bahwa seorang jenderal polisi terlibat,"
kata Novel.
"Awalnya saya mengira informasi itu salah. Tapi setelah dua bulan dan
kasus itu belum juga selesai, saya mengatakan (kepada yang memberi
informasi itu), sepertinya informasi itu benar," kata Novel.
(Baca juga: Lambannya Kasus Novel Diungkap Bisa Turunkan Kepercayaan
Publik Terhadap Polri
<http://nasional.kompas.com/read/xml/2017/06/06/07580821/lambannya.kasus.novel.diungkap.bisa.turunkan.kepercayaan.publik.terhadap.polri>)
*Reaksi Polri*
Menanggapi informasi tersebut, Kepala Bagian Penerangan Umum (Kabag
Penum) Divisi Humas Polri, Kombes Pol Martinus Sitompul menyatakan,
seharusnya Novel Baswedan <http://indeks.kompas.com/tag/Novel-Baswedan>
sebagai korban penyerangan air keras menyampaikan setiap informasi
penting yang diketahuinya kepada penyidik Polda Metro Jaya yang
menangani kasusnya.
Selain agar bisa ditindaklanjuti dan dikroscek kebenarannya, juga untuk
menghindari penilaian pernyataan Novel itu sebuah tuduhan atau tudingan
kepada pihak tertentu.
"Informasi-informasi yang dianggap penting oleh saudara Novel hendaknya
disampaikan kepada penyidik, supaya tidak terjadi sebuah tendensi atau
tudingan," ujar Kombes Pol Martinus Sitompul, dikutip dari /Tribunnews.com/.
"Karena informasi itu kan harus diuji, tidak dibiarkan, kalau diberikan
kepada penyidik. Nanti kami akan teruskan, kami akan selidiki," kata dia.
Kapolri Jenderal (Pol) Tito Karnavian sebelumnya mengatakan bahwa Polri
berusaha keras untuk menangkap pelaku teror terhadap Novel Baswedan
<http://indeks.kompas.com/tag/Novel-Baswedan>.
Bahkan, Tito menyebut ada kemungkinan keterlibatan Miryam S Haryani,
anggota Komisi II DPR periode 2009-2014 yang saat ini terlibat kasus e-KTP.
(Baca: Kapolri Sebut Miryam Berpotensi Terlibat Kasus Penyiraman Novel
<http://nasional.kompas.com/read/xml/2017/05/23/16234601/kapolri.sebut.miryam.berpotensi.terlibat.kasus.penyiraman.novel>)
Ia mengungkapkan, dalam menangani kasus penyiraman terhadap Novel,
polisi menggunakan metode induktif berdasarkan olah TKP dan deduktif
berdasarkan orang-orang yang berpotensi terlibat.
Tito menambahkan, dalam penggunaan metode deduktif tadi, sejauh ini
polisi telah memeriksa dua orang, yakni Miryam dan Miko yang belakangan
muncul melalui videonya di YouTube.
Sedangkan melalui metode induktif, polisi sudah memeriksa tiga orang, di
antaranya Muhammad Lestaluhu, dan belum menemukan hasil yang sudah positif.
"Semenjak 11 April, Polri telah membentuk tim gabungan yang berasal dari
Polres Jakarta Utara, Polda Metro Jaya, dan Mabes Polri dan ini terus
bekerja," ujar Tito.
(Baca juga: Hari Ke-60 Penyerangan, Bagaimana Kondisi Novel Baswedan?
<http://nasional.kompas.com/read/xml/2017/06/10/18423871/hari.ke-60.penyerangan.bagaimana.kondisi.novel.baswedan.>)
Kondisi Membaik, Namun Mata Kiri Novel Masih Parah(Kompas TV)
<javascript:void(0);>
<javascript:void(0);>
<javascript:void(0);>
Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
* Penyidik KPK Novel Baswedan Diduga Disiram Air Keras
<http://indeks.kompas.com/topik-pilihan/list/4558/penyidik.kpk.novel.baswedan.diduga.disiram.air.keras>
EditorBayu Galih
SumberTIME <http://www.time.com>,
Tag:
* Novel Baswedan <http://indeks.kompas.com/tag/Novel.Baswedan>
* Novel Baswedan disiram air keras
<http://indeks.kompas.com/tag/Novel.Baswedan.disiram.air.keras>
Berita Terkait
Polisi Bisa Cepat Ungkap Kasus Teroris, Mengapa Kasus Novel Lama
Terungkap?
<http://nasional.kompas.com/read/2017/06/06/06394891/polisi.bisa.cepat.ungkap.kasus.teroris.mengapa.kasus.novel.lama.terungkap.>