6 Fakta Mengerikan, Mengapa Indonesia Sebaiknya Tak Menanam Sawit
| | | | | | | | | | | 6 Fakta Mengerikan, Mengapa Indonesia Sebaiknya Tak Menanam Sawit By Liputan6.com Kabut asap yang rutin melanda beberapa wilayah di Indoensia disebabkan karena pengalihan lahan hutan menjadi per... | | | | Liputan608 Okt 2015, 09:08 WIB Kabut asap yang rutin melanda beberapa wilayah di Indoensia disebabkan karena pengalihan lahan hutan menjadi perkebunan kelapa sawit. Citizen6, Jakarta Kabut asap yang rutin melanda beberapa wilayah di Indoensia disebabkan karena pengalihan lahan hutan menjadi perkebunan kelapa sawit. Ironisnya, pengalihan lahan itu menggunakan cara-cara yang tidak ramah lingkungan seperti pembakaran. Selain itu, jika diteliti, adanya perekebunan kelapa sawit, sebenarnya tidak begitu menguntungkan alias merugikan. Berikut 6 dampak buruk yang disebabkan adanya perkebunan kelapa sawit. 1. Kerusakan ekosistem hayatiKelapa sawit bukan merupakan ekosistem hayati sebagaimana hutan. Hewan-hewan yang bisa hidup di perkebunan kelapa sawit pun rata-rata hanya hewan perusak tanaman, seperti babi, ular, dan tikus. Dibanding, kelapa sawit, hutan jauh lebih penting keberadaanya. 2. Pembukaan lahan dengan cara dibakarMeskipun sudah dilarang, faktanya pembukaan lahan seringkal dilakukan dengan cara tebang habis atau (land clearing). Seperti yang terjadi di Jambi sekarang ini, kabut asap yang menyelimuti kota, akibat pembakaran hutan untuk alih fungsi lahan kelapa sawit. 3. Kerusakan unsur hara dan air dalam tanahPeneliti lingkungan dari Universitas Riau, Ariful Amri Msc, pernah meneliti kerusakan tanah karena perkebunan kelapa sawit. Penelitian itu menyimpulkan bahwa, dalam satu hari satu batang pohon sawit bisa menyerap 12 liter unsur hara dan air dalam tanah. Kondisi Lahan Pasca Pembakaran 4. Munculnya hama migran baru yang sangat ganasHama migran ini, muncul karena ekosistem yang terganggu. Jenis hama baru ini akan mencari habitat baru akibat kompetisi yang keras dengan fauna lainnya. Ini disebabkan karena keterbatasan lahan dan jenis tanaman akibat monokulturasi. 5. Terjadinya konflik horiziontal dan vertikal antarwargaMedio 2014 silam, beberapa warga di Kalimantan bentrok dengan aparat lantaran tanah mereka akan dialihfungsikan menjadi perkebenunan sawit. Selain itu ada pula konflik antarwarga yang menolak dan yang menerima masuknya perkebunan sawit. 6. Bencana banjir dan kekeringanSelanjutnya, praktek konversi hutan alam untuk pembangunan perkebunan kelapa sawit seringkali menjadi penyebab utama bencana alam seperti banjir dan tanah longsor. Bahkan di musim kemarau tak ayal wilayah itu akan mengalami kekeringan, karena sifat dari pohon sawit yag menyerap banyak unsur hara dan air dalam tanah. Demikian banyaknya dampak buruk dengan adanya kelapa sawit bagi Indonesia. Lalu, yang jadi pertanyaan, mengapa pemerintah Indonesia masih dengan gampang memberikan perijinan bagi perusahaan-perusahaan baik luar maupun dalam negeri untuk membuka lahan perekebunan kelapa sawit. Apakah Anda setuju dengan adanya perkebunan kelapa sawit secara berlebihan? Langsung isi dan suarakan pendapatmu di kolom komentar ya. (war) ---In [email protected], <nesare1@...