Tuntutan utama faham neoliberalisme adalah "pemerintahan yang
ramping", selain seluruh persoalan diswastakan. Kalau dipikir memang
cukup dua orang saja yang jadi pem. Nah peng-nya yah hasil jual-beli
"kebijakan".

Semua kan masih ingat akan pujian si Christine Lagarde, penguasa IMF
itu, pada Jokowi dlm kunjungannya ke Jakarta beberapa waktu yang lalu.
Banyak orang di luarnegeri pada heran atas sikapnya itu. Karena
perempuan itu jarang sekali memuji kreditor. Di lain pihak anak-anak
bekas negeri jajahan pada umumnya banyak yang suka dibombong. Terus
jual-obral apa saja yang dimilikinya. Kan Jokowi pernah menghimbau para
investor: Lewat satu pintu. Pintu istana! Siapa yang jaga? Yah si Luhut
itu. Ingat siapa yang membungkam mulut Novanto dng "papa minta
saham"-nya?





Am Fri,
16 Jun 2017 12:04:21 +0200 schrieb "Sunny ambon [email protected]
[GELORA45]" <[email protected]>:

> *Rupanya menteri Luhut bukan saja menteri urusan maritime, tetapi
> menteri segala urusan bisnis, tambang, minyak sawit dsbnya. Untuk apa
> ada sekianbanyak menteri di pemerintahan Jokowi, cukup satu atau dua
> orang saja, karena kalau Luhut bisa mengurus itu maka kabinet Jokowi
> perlu dikuruskan*.
> 
> *Patut diingat bahwa rezimJokowi dikatakan juga sebagai rezim Pempen
> (pemerintah pengusaha), jadi tentu disamping mengurus urusan negara
> juga mereka urus bisnis perusahaan mereka. Masalahnya ialah berapa
> prosen (%) jam kerja mereka dipakai untuk urusan negara dan berapa
> prosen dipakai untuk mengurus perusahaan mereka?*

Kirim email ke