Kisah perempuan yang mengembalikan keperawanan di Tunisia

  
|  
|   
|   
|   |    |

   |

  |
|  
|    |  
Kisah perempuan yang mengembalikan keperawanan di Tunisia - BBC Indonesia
 Di Tunisia, para perempuan muda diharapkan menjaga keperawanan mereka sampai 
tiba waktunya menikah.  |   |

  |

  |

 
Sihem HassainiBBC Afrique, Tunis   
   - 19 Juni 2017
   
Tautan eksternal dan akan terbuka di layar baru   
   - Bagikan artikel ini dengan Facebook
    
   - Bagikan artikel ini dengan Twitter
    
   - Bagikan artikel ini dengan Messenger
    
   - Bagikan artikel ini dengan Email
    
   - Kirim
Hak atas fotoAFPYasmine (bukan nama sebenarnya) terlihat gugup. Dia menggigiti 
kukunya dan beberapa menit sekali memeriksa telepon selulernya."Saya menganggap 
ini sebagai penipuan dan saya sangat khawatir," ujarnya.   
   - Acara televisi picu perdebatan soal keperawanan di Cina
   - Pulau tempat pembuangan gadis remaja yang hamil di luar nikah
   - Komisi gender Afrika Selatan memutuskan 'beasiswa bagi perawan' tak sesuai 
hukum
Kami berada di lantai empat sebuah klinik swasta di Tunis yang khusus menangani 
ginekologi. Di ruang tunggu yang serba pink, seorang pasien perempuan juga 
tengah menanti diperiksa.Yasmine mengaku bahwa dirinya akan menjalani 
hymenoplasty, suatu prosedur medis yang bakal mengembalikan keperawanannya 
melalui pembedahan.Dua bulan lagi Yasmine akan menikah dan perempuan berusia 28 
tahun itu cemas jikalau calon suaminya mengetahui dia tak lagi perawan, kendati 
dia telah menjalani hymenoplasty."Suatu hari mungkin saja saya keceplosan saat 
ngobrol dengan suami. Atau mungkin suami saya punya…kecurigaan."Hak atas 
fotoAFP/GETTY IMAGESImage captionSejumlah aktivis menyuarakan perlindungan 
terhadap hak-hak perempuan di Tunisia.
Tekanan
Kerisauan Yasmine beralasan. Dia mendengar bahwa ada perempuan muda di Tunisia 
yang bercerai sesaat setelah menikah karena suami mereka curiga mereka tidak 
perawan.Yasmien dilahirkan di keluarga liberal dan tinggal di luar negeri 
selama bertahun-tahun. Dia cemas tunangannya akan membatalkan pernikahan jika 
dia mengetahui kisah seksualnya di masa lalu."Saya pernah affair satu kali 
dengan seorang pria. Saat itu, saya tidak membayangkan betapa berat tekanan di 
lingkungan saya dan apa konsekuensinya. Jadi sekarang saya takut. Jika saya 
mengungkapkannya ke tunangan saya, saya yakin pernikahan kami akan dibatalkan," 
paparnya.Agar bisa kembali perawan dengan cara hymenoplasty, Yasmine harus 
membayar hampir US$400 atau Rp5,3 juta. Demi prosedur selama 30 menit itu, dia 
telah menabung selama beberapa bulan dan merahasiakannya dari keluarga dan 
tunangannya.Hak atas fotoREUTERSImage captionSikap menyanjung keperawanan 
adalah perwujudan dari budaya masyarakat yang didominasi pria lalu dibungkus 
dengan prinsip-prinsip agama, kata seorang ginekolog di Tunisia.Sang dokter 
yang akan melakukan prosedur hymenoplasty adalah seorang spesialis ginekologi 
yang disebut dokter Rachid. Rata-rata dia melakoni dua prosedur serupa dalam 
sepekan.Rachid mengakyu 99% pasiennya didorong oleh rasa takut bahwa mereka 
akan membawa aib kepada keluarga dan kerabat.Kebanyakan pasien, seperti 
Yasmine, ingin merahasiakan kenyataan bahwa mereka tak lagi perawan.Akan 
tetapi, faktanya, selaput dara bisa robek oleh beragam sebab, seperti 
penggunaan tampon. Bagaimanapun, para perempuan risau mereka akan dituduh telah 
melakukan hubungan seks sebelum menikah."Dokter spesialis ginekologi bisa 
memperbaiki selaput dara. Ini bukan sesuatu yang luar biasa. Namun, di sini 
beberapa dokter menolak melakukannya. Saya pribadi melakukannya karena saya 
tidak sepakat dengan mereka yang menganggap keperawanan adalah hal yang 
disanjung-sanjung," kata dokter Rachid."Itu sangat menganggu saya. Sikap 
semacam itu adalah perwujudan dari budaya masyarakat yang didominasi pria lalu 
dibungkus dengan prinsip-prinsip agama. Saya jujur ketika saya mengatakan sikap 
semacam itu adalah dominasi pria dan saya melancarkan perang untuk melawannya," 
sambungnya.Hak atas fotoAFPImage captionAda standar ganda di Tunisia, kata 
mahasiswa bernama Radhouam.
'Munafik'
Tunisia dipandang sebagai pemimpin hak-hak perempuan di Afrika Utara, namun 
agama dan tradisi di sini menggariskan bahwa perempuan harus tetap perawan 
sampai tiba saatnya menikah.Ada pula pasal dalam undang-undang di Tunisia yang 
khusus mengatur perceraian apabila seorang perempuan ternyata tidak perawan 
saat pertama menikah."Pada masyarakat Tunisia, yang sebenarnya masyarakat 
terbuka, kita menjadi orang-orang munafik. Ada semacam kekolotan sosial yang 
dominan sejak lama yang sulit dibenarkan karena kita mengklaim hidup di 
masyarakat modern. Namun, tidak banyak kemodernan jika menyangkut seksualitas 
dan kebebasan perempuan," tutur sosiolog Tunisia, Samia Elloumi.Di sebuah 
universitas negeri, saya berjumpa dengan Hichem. Mahasiswa berusia 29 tahun ini 
akan menikah tahun depan. Saya bertanya sikapnya soal keperawanan 
tunangannya."Bagi saya, itu sangat, sangat penting. Jika saya tahu dia bukan 
perawan setelah menikah, saya tidak akan mempercayainya lagi. Saya 
menganggapnya sebagai pengkhianatan. Saya tidak percaya dengan operasi 
hymenoplasty. Saya kira itu tidak bisa menggantikan," kata Hichem.Duduk di 
sebelah Hichem, seorang mahasiswa bernama Radhouam. Dia menilai tradisi Tunisia 
terlalu keji untuk kaum perempuan."Bagi saya, itu murni kemunafikan. Para 
pemuda bisa berhubungan seks dengan bebas sebelum menikah. Lalu mengapa kita 
menyalahkan perempuan muda ketika mereka melakukan hal yang sama?"

Kirim email ke