Arkeolog dan ahli naskah tanggapi klaim Majapahit sebagai kerajaan Islam


  
|  
|   
|   
|   |    |

   |

  |
|  
|    |  
Arkeolog dan ahli naskah tanggapi klaim Majapahit sebagai kerajaan Islam - ...
 Sebuah kajian yang menyimpulkan Kerajaan Majapahit adalah Kesultanan Islam 
dipertanyakan arkeolog senior dan ahl...  |   |

  |

  |

 

Heyder AffanBBC Indonesia   
   - 19 Juni 2017
   
Tautan eksternal dan akan terbuka di layar baru   
   - Bagikan artikel ini dengan Facebook
    
   - Bagikan artikel ini dengan Twitter
    
   - Bagikan artikel ini dengan Messenger
    
   - Bagikan artikel ini dengan Email
    
   - Kirim
Sebuah hasil kajian yang menyimpulkan Kerajaan Majapahit merupakan Kesultanan 
Islam dipertanyakan oleh arkeolog senior dan ahli naskah kuno, karena dianggap 
tidak berdasarkan bukti-bukti yang kuat.Hak atas fotoKEMDIKBUD.GO.IDImage 
captionSalah-satu situs peninggalan bersejarah di kawasan Trowulan, Jawa Timur, 
yang diyakini dulunya merupakan bagian Kerajaan Majapahit.Mereka kemudian 
mengusulkan agar kajian itu dibahas bersama para ahli di bidangnya sehingga 
dapat diketahui kelebihan dan kekurangannya.Hasil kajian sebenarnya sudah 
dibukukan dengan judul Majapahit, Kerajaan Islam: Fakta Mengejutkan, pada 2010 
lalu namun belakangan kembali menjadi sorotan di media sosial setelah seseorang 
mengutip keterangan dari buku tersebut.   
   - Pengrusakan situs Majapahit: 'Ada saksi yang diancam dengan pistol'
   - Polisi periksa terduga penjarah situs Majapahit
   - Bagaimana mencegah kerusakan situs "Kerajaan Majapahit" di Trowulan?
Secara garis besar, kutipan itu menyebutkan bahwa Majapahit merupakan 
Kesultanan Islam dan Maha Patih kerajaan itu, Gadjah Mada, memiliki nama asli 
Gaj Ahmada dan beragama Islam.Namun arkeolog senior Mundardjito -yang pernah 
melakukan penelitian di situs peninggalan Kerajaan Majapahit di Trowulan, Jawa 
Timur- mengatakan klaim itu tidak memiliki bukti-bukti ilmiah yang kuat."Kok 
semuanya jadi di-Islam-Islamkan. Padahal, candi-candinya, reliefnya, semuanya 
enggak (Islam)," kata Mundardjito kepada BBC Indonesia, Minggu (18/06) sore.Hak 
atas fotoBBC INDONESIAImage captionArkeolog senior Mundardjito di ruangan 
kerjanya di kediamannya di kawasan Rawamangun, Jakarta Timur, 2012.Menurutnya, 
secara stastitik, jumlah cagar budaya yang berupa bangunan dan arca -yang 
tersebar luas di kawasan yang diyakini merupakan peninggalan kerajaan 
Majapahit- semuanya bersifat Hindu-Buddha."Benda-benda tidak bergerak itu 
tersebar sampai ke daerah Malang dan sebagainya, dan bangunannya jumlahnya 
ratusan, dan bentuknya bukan masjid, tapi (bersifat) Hindu-Buddha," jelas 
Mundardjito.Adanya benda-benda cagar budaya itu, lanjutnya, merupakan bukti 
yang tidak bisa dibantah. Sebaliknya, bukti-bukti tulisan atau cerita lisan 
tidak bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah.   
   - Kepedulian arkeolog Mundardjito
   - Menyelamatkan kota tua Jakarta dari kehancuran
   - Aplikasi wisata sekaligus merawat warisan budaya
"Kalau benda itu wujudnya ada, itu 'kan bukti. Tapi kalau, misalnya, (tulisan) 
di koran, itu 'kan tertulis. Dan itu bisa saja dipakai untuk analisa untuk 
kepentingan macam-macam," katanya lebih lanjut.Mundardjito juga mengkritik 
klaim penulis buku tersebut yang -antara lain- mendasarkan kesimpulannya 
berdasarkan temuan koin Majapahit bertuliskan La Ilaha Illallah Muhammad 
Rasulullah."Mata uang yang Islam itu cuma kecil, dan itu (benda) bergerak. Bisa 
dibawa siapa saja. Mata uang Cina juga banyak (ditemukan di situs Trowulan), 
ribuan jumlahnya," katanya.Mundardjito mengakui memang ada temuan makam-makam 
Islam di beberapa tempat di situs Trowulan, tetapi tidak berarti kerajaan 
Majapahit adalah Kesultanan Islam, seperti diklaim penulis buku 
tersebut."Makam-makam itu memang makam Islam, tetapi jumlahnya tidak banyak dan 
baru muncul setelah tahun-tahun berikutnya," jelasnya.Karena itulah, demikian 