> wrote : Iya kelapa sawit itu adalah biodiesel yg renewable dan alternative dari fossil fuel yg unrenewable.Makanya kepala sawit sangat popular dimana2 dengan pemain terbaiknya: Malaysia.Indonesia sudah mulai ikutan setelah Malaysia sudah kehabisan lahan.Investor di Indonesia itu banyak dari Malaysia. Terlepas dari luhut pake’ kelapa sawit utk menarik investor RRT utk beli saham freeport, kalau mau cari duit dan menaikkan ekonomi ya kelapa sawit ini bisa jadi andalan. Pertamina saja sudah investasi ke salah satu PTPN. Silahkan dikritik si luhut tetapi sekali lagi kalau mau menggerakkan ekonomi ya kelapa sawit ini salah satu unggulan.Investornya kalau bisa ya dari Indonesia sendiri. teknologinya tidak susah malahan gampang. Hanya aspek bisnisnya saja yg harus diperhatikan. Luhut bener kalau bisa masuk ke RRT dalam bentuk eksport akan sangat menguntungkan Indonesia. Harusnya ada perusahaan Indonesia yg masuk ke hulunya seperti mendirikan pabrik2. Pabrik2 ini sudah ada dimiliki perusahaan Indonesia tetapi yg gede2 tidak banyak. Kebanyakan pabrik2 masih dimiliki oleh perusahaan asing. Jadi pemilik kelapa sawit yg kecil2 jualannya kepabrik2 yg gede2 itu. Ini yg harus dipikirkan oleh pemerintah Indonesia bagaimana menyeimbangkan investasi asing dan dalam negeri. Masalah freeport itu lebih ke masalah politik bukan bisnis. Freeport mcmorannya saja sudah divestasi menjual saham2nya krn masalah uncertainty ini. Itu pertanda tambangnya sudah kurang feasible dimata headquarternya. Freeport di Indonesia itu masih menguntungkan sekali.Kalau mampu mengelolanya sendiri tanpa bantuan asing baik modal maupun teknologi, ya silahkan Indonesia kerjakan sendiri. kalau gak mampu, ya pikir baek2 gimana maunya pengelolaannya yg dapat menguntungkan Indonesia semaksimal mungkin. Barulah investor asing seperti RRT kalau tertarik beli saham dari freeport Indonesia. Urusan politiknya dulu yg harus dipikirkan. Disini perlu keberanian. Urusan bisnisnya mah gampang. Rizal ramli sudah ngutak ngatik masalah Sudirman said dengan kelompok yusuf kala dan siapa saja dalam negosiasi freeport ini sangat syarat korupsi. Bisa saja luhut mau RRT masuk beli saham freeport Indonesia tetapi saya kira itu urusan diluar kekusaaanya. Wong yg bila RRT yg tentunya punya pertimbangan sendiri kalau mau beli saham freeport. Yg bisa diurus itu adalah gimana maunya kontraknya di Indonesia. Itu yg bisa diurus Indonesia, tetapi bukan jual beli sahamnya.Jadi yg enggak2 saja kalau luhut mau korupsi hanya dengan jual beli saham ini. apa yg bisa difasilitasi dan ditawarkan oleh luhut? Gak ada.Sekali lagi yg bisa ditawarkan Indonesia itu adalah kontrak dan syarat bagaimana operasinya di Indonesia. Nesare From: [email protected] [mailto:[email protected]] Sent: Friday, June 16, 2017 5:54 AM To: Gelora 45 <[email protected]>; ajeg <ajegilelu@...> Subject: Re: [GELORA45] Indonesia siap penuhi kebutuhan biodiesel China Biodisel minyak kelapa sawit? 2017-06-16 11:44 GMT+02:00 ajeg ajegilelu@... [GELORA45] <[email protected]>: Beberapa bulan lalu di warung-warung kopi beredar kabartentang rencana pengambilalihan saham PT Freeport Indonesia(PTFI) oleh perusahaan tambang Cina. Seperti diketahui,Freeport McMoran telah melepas saham mayoritasnya di berbagaipenambangan (al. di Kongo, Chile, Colorado) kepada ChinaMolybdenum Co Ltd. Jadi, cukup besar kemungkinan PTFImengikuti jejak induknya. Belum jelas apakah Molybdenum juga akan memborong saham PTFI. Yang pasti tahun lalu kita mendengarBarrick Gold asuhan Li Kha Sing menjual 50% sahamnya dipertambangan Porgera, Papua