Bravo Bung Bedjo Untung, maju terus b ersama-sama dalam membela
hak-hak seluruh korban rezim Orba anti- kemanusiaan, menyeliosik
kebenaran sejarah 1965.
Salam hangat Harsutejo.-

Pada tanggal 27/06/17, Tatiana Lukman [email protected]
[GELORA45] <[email protected]> menulis:
> Mbok jangan pakai kata "tragedi". Kalau boleh usul, lebih sesuai adalah kata
> genoside politik.
>
>     On Monday, June 26, 2017 7:41 PM, "'[email protected]'
> [email protected] [GELORA45]" <[email protected]> wrote:
>
>
>         " .. Penghargaan ini akan menjadi simbol persahabatan antara Korban
> Pelanggaran HAM di Indonesia dan Korea Selatan, ini adalah solidaritas nyata
> dari korban penyiksaan dan orang-orang dari kedua negara yang sedang
> berjuang untuk menegakkan Demokrasi dan Hak Asasi Manusia. ..
> "  
> https://www.facebook.com/notes/ypkp-humas/pidato-ketua-ypkp-65-pada-penganugerahan-human-right-award-of-the-truth-foundati/295392507589673/
>
>      Pidato Ketua YPKP 65 pada Penganugerahan “Human Right Award of The
> Truth Foundation” South Korea [Disampaikan dalam versi Inggris] di House of
> Literature, Seoul, South Korea, 26 Juni 2017 Jam 19.00 waktu setempat atau
> 17.00 WIB] Oleh: Bedjo Untung* Pidato Penganugerahan Penghargaan Ke-7 Truth
> Foundation Korea Selatan di Seoul 26 Juni 2017Penghargaan untuk Martir
> Kemanusiaan   Yayasan Kebenaran yang terhormat, Korban Pelanggaran Hak Asasi
> Manusia setelah Perang Korea,Korban penganiayaan selama Rezim Kediktatoran
> Militer Park Chung-hee dan Chun Doo-hwan,Delegasi Korban, Aktivis, Pembela
> Hak Asasi Manusia dari berbagai negara di Asia dan perwakilan Dari Badan
> Internasional,Perwakilan Negara / Lembaga Pemerintah, juga Korban
> Pelanggaran HAM Kejahatan Terhadap Kemanusiaan Korban Genosida 1965/66 di
> Indonesia dan Korban Pelanggaran HAM di mana-mana di Dunia.. Atas nama
> Korban Tragedi Pembantaian Tahun 1965/66 (Tragedi-Jagal) dan saya sendiri
> sebagai Ketua YPKP 65 (Lembaga Studi untuk Pembantaian 1965-66). Merupakan
> kehormatan bagi saya untuk memiliki kesempatan paling bergengsi. Untuk
> mengungkapkan rasa terima kasih kami yang dalam kepada Yayasan Kebenaran
> untuk memilih saya dan institusi YPKP 65 sebagai penerima Penghargaan Hak
> Asasi Manusia ke-7 oleh The Truth Foundation Korea Selatan. Penghargaan ini
> bukan hanya untuk diri saya tapi -sebenarnya yang paling layak- adalah semua
> Korban Tragedi 1965 yang sampai saat ini masih mengalami ketidakadilan,
> intoleransi, terpinggirkan dan perlakuan tidak manusiawi. Korban tragedi
> 1965-66 tersebar di seluruh Indonesia dari Aceh di barat Indonesia hingga
> Papua di bagian timur Indonesia. Faktanya, Korban tragedi juga tersebar di
> luar negeri di Eropa, Belanda, Prancis, Inggris, Jerman, Swedia, Swiss,
> Rusia, Kuba, China dan lain-lain. -kami menyebutnya sebagai korban
> pembuangan- karena pilihan politik mereka menolak dukungan mereka terhadap
> Kediktatoran Soeharto, maka mereka menjadi warga negara tanpa
> kewarganegaraan. Penghargaan ini juga tidak hanya untuk YPKP 65 saja tapi
> juga untuk semua organisasi Korban Tragedi yang peduli dengan advokasi
> korban. Mereka melindungi kita, mereka mendukung kita, mereka memberikan
> solidaritas kepada kita terutama ketika YPKP 65 berada di bawah penganiayaan
