Makanya jangan main hakim sendiri

From: [email protected] [mailto:[email protected]]
Sent: Tuesday, June 20, 2017 3:11 AM
To: Yahoogroups <[email protected]>
Subject: [**EXTERNAL**] [GELORA45] Arkeolog dan ahli naskah tanggapi klaim 
Majapahit sebagai kerajaan Islam




Arkeolog dan ahli naskah tanggapi klaim Majapahit sebagai kerajaan 
Islam<http://www.bbc.com/indonesia/indonesia-40319665>





[https://s.yimg.com/nq/storm/assets/enhancrV2/23/logos/bbc.png]

Arkeolog dan ahli naskah tanggapi klaim Majapahit sebagai kerajaan Islam - ...
Sebuah kajian yang menyimpulkan Kerajaan Majapahit adalah Kesultanan Islam 
dipertanyakan arkeolog senior dan ahl...





Heyder AffanBBC Indonesia

  *   19 Juni 2017
Tautan eksternal dan akan terbuka di layar baru

  *   Bagikan artikel ini dengan 
Facebook<http://www.bbc.com/indonesia/indonesia-40319665>


  *   Bagikan artikel ini dengan 
Twitter<http://www.bbc.com/indonesia/indonesia-40319665>


  *   Bagikan artikel ini dengan 
Messenger<http://www.bbc.com/indonesia/indonesia-40319665>


  *   Bagikan artikel ini dengan 
Email<mailto:?subject=Shared%20from%20BBC%20Indonesia&body=http%3A%2F%2Fwww.bbc.com%2Findonesia%2Findonesia-40319665>