Nugini, ke Zijin Mining Group.Belum jelas juga, perusahaan mana yang akan masuk Tembagapura,Molybdenum atau Zijin. Dari gelibat-gelibet Menteri Kemaritiman soal pertambangan,khususnya kegerahan LBP terhadap PTFI, tampaknya kabarpengambilalihan saham PTFI oleh perusahaan Cina benar adanya.Dan diplomasi biodiesel ini hanyalah rayuan pulau kelapa (sawit)untuk mencomblangi pengambilalihan. "Sampai saat ini biodiesel dari Indonesia belum bisa memasuki China,demikian pernyataan Luhut tanpa menyebutkan alasannya." Seru juga melihat menteri urusan air asin sibuk mengasong bisnis ini-itu. From: j.gedearka http://www.antaranews.com/berita/635733/indonesia-siap-penuhi-kebutuhan-biodiesel-china Indonesia siap penuhi kebutuhan biodiesel China Jumat, 16 Juni 2017 05:56 WIB | 2.001 ViewsPewarta: M Irfan IlmieLuhut Binsar Pandjaitan (ANTARA /Akbar Nugroho Gumay )Beijing (ANTARA News) - Indonesia menyatakan kesiapannya untuk memenuhi kebutuhan biodiesel China yang diperkirakan mencapai sembilan juta ton per tahun. "Kami berharap bisa mendapatkan kesempatan memasok biodiesel ke sini," kata Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan di Beijing, Kamis (15/6) malam. Sampai saat ini biodiesel dari Indonesia belum bisa memasuki China, demikian pernyataan Luhut tanpa menyebutkan alasannya. Berdasarkan data di Kemenko Kemaritiman, Indonesia memiliki persediaan sekitar 10 juta ton biodiesel yang belum terpakai. China sendiri sampai saat ini baru menggunakan biodiesel tidak lebih dari satu juta ton yang diperkirakan impor dari Malaysia. Demikian pula dengan kelapa sawit dari Indonesia yang masuk ke China masih sangat terbatas. "Kalau biodiesel bisa masuk ke sini, maka petani kelapa sawit pun kita bisa menikmati hasil panennya. China butuh, kami punya," ujar Luhut menambahkan. China telah meratifikasi Kesepakatan Paris tentang Perubahan Iklim. China bersama Amerika Serikat tercatat menghasilkan 45 persen emisi global sehingga membutuhkan pengurangan emisi karbon 60-65 persen per unit GDP hingga 2030. Untuk merealisasikan pengurangan emisi karbon, negeri Tirai Bambu itu harus memanfaatkan energi berbasis nonfosil sekitar 20 persen dari keseluruhan konsumsi energi. Dalam upaya pemanfaatan energi nonfosil itu, China memproyeksikan lima persen menggunakan bahan bakar biodiesel. Terkait hal itu, Indonesia mengajukan beberapa tawaran, di antaranya perusahaan di Indonesia membangun pabrik pengolahan dan mengekspor kelapa sawit ke China. Kemudian minyak kelapa sawit tersebut diolah di beberapa pabrik pengolahan minyak kelapa sawit menjadi biodiesel di China. Selain itu, perusahaan China melakukan investasi di pabrik pengolahan minyak kelapa sawit di Indonesia dan mengolahnya menjadi biodiesel untuk selanjutnya diekspor ke China. Alternatif lain yang ditawarkan Kemenko Kemaritiman adalah mendirikan proyek bersama sejumlah perusahaan dari berbagai bidang industri untuk meningkatkan penggunaan biodiesel. Sementara itu dalam kunjungan kerjanya ke Beijing pada 15-17 Juni 2017, Luhut didampingi Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Bambang Brodjonegoro dan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Thomas Lembong serta sejumlah pengusaha dari Indonesia, termasuk beberapa direktur BUMN. Mereka bertemu beberapa pejabat setingkat menteri dan para pengusaha di China. (T.M038/A011)Editor: Ruslan BurhaniCOPYRIGHT © ANTARA 2017