> militer, menteror dan intimidasi dengan menggunakan tangan kelompok-kelompok
> intoleran, organisasi anti-demokrasi dan anti hak asasi manusia. Terima
> kasih khusus kepada almarhum tahanan politik: Aktivis Madam Sulami Gerakan
> Perempuan Indonesia, novelis Mr. Pramoedya Ananta Toer, Bapak Hasan Raid
> seorang mantan politisi, aktivis Suharno aktivis Gerakan Mahasiswa
> Indonesia, penerjemah dan penulis Kusalah Soebagyo Toer, Madame Aktivis
> Sumini dari Gerakan Perempuan Indonsia, dan lain-lain, sebagai Pendiri YPKP
> 65 yang memungkinkan saya berdiri di sini.Juga terima kasih khusus kepada
> ketua Madam Nadiani cabang YPKP 65 di Bukittinggi Sumatera Barat, Bapak
> Supardi dari Pati, Sudarno dari Pekalongan, Bapak Edi Sugiyanto dari
> Cirebon, Ibu Suwarti dari Cilacap, Badri dari Kulon Progo Yogyakarta,
> Supangat dari Boyolali, Bapak Budiono dari Pacitan, Pak Handoko dari
> Surabaya, Bapak Asep Hidayat dari Sukabumi, Mas Aris Panji dari Kebumen Jawa
> Tengah dan semua kamerad yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu karena
> kerja keras dan semangat mereka menerobos lembah, naik turun bukit, masuk
> dan keluar hutan, menembus semak-semak di daerah terpencil untuk mencari dan
> merekam Korban dan mengidentifikasi kuburan massal yang tersebar di berbagai
> tempat. Mereka relawan yang bekerja keras, tidak terganggu dengan ancaman,
> baik ancaman atau teror militer. Dari pendapat saya yang rendah hati, bagi
> mereka dan korban yang masih hidup dan telah meninggal dunia sebagai martir
> umat manusia, maka penghargaan ini harus dipresentasikan.  Nilai
> Penghargaan Tentu saja, penghargaan ini akan merangsang semangat para korban
> di Indonesia untuk mengungkapkan dan membuka kebenaran. Kami kemudian merasa
> yakin bahwa pekerjaan dan perjuangan kami mendapat simpati dan solidaritas
> dari para korban Hak Asasi Manusia terutama dari Korea Selatan. Hampir 52
> tahun militer menyembunyikan sejarah sebenarnya, mereka tetap berpura-pura
> palsu. Penghargaan ini juga sebagai pengakuan dari komunitas internasional
> terutama dari Korea Selatan.Kami dapat mempelajari pengalaman orang-orang
> Korea Selatan bagaimana menyelesaikan pelanggaran HAM baik melalui proses
> yudicial maupun non yudicial. Kami juga dapat membagikan apa yang telah kami
> lakukan - penggalian dan pemalsuan - dan pengalaman pahit saat kami diserang
> oleh kelompok militer atau kelompok intoleran lainnya. Ketika saya berbicara
> di depan Anda hari ini saya tidak bisa menyembunyikan kebanggaan kebahagiaan
> saya karena Anda mengetahui perjuangan saya yang panjang dan tak kenal
> lelah, saya ingat masa penahanan tanpa mengetahui kapan saya akan
> dibebaskan. Sembilan tahun sudah lama. Waktu produktif saya baru saja
> memudar di penjara. Saya telah kehilangan kesempatan untuk belajar di
> sekolah tapi saya harus bekerja keras di kamp konsentrasi, yang memaksa
> kerja tanpa bayaran dan cukup makanan. Saya harus makan tikus, tikus, siput,
> ular, dan lainnya. Kondisi ini menyebabkan kelaparan, sebagian besar teman
> saya meninggal karena kelaparan. Ketika saya dibebaskan pada tahun 1979
> karena tekanan Internasional, teman-teman saya dan saya masih bertindak
> sebagai narapidana, mendapat diskriminasi, tidak memiliki akses kerja, tidak