Mundardjito, temuan sejarah baru harus memiliki bukti yang sahih, relevan, 
serta dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.Apa tanggapan penulis buku?Hari 
Minggu (18/06), BBC Indonesia telah menghubungi penulis buku tersebut, Herman 
Sinung Janutama, melalui laman Facebooknya, tetapi belum ditanggapi.Buku 
Majapahit, Kerajaan Islam: Fakta Mengejutkan (2010) disusun dan diterbitkan 
Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik (LHKP) Pengurus Daerah Muhammadiyah, Kota 
Yogyakarta.Namun demikian, dalam wawancara dengan Tirto.id (Minggu, 18/06), 
Herman secara garis besar mengatakan bahwa kesimpulan Majapahit adalah Kerajaan 
Islam didasarkan riset pada cerita lisan dan rujukan pada manuskrip kuno."Bagi 
orang Jawa yang masih menjalankan tradisi, Majapahit tidak pernah bukan Islam," 
katanya kepada Tirto.id.Hak atas fotoASHAD KUSUMA DJAYA/FACEBOOKDia juga 
menyebut bahwa bukunya didasarkan kritik metodologi terhadap studi sejarah 
mainstream atau arus utama, yaitu dengan merambah manuskrip yang jarang menjadi 
referensi kajian soal Majapahit.Herman kemudian mengaku dirinya menerapkan cara 
pandang berbeda dari para filolog dan sejarawan modern dalam pembacaan 
manuskrip Jawa.Tentang sosok Gadjah Mada, Herman mengklaim bahwa sang Maha 
Patih Majapahit adalah penganut Islam, dengan berdasarkan catatan 
silsilahnya.Namun demikian, dalam komentarnya yang dikutip laman Facebook milik 
Wakil Ketua Pengurus Daerah Muhammadiyah Yogyakarta, Ashad Kusuma Djaya, sang 
penulis mengaku dirinya tidak pernah menyebut Gadjah Mada dengan sebutan Gaj 
Ahmada.Kepada Tirto.id, Ketua Tim Kajian Kesultanan Majapahit, Ryanto Tri 
Nugroho, juga mengatakan pihaknya mengklaim memiliki dasar kuat walau metode 
riset dan kesimpulannya berkebalikan dengan studi sejarah dan antropologi 
mainstream.
Kritikan dari ahli naskah kuno
Dihubungi secara terpisah, ahli filologi atau naskah kuno dari Universitas 
Gadjah Mada, Irawan Djoko Nugroho, mengatakan sejak awal mengkritik kehadiran 
buku karya Herman Sinung Janutama tersebut.Irawan menyebut bahwa Herman 
menggunakan data Jawa baru untuk melihat sejarah Jawa kuno."Kalau data Jawa 
kuno, kita orientasinya ke sumber Pararaton, Negara Kertagama, kemudian 
prasasti-prasasti. Nah, ketiga data tersebut menunjukkan bahwa Majapahit itu 
Hindu, bukan Islam," kata Irawan kepada BBC Indonesia.Hak atas fotoFACEBOOK 
DENI INDIANTOImage captionFoto yang diunggah di Facebook yang memperlihatkan 
sekelompok orang mengambil batu bata dari situs bangunan yang diduga 
peninggalan Majapahit, April 2017 lalu.Dia menduga, Herman menggunakan data dan 
sumber baru yang disebutnya tidak merujuk kepada data-data yang lama."Dalam 
kajian filologi, teks baru tidak dapat merevisi teks lama. Namun teks lama 
dapat merevisi teks baru, karena dimungkinkan dalam teks baru timbul 
penambahan-pemabhana dari para penyalin," papar Irawan.Irawan -penulis buku 
Majapahit Peradaban Maritim - juga menganggap Herman Sinung tidak menggunakan 
data sejarah resmi, yaitu yang sudah diakui oleh standar penulisan sejarah di 
Indonesia."Penulisan sejarah di Indonesia standarnya kan, pertama, data-data 
prasasti, kemudian data-data kakawin, data-data sejarah pendukung lainnya, 
kemudian didukung data-data dari Cina, kemudian data-data dari Arab," 
jelasnya.Semua data itu, lanjutnya, menyebut bahwa Majapahit bukanlah kerajaan 
Islam. "Bahkan, data dari Arab sendiri menyatakan ketika orang Arab datang ke 
Majapahit, itu mengatakan bahwa Raja Majapahit masih orang kafir. Jadi bukan 
Muslim," tambahnya.Bagaimanapun agar tim penulis buku tersebut diharapkan 
menjelaskan hasil kajiannya di depan para ahli di bidang tersebut."Minta saja 
orangnya untuk bicara di depan para ahlinya," kata Mundardjito.Usulan itu juga 
didukung oleh Irawan. "Intinya, kita bukan untuk saling menjatuhkan, tapi untuk 
saling belajar."

Kirim email ke