Beberapa bulan lalu di warung-warung kopi beredar kabar tentang rencana pengambilalihan saham PT Freeport Indonesia (PTFI) oleh perusahaan tambang Cina. Seperti diketahui, Freeport McMoran telah melepas saham mayoritasnya di berbagai penambangan (al. di Kongo, Chile, Colorado) kepada China Molybdenum Co Ltd. Jadi, cukup besar kemungkinan PTFImengikuti jejak induknya. Belum jelas apakah Molybdenum juga akan memborong saham PTFI. Yang pasti tahun lalu kita mendengar Barrick Gold asuhan Li Kha Sing menjual 50% sahamnya di pertambangan Porgera, Papua Nugini, ke Zijin Mining Group.Belum jelas juga, perusahaan mana yang akan masuk Tembagapura,Molybdenum atau Zijin. Dari gelibat-gelibet Menteri Kemaritiman soal pertambangan, khususnya kegerahan LBP terhadap PTFI, tampaknya kabar pengambilalihan saham PTFI oleh perusahaan Cina benar adanya. Dan diplomasi biodiesel ini hanyalah rayuan pulau kelapa (sawit)untuk mencomblangi pengambilalihan. "Sampai saat ini biodiesel dari Indonesia belum bisa memasuki China, demikian pernyataan Luhut tanpa menyebutkan alasannya." Seru juga melihat menteri urusan air asin sibuk mengasong bisnis ini-itu.
From: j.gedearka http://www.antaranews.com/berita/635733/indonesia-siap-penuhi-kebutuhan-biodiesel-china Indonesia siap penuhi kebutuhan biodiesel China Jumat, 16 Juni 2017 05:56 WIB | 2.001 Views Pewarta: M Irfan Ilmie Luhut Binsar Pandjaitan (ANTARA /Akbar Nugroho Gumay ) Beijing (ANTARA News) - Indonesia menyatakan kesiapannya untuk memenuhi kebutuhan biodiesel China yang diperkirakan mencapai sembilan juta ton per tahun. "Kami berharap bisa mendapatkan kesempatan memasok biodiesel ke sini," kata Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan di Beijing, Kamis (15/6) malam. Sampai saat ini biodiesel dari Indonesia belum bisa memasuki China, demikian pernyataan Luhut tanpa menyebutkan alasannya. Berdasarkan data di Kemenko Kemaritiman, Indonesia memiliki persediaan sekitar 10 juta ton biodiesel yang belum terpakai. China sendiri sampai saat ini baru menggunakan biodiesel tidak lebih dari satu juta ton yang diperkirakan impor dari Malaysia. Demikian pula dengan kelapa sawit dari Indonesia yang masuk ke China masih sangat terbatas. "Kalau biodiesel bisa masuk ke sini, maka petani kelapa sawit pun kita bisa menikmati hasil panennya. China butuh, kami punya," ujar Luhut menambahkan. China telah meratifikasi Kesepakatan Paris tentang Perubahan Iklim. China bersama Amerika Serikat tercatat menghasilkan 45 persen emisi global sehingga membutuhkan pengurangan emisi karbon 60-65 persen per unit GDP hingga 2030. Untuk merealisasikan pengurangan emisi karbon, negeri Tirai Bambu itu harus memanfaatkan energi berbasis nonfosil sekitar 20 persen dari keseluruhan konsumsi energi. Dalam upaya pemanfaatan energi nonfosil itu, China memproyeksikan lima persen menggunakan bahan bakar biodiesel. Terkait hal itu, Indonesia mengajukan beberapa tawaran, di antaranya perusahaan di Indonesia membangun pabrik pengolahan dan mengekspor kelapa sawit ke China. Kemudian minyak kelapa sawit tersebut diolah di beberapa pabrik pengolahan minyak kelapa sawit menjadi biodiesel di China. Selain itu, perusahaan China melakukan investasi di pabrik pengolahan minyak kelapa sawit di Indonesia dan mengolahnya menjadi biodiesel untuk selanjutnya diekspor ke China. Alternatif lain yang ditawarkan Kemenko Kemaritiman adalah mendirikan proyek bersama sejumlah perusahaan dari berbagai bidang industri untuk meningkatkan penggunaan biodiesel. Sementara itu dalam kunjungan kerjanya ke Beijing pada 15-17 Juni 2017, Luhut didampingi Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Bambang Brodjonegoro dan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Thomas Lembong serta sejumlah pengusaha dari Indonesia, termasuk beberapa direktur BUMN. Mereka bertemu beberapa pejabat setingkat menteri dan para pengusaha di China. (T.M038/A011) Editor: Ruslan Burhani COPYRIGHT © ANTARA 2017