> diizinkan untuk menjadi pejabat pemerintahan, guru, angkatan bersenjata,
> bahkan kami tidak diperbolehkan untuk menikah dengan keluarga militer. Kita
> hidup seolah-olah di sela-sela sel besar masyarakat. Penganiayaan,
> penindasan selalu terus terjadi pada korban. YPKP 65 didirikan sebagai
> sarana penghiburan bagi korban tragedi yang telah lama menderita di penjara
> dan telah berjuang selama hidup mereka. Melalui YPKP 65 para Korban dapat
> memperoleh akses untuk mendapatkan hak-hak mereka atas perawatan
> medis-psikolosial pemerintah berdasarkan Konstitusi Nomor 13 / tahun 2006
> dan Nomor 31 / tahun 2014. YPKP 65 juga memimpin untuk menyelidiki dan
> mengumpulkan data korban, catatan penghilangan, penahanan, pembunuhan extra
> judicial, pemerkosaan, kerja paksa, catatan tentang siksaan, konsentrasi
> kamp, ​​kuburan massal, kesaksian korban. Ini akan sangat penting sebagai
> warisan bangsa bagi generasi muda untuk memberi tahu mereka sejarah
> sejatinya. Permintaan kami adalah Korban tragedi harus direhabilitasi karena
> mereka tidak bersalah. Hak mereka seperti kebenaran, reparasi, rehabilitasi,
> kompensasi dan jaminan tidak terulang kembali di masa depan harus dinyatakan
> secara jelas oleh pemerintah. Pelakunya harus dihukum.  Panggilan untuk
> solidaritas Pada kesempatan yang sangat penting ini atas nama institusi YPKP
> 65 dan saya sendiri, saya dengan ini memanggil solidaritas Anda, Yayasan
> Kebenaran Korea Selatan dan semua Organisasi Masyarakat Sipil di Korea
> Selatan dan yang lainnya untuk terus bergandengan tangan dengan YPKP 65
> untuk bergema dan mendorong kuat suara Korban Tragedi 1965/66 di
> Indonesia. Secara khusus, saya mengajak Anda untuk bekerja sama dalam
> penelitian, pengumpulan data dengan tujuan akhir penegakan HAM, berjuang
> untuk kebenaran. Dalam tujuan jangka panjang -dengan persetujuan Pemerintah
> Republik Indonesia dan Komisi Hak Asasi Manusia Republik Indonesia serta
> Jaksa Agung- kami melakukan penggalian kuburan massal untuk mendapatkan
> bukti kebenaran material dan untuk menghormati hak asasi manusia. Dewan HAM
> PBB harus melakukan penyelidikan independen terhadap trauma nasional
> Indonesia dari pembantaian 1965-66, kejahatan terhadap kemanusiaan dan
> genosida yang belum pernah diselesaikan. Diperkirakan 500.000 - 3 juta orang
> terbunuh, dan ratusan ribu lagi ditahan tanpa diadili. Sampai saat ini,
> tidak ada keadilan yang telah dilakukan kepada para korban, mereka dan
> keluarga mereka masih hidup di bawah stigma yang diabadikan oleh orang-orang
> di koridor kekuasaan. (Lihat Rekomendasi Komisi Hak Asasi Manusia Indonesia
> pada tahun 2012 dan Laporan Akhir Pengadilan Rakyat Internasional di Den
> Haag 2016).Terakhir, namun saya tidak menghargai penghargaan yang diberikan
> kepada saya dan YPKP 65. Anda, Yayasan Kebenaran telah membangkitkan saya
> dari beban yang saya dapatkan. Penghargaan ini akan menjadi simbol
> persahabatan antara Korban Pelanggaran HAM di Indonesia dan Korea Selatan,
> ini adalah solidaritas nyata dari korban penyiksaan dan orang-orang dari
> kedua negara yang sedang berjuang untuk menegakkan Demokrasi dan Hak Asasi
> Manusia. Bagaimana sebuah negara bisa berjalan ke masa depannya ketika titik