  *   Kirim<http://www.bbc.com/indonesia/indonesia-40319665#share-tools>
Sebuah hasil kajian yang menyimpulkan Kerajaan Majapahit merupakan Kesultanan 
Islam dipertanyakan oleh arkeolog senior dan ahli naskah kuno, karena dianggap 
tidak berdasarkan bukti-bukti yang kuat.
[majapahit]Hak atas fotoKEMDIKBUD.GO.IDImage captionSalah-satu situs 
peninggalan bersejarah di kawasan Trowulan, Jawa Timur, yang diyakini dulunya 
merupakan bagian Kerajaan Majapahit.
Mereka kemudian mengusulkan agar kajian itu dibahas bersama para ahli di 
bidangnya sehingga dapat diketahui kelebihan dan kekurangannya.
Hasil kajian sebenarnya sudah dibukukan dengan judul Majapahit, Kerajaan Islam: 
Fakta Mengejutkan, pada 2010 lalu namun belakangan kembali menjadi sorotan di 
media sosial setelah seseorang mengutip keterangan dari buku tersebut.
·         Pengrusakan situs Majapahit: 'Ada saksi yang diancam dengan 
pistol'<http://www.bbc.com/indonesia/indonesia-39537427>
·         Polisi periksa terduga penjarah situs 
Majapahit<http://www.bbc.com/indonesia/indonesia-39551094>
·         Bagaimana mencegah kerusakan situs "Kerajaan Majapahit" di 
Trowulan?<http://www.bbc.com/indonesia/indonesia-39579313>
Secara garis besar, kutipan itu menyebutkan bahwa Majapahit merupakan 
Kesultanan Islam dan Maha Patih kerajaan itu, Gadjah Mada, memiliki nama asli 
Gaj Ahmada dan beragama Islam.
Namun arkeolog senior Mundardjito -yang pernah melakukan penelitian di situs 
peninggalan Kerajaan Majapahit di Trowulan, Jawa Timur- mengatakan klaim itu 
tidak memiliki bukti-bukti ilmiah yang kuat.
"Kok semuanya jadi di-Islam-Islamkan. Padahal, candi-candinya, reliefnya, 
semuanya enggak (Islam)," kata Mundardjito kepada BBC Indonesia, Minggu (18/06) 
sore.
[mundardjito]Hak atas fotoBBC INDONESIAImage captionArkeolog senior Mundardjito 
di ruangan kerjanya di kediamannya di kawasan Rawamangun, Jakarta Timur, 2012.
Menurutnya, secara stastitik, jumlah cagar budaya yang berupa bangunan dan arca 
-yang tersebar luas di kawasan yang diyakini merupakan peninggalan kerajaan 
Majapahit- semuanya bersifat Hindu-Buddha.
"Benda-benda tidak bergerak itu tersebar sampai ke daerah Malang dan 
sebagainya, dan bangunannya jumlahnya ratusan, dan bentuknya bukan masjid, tapi 
(bersifat) Hindu-Buddha," jelas Mundardjito.
Adanya benda-benda cagar budaya itu, lanjutnya, merupakan bukti yang tidak bisa 
dibantah. Sebaliknya, bukti-bukti tulisan atau cerita lisan tidak bisa 
dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
·         Kepedulian arkeolog 
Mundardjito<http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2012/07/120731_tokoh_juli2012_mundardjito>
·         Menyelamatkan kota tua Jakarta dari 
kehancuran<http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2016/02/160204_majalah_revitalisasi_kotatuajkt>
·         Aplikasi wisata sekaligus merawat warisan 
budaya<http://www.bbc.com/indonesia/majalah-39037014>
"Kalau benda itu wujudnya ada, itu 'kan bukti. Tapi kalau, misalnya, (tulisan) 
di koran, itu 'kan tertulis. Dan itu bisa saja dipakai untuk analisa untuk 
kepentingan macam-macam," katanya lebih lanjut.
Mundardjito juga mengkritik klaim penulis buku tersebut yang -antara lain- 
mendasarkan kesimpulannya berdasarkan temuan koin Majapahit bertuliskan La 
Ilaha Illallah Muhammad Rasulullah.
"Mata uang yang Islam itu cuma kecil, dan itu (benda) bergerak. Bisa dibawa 
siapa saja. Mata uang Cina juga banyak (ditemukan di situs Trowulan), ribuan 
jumlahnya," katanya.
Mundardjito mengakui memang ada temuan makam-makam Islam di beberapa tempat di 
situs Trowulan, tetapi tidak berarti kerajaan Majapahit adalah Kesultanan 
Islam, seperti diklaim penulis buku tersebut.
"Makam-makam itu memang makam Islam, tetapi jumlahnya tidak banyak dan baru 
muncul setelah tahun-tahun berikutnya," jelasnya.
Karena itulah, demikian Mundardjito, temuan sejarah baru harus memiliki bukti 
yang sahih, relevan, serta dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
Apa tanggapan penulis buku?
Hari Minggu (18/06), BBC Indonesia telah menghubungi penulis buku tersebut, 
Herman Sinung Janutama, melalui laman Facebooknya, tetapi belum ditanggapi.
Buku Majapahit, Kerajaan Islam: Fakta Mengejutkan (2010) disusun dan 
diterbitkan Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik (LHKP) Pengurus Daerah 
Muhammadiyah, Kota Yogyakarta.
Namun demikian, dalam wawancara dengan 
Tirto.id<https://tirto.id/klarifikasi-soal-gaj-ahmada-dan-klaim-kesultanan-majapahit-cqWY>
 (Minggu, 18/06), Herman secara garis besar mengatakan bahwa kesimpulan 
Majapahit adalah Kerajaan Islam didasarkan riset pada cerita lisan dan rujukan 
pada manuskrip kuno.
"Bagi orang Jawa yang masih menjalankan tradisi, Majapahit tidak pernah bukan 
Islam," katanya kepada Tirto.id.
[Facebook]Hak atas fotoASHAD KUSUMA DJAYA/FACEBOOK
Dia juga menyebut bahwa bukunya didasarkan kritik metodologi terhadap studi 
sejarah mainstream atau arus utama, yaitu dengan merambah manuskrip yang jarang 
menjadi referensi kajian soal Majapahit.
Herman kemudian mengaku dirinya menerapkan cara pandang berbeda dari para 
filolog dan sejarawan modern dalam pembacaan manuskrip Jawa.
Tentang sosok Gadjah Mada, Herman mengklaim bahwa sang Maha Patih Majapahit 
adalah penganut Islam, dengan berdasarkan catatan silsilahnya.
Namun demikian, dalam komentarnya yang dikutip laman Facebook milik Wakil Ketua 
Pengurus Daerah Muhammadiyah Yogyakarta, Ashad Kusuma Djaya, sang penulis 
mengaku dirinya tidak pernah menyebut Gadjah Mada dengan sebutan Gaj Ahmada.
Kepada Tirto.id, Ketua Tim Kajian Kesultanan Majapahit, Ryanto Tri Nugroho, 
juga mengatakan pihaknya mengklaim memiliki dasar kuat walau metode riset dan 
kesimpulannya berkebalikan dengan studi sejarah dan antropologi mainstream.
Kritikan dari ahli naskah kuno
Dihubungi secara terpisah, ahli filologi atau naskah kuno dari Universitas 
Gadjah Mada, Irawan Djoko Nugroho, mengatakan sejak awal mengkritik kehadiran 
buku karya Herman Sinung Janutama tersebut.
Irawan menyebut bahwa Herman menggunakan data Jawa baru untuk melihat sejarah 
Jawa kuno.
"Kalau data Jawa kuno, kita orientasinya ke sumber Pararaton, Negara Kertagama, 
kemudian prasasti-prasasti. Nah, ketiga data tersebut menunjukkan bahwa 
Majapahit itu Hindu, bukan Islam," kata Irawan kepada BBC Indonesia.
[majapahit]Hak atas fotoFACEBOOK DENI INDIANTOImage captionFoto yang diunggah 
di Facebook yang memperlihatkan sekelompok orang mengambil batu bata dari situs 
bangunan yang diduga peninggalan Majapahit, April 2017 lalu.
Dia menduga, Herman menggunakan data dan sumber baru yang disebutnya tidak 
merujuk kepada data-data yang lama.
"Dalam kajian filologi, teks baru tidak dapat merevisi teks lama. Namun teks 
lama dapat merevisi teks baru, karena dimungkinkan dalam teks baru timbul 
penambahan-pemabhana dari para penyalin," papar Irawan.
Irawan -penulis buku Majapahit Peradaban Maritim - juga menganggap Herman 
Sinung tidak menggunakan data sejarah resmi, yaitu yang sudah diakui oleh 
standar penulisan sejarah di Indonesia.
"Penulisan sejarah di Indonesia standarnya kan, pertama, data-data prasasti, 
kemudian data-data kakawin, data-data sejarah pendukung lainnya, kemudian 
didukung data-data dari Cina, kemudian data-data dari Arab," jelasnya.
Semua data itu, lanjutnya, menyebut bahwa Majapahit bukanlah kerajaan Islam. 
"Bahkan, data dari Arab sendiri menyatakan ketika orang Arab datang ke 
Majapahit, itu mengatakan bahwa Raja Majapahit masih orang kafir. Jadi bukan 
Muslim," tambahnya.
Bagaimanapun agar tim penulis buku tersebut diharapkan menjelaskan hasil 
kajiannya di depan para ahli di bidang tersebut.
"Minta saja orangnya untuk bicara di depan para ahlinya," kata Mundardjito.
Usulan itu juga didukung oleh Irawan. "Intinya, kita bukan untuk saling 
menjatuhkan, tapi untuk saling belajar."

Kirim email ke