> gelap sejarahnya tetap tersembunyi di balik layar asap?Tulang dan tubuh bisa
> dikuburkan tapi Kebenaran tidak mungkin binasaLangit bisa hancur
> berkeping-keping tapi kebenaran harus diungkapkan.Kita mencintai damai tapi
> kita lebih mencintai keadilan  Terima kasih. Bedjo Untung*Chairman of YPKP
> 65 YAYASAN PENELITIAN KORBAN PEMBUNUHAN 1965/1966 (YPKP 65)Indonesian
> Institute for The Study of 1965/1966 MassacreSK Menkumham
> No.C-125.HT.01.02.TH 2007 Tanggal 19 Januari 2007Tambahan Berita Negara RI
> Nomor 45 tanggal 5 Juni 2007 , PENGURUS PUSATAlamat: Jln. MH. Thamrin Gang
> Mulia No. 21 Kp. Warung Mangga, RT 01 RW 02Panunggangan, Kecamatan Pinang,
> Tangerang 15143 Banten, INDONESIA Phone : (+62 -21) 53121770, Fax
> 021-53121770 | E-mail [email protected]; [email protected] | website:
> www.ypkp1965.org                                    ***         
>
>  Gesendet mit Telekom Mail - kostenlos und sicher für alle!  #yiv8057298298
> #yiv8057298298 -- #yiv8057298298ygrp-mkp {border:1px solid
> #d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px 0;padding:0 10px;}#yiv8057298298
> #yiv8057298298ygrp-mkp hr {border:1px solid #d8d8d8;}#yiv8057298298
> #yiv8057298298ygrp-mkp #yiv8057298298hd
> {color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px
> 0;}#yiv8057298298 #yiv8057298298ygrp-mkp #yiv8057298298ads
> {margin-bottom:10px;}#yiv8057298298 #yiv8057298298ygrp-mkp .yiv8057298298ad
> {padding:0 0;}#yiv8057298298 #yiv8057298298ygrp-mkp .yiv8057298298ad p
> {margin:0;}#yiv8057298298 #yiv8057298298ygrp-mkp .yiv8057298298ad a
> {color:#0000ff;text-decoration:none;}#yiv8057298298
> #yiv8057298298ygrp-sponsor #yiv8057298298ygrp-lc
> {font-family:Arial;}#yiv8057298298 #yiv8057298298ygrp-sponsor
> #yiv8057298298ygrp-lc #yiv8057298298hd {margin:10px
> 0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}#yiv8057298298
> #yiv8057298298ygrp-sponsor #yiv8057298298ygrp-lc .yiv8057298298ad
> {margin-bottom:10px;padding:0 0;}#yiv8057298298 #yiv8057298298actions
> {font-family:Verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}#yiv8057298298
> #yiv8057298298activity
> {background-color:#e0ecee;float:left;font-family:Verdana;font-size:10px;padding:10px;}#yiv8057298298
> #yiv8057298298activity span {font-weight:700;}#yiv8057298298
> #yiv8057298298activity span:first-child
> {text-transform:uppercase;}#yiv8057298298 #yiv8057298298activity span a
> {color:#5085b6;text-decoration:none;}#yiv8057298298 #yiv8057298298activity
> span span {color:#ff7900;}#yiv8057298298 #yiv8057298298activity span
> .yiv8057298298underline {text-decoration:underline;}#yiv8057298298
> .yiv8057298298attach
> {clear:both;display:table;font-family:Arial;font-size:12px;padding:10px
> 0;width:400px;}#yiv8057298298 .yiv8057298298attach div a
> {text-decoration:none;}#yiv8057298298 .yiv8057298298attach img
> {border:none;padding-right:5px;}#yiv8057298298 .yiv8057298298attach label
> {display:block;margin-bottom:5px;}#yiv8057298298 .yiv8057298298attach label
> a {text-decoration:none;}#yiv8057298298 blockquote {margin:0 0 0
> 4px;}#yiv8057298298 .yiv8057298298bold
> {font-family:Arial;font-size:13px;font-weight:700;}#yiv8057298298
> .yiv8057298298bold a {text-decoration:none;}#yiv8057298298
> dd.yiv8057298298last p a
> {font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv8057298298 dd.yiv8057298298last p
> span {margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv8057298298
> dd.yiv8057298298last p span.yiv8057298298yshortcuts
> {margin-right:0;}#yiv8057298298 div.yiv8057298298attach-table div div a
> {text-decoration:none;}#yiv8057298298 div.yiv8057298298attach-table
> {width:400px;}#yiv8057298298 div.yiv8057298298file-title a, #yiv8057298298
> div.yiv8057298298file-title a:active, #yiv8057298298
> div.yiv8057298298file-title a:hover, #yiv8057298298
> div.yiv8057298298file-title a:visited {text-decoration:none;}#yiv8057298298
> div.yiv8057298298photo-title a, #yiv8057298298 div.yiv8057298298photo-title
> a:active, #yiv8057298298 div.yiv8057298298photo-title a:hover,
> #yiv8057298298 div.yiv8057298298photo-title a:visited
> {text-decoration:none;}#yiv8057298298 div#yiv8057298298ygrp-mlmsg
> #yiv8057298298ygrp-msg p a span.yiv8057298298yshortcuts
> {font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}#yiv8057298298
> .yiv8057298298green {color:#628c2a;}#yiv8057298298 .yiv8057298298MsoNormal
> {margin:0 0 0 0;}#yiv8057298298 o {font-size:0;}#yiv8057298298
> #yiv8057298298photos div {float:left;width:72px;}#yiv8057298298
> #yiv8057298298photos div div {border:1px solid
> #666666;min-height:62px;overflow:hidden;width:62px;}#yiv8057298298
> #yiv8057298298photos div label
> {color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}#yiv8057298298
> #yiv8057298298reco-category {font-size:77%;}#yiv8057298298
> #yiv8057298298reco-desc {font-size:77%;}#yiv8057298298 .yiv8057298298replbq
> {margin:4px;}#yiv8057298298 #yiv8057298298ygrp-actbar div a:first-child
> {margin-right:2px;padding-right:5px;}#yiv8057298298 #yiv8057298298ygrp-mlmsg
> {font-size:13px;font-family:Arial, helvetica, clean,
> sans-serif;}#yiv8057298298 #yiv8057298298ygrp-mlmsg table
> {font-size:inherit;font:100%;}#yiv8057298298 #yiv8057298298ygrp-mlmsg
> select, #yiv8057298298 input, #yiv8057298298 textarea {font:99% Arial,
> Helvetica, clean, sans-serif;}#yiv8057298298 #yiv8057298298ygrp-mlmsg pre,
> #yiv8057298298 code {font:115% monospace;}#yiv8057298298
> #yiv8057298298ygrp-mlmsg * {line-height:1.22em;}#yiv8057298298
> #yiv8057298298ygrp-mlmsg #yiv8057298298logo
> {padding-bottom:10px;}#yiv8057298298 #yiv8057298298ygrp-msg p a
> {font-family:Verdana;}#yiv8057298298 #yiv8057298298ygrp-msg
> p#yiv8057298298attach-count span
> {color:#1E66AE;font-weight:700;}#yiv8057298298 #yiv8057298298ygrp-reco
> #yiv8057298298reco-head {color:#ff7900;font-weight:700;}#yiv8057298298
> #yiv8057298298ygrp-reco {margin-bottom:20px;padding:0px;}#yiv8057298298
> #yiv8057298298ygrp-sponsor #yiv8057298298ov li a
> {font-size:130%;text-decoration:none;}#yiv8057298298
> #yiv8057298298ygrp-sponsor #yiv8057298298ov li
> {font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;}#yiv8057298298
> #yiv8057298298ygrp-sponsor #yiv8057298298ov ul {margin:0;padding:0 0 0
> 8px;}#yiv8057298298 #yiv8057298298ygrp-text
> {font-family:Georgia;}#yiv8057298298 #yiv8057298298ygrp-text p {margin:0 0
> 1em 0;}#yiv8057298298 #yiv8057298298ygrp-text tt
> {font-size:120%;}#yiv8057298298 #yiv8057298298ygrp-vital ul li:last-child
> {border-right:none !important;}#yiv8057298298
>
>

Kirim email ke